
Kesedihan dan kehilangan sedang bergelayut dihati juga pikiran Marko, rasa rindu pada Marwah serta anak-anaknya justru melukai hatinya, karena tidak bisa menemukan keberadaan mereka.
Memang sejak kepulangan Marwah dari rumah sakit dulu, Marko sangat sibuk dengan pekerjaanya di luar kota, dirinya sedang membuka pabrik pengalengan buah di daerah Temanggung Jawa Tengah.
Praktis dirinya tidak bisa menyambangi Marwah, hanya Jaka yang di minta tolong untuk mengirimkan kebutuhan keluarga kecil itu, sekembalinya dari Temanggung justru kekecewaan yang didapatnya.
Wanita yang dirindu menghilang tanpa ada kabar, sebenarnya bukan hal yang mustahil bagi Marko menemukan Marwah, tapi entah kenapa wanita yang selalu menghiasi mimpinya seperti disembunyikan alam.
Air mata semakin deras membasahi wajah berahang kokoh, tak dihiraukan lagi jika ada yan melihat kondisinya saat ini, dirinya hanya ingin mengeluarkan kesedihannya karena merasakan kehilangan lagi.
Dibalik pagar pohon perdu, seorang wanita memperhatikan Marko dengan air mata berurai, pedih hatinya saat melihat lelaki yang biasanya tegar, terlihat kacau dengan tampilan berantakan.
"Maaf Mas, aku melukaimu lagi, semua demi kebaikan kita, aku nggak mau anak-anak terluka, kamu layak bahagia, Mas," lirih Marawah berucap.
Perlahan Marwah beranjak dari tempatnya, kembali ke rumah untuk sejenak menenangkan diri, menata hati dan terlebih penting menghindar dari lelaki yang sedang menunggunya di luar sana.
🌹🌹🌹🌹
Hidup terus berjalan, tak perlu meratapi nasib yang tak berpihak padanya, menjadi janda dengan tiga orang anak yang masih sangat membutuhkannya bukanlah sebuah pilihan, alhamdulillah kondisi kakinya sekarang sudah membaik, bahkan boleh dibilang normal berkar terapi yang selalu di jalani.
Pekerjaannya sebagai pengumpul barang bekaspun semakin lancar, beberapa orang menjadi penyetor tetap ditempatnya, dengan demikian secara ekonomi kondisi keluarganya sudah membaik.
Hari minggu, Marwah mengajak ketiga anaknya untuk makaj di luar, restoran ayam goreng yang cukup terkenal dengan gambar pria tua berkumis serta patung ayam, bukan mau pemborosan hanya sekedar menyenangkan anak-anaknya.
Tanpa sengaja Rahma melihat Marko sedang berjalan bersama seorang wanita cantik melintas di dekat restoran tempat mereka makan, gadis kecil itu berlari mendekat untuk menyapa lelaki yang selama ini sudah begitu baik pada keluarganya.
"Om Marko," teriak Rahma untuk menghentikan langkah kedua sejoli itu.
Merasa ada yang memanggil namanya Marko menghentikan langkah, mencari arah sumber suara, hingga terasa ada tangan kecil melingkar di pingggangnya dari arah belakang, lalu dibalikkan badannya untuk melihat siapa yang berada di belakangnya.
"Rahma?" ,Marko nampak terkejut namun rasa haru lebih mendominasi karena bisa bertemu dengan Rahma saat dirinya hampir putus asa mencari keberadaan mereka.
"Assalamialaikum Om," ucap Rahma lirih.
__ADS_1
"Alaikumsalam Sayang, apa kabar? Om kangen," direngkuhnya tubuh mungil yang terbalut gamis serta hijab berwarna baby pink itu.
"Alhamdulillah Rahma baik Om, Rahma juga kangen Om Marko, kenapa nggak pernah main kerumah lagi?"
"Tunggu, Rahma ke sini sama siapa?" ,Marko tersadar jika gadis kecil di hadapannya hanya sendirian.
"Sama Emak, Mas Fahmi juga Nisa, lagi makan di sana," Rahma menunjuk restoran ayam goreng siap saji yang tak jauh dari tempat mereka.
"Tadi pamit Emak nggak?" ,terdengar nada khawatir dari suara Marko.
Rahma menggeleng sambil menggigit bibir bawahnya, merasa bersalah sudah pergi tanpa pamit pada emaknya, melihat kegelisahan pada gadis kecil yang di rindunya, tangan kekarnya mengusap lembut kepala yang selalu tertutup hijab.
"Om anter ke tempat emak, ya?"
"Iya Om, makasih Om." wajah Rahma seketika menjadi ceria.
"Mas, siapa anak ini?" ,terdengar suara wanita yang sedari tadi memperhatikan interaksi Marko dengan gadis kecil yang baru saja mendatangi mereka.
"Kok gitu Mas, kenapa malah mentingin anak itu dari pada aku?" ,rajuk Sinta pada Marko.
"Mikir nggak sih, dia anak kecil, udah terserah mau gimana, aku tetap mau anter Rahma." bergegas Marko segera mendekat ke gadis kecil yang sedang menunggunya.
Di dalam resto cepat saji Marwah kebingungan mencari Rahma yang tiba-tiba mengilang tanpa pesan, ketakutan seketika menjalar dihati ibu tiga anak itu.
"Fah, kamu tunggu disini, makan sama Nisa jangan kemana mana sebelum Mak datang, Mak cari Rahma dulu," pesan Marwah pada Fahmi.
"Iya Mak, hati-hati ya Mak."
Marwah bergegas keluar resto untuk mencari Rahma, sambil menanyakan ke beberapa orang yang ditemui tentang keberadaan gadis kecilnya.
Tubuh kurus Marwah seketika membeku saat meliahat gadis kecilnya sedang bersama lelaki yang sudah hampir tiga bulan ini sengaja dihindarinya, Rahma terlihat begitu bahagia saat bersama Marko, begitu juga sebaliknya.
Dirinya hanya bisa terpaku di tempatnya berdiri, kakinya terasa berat untuk melangkah sekedar lebih mendekat pada anak juga lelaki yang sebenarnya dirindukan.
__ADS_1
Saat melihat gadis kecilnya sedang berjalan kembali kearah restoran dengan digandeng Marko, Marwah bergegas kembali ke meja tempat ke dua anaknya yang lain sedang menikmati makan siang mereka.
Gelisah menyelimuti Marwah saat ini, rasa takut kembali menyergap jika Marko kembali masuk ke dalam kehidupan keluarga mereka, tak dipungkiri hatinya agak terusik jika harus merampas kebahagiaan anak-anaknya saat bersama lelaki yang dengan tulus menyayangi ketiganya.
Binar bahagia tak bisa disembunyikan dari wajah rupawan lelaki yang mengandeng gadis kecil sambil memasuki resto ayam goreng, meliahat kembali wanita yang sangat dirindunya beberapa bulan terakhir ini, membuat senyum tercetak jelas di bibirnya.
"Assalamualaikum," sapanya saat sudah mendekat pada meja yang berisi Marwah dengan kedua anaknya.
"Alaikumsalam, Rahma kok bisa sama Om Marko?"
"Jangan dimarahin, tadi cuma nyapa aku saat Rahma melihat aku jalan di luar sana," jelas Marko sekalian membela Rahma.
"Mak, maafin Rahma ya, udah pergi tanpa pamit sama Emak," ucap Rahma penuh penyesalan.
"Iya, jangan diulangi lagi ya." segera dipeluk gadis kecilnya.
"Iya Mak."
"Mar, apa kabar?" ,terdengar suara Marko menghentikan adegan melow antara ibu dan anak di hadapannya.
"Alhamdulillah baik, Mas." tanpa berani menatap lelaki yang sudah duduk di hadapannya.
Ketiga anak yang sudah ditinggal bapaknya itu begitu menikmati menu ayam goreng, hingga tidak terlalu memperhatikan interaksi dua orang dewasa yang berada diantara mereka.
"Kenapa menghilang begitu saja? kalau ada masalah bisakan dibicarakan, nggak perlu menghindar." tajam netra Marko meminta penjelasan pada wanita yang tertunduk saja sedari tadi.
"Coba jawab, ada masalah apa hingga kamu harus menghindar dari aku?" ,kembali Marko kembali bertanya penuh selidik.
"Mar, lihat aku." Marko mengangkat dagu Marwah agar mendongak, karena tidak ada pergerakan dari wanita yang wajahnya sudah berubah sendu.
🌿🌿🌿🌿
Akankah Marwah mengatakan yang sebenarnya pada Marko?
__ADS_1