Doa Wanita Pemulungoleh. Teratai Taligama

Doa Wanita Pemulungoleh. Teratai Taligama
Part 11


__ADS_3

Hampir tengah malam Marko kembali ke rumah sakit, rasanya tidak tenang jika harus meninggalkan Marwah sendiri, ya walaupun sudah ada suster, tapi tetap saja dirinya merasa ada yang kurang kalau tidak memandang wanitanya saat beranjak tidur.


Pagi ini dokter melakukan visite terakhir pada Marwah, kondisi fisik juga psikisnya sudah membaik, infus juga sudah dapat dilepas setelah habis, kemaren juga sempat beberapa kali terapi untuk kaki kirinya, alhamdulillah sudah mulai membaik dan bisa berjalan dengan normal walau masih belum sempurna.


"Bu Marwah, alhamdulillah kondisinya sudah membaik, bisa dilanjut rawat jalan, untuk terapi tetap harus dilakukan, insyaallah bisa kembali berjalan normal, hanya karena kekakuan otot yang dibiarkan saja," terang dokter yang merawat Marwah, dengan panjang lebar.


"Baik Dok, kaki kiri saya memang sudah terasa enakan, Dok, terimakasih sudah merawat saya dengan baik," tulus perkataan Marwah keluar dari lubuk hatinya.


"Sama-sama, Bu, sudah menjadi tugas saya, nanti saya jadwalkan untuk terapi dan resep vitamin untuk syaraf kaki Bu Marwah."


"Sekali lagi terimakasih, Dok."


"Iya bu, jika ada yang ingin ditanyakan bisa lewat perawat jaga, insyaallah nanti saya jawab."


"Baik, Dok."


"Saya permisi, sehat terus ya Bu Marwah, assalamualaikum," pamit dokter wanita yang selalu sabar merawat pasien-pasiennya.


"Alaikumsalam."


Sorot kelegaan juga kebahagiaan terpancar dari wajah wanita yang begitu merindukan anak-anaknya, rasa tak sabar untuk segera pulang dan bertemu dengan mereka.


"Hei, ada apa? apa aku ketinggalan berita, hingga tidak bisa menebak kenapa wajahmu tampak berseri-seri my queen?" ,tiba-tiba terdengar suara Marko di ruangan dengan fasilitas mewah.


"Alhamdulillah aku sudah boleh pulang, Mas, jadi nggak sabar untuk bertemu anak-anak," jawab Marwah dengan senyum mengembang.


"Alhamdulillah, ya sudah aku kebagian administrasi dulu ya, sus, tolong diberesin barang-barang Bu Marwah."


"Baik, Pak."


🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


Senja merambah turun, menampakkan sinar jingga di cakrawala, Marwah berdiri di depan jendela berkaca besar yang membingkai lukisan indah sang pencipta semesta.


Sungguh dirinya begitu suka dengan suasana seperti ini, membuatnya merasa nyaman, seketika terucap rasa syukur berulang dalam hati karena masih bisa menikmati senja yang begitu menawan, hingga tak terasa ingatannya kembali pada saat-saat masih remaja dulu.


"Marwah, Isman, ayo pulang, mandi, sebentar lagi masuk waktu magrib lo, siap-siap jamah," suara nyaring seorang wanita sekitar empat puluhan memanggil kedua putra putrinya yang sedang asyik bermain basket di lapangan belakang rumah mereka.


Kedua remaja itu kakak beradik itu saling berkejaran ke arah ibu mereka, tawa riang mereka berdua membuat suasana sore di rumah besar itu menjadi semakin ramai dan ceria.


Keluarga Subroyo Atmojo, adalah keluarga dari kalangan menengah, Pak Subroto pejabat eselon III di BUMN, dengan dua orang anak, lelaki dan perempuan, yang berjarak 5 tahun kelahiran, sedang sang ibu berdedikasi mengurus keluarga, walaupun berpendidikan tinggi namin sudah menjadi komitmen baginya untuk merawat anak serta suaminya.


Sudah dapat dipastikan jika kehidupan Marwah dan kakaknya Isman tidak pernah kekurangan sejak mereka masih dalam kandungan sang mama. Cerminan keluarga bahagia, dengan kemewahan yang melimpah, namun dibalik semua itu Pak Subroto ternyata orang yang kurang pandai bersyukur, bahkan kehidupan sehari-harinya boleh dibilang jauh dari sang Khaliq.


Hanya berfoya-foya dengan menghamburkan uangnya untuk kemaksiatan, bahkan Pak Subroto juga mempunyai wanita simpanan, tetapi keluarganya tidak mengetahui tingkah laku sang kepala keluraga mereka saat di luar rumah.


Sungguh apik Pak Subroto membungkus segala tingkahnya di hadapan keluarga dan khalayak ramai, saat di rumah dirinya menjadi seorang family man, sampai-sampai Isman selalu berkhiblat pada papanya dalam banyak hal, tetapi pemuda itu tidak mengetahui sifat buruk panutannya.


Sentuhan lembut dibahu Marwah membuat angannya kembali dari mengenang saat-saat masih bersama orang tua dan kakak satu-satunya.


"Cuma keinget mama, papa juga mas Isman, kangen sama mereka," jawab Marwah setelah memposisikan dirinya berhadapan dengan Marko.


"Doakan saja mereka baik-baik saja, doakan almarhum supaya dapat tempat terbaik di surga-Nya, aamiin."


"Aamiin, makasih Mas, udah selalu menyemangati, udah selalu baik."


"Sama-sama, ayo pulang, udah beres semua kan?"


"Sudah, Mas, ayo."


🌸🌸🌸🌸


"Assalamualaiku."

__ADS_1


"Mamak, itu suara mamak," teriak Nisa dari dalam rumah, disusul suara langkah kaki yang berlari ke arah pintu.


Begitu pintu terbuka dari dalam, seorang gadis kecil berusia 8 tahun berhambur keluar, diikuti kedua kakaknya, Fahmi dan Rahma.


Nisa segera menghampur ke pelukan ibunya, "Mak, Nisa kangen, Mamak jangan sakit lagi, Nisa nggak bisa tidur kalau nggak sama mamak," isak tangis Nisa tumpah dalam dekapan hangat Marwah.


Di belakang tubuh kecilnya Fahmi juga Rahma ikut terisak, sungguh mereka anak-anak yang kuat, diusia mereka yang masih dini sudah harus mandiri karena keadaan, raut kebahagiaan terpancar dari ketiga anak Marwah, saat terpisah dengan ibu mereka, hal itu yang paling berat mereka rasakan.


"Dek, sudah peluk mamaknya, biar mamak masuk dulu," terdengar Fahmi bersuara.


Nisa segera melepaskan pelukannya dari tubuh sang ibu, mengenggam erat tangan wanita yang sudah melahirkannya, seakan takut ditinggal lagi, kedua ibu dan anak itu melangkah masuk ke dalam rumah, setelah Fahmi dan Rahma memberi jalan.


Marko diikuti Jaka yang membawa barang-barang pribadi Marwah mengekor langkah wanita yang terlihat bahagia itu ke dalam rumah kontrakan mungil. Dalam benak lelaki gagah itu, menginginkan jika Marwah dan anak-anaknya untuk menempati rumah yang lebih layak, tetapi masih ada keraguan untuk mengungkapkan niatnya pada wanita yang begitu disayangi.


"Mak, mereka siapa?" ,jagoan Marwah menanyakan tentang dua lelaki yang mengantar ibunya, dengan tatapan penuh selidik dan tak lepas dari sosok keduanya.


"Oh, iya, Mak lupa, ini Om Marko, dan satu lagi Bang Jaka," jawab Marwah sambil memperkenalkan dua lelaki yang tengah duduk di bangku ruang tamu.


"Om Marko teman mamak sejak masih sekolah. kalau Bang Jaka orang kepercayaan Om Marko," lanjut Marwah memberi penjelasan.


Nisa menyeret ke kamar tas yang berisi pakaian juga keperluan pribadi ibunya, saat Rahma keluar membawa nampan yang diatasnya ada tiga gelas teh manis hangat buatan tangan mungilnya.


"Ini Fahmi, yang cantik ini Rahma dan si bungsu tadi Nisa," kembali suara Marwah terdengar memoerkenalkan anak-anaknya pada Marko juga Jaka.


Saat Fahmi akan menjabat tangan Marko dan Jaka, lelaki itu mencegahnya, "Kak, jangan kontak fisik dulu ya, lagi rentan virus, kan," lugas Marko memberi penjelasan pada anak lelaki yang beranjak remaja itu.


"Iya om, diminum om, maaf cuma ada air minum," begitu dewasa perkataan Fahmi saat menawarkan minum kepada tamunya.


🌿🌿🌿🌿


Kira-kira bagaimana ya tanggapan Fahmi juga kedua adiknya terhadap Om Marko?

__ADS_1


jangan lupa like dan komen ya, terimakasih sudah membaca kisah ini, semoga menghibur.


__ADS_2