
Di rumah Bu RT, anak-anak Marwah bersikap begitu manis, bahkan mereka berbagi tugas membantu pekerjaan rumah, padahal sudah ada simbok, yang bertugas membersihkan rumah, juga mencuci baju, bahkan Bu RT juga Pak RT telah melarang mereka, namun tetap saja mereka kekeuh untuk melakukan tugas masing-masing.
"Rahma, sudah, biar Simbok yang mencuci piring-piringnya, kamu belajar saja," tegur Bu RT pada Rahma.
"Nggak apa-apa.Budhe, Rahma sudah biasa mengerjakan tugas, setelah rumah bersih semua, Budhe tenang saja, ini nggak ganggu belajar Rahma, kok."
"Ya sudah kalau begitu, yang penting harus tetap belajar, itu tugas utama kamu," kata Bu RT dengan lembut, sambil mengusap kepala Rahma yang tertutup jilbab.
"Siap Budhe," kata Rahma dengan tersenyum ceria.
"Budhe ke depan dulu ya sayang, mau lanjutin bungkus-bungkus sembakonya."
"Iya Budhe, Rahma nanti ijin ke rumah Amel, boleh kan, Budhe?"
"Boleh, asal sebelum magrib harus sudah pulang, nanti biar dijemput Fahmi."
"Baik Budhe, makasih."
"Iya sayang," ucap Bu RT sambil mencubit gemas pipi Rahma.
Begitulah keseharian anak-anak Marwah, saat harus tinggal di rumah ketua RT, tempat dimana mereka tinggal, setelah selesai mengerjakan tugas sekolahnya, Fahmi juga rajin membantu Pak RT di toko kelontong, milik keluarga yang begitu tulus, menyayangi ketiga anak yang sedang tertimpa musibah.
🌹🌹🌹🌹
Sedang di tempat lain, seorang lelaki berusia kisaran 40 tahunan, mengeluarkan suara yang menggelegar, kemarahan tercetak jelas di wajah yang ditumbuhi jambang tipis.
"Bisa nggak kalian mikir, kalau kita masih menerima suplai, barang yang kualitasnya buruk seperti ini, kita yang merugi."
Dengan berkacak pinggang, menatap satu persatu, kepala gudang, juga beberapa pegawai yang bertugas menerima sayur dan buah langsung dari para pengepul.
"Saya sudah memberi kesempatan, untuk bekerja sama dengan para pengepul, tidak langsung mengambilnya dari petani, supaya bisa bagi-bagi rejeki, tapi kenapa timbul masalah seperti ini, dan hal ini sudah terjadi lebih dari 3 kali."
Diambilnya beberapa buah, juga sayuran segar, dari di keranjang keranjang, yang baru saja diturunkan dari mobil bak terbuka.
"Lihat baik-baik ini," ditunjukkan beberapa buah yang memang terlihat segar, namun ada beberapa titik lubang, yang pasti berulat.
"Ini juga, bagaimana kita bisa mensuplai ke supermarket juga pasar modren kalo sayurannya seperti ini," sayuran yang seharusnya masih segar, karena baru dipanen, sudah terlihat layu.
"Saya tidak mau tahu, besok jika masih menerima barang seperti ini, kalian saya pindah ke bagian produksi semua, paham?"
"Paham Pak," serentak mereka menjawab, pernyataan bos besar mereka.
__ADS_1
Marko Fernando Adiguna, pengusaha supliyer buah dan sayuran segar tengah melampiaskan kekecewaanya, setelah beberapa kali mendapat kiriman buah dan sayur, yang kualitasnya dibawah standar perusahaan, dirinya merasa ada yang tidak beres dengan orang-orang di lapangan.
"Fel, lusa saya ada jadwal penting apa?" ,tanya Marko pada Felli sekertarisnya.
"Hanya ada undangan makan malam dengan keluarga Danutirta Pak, jam 7 malam, di Sheraton," jelas wanita berjiab itu pada atasannya, yang kebetulan teman sekampus suami Felly.
"Oke, tolong di resecedule, minggu depan saja, kosongkang jadwal saya sampai awal minggu, kecuali ada masalah urgent, seperti tadi, kamu langsung hubungi saya."
"Baik Pak, ada lagi, Pak?"
"Kalau Ibu atau siapapun, tanya keberadaan saya, bilang saja ke Bandung."
"Baik Pak."
"Kamu jangan capek-capek, selama saya tidak di kantor, kamu bisa pulang lebih awal, dispensasi dari saya, untuk bumil," ucap Marko dengan senyum yang mengambang.
"Baik Pak, terimakasih untuk dispensasinya."
"Oke, saya permisi dulu, assalamualaikum."
"Alaikumsalam Pak."
Membelah jalanan Ibu Kota saat senja, mengingatkan dirinya, pada wanita yang sedang terbaring di rumah sakit sejak kemaren, segera dipacunya Fotuner All Nu, warna hitam, menuju ke tempat dimana wanitanya sedang dirawat.
Di depan ruang rawat Marwah, Jaka masih setia duduk di bangku tunggu, saat melihat Atasannya dia segera berdiri untuk menyambutnya, membungkukkan badan sebagai tanda hormat, saat lelaki yang membantunya keluar dari jerat black market itu, telah berada tepat di hadapannya.
"Assalamualaikum, Pak," Jaka memberikan salam.
"Alaikumsalam, keadaan amdal kan?"
"Iya Pak, alhamdulillah semua aman terkendali."
"Oke, masuk dulu, Jac."
"Siap Pak."
Tak sabar, ingin melihat kondisi wanita, yang baru ditinggal beberapa jam, namun sudah membuatnya rindu berat.
"Assalamualaikum," ucap Marko setelah membuka pintu, dan melangkan masuk.
"Alaikumsalam," jawab Marwah, ada getar aneh di dalam dadanya saat tak sengaja, menatap manik hazel milik lelaki yang dulu pernah merajai hatinya.
__ADS_1
"Suter kemana, kok sendirian?" ,tanya Marko setelah mendekat ke arah Marwah.
"Ijin pulang sebentar, ngambil baju, sama kirim uang untuk anaknya, Mas belum pulang ya, kok bajunya belum ganti?"
"Alhamdulillah, masih perhatian aja, sama kaya dulu," senyum lebar mengembang dibibir yang tak pernah terasentuh nikotin.
"Kan cuma tanya, Mas, mungkin orang lain juga akan melakukan hal yang sama," elak Marwah, untuk menutupi kegugupannya.
"Iya, tapi tetep aja, beda rasa di sini." sambil menunjuk dadanya.
"Mas, mas, kayak abege aja." senyum tercetak diwajah manis wanita yang, sudah tidak pernah merawat penampilannya.
"Aku mandi dulu ya, gerah," pamit Marko sambil membawa paper bag, yang tadi siang disiapkan Jaka.
"Hmmm."
"Jangan kangen ya, cuma sebentar kok," goda Marko, langsung ngacir ke kamar mandi.
"Apaan sih Mas, nih." mata Marwah berputar jenaka menanggapi godaan Marko.
Marwah tersenyum simpul, ternyata dirinya masih bisa merasakan kebahagiaan, setelah sekian tahun menjalani kehidupan yang monoton dan selalu berada di bawah tekanan, terlebih semenjak dirinya mengalami kecelakaan, yang membuatnya tidak bisa beraktifitas.
Ternyata memang hanya Marko yang mampu membuatnya bahagia, dua hari terakhir, dirinya selalu berdekatan dengan lelaki masa lalunya itu, mampu membuatnya bersemangat kembali untuk menjalani kehidupan.
"Senyum-senyum sendiri, mikirin aku kah?" ,tiba-tiba suara berat Marko terdengar sangat dekat di sampingnya.
"Masyaallah, Mas, bikin kaget aja, enggak, cuma inget tingkah lucu anak-anak, jadi kangen sama mereka," nada sendu terdengar dari suara ibu dari tiga anak hebat itu.
"Sabar, kalau kamu sudah sembuh, dan boleh pulang, pasti bisa ketemu mereka."
"Iya Mas, makasih sudah menguatkan aku."
"Iya, sama-sama, kamu harus kuat, harus semangat, demi anak-anak, masa depan mereka masih panjang."
"Harus Mas, aku harus kuat demi mereka, hanya mereka yang membuat aku semangat."
"Kalau aku, gimana?" ,tanya Marko dengan nada penuh selidik.
bersambung.
🌿🌿🌿🌿
__ADS_1
tunggu jawaban Marwah dikisah selanjutnya ya.