
Keraguan menyelimuti hati Marwah, haruskan dirinya menceritakan tentang teror yang diterimanya sebelum memutuskan untuk pindah kontrakan.
"Mar, pleace, ada apa sebenarnya tiba-tiba kamu dan anak-anak menghilang begitu saja, hampir putus asa aku mencari kalian, alhamdulillah Allah mengijinkan Rahma melihatku tadi."
Kebisuan masih menguasai Marwah, bibirnya terasa terkunci, bahkan enggan untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi, rasa takut akan keselamatan anak-anaknyalah yang membuatnya masih terdiam.
Sementara Marko masih medesak Marwah untuk bercerita, ada sepasang mata dengan bulu mata lentik memperhatikan mereka dari kejahuan, ada kebencian terpancar dari sorot matanya, tangannya pun mengepal menahan amarah.
Sial, masih berani mendekati Marko lagi ternyata wanita miskin itu, lihat saja, aku tidak akan tinggal diam, Marko hanya milikku, ceracaunya dalam hati.
Bergegas wanita cantik dengan tampilan yang sexy dan glamour itu meninggalkan tempat yang sudah membuat darahnya mendidih karena cemburu.
Wanita yang ternyata Sinta segera menghubungi seseorang lewat telpon, "Bereskan wanita miskin itu, jangan sampai gagal kali ini, Paham!" ,entah siapa yang di hubungi, yang jelas ada niat tidak baik dari perintahnya.
"Mak nggak makan?" ,tanya Nisa saat melihat makanan di piring ibunya masih belum tersentuh.
"Nanti saja, Mak nggak lapar." selera makannya memang tiba-tiba hilang saat melihat Marko bersama Rahma tadi.
"Mak, boleh nggak kita main di sana?" Nisa meminta ijin pada ibunya sambil menunjuk mini playgroud yang memang disediakan pihak restoran.
"Boleh, di temani Mas Fahmi ya, Fah temeni adik-adikmu main di sana, ingat jangan jauh-jauh, mereka berdua tanggung jawabmu," Marwah berpesan pada Fahmi setelah remaja lelaki itu kembali dari mencuci tangan.
"Baik Mak, ayo, kalian cuci tangan dulu, baru boleh main, oke."
"Siap Bos," teriak kedua gadis kecil itu dengan penuh kegembiraan.
Hal itu tidak luput dari perhatian lelaki tampan yang berada diantara mereka, wajah ceria, binar kebahagiaan terpancar dari anak-anak shalih dan shaliha, terselip rasa bangga pada wanita yang duduk di hadapannya karena telah mampu merawat serta mendidik ketiga buah hatinya dengan baik berlandaskan nilai-nilai agama.
Marko berdiri lalu menjauh dari meja mereka, sekedar memberi waktu pada wanitanya agar bisa mempertimbangkan untuk bisa bebagi kisah dengan dirinya. Marwah hanya bisa menatap punggung lebar lelaki yang menjauh dari tempatnya.
Segala rasa masih berkecamuk dalam pikiran Marwah, sebait doa dipanjatkan dala hati untuk membuat keputusan yang dirasa sulit, harus terbuka pada Marko atau menutupi selamanya dari lelaki tampan yang sudah terlihat berjalan kembali ke arahnya.
Nampan dengan menu khas restoran yang mereka kunjungi, avocado juice serta strawbery milk shake kegemaran Marwah, sudah diletakkan Marko di atas meja. Sejenak meramu berbagai sauce di piringnya, lalu mengambil makanan untuk disuapakan pada Marwah.
__ADS_1
"Akh....," kata Marko tiba-tiba.
Marwah terkejut dengan apa yang dilakukan Marko, dengan tangan terulur penuh makanan ke depan mulutnya dan siap untuk disuapkan padanya.
"Makanlah, lupakan hal yang tidak perlu dipikirkan," kembali Marko berkata pada Marwah.
Mau tidak mau, Marwah membuka mulutnya untuk menerima suapan dari lelaki yang menampilkan senyum manisnya saat makanan ditangannya berpindah ke dalam lambung wanita yang sangant dicintainya.
"Habisin ya," ucap Marko sambil menyuapkan makanan ke mulutnya juga.
Sungguh manis interaksi mereka berdua, makan sepiring berdua, suapan demi suapan bergantian masuk ke mulut mereka, hingga tak terasa dua piring nasi dengan ayam goreng sukses berpindah dalam lambung mereka.
Lekat netra Marko masuk ke dalam manik kecoklatan milik Marwah, sesaat mereka hanyut akan suasana tanpa aksara, hanya melodi sanubari yang mewakili masing masing mengungkapkan segala rasa yang ada.
Perasaan yang mungkin belum selesai diantara mereka sejak berpuluh tahun yang lalu, kembali menguarkan rasa, tunas cinta yang mati suri dihati Marwah mulai bergeliat untuk tumbuh, setelah tersiram kasih sayang dari lelaki cinta pertamanya dulu.
Bunga bunga dihati Marko semakin bermekaran, tumbuh subur seiring kebersamaan dengan wanita yang lama dirindukannya, rona bahagia sangat jelas tergambar dari wajah tampan berjambang tipis.
Tanpa mereka sadari sosok gadis cilik dengan hijab dan gamis berwarna hijau neon memperhatikan kedua orang dewasa yang sangat disayanginya, kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri, rasa heran menyelimuti pikirannya.
"Mak, Mak ngapain?" ,Nisa menggoyang lengan ibunya.
Dua manusia dewasa beda gender itu hampir bersamaan tergeragap, salah tingkah seperti remaja belasan yang ketahuan pacaran, rona merah terlihat jelas di wajah Marwah, sedangkan Marko segera beranjak ke wastafel untuk mencuci tangannya.
"Mak ngapain liat liatan sama Om?" ,kembali Nisa bertanya.
"E, enggak ngapa ngapain sayang, Nisa udah mainnya, Mas Fahmi sama Kak Rahma mana?" ,Marwah mencoba mengalihkan rasa penasaran Nisa pada apa yang baru saja dilihatnya.
"Nisa haus, mau minum, Mas sama kakak masih main."
Marwah membukakan tutup botol air mineral lalu memberikan pada gadis kecilnya, Nisa meminumnya hampir separuh botol, lalu kembali pamit untuk bermain lagi.
Marko kembali ke meja mereka, sambil membawa kentang goreng juga eskrim coklat, mata Marwah membola, saat dihadapannya kembali ada makanan kesukaannya, perutnya sudah terasa penuh, masih harus ditambah makanan lagi.
__ADS_1
"Aku masih kenyang, Mas," Protes Marwah.
"Yakin nggak mau, enak lo," ujar Marko sambil memasukkan sesendok eskrim coklat, dengan lelehan saus coklat yang menggoda.
"Alhamdulillah, nikmatnya," kembali Marko menggoda wanita dengan hijab motif bunga yang sepertinya mulai tergoda dengan kenikmatan eskrim kesukaannya.
Tanpa basa basi Marwah langsung mengarahkan tangan Marko yang memegang sendok penuh eskrim ke mulutnya, karena Marko terkejut eskrim jadi belepotan dibibir cinta pertamnya.
"Ha ha ha," Marko tertawa melihat hal itu, segera dibersihkan sisa sisa eskrim yang belepotan.
"Kaya anak kecil aja kamu Dek," Marko mengubah panggilannya untuk Marwah.
"Maaf, tadi manggil apa?" ,Marwah menatap serius pada lelaki yang sedang asyik menikmati kembali eskrimnya.
"Emang nggak boleh?"
"Orang nggak jelas manggil apa, cuma agak aneh aja, apa gitu."
"Udah lupain, habisin nih." Marko menyodorkan mangkuk eskrim kehadapan Marawah.
Fahmi kembali bersama Rahma saat eskrim dalam mangkuk ibunya habis tak bersisa, terselip rasa bersalah dalam hatinya, asyik menikmati eskrim sampai habis, tidak menyisakan untuk anak anaknya.
Seperti mengetahui suara hati Marwah, lelaki itu berbisik, "Anak anak sudah aku belikan, tenang aja."
"Makasih Mas."
"Nisa mana Mak?" ,suara Rahma terdengar diantara mereka.
"Bukanya tadi nyusul kalian lagi?" ,terkejut saat Marwah mengetahui Nisa tidak bersama kedua kakaknya.
"Tadi pamit mau minum Mak, terus nggak kembali," terang Fahmi.
"Masyaallah, kemana Nisa Mas?" ,kepanikan jelas melingkupi Marwah.
__ADS_1
🌿🌿🌿🌿
Kira kira Nisa kemana ya? penasaran kan?