
"Iya, aku juga nanya serius, bukanya dapat jawaban malah dapat pertanyaan."
"Jawab dulu pertanyaanku, mas."
"Oke, oke, dengerin ya, tuan putri yang cantik." dibawanya tangan Marwah yang terbebas dalam genggaman.
"Sampai sekarang aku belum menikah, aku masih menyimpan nama Nusaibah Marwah di sini," jawabnya sambil menepuk dadanya, "Sampai kapanpun tidak akan tergantikan."
Marwah mencoba mencari kebohongan dari sorot netra milik lelaki yang masih menatapnya, hanya kejujuran yang ia temukan, nada suara Marko pun terdengar tulus tidak ada candaan.
"Mas, kenapa masih berharap pada hal yang nggak mungkin, mas layak bahagi, kenapa menunggu aku, ibu bagaimana?" ,cecar Marwah.
"Aku bahagia saat melihatmu bahagia, tapi jujur beberapa tahun terakhir aku merasa sakit saat melihat dirimu menderita."
"Bagaimana mas bisa tahu tentang kehidupanku?" ,tanya keheranan wanita yang sudah mulai membaik kondisi kesehatannya.
"Maaf, aku mengikuti beritamu sejak awal pernikahan dulu."
"Maaf ya mas, atas perlakuan mama dulu," lirih kata Marwah dengan menunduk. Hatinya teriris lagi saat memgingat perlakuan mamanya pada lelaki yang selalu bersikap baik padanya.
"Sudah, yang lalu biarlah berlalu, nggak usah diingat lagi, udah malam, istirahat gih, aku pamit sebentar, mau pulang ke rumah ibu, insyaallah selesai acara aku segera kembali," pamit Marko pada wanita yang akan tetap dipertahankannya.
"Iya mas, hati-hati, salam buat ibu ya."
"Nanti disampaikan, assalamualaikum."
"Alaikumsalam."
Ditatapnya punggung lebar tegap milik lelaki yang begitu sabar, dewasa, melindungi, bahkan selalu setia padanya hingga saat ini.
Sepeninggal Marko, Marwah meminta tolong pada suster yang menemaninya untuk menelpon anak-anaknya, demi melepas kangen yang sudah tertahan beberapa hari terakhir.
🌸🌸🌸🌸
Membelah jalanan Ibu Kota malam hari, walau masa PSBB namun tetap saja masih ada kemacetan dibeberapa titik, dengan tenang Marko memacu mobil yang baru saja dibelinya beberapa waktu yang lalu, bukan apa-apa sengaja dirinya mengganti mobil sportnya yang hanya muat dua orang, setelah melihat ketiga buah hati wanita yang dicintainya.
__ADS_1
Memasuki halaman yang luas, dengan taman yang tertata apik, rumah bergaya kolonial, dengan empat pilar penyangga, menunjukkan betapa kokoh bangunan berlantai dua, yang khusus dibelikan Marko untuk ibunya.
Menginjakkan kaki di ruang tamu yang cukup luas, dilengkapi perabotan mewah, sofa dengan jokcover beludru bermofit bunga, lampu kristal yang mengantung dengan elegan di langit-langit ruangan, guci keramik yang khusus didatangkan dari negeri tirai bambu, sudah menunjukkan kelas sosial sang empunya rumah.
"Assalamualaikum."
"Alaikumsalam, akhirnya pulang juga kamu, Nak, masuk dulu, sebentar lagi Sinta sama mamanya datang, mereka sudah dijalan." Wanita paruh baya namun masih tetap cantik terawat, terlihat berkelas, keluar dari ruang dalam menyapa anak lelakinya yang sudah beberapa bulan tidak bertemu.
"Cuma kenalan aja kan, Bu?" ,tanya Marko menegaskan.
"Kenapa sih kamu nggak mau nikah sama Sinta, dia cantik, cerdas, dokter lagi, apa yang kurang dari dia, nak?"
"Marko yang banyak kekurangan, Sinta terlalu sempurna untuk aku, Bu."
Saat sedang asyik ngobrol, lebih tepatnya berdebat antara ibu dan anak yang tengah duduk di ruang keluarga, terdengar suara orang mengucap salam dari luar.
"Assalamualaikum," suara dua perempuan menyapa pendengaran pemilik rumah.
"Alaikumsalam, Jeng, ayo masuk, selamat datang, sudah ditunggu dari tadi." Bu Siwi melenggang keluar untuk menyambut tamu yang sudaj ditunggu-tunggu.
"Halah jeng, PSBB kan aturannya, kenyataan masyarakat juga butuh makan to, Sinta, cantiknya, apa kabar sayang?"
"Alhamdulillah, baik Tante, Tante apa kabar?" ,jawab gadis cantik berusia sekitar tiga puluhan, dengan tubuh ramping sempurna, terbalut dres bermotif bunga, nampak menunjang penampilannya malam ini.
Ketiga wanita yang berpenampilan menawan itu segera melangkah ke ruang keluarga, yang telah disiapkan berbagai camilan juga minuman dingin, tak melihat anak lelaki satu satunya di ruangan itu, segera Bu Siwi mencari keberadaan putra kesayangannya.
"Jeng, Sinta, permisi sebentar ya saya panggil Markonya dulu, mungkin masih siap-siap."
"Monggo Jeng, nggak usah buru-buru, namanya anak muda, biasa kalo dandan lama," terkekeh Bu Subroto menanggapi ucapan teman arisannya itu.
Bu Siwi berpapasan dengan anak lelakinya di ujung tangga, Marko melangkah dengan santai, memakai stelan celana jeans biru dongker dipadu dengan kaos berkrah warna biru langit, sungguh membuat penampilannya malam ini terlihat menawan.
"Jeng, kenalkan ini Marko, anak lelaki saya satu-satunya, adiknya Disti, Marko ini jeng Asih dan putrinya yang cantik, Sinta," ucap Bu Siwi setelah berada di hadapan tamunya.
Marko menyalami Bu Asih juga Sinta secara beegantian, tatapan kagum Sinta tak pernah lepas dari sosok lelaki yang duduk tenang di hadapannya.
__ADS_1
Bu Siwi dan Bu Asih terlihat asyik dengan obrolan mereka, niatnya memberi kesempatan pada dua anak muda yang sengaja dijodohkan, tetapi Marko justru sibuk dengan benda pipih yang berada ditangannya.
🌸🌸🌸🌸
"Sudah berapa lama jadi dokter?" ,suara Marko memecah keheningan, setelah dirinya dan Sinta duduk di teras samping, tentu dengan paksaan kedua ibu mereka.
"Sudah empat tahun, sekarang baru ngambil spesialis ortopedi," jawab Sinta dengan tersipu.
"Maaf, kamu tahu tujuan kedatangan kalian dirumah ini?" ,Marko memang selalu bersikap dingin dan to the poin pada wanita yang tidak terlalu ia kenal.
"Maksud Mas apa, aku nggak paham?" ,jawab Sinta dengan sok polos, Marko sudah dapat menilai jika gadis yang duduk di sampingnya hanya berpura-pura.
"Kamu tahu kan kalau kedatangan mu kesini sengaja dikenalkan pada saya?" ,ucap tegas Marko dengan nada penuh tekanan.
"O, itu, memang ada salahnya kalau orang tua kita berniat baik untuk masa depan anak-anak mereka?"
"Nggak ada yang salah, tapi tidak dengan saya, perlu kamu tahu, saya tidak bisa menerima perjodohan ini, karena saya sudah mencintai seseorang, jadi kamu jangan berharap lebih dari perkenalan ini," penuturan frontal keluar dari bibir yang tak pernah tersentuh racun nikotin.
Wajah Sinta memucat, tak menyangka jika lelaki yang terlihat pendiam, berwibawa, kharismatik dan tentu saja tampan itu, terang-terangan menolak perjodohan dengan dirinya.
Kurang apa coba, aku, cantik, pinter, dokter, berani-beraninya perjaka tua ini menolakku, dengan tatapan yang sulit diartikan Sinta menggerutu dalam hati.
Secantik apa sih wanita itu, sampai-sampai Mas Marko menolak diriku, aku nggak akan tinggal diam, harus aku cari tahu tentang siapa wanita yang jadi penghalangku.
"Kenapa diam saja? kamu paham kan dengan apa yang saya katakan?" ,suara bariton Marko sedikit mengejutkan Sinta.
"Eh, paham, paham banget."
"Ya sudah, saya harus pergi, masih ada urusan, nikmati saja jamuan ibu saya, assalamualaikum," Marko segera beranjak dari bangku taman untuk masuk ke dalam rumah, berpamitan pada ibunya juga Bu Asih.
Sementara Sinta yang masih duduk di taman, hanya bisa termenung sambil merencanakan sesuatu, agar bisa lebih dekat dengan lelaki yang sudah membuatnya jatuh cinta sejak pertama melihatnya beberapa tahun yang lalu.
🌿🌿🌿🌿
Apa yang akan dilakukan Sinta, tunggu episode berikutnya, jangan lupa vote dan komen, terimakasi sudah mampir.
__ADS_1