Doa Wanita Pemulungoleh. Teratai Taligama

Doa Wanita Pemulungoleh. Teratai Taligama
Part 5


__ADS_3

Dokter sedang memeriksa kondisi Marwah, kening wanita itu sedikit berkerut saat memeriksa bagian kaki kiri pasiennya, lalu menatap sejenak pada perawat yang menjadi asistennya, Marko melihat, perubahan raut wajah dokter wanita yang berdiri tepat dihadapannya, dan hanya terpisah oleh ranjang pasien.


"Luka itu, bekas kecelakaan beberapa tahun yang lalu dok," Marko mencoba menjawab pertanyaan yang berkecamuk dipikiran wanita paruh baya dan berkacamata itu.


"Apa tidak diobatkan Pak, setelah kecelakaan?"


"Katerbatasan biaya dok, jadi tidak maksimal berobat juga terapinya."


Wajah dokter yang menggunakan hijab biru itu, semakin berkerut, seolah tak mengerti dengan penjelasan Marko, rawat inap dengan fasilutas kamar dan pengobatan terbaik, namun untuk terapi saja tidak ada biaya, sungguh tidak masuk akal bagi dokter spesialis bedah umum itu.


Seperti mengeti, dengan apa yang ada dibenak dokter yang teramat kritis menurut Marko, hingga mau tidam mau ia harus menjelaskan tentang siapa Marwah sebenarnya dan apa hubungannya dengan wanita yang masih saja memejamkan matanya, walau sudah siuman.


"Saya kerabat jauhnya dok, baru beberapa hari yang lalu menemukan keberadaanya, setelah bertahun tahun mencari, jadi baru kali ini saya bisa membantu."


"O, seperti itu, kalau bisa diperiksa ulang pak, kondisi kakinya, sepertinya hanya kekakuan otot yang mengeras, dan perlu ditangani secara serius," terang dokter Retno, tentang kondisi Marwah.


"Insyaallah, tolong berikan perawatan yang terbaik saja dok."


"Baik pak, nanti saya beri pengantar rujukan interen, untuk ke bagian syaraf dan neorologi, saya permisi dulu."


"Baik dok, terimakasih."


"Sama-sama, assalamualaikum."


"Alaikumsalam."


Sepeninggal dokter Retno, Marko mendekat kearah Marwah terbaring, diusapnya lembut kepala wanita yang masih tertutup hijab coklat susu itu.


"Mas, kita buka muhrim," lirih suara Marwah, menegur secara halus, untuk tidak menyentuhnya.


"Maaf, harus bagaimana aku menjadikanmu mahramku, kalau kamu masih jadi istri orang?" ,jawab Marko dengan suara yang lembut.

__ADS_1


Seketika Marwah teringat jika ia telah ditalak Sudrajad, namun ia tidak akan memberitahukan hal itu pada Marko, saat ini ia hanya fokus untuk membesarkan anak-anaknya, setelah kesembuhannya nanti.


"Mas, tolong biarkan aku sendiri, pekerjaanmu tentu tidak bisa ditinggal, kan?" ,kembali Marko merasa ada nada pengusiran, dari wanita yang begitu disayanginya.


"Anak buahku yang akan mengerjakan semuanya, aku tinggal mengarahkan dari sini, kenapa selalu menghindar? kenapa nggak mau ketemu aku?" ,cecar Marko pada wanita yang berusaha mengubah posisinya menjadi duduk.


"Aku bisa sendiri," ucap Marwah, saat Marko akan membantu.


lelaki itu hanya bisa memperhatikan, setiap wanita yang telah membuatnya tak bisa berpindah kelain hati itu, melakukan pergerakan di atas pembaringannya.


Merasa ditatap, dengan intens lelaki yang dulu pernah membuat hidupnya, hanya terfokus pada satu tujuan, menjadi istri dari Marko Fernando Adiguna, ia merasa jengah, ditatapnya balik netra berwarna kehijauan, milik lelaki keturunan jawa, portugis, tionghua itu, dengan seksama, ada genangan rindu disana dan masih terlihat telaga kasih sayang yang tak berubah dari dulu.


Ada desir perih, di luka yang kembali terbuka, jika mengingat perjalanan kisah mereka, tak terasa airmata mengalir, membasahi pipi tirus milik wanita yang sedang rapuh hatinya itu.


"Mas, tolong tinggalkan aku sendiri," terulang ucapan lirih dari bibir pucat Marwah.


"Kenapa? apa kamu juga membenciku? lihat aku sekarang, semua sudah berubah, aku punya segalanya," ucap lirih Marko sambil mendekat ke arah Marwah.


Wanita yang sedang terluka psikis juga fisiknya itu, semakin tergugu, semakin perih luka dihati, kejadian masa lalu, seperti direplay kembali, terskip layaknya slide film dalam pikirannya.


Direngkuhnya tubuh kurus wanita yang tertunduk dalam tangis, kepelukannya, diusap perlahan kepala yang tertutup hijab, berusaha menenangkan hati wanita yang sedang dirundung kesedihan juga kegalauan.


"Sudah, nggak usah diingat lagi, semua sudah berlalu, yang penting, sekarang pulihkan kondisi kamu dulu, baru pikirkan nanti kelanjutannya bagaimana," ucap Marko, sambil mengecup lembut kepala Marwah.


"Ma----mas, ini nggak bener, kita bukan mahram," elak Marwah, mencoba mendorong tubuh Marko agar menjauh dari dirinya.


Seketika lelaki itu menjauh, dari wanita yang ternyata, masih menjaga dirinya, walau kenyataanya ia sudah ditalak oleh suaminya, Marko menempatkan diri, di kursi yang berada di samping ranjang Marwah.


Marko memberikan tissue pada Marwah, untuk menghapus airmata, yang terus membasahi wajah wanita yang masih bertahta dihatinya.


Drrrt....drrt...., terdengar getar ponsel milik Marko, yang tergeletak di atas nakas, segera dirainya benda pipih berlayar lebar itu, keningnya berkerut sesaat setelah melihat siapa yang menghubunginya, disaat ia telah menyerahkan semua urusan tanggung jawab pekerjaan, kepada orang kepercayaannya.

__ADS_1


"Assalamualaikum, ada apa?"


....


"Baik, aku usahakan secepatnya ke lokasi, tangani apa yang biasa kamu tangani, terlebih dahulu, aku segera berangkat."


....


"Tunggu! aku datang, assalamualaikum."


Marko memanggil seorang perawat juga orang kepercayaannya, kepada perawat tersebut ia berpesan untuk selalu menemani serta membantu, apa yang dibutuhkah Marwah, sedang pada orang kepercayaannya, diminta untuk berjaga di luar ruangan, dan sesegera mungkin mengabarkan pada lelaki dengan postur tubuh tinggi tegap itu, keadaan pasien istimewanya.


"Mar, aku pamit dulu ya, ada urusan yang harus diselesaikan, sudah ada perawat yang akan menemanimu, di luar juga ada Jaka, jika kamu membutuhkan sesuatu bilang saja pada mereka."


"Nggak usah seperti ini Mas, seharusnya," ucap Marwah, sambil menatap Marko, yang sedang mengenakan jasnya.


"Sudah, kamu istirahat saja, nggak usah mikir macam-macam, biar lekas sembuh, aku pamit ya, assalamualaikum."


"Alaikumsalam, hati-hati Mas," lirih Marwah menjawab.


Terukir senyum di ujung bibir pucat Marwah, ia merasa ada yang berkecamuk dalam dada, entah apa namanya, namu ia tahu, jika pernah merasakan hal itu, jauh sebelum ia tahu begitu kerasnya perjalanan hidup, dulu saat ia masih belia, masih begitu polos, hanya bersekolah, bermain bersama kawan-kawannya.


Suara adzan magrib berkumandang, segera Marwah meminta tolong pada suster Tia, untuk membersihkan diri, ia juga meminta suster Tia dan Jaka untuk berjama'ah bersamanya, Jaka kagum pada wanita istimewa yang telah menyita perhatian big bos-nya itu.


Bahkan Jaka merasa bersyukur, karena setelah menemukan keberadaan Marwah, yang telah sekian tahun dicari, bosnya itu mengalami banyak perubahan, sudah tidak arogan, dingin, egois, bahkan selama Jaka menjadi tangan kanannya, belum pernah terlihat bosnya itu menjalankan ibadah lima waktunya, sekarang sudah semakin rajin sholat.


Selesai mereka bermunajat pada sang pencipta, Jaka meminta ijin untuk membeli makan malam, suster Tia membereskan perlengkapan sholat yang mereka pakai, Marwah melanjutkan membeca ayat-ayat suci Alquran dari musaf kecil milik Marko yang sengaja ditinggal.


"Assalamualaikum," terdengar suara yang tak asing ditelingan Marwah.


"Alaikumsalam," jawab Marwah dan suter Tia.hampir bersamaan.

__ADS_1


Sosok lelaki gagah dengan setelah kemeja denim, celana bahan, kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya, melangkah masuk ke dalam ruang rawat Marwah.


siapakah gerangan lelaki itu? tunggu dikisah selanjutnya ya.


__ADS_2