Doa Wanita Pemulungoleh. Teratai Taligama

Doa Wanita Pemulungoleh. Teratai Taligama
Part 22


__ADS_3

Pajero sport warna hitam membelah jalanan Ibu Kota siang ini, Jaka memegang kemudi, sedang Marko duduk dengan tenang di sampingnya, Marwah dan Nisa duduk dengan tenang di kursi penumpang yang berada di tengah.


Perjalanan yang menempuh waktu hampir satu jam, akhirnya mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki sebuah halaman luas, dengan bangunan rumah megah berdiri kokoh menjadi latar belakangnya. Marwah turun dari mobil setelah Nisa lebih dulu di gendong Marko untuk memasuki rumah dengan dominasi warna abu-abu.


Sejenak Marwah merasa ragu untuk melanjutkan langkahnya untuk memasuki rumah lelaki yang begitu menyayangi dirinya juga ketiga anaknya, terdengar teriakan Fahmi dan Rahma dari dalam rumah saat melihat Marko memasiku rumah sambil menggendong Nisa.


"Permisi Bu, maaf biar barang-barangnya saya bawakan," tiba-tiba terdengar suara wanita tepat berada di samping Marwah.


"Eh, nggak usah Bu, biar saya bawa sendiri saja," Marwah merasa terkejut juga heran siapa wanita yang berada di hadapannya sekarang.


"Saya Bi Narti, Bu, ART di rumah ini," seperti tahu isi hati Marwah, wanita bertubuh subur itu memperkenalkan diri padanya.


"Saya Marwah, Bi, emaknya Fahmi juga Rahma," ucap Marwah membalas ulurang tangan Bi Narti.


"Bu, maaf biar saya saja yang bawa tasnya, bapak yang minta tadi," ucap Bi Narti pada Marwah.


"Nggak usah Bi, saya bisa bawa sendiri," ulang Marwah menolak bantuan Bi Narti.


"Nanti saya di marahi bapak lo, Bu," ucap Bi Narti dengan tatapan memohon.


"Ya sudah kalau begitu, Bi, tolong jangan panggil Bu ya, saya rikuh, panggil Marwah saja." akhirnya Marwah mengalah, dirinya tidak mau wanita paruh baya yang sudah membantu menjaga kedua anaknya kena omel Marko hanya masalah tas.


"Nggak sopan rasanya kalau saya hanya memanggil nama saja, gimana kalau saya panggil Mbak?"

__ADS_1


"Boleh, boleh Bi, itu lebih baik dari pada Bu," kami tertawa bersama sambil melangkah ke dalam rumah.


Marwah mengagumi interior rumah yang hanya di huni Marko bersama beberapa pegawainya, betapa sepinya bangungan sebesar ini tanpa celoteh anak-anak, suara hati wanita yang menggunakan kerudung lebar berwarna ungu gelap.


Bi Narti mengatarkan Marwah dan Nissa ke kamar yang sudah di siapkan letaknya persis berhadapan dengan kamar Marko, sedang kamar Fahmi berada di sampingnya, Rahma menempati kamar yang terletak dekat dengan tangga tepat besebelahan dengan kamar ibu dan adiknya.


Dengan segala fasilitas mewah yang berada di rumah Marko membuat ketiga anak Marwah merasa nyaman bahkan Marko mendatangkan guru privat untuk ketiga buah hati wanita yang dicintainya dari dulu.


Marwah menjalani aktifitas di kediaman Marko seperti biasa, selepas solat subuh dirinya sudah berkutat di dapur bersama Bi Narti menyiapkan sarapan untuk Marko juga anak-anaknya. Bi Narti merasa senang dengan adanya Marwah beserta ketiga anaknya di rumah besar ini yang biasanya sepi sekarang ada celoteh Fahmi dan kedua adiknya membuat suasana rumah mewah menjadi lebih hidup.


Marko tersenyum saat melihat wanita yang selama ini menjadi ratu hatinya tengah menyibukkan diri di dapur rumahnya, setidaknya impinnya sudah menyadi nyata walau belum sepenuhnya, harus masakan menguar di seluruh dapur hingga ke ruang makan, tak seperti pagi-pagi sebelumnya yang hanya tercium aroma roti panggang atau pancake buatan Bi Narti.


Awal hari ini aroma nasi goreng special menyapa indra penciuman lelaki yang tak biasa sarapan berat selama ini dan mungkin mulai hari ini dirinya harus membiasakannya, suara anak-anak yang berebut turun dari tangga memecah lamunan Marko yang sedari tadi berdiri di ambang pintu pemisah antara dapur dengan ruang makan.


Marwah di bantu Bi Narti menyiapkan sarapan di meja makan, ketiga anaknya sudah duduk manis di kursi masing-masing, sedang Marko masih saja berdiri di tempatnya semula sambil memperhatikan aktifitas calon-calon anggota keluarga barunya.


"Mas, sarapan dulu," ucapan Marwah menyadarkan Marko dari bayang-bayang masa depan dengan mereka.


"Iya," jawab Marko sambil menempati kursi yang biasa di dudukinya.


Marwah membantu ketiga anaknya mengambil makanan, juga untuk Marko di siapkanya nasi goreng special dengan telur mata sapi setengah matang yang di taburi lada juga oregano, Marko tersenyum saat melihat jika wanita kesayangannya masih ingat makanan kesukaannya.


Saat sedang menikmati sarapan dengan suasana hangat yang di selingi celoteh ketiga bocah pembawa keceriaan tetiba terdengar suara seorang wanita paruh baya menyapa mereka, "Wah....wah, siapa ini kok jadi ramai sekali rumah kamu, Ko?"

__ADS_1


"Ibu!? kenapa tidak mememberi kabar kalau mau datang," Marko segera berdiri menyambut kedatangan Bu Siwi--ibunda Marko, di ikuti Marwah.


"Sengaja Ibu datang pagi-pagi karena ibu mendengar ada tamu istimewa di rumahmu," ujar Bu Siwi dengan pandangan penuh selidik pada Marwah juga ketiga anaknya.


"Ibu dengar dari siapa? ini Marwah, mereka ketiga anaknya," Fahmi dan kedua adiknya bergantian menyalami serta mencium tangan Bu Siwi, setelahnya Marko menyuruh mereka melanjutkan sarapan karena sebentar guru privat mereka datang.


Marwah mengambil tangan Bu Siwi, mencium tazim tangan wanita yang pernah menoreh luka di hatinya beberapa tahu silam, "Assalamu alaikum, Ibu apa kabar?" sapa Marwah dengan sopan.


"Alaikum salam, alhamdulliah baik, sudah lama di sini?" jawaban ketus terdengar dari suara wanita yang masih menatapnya tajam.


"Dari kemarin Bu, maaf jika kedatangan saya juga anak-anak membuat Ibu tidak berkenan," entah kenapa Marwah merasa harus mengucapkan hal itu karena sikap Bu Siwi yang masih belum berubah terhadap dirinya.


"Memang saya merasa terganggu, apalagi sebentar lagi Marko akan menikah jadi kehadiranmu pasti sangatlah tidak di harapkan," perkataan Bu Siwi sangat menampar nurani Marwah, dirinya merasa di permalukan karena selama ini Marko tak pernah mengatakan apapun tentang rencana pernikahannya.


"Ibu! nggak usah membahas itu lagi, aku sudah bicara pada Sinta jika kami tak mungkin menjalani perjodohan ini," jelas sudah semuanya, perih hati Marwah, selama ini Marko telah membohonginya bahkan mempermainkan perasannya.


"Ibu, maaf saya mohon diri untuk menemani anak-anak, assalamu alaikum." bergegas Marwah mengajak anak-anaknya untuk membereskan barang-barang mereka dan segera meninggalkan rumah mewah ini.


Tanpa banyak tanya ketiga anak itu menurut apa yang diperintah ibu mereka, walau terlihat jelas raut kecewa tercetak di wajah ketiganya, jujur Marwah merasa bersalah merampas kebahagiaan anak-anak saat bersama Marko karena dia tidak mau kalau buah hatinya mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan, cukup dirinya saja yang merasakan sakitnya di perlakukan sedemikian rupa oleh Bu Siwi.


🌹🌹🌹🌹🌹


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2