
"Hei....siapa kamu?" ,tiba-tiba terdengar suara yang cukup lantang hingga membuat Marko terkejut.
"Sa--saya Marko, Pak, temannya Marwah," jawab pemuda itu dengan lugas.
"Papa, Marko," terdengar suara gadis cantik yang tadi diantarnya.
"Pah, ini Marko, temen Marwah, Marko kenalin ini papa aku," Marwah memperkenalkan Marko pada papanya.
"Marko, Om," ucap pemuda itu dengan sopan dan mejabat tangan lelaki gagah di hadapannya.
"Subroto Atmojo, panggil saja Om Broto."
"Baik Om."
"Marwah, ajak masuk dong temannya," terdengar suara perempuan dewasa dari teras rumah.
"Iya Mah, sebentar lagi masuk," jawab Marwah.
Mereka bertiga berjalan beriringan menuju teras, di sana telah menunggu mamanya Marwah dengan senyum yang ramah, Marko pun diperkenalkan pada wanita yang masih terlihat cantik walau sudah berumur.
Setelah berbincang dan cukup mengenal pemuda yang sudah menolong dan mengantarkan pulang putri kedua orang tua yang terlihat begitu menyayangi gadis cantik itu, Marko memohon diri, karena sudah malam, takut jika ibunya mencari.
Marko pulang dengan diantar sopir keluarga Subroto, hingga sampai dimulut gang yang menuju rumahnya, tak lupa dirinya berterimakasih pada sopir keluarga gadis yang mulai bertahta dihatinya.
Seiring berjalannya waktu hubungan pertemanan Marko dan Marwah semakin akrab, pemuda sederhana sarat prestasi itu sering bertandang kerumah Marwah, itupun atas undangan dari Pak Subroto.
πΈπΈπΈπΈ
Drrrrt....drrrrrt....
Getar ponsel pintar keluaran terbaru dalam saku jas, mengembalikan lamunan panjang saat pertemuan dan perkenalan pertamanya dengan Marwah.
Menatap sejenak layar pipih di tangannya, tertera nama wanita yang melahirkannya di layar, rasa enggan untuk menerima panggilan itu, tetapi jauh di lubuk hatinya tidak mau menyakiti perasaan ibunya.
__ADS_1
"Assalamualaikum, bu."
Alaaikumsalam, Nak jangan lupa malam ini acara makan malam dengan keluarga Jeng Asih, kamu jangan sampai telat.
"Insyaallah Bu, Marko usahain tepat waktu, Ibu mau dibawain apa?"
Nggak usah bawa apa-apa, cukup kamu datang, kenalan sama Sinta itu udah bikin Ibu seneng.
helaan nafas terdengar sebelum Marko mengiyakan permintaan ibunya untuk kedua kalinya.
"Insyaallah Bu, hanya kenalan, kan?"
Wes terserah koe, yang penting jangan telat nanti malam, assalamualaikum.
"Alaaikumsalam, Ibu jaga kesehatan."
Tuuut....tuuut....tuuut...., hanya suara itu yang terdengar dari benda pipih yang masih dipegangnya, Marko tahu jika ibunya sedikit jengkel padanya, karena dirinya selalu saja menghindar saat menanyakan kapan akan menikah, bahkan selalu menghindar jika dikenalkan pada wanita pilihan ibunya.
Marwah masih bertahta dihati Marko, itu yang menjadi alasan kenapa sampai sekarang dirinya masih melajang, tidak pernah ada niatan untuk berpindah kelain hati, bucin kalau anak jaman sekarang mengatakan.
Saat hati terluka karena cinta, dunia terasa akan kiamat, usaha yang baru dirintisnya terancam bangkrut, tak dipungkiri lagi keterpurukannya membuat sang ibu bertambah murka, kebencian kepada wanita yang begitu digilai anaknya semakin menumpuk.
"Mas," panggilan lembut dari wanita yang masih menjadi ratu hatinya, membuyarkan lamunan panjang Marko.
"Iya Mar, ada apa?" Marko mendekat, dengan senyum yang menghias wajah tampannya.
"Kapan aku boleh pulang, aku sudah merasa baikan." Jujur sebenarnya bukan itu yang ingin ditanyakan Marwah, dirinya tahu jika Marko sedang memendam sesuatu yang menggelisahkan hatinya, tetapi ada rasa sungkan jika menanyakan semua itu.
"Sabar, besok kita tanya dokter, sudah kamu istirahat saja, jangan banyak pikiran," jawab Marko dengan lembut.
Mas, mas, justru kamu itu yang sedang banyak pikiran, kamu yang butuh beristirah, celoteh Marwah dalam hati.
Ditatapnya lelaki yang selalu setia menemaninya dari mulai dirawat hingga sekarang, bahkan sampai rela meninggalkan pekerjaannya, sungguh berbanding terbalik dengan Sudrajad, saat dirinya mengalami kecelakaan dulu hanya menjenguk sesekali, ibunyalah yang merawat dan menemani hingga keluar dari rumah sakit.
__ADS_1
Dada kiri Marwah berdenyut nyeri saat mengingat wanita yang telah melahirkannya, rasa rindu yang menggunung pada wanita kebanggaanya membuat air mata membasahi kedua pipinya, hal ini tak luput dari perhatian Marko yang sejak tadi sibuk dengan macbox-nya.
Diletakkan macbox yang selalu menemani bekerja di atas nakas, kemudian duduk di tepi ranjang, "Ada apa lagi, apa yang mengganggu pikiranmu?" ,tanya Marko dengan suara lembut sambil mengusap pipi basah Marwah.
"Aku ingat mama, sudah lama kami tidak bertemu, bahkan aku tidak tahu kabar terakhirnya bagaimana? Mas Isman sengaja menjauhkan mama dari keluargaku," isaknya semakin jelas terdengar.
Marko membetulkan duduknya agar bisa merengkuhnya tubuh ringkih wanitanya, lalu menyandarkan kepala tertutup hijab didada bidangnya, perlahan diusapnya lengang yang terasa kurus saat tersentuh.
"Insyaallah aku bantu cari tahu keberadaan ibu juga keluarga Mas Isman, kamu jangan banyak pikiran, ingat kondisi kesehatanmu, ingat anak-anak, sudah jangan sedih lagi." ditangkupnya wajah polos tanpa pernah tersentuh make up dengan kedua tangannya.
"Iya Mas, terimakasih banyak sudah selalu membantu." dilingkarkan tanggan Marwah pada pinggang Marko untuk mencari kenyamanan.
Marko mengeratkan pelukannya pada wanita yang membutuhkan perlindungan juga perhatiannya, dirinya bahkan berjanji untuk selalu berada di sampingnya dengan resiko bermusuhan dengan ibunya, jika beliau mengetahui hal ini.
Marwah begitu menikmamati suasana yang terasa romantis bersama lelaki cinta pertamanya, ingin rasanya waktu berhenti saat ini, egoiskah jika dirinya mengingkari jika mungkin lelaki yang sedang memeluknya erat telah berkeluarga, atau bahkan anak dan istrinya sedang menunggu di rumah.
Sungguh ingin rasanya ingin menjadi wanita satu-satunya dalam hidup lelaki yang masih begitu berarti dalam hidupnya, doaskah jika dirinya menginginkan itu, rasa dalam dadanya bergejolak antara mempertahankan egonya dengan realita yang ada, hingga hembusan nafas terasa berat untuk memenuhi rongga dadanya.
"Mar, suamimu apa kabar? memang dia tidak tahu kondisimu, sampai-sampai nggak jenguk kamu," tanya Marko tiba-tiba mengusik suasana syahdu mereka berdua.
Direnggangkan lingkaran tangan pada pinggang lelaki yang tengah menatapnya intens, mencoba membelas tatapan di kedalaman manik hazel yang dari dulu begitu disukainya. Ada kebimbanyan dalam hatinya, apakah harus jujur tantang statusnya sekarang atau menutupinya.
"Hei, is the any problem? kenapa malah melamun?" diusapnya pipi tirus itu.
"Mas, bagaimana dengan keluargamu kalau kamu di sini terus? apa istrimu tidak marah? apa anakmu tidak mencari ayahnya?" ,Marwah balik mengajukan pertanyaan untuk menutupi kegelisahan hatinya.
"Ditanya kok malah balik nanya, hmmm." ucap Marko sambil mencubit ujung hidung mbangir Marwah.
"Serius mas, aku nanya?'
"Iya, aku juga serius nanya, bukanya dapat jawaban malah dapat pertanyaan."
ππππ
__ADS_1
Apakah Marwah akan jujur dengan statusnya? bagaimana tanggapan Marko? tunggu di kisah selanjutnya.