
Senyum bahagia terpancar dari wajah-wajah polos, tiga bocah yang sedang menikmati makan siang mereka yang terlambat, semur ayam berkuah cokelat, dengan rasa yang cenderung manis dan gurih, mampu memanjakan lidah anak-anak yang memang jarang merasakan masakan mewah, seperti daging ayam, atau daging sapi.
"Mak, alhamdulillah kita bisa makan ayam, Nisa suka, masakan emak memang juara," si bungsu dengan lahap menikmati menu istimewa buatan tangan emaknya.
"Alhamdulillah, Allah masih memberikan kita rejeki lebih, makanya kalian jangan lupa selalu bersyukur atas nikmat yang Allah berikan." ditatapnya satu persatu penyemangat hidupnya.
"Insyaallah mak, kita selalu bersyukur atas semua pemberian Allah pada kita," putri keduanya Rahma berkomentar.
"Ayo, lekas dihabiskan makannya, jangan sampai telat jama'ah ke masjid," lanjut Marwah mengingatkan anak-anaknya untuk sholat di masjid.
"Siap Mak," hampir bersamaan mereka menjawab.
Fahmi, anak lelaki satu-satunya yang dimiliki Marwah, dengan sigab segera membereskan bekas makan siang mereka, sisa lauk, nasi dan sayur, disimpannya dalam grobog (semacam almari kecil dari kayu), sedang Rahma mencuci piring dan perlengkapan makan kotor, bekas mereka gunakan tadi.
Setelah semua siap, ketiga anak Marwah segera beregas menuju mushola yang tak jauh dari rumah petak mereka, rumah kontrakan milik Pak Haji Munawir, orang yang selalu membantu orang-orang tidak mampu seperti keluarga Marwah.
"Assalamualaikum, aku lapar, ambilkan makan."
"Alaikumsalam, cuci tangan dulu Pak, habis dari luarkan? banyak virus," kata Marwah pada suaminya.
"Heleh, virus itu cuma buat orang-orang kaya, nggak mempan sama orang miskin kaya kita," ucap Sudrajad sambil menerima piring berisi nasi dengan lauk dan sayur yang cukup istimewa.
"Astaqfirulloh Pak, jangan takabur, hati-hati kalau ngomong, Pak."
"Weh, makan enak ini, dapat uang dari mana? jual diri dimana kamu?" ,ejek Sudrajad pada istrinya, dengan sorot mata yang menghina.
"Masyaallah Pak, itu pemberian nyonya di komplek depan, insyaallah hallal Pak, kenapa selalu mikir seperti itu, aku ini istrimu, Pak!" ,suara Marwah terkecat dan sarat kekecewaaan.
__ADS_1
Marwah melangkah meninggalkan lelaki yang selalu merasa cemburu pada dirinya, lelahan air mata berlomba dengan lelahan air dingin yang mengguyur tubuhnya, sesak di dadanya semakin membuat air matanya tak mau berhenti.
"Sampai kapan kecemburuanmu itu akan terus merusak pikiranmu, Pak?" isak tangis Marwah di kamar mandi tertutup dengan suara air kran yang mengalir.
Selesai membersihkan diri, segera Marwah menunaikan 4 rekaat yang belum sempat dilaksanakan tadi, saat memasuki kamar terlihat suaminya sudah tertidur dengan nyenyaknya, merasa jika suaminya belum sholat, ia mencoba membangunkan lelaki yang sudah membersamainya selama 15 tahun terakhir.
"Pak, Pak....ashar dulu." diguncangkan perlahan tubuh Sudrajad.
"Brisik tahu," bentak Sudrajad ke arah Marwah.
Merasa tak ada gunanya mengajak suaminya beribadah, Marwah melaksanakan sholat sendiri, selesai sholat ia melanjutkan pekerjaan, menyeterika baju-baju tetangganya yang seorang guru.
Memang semenjak diberlakukannya work from home, Marwah mendapat pekerjaan tambahan, menyeterika baju tetangganya yang seorang guru SMA, beliau merasa sibuk dengan pelajaran daring bersama murid-muridnya, hingga tidak sempat menyeterika baju-baju mereka, makanya menggunakan jasa Marwah.
🌹🌹🌹🌹
Sudah hampir 3 bulan Sudrajad tidak bekerja, keluar pagi, nongkrong di pos ronda bersama beberapa temannya, hingga ada seorang pemilik ekspedisi membutuhkan tenaga kerja, Sudrajad mencoba menawarkan diri untuk bekerja di ekspedisi milik Pak Marno.
Semenjak Sudrajad bekerja di tempat pengiriman barang antar kota, kondisi keuangan keluarga mereka sedikit membaik, tetangga yang menggunakan jasa seterika Marwah juga bertambah, semua tak lepas dari bantuan Bu Sri, ibu guru yang pertama kali meminta bantuannya untuk seterika.
Siang ini seperti biasa, setelah menyelesaikan seterikaan tetangganya, Marwah berjalan pulang, sebelum pulang ia mampir ke warung untuk membeli beberapa keperluan dapur yang sudah habis.
Tanpa Marwah sadari ada sepasang mata yang memperhatikan setiap gerak gerik Marwah dengan intens, dari balik kacamata hitam yang menyembunyikan sorot mata elang yang tajam, ada kilat rindu yang tak bisa disembunyikan pada wanita yang tengah asyik memilah beberapa sayuran dilapak pedagang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Aku berjanji untuk membahagiakanmu, walau harus merebutmu dari suami brengsekmu, sayang, monolognya dalam hati.
Setelah selesai berbelanja Marwah bergegas kembali kerumahnya, berjalan dengan terseok, ia merasa ada yang memperhatikan sejak tadi saat masih di warung, namun diacuhkan, tapi karena saat ini ia telah berada dijalanan maka ada sedikit rasa takut dalam hatinya.
__ADS_1
Dipercepat langkah kakinya, ingin segera sampai dirumah, namun justru semakin terasa berat langkah kakinya, sesaat Marwah teringat jika harus melewati tanah kosong dan jalanan yang lumayan sepi, apalagi saat pandemi seperti ini, akan semakin jarang orang berlalu lalang ditempat itu.
Oh....sungguh, nyalinya menjadi ciut saat ini, bayang-bayang penculikan komplotan penjual organ tubuh manusia, seketika berkelebat dibenaknya, keringat dingin semakin bercucuran disekujur tubuhnya, bagaimana nasib anak-anaknya jika sampai sesuatu terjadi pada dirinya.
Marwah semakin mempercepat jalannya, bahkan sampai menyeret kaki kirinya, tak lama setelah melewati tanah kosong terlihat banguan rumah petak berdempet, dirinya pun semakin mempercepat langkahnya, dan setelah berada di depan rumahnya, segera dibuka pintu depan dan segera menutupnya dengan keras, hingga membuat terkejut ketiga anaknya yang sedang mengerjakan tugas sekolah.
"Mak, Mak kenapa?" ,Fahmi langsung mendekat pada ibunya, saat melihat wanita yang telah melahirkanya seperti ketakutan.
"Diminum dulu mak," Rahma menyerahkan segelas air putih pada ibunya.
"Emak merasa diikuti orang tadi, makanya emak ketakutan," suara Marwah masih terdengar gemetar.
"Perasaan emak saja mungkin, mak," Fahmi menyahut perkataan emaknya, setelah melihat situasi di luar rumah tidak ada tanda-tanda orang yang mencurigakan.
"Mungkin, iya mungkin, perasaan emak saja, ya sudah emak mau sholat dulu, kalian sudah sholat?"
"Sudah Mak," hampir bersamaan mereka menjawab pertanyaan emaknya.
"Ya sudah, lanjut belajarnya."
"Siap Mak."
Marwah segera membersihkan diri lalu mengambil air wudhu, dan menjalankan ibadah 4 rekaatnya siang menjelang sore, dalam benak wanita yang masih terlihat gurat kecantikannya, tanda tanya bertengger sukses disana, siapa yang mengikutinya, dan ada maksud apa dengan dirinya, hingga terdengar suara dering ponsel android milik Fahmi membuyarkan lamunan Marwah.
"Mak, ada telpon dari temen Emak katanya," ucap Fahmi saat mendekat ke arah Marwah.
"Asaalamualaikum," sapa Marwah setelah ponsel berpindah tangan.
__ADS_1
"Alaikumsalam, bagaimana kabarmu sayang?" ,seketika wajah Marwah berubah saat mengenali suara siapa diseberang sana.
tbc.