Doa Wanita Pemulungoleh. Teratai Taligama

Doa Wanita Pemulungoleh. Teratai Taligama
Part 4


__ADS_3

"Astaqfirullohalazim, Marwah...."


"Tolong....tolong....," teriak Bu RT, di jalan depan rumah Marwah.


Segera beberapa warga disekitar rumah Marwah, berdatangan satu persatu, dan segera membawa wanita yang terluka batinnya itu, ke rumahsakit terdekat dengan kampung tempat tinggal mereka.


Bu RT menemani Marwah ke rumahsakit, dan ketiga anak yang masih belajar secara daring di rumahnya, sudah dititipkan pada tetangga yang rumahnya tak jauh dari rumah mereka.


Sesampainya di IGD, Marwah segera ditangani dokter dan tenaga medis yang lain, Bu RT menunggu di luar, ditemani Yu Naning, tetangga sebelah rumah Marwah.


"Bu, gimana nasib Marwah, juga anak-anaknya kalau seperti ini? Sudrajad itu memang lelaki brengsek, nggak tanggungjawab sama keluarganya," geram Yu Naning saat menceritakan tentang Sudrajad.


"Sabar Yu, kita berdoa saja, semoga Marwah baik-baik saja, dan segera membaik kondisinya," ucap Bu RT pada Yu Naning.


Sudah hampir satu jam Marwah di dalam dan sedang ditangani dokter, tapi sampai sekarang belum ada yang memberitahukan tentang kondisinya pada Bu RT dan Yu Naning. Sampai akhirnya seorang dokter keluar dari ruang IGD, dan menghampiri Bu RT juga Yu Naning.


"Maaf, apakah Ibu berdua ini keluarga pasien atas nama Bu Marwah?" ,tanya dokter wanita yang menggunakan hijab tosca.


"Betul dok, saya kerabatnya, bagaimana kondisi Marwah sekarang?" ,jawab Bu RT dan dianggukin oleh Yu Naning.


"Alhamdulillah, kondisi Bu Marwah sudah membaik, luka dikepalanya sudah mendapat 3 jahitan, namun pasien masih harus dirawat beberapa hari kedepan, karena kami akan melalukan observasi lebih lanjut, akibat benturan dikepala pasien," cakap panjang lebar, dokter yang menggunakan name tag bertuliskan, Retno Haryati.


"Lakukan pengobatan terbaik untuk Marwah dok," belum sempat Bu RT menjawab penjelasan Dokter Retno, ada suara lelaki dari belakang mereka.


"Maaf, anda ini siapanya Marwah?" ,tanya Bu RT pada lelaki yang berdiri tepat di hadapannya, setelah ia berbalik badan.


"Saya kerabat Marwah, nanti bisa ditanyakan padanya tentang siapa saya, Dok tolong berikan pengobatan dan kamar rawat terbaik untuk Bu Marwah," ucal tegas lelaki yang terlihat bukan orang biasa.


"Tapi maaf, anda bukan orang jahat kan?" ,tanya Yu Naning dengan sikap agak takut.


"Insyaallah bukan Bu, saya sudah mengenal Marwah dari sebelum dia menikah, jadi tidak mungkin saya berniat jahat padanya, Ibu berdua juga Dokter, tidak usah khawatir, bila perlu ini ada kartu identitas saya, bisa ibu pegang," terang lelaki itu, sambil mengeluarkan kartu identitas dari dompetnya.

__ADS_1


"Eh, nggak....nggak usah Pak, kami percaya sama Bapak, perkenalkan saya Maryati, istri ketua RT di lingkungan tempat tinggal Marwah, dan ini Yu Naning, tetangga sebelah rumah Marwah," Bu RT mengenalkan dirinya dan Yu Naning, pada lelaki itu.


"Perkenalkan saya Marko, teman lama Marwah," ucap lelaki yang ternyata bernama Marko.


"Maaf, memotong pembicaraan Ibu dan Bapak, jadi bagaimana dengan kelanjutan perawatan Bu Marwah?" ,potong Dokter Retno.


"Seperti yang saya katakan tadi, berikan perawatan dan pengobatan yang terbaik untuk Bu Marwah, saya yang bertanggung jawab penuh, selama proses pengobatannya."


"Baiklah Pak, kami akan melakukan yang terbaik, sesuai dengan permintaan Bapak, saya permisi kalau begitu, untuk segera mengurus kepindahan Bu Marwah ke ruang rawat."


"Baik Dok, terimakasih," jawab mereka hampir bersamaan.


Setelah Marwah dipindahkan ke kamar rawat, dengan kelas VVIP, Bu RT pamit pulang, untuk mengurusi ketiga anak Marwah, sedang Yu Naning tetap menemani Marwah atas permintaan Pak Marko.


Sesampainya Bu RT, di rumah Marwah, Fahmi sedang menenangkan ke dua adiknya yang menangis, mungkin mereka sudah tahu tentang kondisi ibunya.


"Budhe, Emak mana?" ,tanya si Bungsu sambil berlari, saat melihat Bu RT sedang melangkah masuk ke dalam rumah.


"Jangan lupa, sekalian buku-buku pelajaran, biar bisa mengerjakan tugas di rumah Budhe," ucap wanita yang menyayangi ketiga anak itu, seperti anaknya sendiri, maklum pernikahan Bu RT yang sudah menginjak tahun ke 10, belum dikaruniai momongan, maka setiap melihat Fahmi dan adik-adiknya sepasang suami istri itu begitu senang.


"Iya Budhe," jawab Rahma dari dalam kamar.


"Budhe, kami sudah selesai," ucap Fahmi mewakili kedua adiknya.


"Ya sudah, ayo segera ke rumah Budhe, jangan lupa pintu dikunci, Fah."


"Iya Budhe, ini sudah Fahmi kunci."


🌹🌹🌹🌹


"Haus," lirih terdengar, suara dari wanita yang terbaring lemah, disebuah ranjang rumahsakit.

__ADS_1


Seorang lelaki dengan serius menekuri layar Maxbooknya, sesaat menghentikan aktifitasnya, karena mendengar suara lirih namun tak jelas, hingga terdengar lagi suara yang sama, namun sudah pasti dari mana arahnya.


Lelaki dengan dandanan maskulin itu segera mendekat ke arah ranjang, dimana terbaring wanita yang masih bertahta dihatinya, dari dulu hingga sekarang, bahkan belum ada yang bisa menggantikan posisinya, walau telah sekian puluh tahun tak bertemu.


Kasih sayang dan cinta yang tulus, tidak akan lekang oleh waktu, demikian juga rasa cinta lelaki yang sedang memperhatikan wanita pujaannya yang masih terbaring lemah.


"Haus," kembali wanita itu berkata lirih, dan sang lelaki dengan sigap menyuapkan sesendok demi sesendok, air minum untuk wanita itu.


"Mar, kamu sudah sadar?" ,lembut suara lelaki yang duduk di samping ranjang Marwah, yang adalah Marko.


"A---, aku dimana? kepalaku kenapa sakit sekali?"


"Pelan-pelan, kamu di rumahsakit, sudah dari kemaren kamu tidak sadarkan diri."


"Ma---,Mas kenapa disini?" ,setelah kesadarannya pulih, Marwah terkejut, melihat Marko berada di sampingnya.


"Sudah nggak usah banyak tanya dulu, buat istirahat saja, aku panggilkan dokter sebentar."


Segera Marko memencet tombol darurat, yang ada di atas kepala ranjang Marwah, ditatapnya dengan intens wanita yang tengah terbaring sambil meringis, menahan nyeri mungkin.


Apapun keadaannya, bagaimanapun kondisinya, namun cinta dan sayangnya tidak pernah berubah untuk wanita yang telah membuatnya terpacu untuk menjadi sukses, seperti sekarang ini.


"Permisi, maaf tadi memencet tombol ya, Pak, ada apa?" ,seorang perawat dengan memakai baju seragam ungu masuk ke kamar rawat Marwah.


"Pasien sudah sadar sus, bisa tolong panggilkan dokter?" ,suara bariton Marko menjawab pertanyaan perawat.


"O, Bu Marwah sudah sadar, baik Pak, sebentar saya panggilkan dokter dulu, permisi." segera setelah berpamitan, perawat tersebut bergegas keluar kamar rawat Marwah.


🌿🌿🌿🌿


Bagaimana kondisi Marwah setelah sadar? bagaimana kelanjutan hubungan Marko dengan Marwah? tunggu di kisah selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2