Doa Wanita Pemulungoleh. Teratai Taligama

Doa Wanita Pemulungoleh. Teratai Taligama
Part 17


__ADS_3

Kepanikan seketika melanda meja tempat Marko juga Marwah serta anak anaknya makan, Nisa menghilang sudah hampir setengah jam, wajah ibu tiga anak itu langsung pias, direngkuhnya kedua buah hatinya yang tersisa.


Marko segera menghubungi Jaka untuk merapat ke tempat mereka, Marwah hanya bisa menangis ditemani Fahmi juga Rahma yang ikut menangis.


Selang sepuluh menit Jaka sudah bersama Marko serta beberapa pria berpakaian serba hitam berkumpul untuk mendengarkan penjelasan tentang menghilangnya Nisa, setelahnya mereka berkordinasi dengan pihak keamanan juga beberapa karyawan resto cepat saji untuk mencari Nisa.


"Fah, jaga Emak juga Rahma ya, jangan kemana mana sebelum Om atau Bang Jaka datang, kalau ada apa apa segera hubungi Om atau Bang Jaka," pesan Marko pada Fahmi, dirinya yakin jika anak lelaki itu bisa diandalkan.


"Baik Om, tolong bawa Nisa kembali ya Om," tercekat suara remaja yang matanya sudah mulai berkaca kaca.


"Insyaallah, doakan yang terbaik, Fahmi harus kuat biar bisa jagain Emak juga Rahma." direngkuhnya tubuh tinggi kurus dalam dekapannya, sekedar memberi kekuatan.


"Iya Om, makasih ya Om," jawab Fahmi sambil mengusap matanya yang mulai basah.


Segera setelah berpamitan pada Marwah juga kedua anaknya Marko mulai mencari keberadaan Nisa disekitar resto juga mall tempat resto itu berada, semakin banyak orang dikerahkan mencari gadis kecil itu, insyaallah semakin cepat ketemu.


Hampir setiap orang yang ditemuinya, Marko menanyakan tentang Nisa, raut kecemasan terlihat jelas walau sebisa mungkin dirinya masih bisa bersikap tenang, tak dipungkiri kekhawatiran menyelimuti hatinya.


"Pak," Jaka berlari ke arahnya di ikuti seorang bapak bapak.


"Udah ketemu Jack?" tanya Marko langsung pada Jaka yang masih terengah.


"Bapak ini melihat Nisa berjalan sendirian ke luar mall," terang Jaka.


"Benar itu Pak?" tanya Marko dengan ketidak sabarannya untuk mengetahui keberadaan Nisa.


"Betul Pak, setelah keluar pintu utama anak itu berjalan ke parkiran, coba Bapak tanyakan saja ke petugas parkir, siapa tahu ada yang melihatnya," terang bapak yang kebetulan bersama dengan istri juga anaknya yang mungkin seusia Nisa.


"Baik Pak, terimaksih atas informasinya, kami permisi," ucap Marko.


"Semoga cepat ketemu ya Pak anaknya," kata istri bapak tadi.


"Aamiin, doakan ya Pak, Bu, assalamualaikum," pamit Marko.


"Iya Pak, alaikumsalam."


Marko di ikuti Jaka bergegas menuju tempat parkir, setelah bertanya pada petugas parkir yang juga melihat Nisa berjalan ke arah lapangan parkir dengan banyak mobil berjajar, segera Marko dan Jaka di bantu beberapa petugas parkir berbagi tugas mencari keberadaan gadis cilik itu.

__ADS_1


Marko menuju ke tempat mobilnya terparkir, entah kenapa instingnya menuntun ke sana, terdengar suara tangis anak kecil, di percepat langkahnya untuk segera mendekat ke sumber suara, Nisa jongkok di samping mobilnya sambil menangis dengan tangan yang dipeganginya terus.


"Nisa, alhamdulillah, kenapa sampai di sini, sayang." segera di angkatnya tubuh mungil Nisa dalam gendongannya.


"Aaww, sakit," tangis Nisa semakin menjadi saat Marko menyentuh lengannya.


"Maaf sayang, kenapa? mana yang sakit?" cemas bercampur khawatir seketika menyergap hati Marko.


"Sakit Om," jelas Nisa setelah tahu siapa yang menggendongnya.


Marko memeriksa lengan kiri gadis kecil yang terlihat menahan rasa sakit, terkejut saat mengetahui kondisi tangan Nisa, kemungkinan besar retak atau patah, diambil ponselnya dan segera menghubungi Jaka untuk menjemput Marwah dan kedua anaknya, untuk membawanya ke rumah sakit terdekat, tempat dirinya membawa Nisa agar segera mendapat penanganan.


Marko memacu mobilnya membelah keramaian jalanan Ibu Kota menuju rumah sakit terdekat dari mall, Nisa yang duduk di sampingnya bercucuran peluh menahan rasa sakit.


"Sabar ya sayang, sebentar lagi sampai rumah sakit." diusapnya kepala gadis kecil itu dengan sayang.


Sementara itu Marwah yang mendapat kabar dari Jaka kalau Nisa sudah ditemukan merasa bersyukur, segera mereka menuju rumah sakit sesuai dengan apa yang diarahkan Marko, tak henti ibu tiga anak itu mengucap hamdalah setelah anak bungsunya ditemukan.


Tiba di depan UGD, Marko segera mengendong Nisa lalu dibawanya masuk ke ruangan itu.


"Suster tolong anak saya, lengan kirinya kesakitan," terang Marko pada perawat yang menyambut mereka.


"Pak, kami akan melakukan tindakan rongsen untuk mengetahui kondisi lengan putri Bapak." terang dokter lelaki yang menggunakan kacamata itu.


"Lakukan tindakan yang terbaik, Dok."


"Baik Pak, silahkan Bapak ke bagian pendaftaran dulu, kami akan membawa pasien ke ruang rongsen," ucap seorang perawat pada Marko.


"Baik sus, titip anak saya sus."


"Baik Pak."


Marko bergegas menuju bagian pendaftaran, bersamaan dengan brankar Nisa di dorong ke ruang rongsen, lumayan lancar proses pendaftaran Nisa sebagai pasien rawat inap, setelah selesai urusan administrasi Marko segera menyusul ke ruang rongsen.


Saat menunggu Nisa selesai tindakan rongsen ponsel Marko berbunyi, Jaka mengabarkan kalau terkena macet setelah keluar tol dalam kota, dirinya sangat memahami hal itu karena minggu ini akhir libur panjang, bisa dipastikan kemacetan di beberapa titik.


Pintu ruang rongsen terbuka, brankar yang membawa Nisa di dorong keluar seorang perawat, dan seorang lagi mengambil hasil foto x ray lengan kiri gadis kecil itu.

__ADS_1


"Tadi nangis nggak di dalam, Sayang?" tanya Marko setelah mendekap ke brankar.


"Enggak Om, kata suster nggak sakit, Nisa cuma di suruh baring aja, tapi nggak boleh gerak.," terang gadis kecil itu.


"Alhamdulillah, anak saliha, Om jadi tambah sayang." di ciumnya kening Nisa.


"Tapi masih sakit Om."


"Sebentar diobatin ya, tunggu hasil rongsennya keluar, sabar ya Sayang."


"Iya Om."


Kembali Nisa mendapat tindakan setelah hasil rongsennya keluar, tulang pengumpil Nisa patah, namun tidak perlu tindak pembedahan, hanya di balut gips dengan minum vitamin tinggi kalsium.


Selesai mendapat tindakan pemasangan gips, Nisa masih harus di rawat untuk observasi lanjutan, tentu saja juga atas permintaan Marko, karena nggak mau gadis kecilnya kenapa napa.


"Masih sakit sayang?" tanya Marko pada Nisa setelah dipindahkan ke kamar rawat dengan layanan kesehatan kelas VIP.


"Sedikit, Nisa ngantuk Om."


"Ya sudah, Nisa bobok, Om temenin disini sampai Nisa bangun."


Gadis kecil yang terbaring di hadapannya sudah terlalu mengantuk karena pengaruh obat rupanya, hingga tidak mampu lagi menjawab perkataan Marko.


Di tatapnya wajah gadis kecil nan ayu seperti wajah ibunya, senyum mengembang di wajah tampannya.


"Assalamualaikum," terdengar salam dari pintu.


"Alaikumsalam," jawab Marko sambil menoleh ke sumber suara, Marwah masuk kedalam ruangan.


"Mas, gimana Nisa?"


"Lagi tidur, pengaruh obat, lengan kirinya retak, belum tahu penyebabnya apa, tapi sudah tertangani dengan baik, kamu nggak usah khawathir," Marko menjelaskan kondisi Nisa.


"Masyaallah, kok bisa seperti ini Nak," tangis Marwah tak bisa dibendung lagi.


Usapan lembut dilakukan Marko untuk menenangkan Marwah, "Sudah nggak usah terlalu dipikirkan, doakan saja supaya kondisi Nisa segera membaik."

__ADS_1


🌿🌿🌿🌿


Tunggu kelanjutannya ya, Mak Thor lagi oleng, butuh rehat sejenak, jangan lupa like, komen juga votenya, biar bikin Mak Thor semangat, oke, terimakasih.


__ADS_2