
"Jadi bagaimana, Nusaibah Marwah?"
"Bagaimana apanya, mas?"
"Aku termasuk penyemangatmu, bukan? hmmm," desak Marko, begitu ingin mendengar jawaban, dari wanita pujaan hatinya.
"Mas selalu baik, dari dulu, selalu berusaha membuatku tersenyum."
"Jadi?"
"Sedikit banyak, dukungan Mas dalam hidupku, juga membuatku, semakin bersemangat, menjalanin hidup."
Marko tersenyum, saat melihat wajah Marwah yang tersipu, "Alhamdulillah, hei...., kenapa menunduk gitu?"
Drrt drrtt
Suara getar ponsel dari saku jas Marko, memotong obrolan dua orang dewasa yang sedang bernostalgia.
"Sebentar, aku angkat telpon dulu," ijin Marko pada Marwah.
"Silahkan Mas."
Marko menjauh dari Marwah, setelah ia tahu, siapa yang menghubungi. Tak mau ambil resiko, ibunya akan marah besar jika tahu dirinya kembali berhubungan dengan Marwah, wanita yang keluarganya telah menoreh luka begitu dalam pada ibu juga dirinya, namun rasa cinta yang begitu besar pada cinta pertamanyalah, hingga luka dihatinya perlahan terobati.
"Assalamualaikum, Bu"
Alaikumsalam, dimana kamu? ibu kerumah, kamu tidak ada, kata bi Yati sudah beberapa hari nggak pulang?
"Maaf bu, lagi ngurus kerjaan di Bandung, ibu ada apa kerumah?"
Sabtu besok ibu mengundang jeng Asih sama Sinta ke rumah, untuk makan malam, ibu harap kamu menani ibu menyambut mereka.
"Hanya menemani ya bu, tidak dengan rencana ibu tentang perjodohan."
Yang penting kamu datang dulu, ibu nggak mau ada alasan apapun, ingat usiamu sudah hampir 40 tahun, teman-temanmu di kampung sudah pada punya cucu.
__ADS_1
"Insyaallah Bu, aku usahain."
Ya sudah, ibu tunggu kedatanganmu, assalamualaikum.
"Alaikumsalam."
Membuang nafas kasar, raut wajah yang tiba-tiba muram, tatapan menyapu pemandangan kota malam hari, dari jendela rumah sakit, sekilas melihat ke arah belakang, wanita yang menjadi ratu hatinya telah terlelap, mungkin karena pengaruh obat, sedang perawat yang disewanya untuk menemani Marwah sudah kembali saat dirinya menerima telpon dari sang ibu.
Kembali kegundahan kecamuk dalam dadanya, haruskah dirinya menerima perjodohan yang di sodorkan ibunya, atau tetap menunggu wanita yang sedang terlelap dalam mimpinya.
🌹🌹🌹🌹
1998
Kepulan asap membumbung tinggi hampir menutupi cerahnya siang ini, di simpang-simpang jalan, ban terbakar, sepeda motor juga dibakar, hampir semua deretan pertokoan yang berada di pinggi jalan menjadi sasaran amuk masa.
Kemarahan rakyat sudah tidak bisa terbendung lagi, unjuk rasa yang semula berjalan damai, menjelang sore menjadi anarkis, mahasiswa yang semula santun namun tegas saat berorasi, berubah menjadi garang.
Anak-anak sekolah menengah tingkat atas pun tak mau tinggal diam, mereka tegabung dalam API (Aksi Pelajar Indonesia) ikut menyuarakan kekecewaan atas kebohongan penguasa negeri yang selama 32 tahun menutupi kebobrokan mereka.
Setiap ketua aktivis atau perwakilan dari para elemen masyarakat yang bergabung dalam unjuk rasa di depan gedung walil rakyat, saling bergantian menyuarak rasa kecewa mereka, begitu juga seorang gadis muda yang masih duduk di bangku kelas 2 sekolah menegah tingkat atas, dengan lantang berorasi menyuarakan isi hati rakyat.
Hampir 30 menit dirinya berada di atas mobil bak terbuka yang sudah di sulap menjadi panggung suara rakyat, titik-titik peluh mulai membasahi wajahnya, teriknya sinar mentari tak menyurutkan semangatnya membela rakyat, sorot tajam matanya siap menghujam siapa saja yang berada di depannya.
Berjarak sekitar 100 meter dari panggung rakyat dadakan, seorang pemuda dengan seragam putih abu-abu, serta ikat kepala menatap takjub ke arah sang gadis yang sedang berorasi, senyum manis terukir dari sudut bibirnya serta tepuk tangan, setiap kali terdengar suara lantang dari atas panggung rakyat.
Murid STM yang sedang berada difase pencarian jati diri sudah bergetar hatinya saat pertama melihat paras ayu gadis yang baru saja menyelesaikan orasinya, beberapa teman yang berada di samping-sampingnya merasa heran sejak tadi pemuda yang biasanya garang, tiba-tiba berubah jadi kalem.
Ucap Jefri memukul bahu temannya itu, "Jon, buset dah, kalem amat loe? kesambet setan apa loe?"
"Biasa aja, lagi pengen diem aja, bawa air minum nggak loe?"
"Gue beliin dulu, dah, tunggu sini dulu."
"Oke, jangan lama-lama.
__ADS_1
Pemuda berikat kepala tadi mencoba mendekat ke kerumunan anak-anak SMA Tunas Bangsa, salah satu sekolah favorit yang kebanyakan dari kalangan atas, anak pejabat, anak pengusaha, bahkan sampai anak ekspatriat menuntut ilmu di sekolah yang memakai bahasa Ingris sebagai bahasa pengantar.
Dengan membawa sebotol air mineral yang diberi temannya tadi, pemuda yang mulai merasakan kuncup-kuncup asmara itu semakin merangsek ke barisan gadis yang telah menyita perhatiannya.
Pandangan tak lepas dari gadis cantik, dengan tinggi semampai, berkulit kuning langsat khas gadis-gadis asia, rambut yang di kepang panjang melewati punggung sungguh ciptaan Tuhan yang sempurna.
Saat sedang menikmati pemandangan yang begitu mempesona, entah kenapa dirinya merasa jika para pengunjuk rasa semakin merangsek ke belakang, tubuh juga ikut terdorong, bahkan sampai bergeser dari tempatnya semula.
Sibuk menyeimbangkan tubuh karena terdorong, hingga tanpa disadari dirinya semakin menjauh dengan posisi gadis yang mulai mengusik hatinya.
"Shit, kemana perginya? nggak kelihatan lagi," dengan rasa kebingungan dan takut kehilangan, menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sosok cantik yang terdesak semakin mundur.
Duaaar...
Tak berapa lama terdengar ledakan dan asap hitam yang menepul dari kejauhan, arahnya dari depan barisan pengunjuk rasa, jeritan dan teriakan saling bersahutan, situasi menjadi kacau, para pengunjukrasa yang jumlahnya mungkin ribuat, membubarkan diri, lari tunggang langgang.
Bagi mereka yang pemberani, ini kespatan untuk menunjukkan aksi brutalnya, sedan bagi mereka yang nggak mau ribut memilih meninggalkan arena yang sudah kacau balau.
Banyak mahasiswi juga siswi SMA yang menangis histeris ketakutan sambil berlari, dalam situasi yang kacau seperti ini menyelamatkan diri adalah jalan yang terbaik.
Batu sudah mulai beterbangan, para aparat keamanan yang sudah kelelahan juga mulai merangsek ke depan, dengan mengeluarkan gas air mata.
Mobil lapis baja telah bergerak maju beriringan dengan pasukan anti huru hara, memukul mundur pengunjuk rasa yang mulai beringas dan anarkis, mobil water canon telah memuntahkan amunisinya dari tadi, membasahi jiwa-jiwa muda yang masih cepat tersulut.
Dalam kekacauan itu, sang pemuda berikat kepala sekilas meliha gadis cantik yang tengah dicarinya, berlari ke arah yang salah, menjemput hujan batu yang dilempar enteh oleh siapa.
Dengan sigap, berlari kearah gadis yang tengah menangis dalam ketakutan dan kebingungan, mencengkeram kuat pergelangan tangan sang gadis agar tidak terlepas dari genggamannya, dan membawanya lari menjauh dari kekacauan yang terjadi.
Dalam larinya, sang pemuda masih sempat berteriak, "Jangan takut, aku akan membawamu ke tempat aman, kalau perlu sampai ke rumahmu."
🌿🌿🌿🌿
Jeng....jeng....jeng...., siapakan mereka berdua? bagaimana nasib mereka selanjutnya, tunggu kisahnya ya
yang sudah mampir, terimakasih, semoga terhibur
__ADS_1