
"Ini siapa?" ,tanya Marwah pada si penelpon yang menggunakan aplikasi magic call, hingga suaranya sulit dikenali.
Tidak perlu tahu siapa aku, cukup kamu jahui Marko, kalau perlu pergi dari kehidupannya untuk selamanya, jika masih ingin selamar, paham?
"Ini siap---pa?" ,belum selesai Marwah bertanya, sambungan telpon sudah diputuskan.
Tubuh kurus itu seketika luruh, terduduk di kursi yang berapa di sampingnya, kepalanya terasa berdenyut, siapa yang tega melakukan ini pada dirinya? ketakutan seketika mencengkeram nuraninya, keselamatan anak-anak yang lebih mengganggu pikirannya.
Tersadar akan keadaan yang sedang tidak baik-baik saja, Marwah segera mengajak kedua gadis kecilnya ke rumah ketua RT untuk menceritakan apa yang baru saja terjadi, biar bagaimanapun dirinya sekeluarga butuh perlindungan.
Sesampainya dirumah ketua RT, Marwah segera menceritakan masalah teror yang diterimanya, kedua suami istri yang sudah menganggap dirinya seperti keluarga sendiri sangat terkejut dengan apa yang baru saja mereka dengar.
"Astaqfirulloh, kok bisa ada yang melakukan itu sama kamu, Nduk?" ,cicit Bu Maryati.
"Nggak tahu Bu, siapa pelakunya," jawab Marwah dengan nada kecemasan.
"Mar, saran saya, lebih baik kamu hubungi Pak Marko, ceritakan semua yang terjadi, karena ini juga menyangkut dirinya." Pak Manaf memberikan saran untuk permasalahan yang sedang dihadapi Marwah.
"Harus gitu ya Pak? saya takut nanti malah jadi berkepanjangan masalahnya, apa saya pindah kontrakan saja gimana Pak, Bu?"
"Apa nggak malah repot kamu nanti? belum lagi harus cari-cari kontrakan baru, ya kalau lingkungannya baik, kalau enggak gimana coba?" bukanya nyelesein masalah malah nambah masalah." Bu Maryati begitu mengkhawatirkan keadaan keluarganya.
"Kapan hari Pak Haji sempat ke rumah, memberitahukan kalau rumah yang saya tempati mau direnovasi dulu, terus kami diminta pindah ke kontrakan beliau yang di gang belakang," Marwah mencoba menjelaskan kondisinya.
"Begitu? ya kalau itu maunya Wak Haji, ya sudah turutin saja, lagian itu bangunan baru, samping rumah masih ada sisa tanah yang agak luas to, bisa kamu pakai buat gudang barang rongsokan."
"Maksud Pak Haji juga gitu Pak, soalnya rumah yang mau direnovasi akan ditempati anaknya yang baru nikah."
"Yo wes, kamu mau pindahan kapan? biar dibantu warga, terus samping rumah biar dibuatkan bedeng dulu untuk gudang, supaya tetap rapi, nanti Budi sama Nardi yang mengerjakan, kamu nggak usah mikir berat, biar kami yang ngurus, lak ngono to Bu?" ,terang Pak Manaf panjang lebar.
"Bener itu, lagian gang belakang juga masih jadi satu kan RT-nya, secepatnya aja pindah Nduk, dari pada terlambat, selak ono opo-opo, mesakno kowe bocah-bocah," Bu Maryati meninpali saran suaminya.
"Baik Pak, Bu, mungkin beberapa hari kedepan saya pindahnya, hari ini mulai beberes dulu, terimakasih saran juga masukannya, nggak tahu harus ngomong ke siapa lagi kalau bukan ke keluarga Bapak sama Ibu," ungkap tulus Marwah.
__ADS_1
"Kaya sama siapa saja to Nduk, nduk, ini ada lauk, kamu bawa buat sarapan, anak-anak biar belajar di sini saja," Bu Maryati keluar dari dalam rumah sambil membawa rantang susu. Aroma rendang jengkol kesukaan anak-anak menyeruak indra penciuman.
"Repot-repot Bu, sekali lagi terimakasi, titip anak-anak, saya permisi dulu, assalamualaiku," pamit Marwah.
"Sama-sama, jangan khawatir kalau anak-anak disini, alaikumsalam, hati-hati yo."
"Mar, jangan lupa kasih tahu Pak Marko tentang masalah tadi." Pak Manaf mengingatkan.
"Insyaallah, Pak," jawab Marwah.
"Jangan anggap remeh masalah seperti ini, keselamatanmu juga anak-anak jadi taruhannya."
"Iya, Pak, sekali lagi terimakasih sudah menginhatkan, permisi Pak, assalamualaikum."
"Alaikumsalam."
🌹🌹🌹🌹
Selesai sarapan dengan rendang jengkol juga ikan pedha, segera dirinya memilah barang bekas yang tadi dikumpulkannya, hari ini cukup lumayan banyak yang didapatnya, nikmat mana yang kau dustakan jika Allah memberi rejeki yang cukup.
"Assalamualaikum."
"Alaikumsalam, Bang Jaka, ada apa Bang?"
"Maaf mengganggu Mbak, ini ada kiriman sembako juga uang dari Bapak." Jaka menyerahkan amplop dan paket sembako pada Marwah.
"Mbak, permisi, saya taruh di dalam saja ya Mbak, sembakonya." Jaka mengangkat beberapa kardus juga sekarung beras ke dalam rumah.
"Makasih Bang, sampaikan terimakasih saya ke Bapak."
"Siap Mbak, loh itu jendelanya kenapa Mbak?" Jaka tak sengaja melihat kaca jendela yang pecah terlempar peneror tadi padi.
"Ini tadi kena lempar batu Bang," Marwah mencoba setenang mungkin saat menjawab pertanyaan Jaka.
__ADS_1
"Kok bisa?" ,selidik Jaka.
"Anak-anak main kelewat semangat, jadi kelempar jendelanya," Marwah yang tak pandai berbohong mulai sedikit panik, takut jika Jaka terus mengintrogasinya.
"Yakin Mbak, karena anak-anak? bukan karena hal lain?" ,pengalaman hidup di dunia hitam membuat Jaka peka dengan sebuah permasalahn yang terjadi.
Apa yang ditakutkan Marwah benar terjadi, dirinya tidak bisa menyembunyikan kebenaran di depan Jaka, apalagi menutupinya dari Marko, sangatlah tidak mungkin.
Marwah mengambil kertas yang terlihat sudah lungset, lalu menyerahkannya pada Jaka. "Tadi pagi ada yang melempar tulisan itu dengan batu, hingga kena kaca jendela."
"Masyaallah, kenapa Mbak nggak bilang Bapak, kalau saya nggak kesini, kami nggak akan tahu ada kejadian seperti ini, sebentar saya telpon Bapak."
"Bang, jangan, nggak usah bilang Bapak, biar saya dan anak-anak yang menjauh sesuai permintaan yang tertulis di kertas itu, saya rasa itu yang terbaik," jujur berat rasanya Marwah mengatakan semua itu, mengingat kedepannya tidak akan ada Marko di dekatnya lagi.
"Tapi Mbak, nanti Ba---."
"Sudah lah Bang, jangan dipaksakan jika hanya membuat keluarga saya akan tersakiti, mungkin orang-orang di sekitar Bapak yang tidak senang melihat kedekatan kami, tolong Bang, berjanjilah untuk tidak mengatakan ini pada Bapak, demi saya dan anak-anak."
"Baiklah kalau memang itu yang Mbak inginkan, saya hanya mohon jika ada apa-apa segera hubungi saya, minimal saya bisa mengatasi, tanpa sepengetahuan Bapak, saya permisi dulu Mbak."
"Iya Bang, terimakasih untuk semuanya, salam saya untuk Bapak."
"Assalamualaikum."
"Alaikumsalam."
Sepeninggal Jaka, Marwah membereskan dan menyimpan sembako pemberian Marko, alhamdulillah cukup untuk stok sebulan kedepan, bahkan uang untuk biaya hidup mereka sekeluarga pun sudah diberikan.
Bersyukur keluarganya dipertemukan lagi degan lelaki masa lalunya, yang selalu baik dan penuh perhatian, tetapi mulai hari ini dirinya harus membiasakan tanpa keharidan Marko, tanpa bantuan-bantuan darinya.
Selesai membereskan barang-barang dari Marko, dirinya melanjutkan pekerjaan yang tadi sempat tertunda, hingga terdengar Adzan Dzuhur berkumandang, Marwah baru menyudahi pekerjaannya.
🌿🌿🌿🌿
__ADS_1
Siapa ya kira-kira yang meneror Marwah? tunggu kelanjutannya.