Doa Wanita Pemulungoleh. Teratai Taligama

Doa Wanita Pemulungoleh. Teratai Taligama
Part 18


__ADS_3

Air mata Marwah tak bisa di bendung lagi, rasa khawatir mendominasi hati juga pikirannya, melihat si bungsu tergolek dengan mata terpejam, walau Marko mengatakan kalau Nisa sedang tertidur tetapi perasaan seorang ibu tetap tak bisa abai saat melihat buah hatinya mengalami musibah.


"Dek, sudah, biar Nisa istirahat, kan sudah ditangani, kamu juga istirahat, anak anak dimana?" Marko bersuara di sebelah Marwah.


Rasa keheranan menyergap Marwah saat mendengar Marko memanggil dirinya dengan sebutan Dek.


"Anak anak di luar sams Bang Jaka, nggak boleh masuk soalnya," terang Marwah.


"Aku tinggal sebentar anter anak anak pulang nggak apa apa kan? kasian kalau harus nunggu di luar."


"Di rumah nggak ada siapa siapa Mas, aku khawatir," kecemasan kembali menghunggapi hati Marwah.


"Aku ajak pulang ke rumah, di rumah ada bibi yang bisa nemenin mereka, kamu nggak usah khawatir, fokus aja temenin Nisa."


"Apa nggak merepotkan nanti Mas?"


"Enggak lah, Fahmi sama Rahma kan anak anak mandiri, aku pamit dulu ya, kalau ada apa apa Jaka di depan."


"Baik Mas, hati hati dan titip anak anak."


"Iya, assalamualaikum."


"Alaikumsalam."


Sepeninggal Marko, ibu tiga anak itu segera melaksanan kewajiban empat rekaatnya yang tertunda, sujud di hanparan sajadah musola rumah sakit, setelah lebih dulu menitipkan Nisa pada perawat jaga.


Menumpahkan segala keresahan hatinya, meminta kesembuhan untuk si bungsu, juga perrlindungan untuk anak anaknya yang lain, memohon petunjuk tentang hubungan pertemannya dengan lelaki yang sudah begitu baik.


Rasanya baru beberapa waktu kehidupannya tenang, damai, tetapi begitu bertemu lagi dengan Marko ada saja masalah, bukan, bukan dirinya menyalahkan lelaki tampan itu, namun semenjak kejadian teror di rumahnya dua bulan yang lalu, kekhawatiran selalu membayangi kehidupannya.


Setelah puas bermunajat pada Rabb-nya, Marwah bergegas kembali ke kamar rawat Nisa, di depan ruangan itu Jaka masih setia duduk sambil memainkan ponselnya.


"Assalamualaikum, Bang," sapa Marwah.


"Alaikumsalam, Bapak sudah di dalam Mbak," jawab Jaka dengan memberitahukan keberadaan Marko.


"Iya Bang, makasih infonya."

__ADS_1


"Sama sama, Mbak, sebelumnya saya minta maaf, ada baiknya peristiwa beberapa bulan yang lalu diberitahukan ke Bapak saja, takut kalau kalau ada kejadian lagi," saran Jaka.


"Coba nanti saya pertimbangkan Bang, makasih masukannya, saya pwrmisi dulu."


"Sama sama, silahkan Mbak."


Saat memasuki ruang rawat Nisa, terlihat pemandangan yang mengusik hati Marwah, denyan telaten dan sabar Marko sedang memyuapi Nisa sambil.bercerita, entah apa yang di ceritakan lelaki itu, hingga membuat gadis kecilnya tertawa lebar, melupakan sejenak rasa sakit di tangannya.


Lelaki itu kenapa bisa membuat anak anaknya merasa nyaman di dekatnya, mengambil hati mereka, hingga hubungan mereka bisa sedekat itu, jujur saat awal awal keluarganya menghindar dari Marko, Nisa deman, bahkan sampai mengigau, memangil nama Marko, dan saat bersamaan lelaki berhati mulia itu sedang gencar gencarnya mencari keberadaan mereka.


"Mak," suara Nisa memecah lamunan Marwah.


"I--iya sayang, maaf ya Mak lama, solat di musola." aku mendekat ke ranjang gadis kecilku.


"Nggak apa apa Mak, ada Om Marko yang nemenin Nisa," jawab lugas si bungsu.


"Makasih ya Mas, maaf udah selalu merepotkan."


"Repot apa, nggak ada yang repot, ini tadi bibi masak lebih, aku bawain buat makan siang, kamu makan dulu."


"Mas sudah makan?"


Marwah menikmati makan siang yang kesorean denga menu kesukaannya, ayam rica dengan urap sayuran, dirinya sadar jika lelaki yang tengah duduk di samping ranjang anaknya sedang menatap dirinya tanpa henti.


Berusaha untuk tetap tenang dah menikmati makanannya, tanpa mempedulikan tatapan dari lelaki yang telah mampu menggetarkan hatinya, hingga saat suapan terakhir terasa ponselnya bergetar.


Segera diambilnya benda pipih pemberian Marko itu, terlihat notif chat Whatsapp, lalu di bukanya isi pesan terasebut.


Masih belum tinggalin Marko juga ya ternyata, itu baru tangan anakmu yang patah, belum nyawanya yang melayang, suara penelpon di seberang sana mampu membuat Marwah di sergap rasa ketakutan.


"Ini siapa?" tanya Marwah, nafsu makannya seketika lenyap


Mau coba coba dengan saya ya, oke lihat saya apa yang terjadi setelah tangan anakmu yang patah, kembali suara di ujung telepon mengancam Marwah.


"Mau Anda apa? kalau saya punya salah pada Anda katakan, jangan sentuh anak anak saya," suara Marawah meninggi, emosinya tersulut hingga lupa kalau di situ ada Marko, yang pasti akan mempertanyakan apa yang terjadi.


Saya tidak pernah main main, lihat saja apa yang akan terjadi.

__ADS_1


"Urusan Anda dengan saya, jangan celakain anak anak saya, mereka tidak tahu apa apa," tergetar suara Marwah antara rasa takut yang mendera juga emosi yang tertahan.


Tuuut....sambungan telepon terputus.


"Halo, halo, mau anda apa?" tubuh Marwah seketika lemas seperti tak bertulang.


Marko mendekat dan memegang bahu wanita yang terlihat sedang ketakutan serta kecemasan meliputi wajah ayunya.


"Dek, ada apa? siapa yang telepon?" berondong Marko pada wanita yang duduk di depannya.


"Nggak tahu, orang sinting neror neror terus, Nisa kaya gini juga perbuatan dia, ngancam mau nyelakain anak anak kalau Mas, terus dekat dekat dengan kami," Marwah memberi penjelasan.


"Sejak kapan? kok nggak bilang?" jujur Marko sangat terkejut saat mengetahui kalau keluarga wanita yang di sayangi mengalami peneroran karena dirinya.


"Sejak beberapa bulan yang lalu."


"Kenapa nggak ngomong, Dek? kan bisa aku urus, kasian anak anak kalau sampai kaya gini?" gemas hati Marko, bisa bisanya Marwah menyembunyikan hal sebesar ini dari dirinya.


"Beberapa bulan terakhir Mas nggak hadir dalam kehidupan kami, semua baik baik saja, hari ini, baru beberapa jam Mas bersama kami Nisa sudah celaka, apa salah kalau aku menjauh dari Mas?" Marwah mulai terisak.


"Dek, ini bisa di atasi kalau kamu ngomong dari awal, jangan bilang kalian pindah rumah sengaja menghindar dari aku?" selidik Marko tentang kecurigaannya yang seketika melintas di pikirannya begitu saja.


"Iya, maka dari itu aku mohon jangan pernah lagi hadir dalam kehidupan kami Mas, aku takut kehilangan anak anak, hanya mereka yang aku miliki, aku pasti tidak bisa bertahan jika terjadi sesuatu pada mereka," tangis Marwah semakin menjadi.


"Dengar, aku akan menyelesaikan semua ini, berikan ponselmu supaya aku bisa melacak siapa yang menelponmu tadi." Marwah memberikan ponselnya pada Marko.


"Pegang ponsel ini, benda ini sudah terhubung ke ponselku juga Jaka, kalau ada apa apa segera hubungi aku, di depan akan tetap ada penjaga pengganti Jaka jadi nggak usah khawatir," panjang kali lebar Marko memberi penjelasan pada Marwah.


"Tapi Mas, bagaimana dengan Fahmi dan Rahma?" kekhawatiran menyelimuti hati ibu yanh tengah terpisah dengan dua anaknya yang lain.


"Keamanan di sana berlapis, dengan orang orang kepercayaan, doakan semua akan baik baik saja, aku pergi dulu, jaga Nisa baik baik, jaga hatimu untuk aku, assalamualaikum."


"Hati hati Mas, alaikumsalam."


Marko bergehas meninggalkan rumah sakit untuk berkoordinasi dengan orang orang kepercayaannya, di depan kamar rawat Nisa ada dua penjaga yang khusus di siapkan lelaki itu, di luar rumah sakit pun ada beberapa orang penjaga yang di tempatkan Marko dibeberapa titik.


🌿🌿🌿🌿

__ADS_1


Bagaimana kisah selanjutnya, tunggu aja ya


__ADS_2