Doa Wanita Pemulungoleh. Teratai Taligama

Doa Wanita Pemulungoleh. Teratai Taligama
Part 20


__ADS_3

Menembus pekatnya malam dengan mengendari mobil kesayangannya, Marko tancap gas seperti orang kesetanan, bahkan beberapa lampu merah yang masih aktifpun di terjangnya, selalu tepat perhitungan dengan situasi jalanan yang sudah sangat sepi dini hari begini.


Sampai di rumah sakit, Marko bergegas menuju kamar rawat Nisa, terlihat Marwah sudah bersimbah air mata, ujung khimarnya pun telah basah, sungguh pandangan yang membuat lelaki berjambang itu terasa sesak dadanya.


"Assalamualaikum, kok bisa Nisa di culik, Dek?" tanya Marko setelah berdiru di samping Marwah.


"Aku lagi di kamar mandi Mas, begitu keluar sudah Nisa sudah tidak ada, aku tanya penjaga nggak ada yang melihat Nisa, mereka tertidur," Marwah menjelaskan kejadian menghilangnya Nisa.


"Sudah di cari kemana aja?" gusar Marko melihat kenyataan anak buahnya terkesan abai dengan keselamatan Nisa.


"Sekitar kamar juga lingkungan rumah sakit, tapu nggak ada, mana sepi banget lagi." Marwah merasa putus asa.


"Sudah koordinasi dengan keamanan rumah sakit?"


"Tadi sudah lapor satpam, terus di bantu nyari, tapi sampai sekarang belum ada kabar lagi, ya Allah, kamu ada di mana Nak?" rintih Marwah.


"Bisa selonggar itu keamanan rumah sakit segede ini, bikin gedeg aja," gerutuan keluar dari bibir Marko.


Marko keluar memanggil beberapa anak buahnya yang sengaja di tugaskan berjaga di rumah sakit. Berkoordinasi untuk kembali mencari Nisa, saat sedang serius membahas kemungkinan kemungkinan tiba tiba kaki Marko terasa dipeluk lengan kecil bocah.


"Om," jelas suara Nisa dari belakang tubuhnya.


"Masyaallah, Nisa, dari mana kamu Nak?" Marko langsung membawa Nisa dalam gendongannya.


"Nisa ke musola, mamak tidurnya nyenyak jadi nggak pamit," sesal Nisa karena sudah membuat semua orang bingung.


"Jangan diulang lagi, kasian mamak, paham!"


"Paham, Om." Nisa melingkarkan lengannya di leher Marko.


Marwah segera memeluk dan menciumi Nisa setelah kembali ke kamar rawat, tangis haru pecah saat Nisa mengatakan alasannya pergi sendiri ke musola.


"Nisa kenapa nggak bangunin mamak? solat di kamar kan bisa, Nak?" ujar Marwah sambil manatap anaknya lekat.


"Mak, Ustazah bilang kalau mau khusyuk berdoa harus ke masjid apa musola, jadi Nisa ke sana," jelas anak kecil itu dengan sorot mata berbinar.


"Emang Nisa berdoa apa kok sampai harus ke musola, Sayang?" Marko mencoba mengorek keterangan dari gadis kecil yang selalu aktif itu.

__ADS_1


"Nisa minta sama Allah supaya Mamak sehat terus, Nisa juga berdoa pengen punya bapak yang baik kaya Om Marko," ucapnya polos.


Jujur hati Marwah tercubit saat mendengar doa tulus anaknya yang lugu, dirinya tahu kalau semenjak Nisa lahir Sudrajad terkesan tidak perduli pada si bungsu, entah apa penyebabnya.


"Aamiin," Marko reflek mengaminkan doa Nisa sambil tersenyum.


"Mas?" Marwah memandang Marko dengan tatapan menuntut.


"Doa anak soleha biasanya cepat di ijabah, di aamiinkan saja, kalau memang itu yang terbaik kita bisa apa?"


"Dia bisa berharap nantinya Mas?"


"Harapan yang disertai doa, apalagi dari anak soleha yang masih polos insyaallah akan diijabah."


"Ck, ya sudah Nisa bobok lagi ya, masih malam ini, biar besok solat subuhnya nggak kesiangan, oke," Marwah mencoba mengalihkan topik pembahasan.


"Iya Mak, selamat tidur Om, assalamualaikum," ucap gadis kecil itu.


"Selamat malam anak cantik, alaikumsalam, mimpi indah ya." Marko mengecup kening Nisa lalu mengusap perlahan kepala yang tetutup khimar kecil.


Marwah kekamar mandi untuk berwudu setelah dirasa Nisa nyenyak dalam tidurnya, Marko masih berkutat dengan ponselnya, saat keluar dari kamar mandi dan menggelar sajadah, terdengar suara bariton dari lelaki yang ternyata memperhatikannya.


"Bo--boleh, Mas, aku tunggu," bergetar suara Marwah menjawab pertanyaan Marko.


Bergegas Marko bersuci dan setelahnya menempatkan diri di depan Marwah bersiap sebagai imam, rasa tak menentu bergejolak dihati keduanya, saat seperti ini hal yang sudah lama sekali diinginkan, alhamdulillah baru bisa kesampaian sekarang setelah puluhan tahun mereka saling kenal.


Bacaan Marko yang merdu sungguh jadi penyejuk jiwa bagi Marwah yang lama menantikan seseorang mengimaminya, selama menikah dengan Sudrajad hanya sekali merasakan solat berjamaah, itupun setelah mereka sah menjadi suami istri, selebihnya tak pernah sekalipun dirinya menjadi makmum lelaki yang sebenarnya menyayangi istri dan anaknya itu.


Selesai menjalankan solat malam, Marwah tidak bisa memejamkan mata kembali, begitu juga dengan Marko, ditatapnya lekat wanita yang masih menampakkan wajahnya ayunya.


"Dek, kenapa nggak tidur? mikir apa?"


"Enggak Mas, cuma takut aja kalau penerornya beraksi lagi melihat kedekatan kita," tak mau menutup mata akhirnya Marwah berani mengungkapkan apa yang ditakutkan.


"Jaka sama anak buahnya sedang mencari pelakunya, semoga saja segera ketemu sehingga kamu nggak perlu setakut ini," ucap Marko meyakinkan.


"Aamiin, insyaallah, semoga semua segera berakhir, jujur aku takut kalau harus melihat anak-anak terluka."

__ADS_1


"Dek, bagaimana dengan proses perceraianmu?" tiba-tiba Marko menanyakan hal yang tak terduga.


"Sudah ketuk palu Mas."


"Masa idah selesai kapan?" kembali Marko menanyakan pertanyaan yang membuat Marwah riasau.


"Maaf jika aku sudah lancang menanyakan hal pribadi, nggak usah di jawab kalau memang nggak mau menjawabnya." Marko cukup memahami posisi Marwah yang mungkin saat ini sedang tidak mau membahas masalah pribadi dengannya.


Sinar matahari pagi menyelusup lewat celah tirai jendela, Marwah melangkah ke arah kain yang menjuntai ke lantai itu untuk membukanya, Marko kembali terlelap setelah solat subuh, sedang dirinya sama sekali tidak bisa memejamkan mata.


Jam sudah menunjuk pada angka 06:00 saat petugas kebersihan masuk keruang rawat Nisa, wanita bertubuh subur itu dengan cekatan menyapu lantai kemudian dilanjutkan dengan mengepelnya, Marwah yang baru keluar dari kamar mandi menyapanya dengan ramah.


"Selamat pagi Bu, tugas pagi ya, Bu?"


"Pagi Mbak, iya, adik bagaimana Mbak?" ibu itu menanyakan keadaan Nisa.


"Alhamdulillah sudah membaik, nanti tunggu dokternya bagaimana Bu."


"Semoga segera pulang ya Mbak."


"Aamiin, terimakasih Bu."


Marwah coba membangunkan Marko setelah menyuapi Nisa dan memberikannya obat, mungkin karena lelah tidurnya terlihat nyenyak sekali.


"Mas, mas, sudah siang, kerja nggak?" diguncangkan bahu Marko perlahan.


"Hmmmm, jam berapa emangnya?" tanya lelaki yang terlihat sangat tampan saat bangun tidur seperti sekarang.


Wajah Marwah terasa panas saat menatap lelaki yang masih dengan posisi terlentang dihadapannya.


"Su---sudah jam 7 Mas, maaf kalau aku mengganggu tidurmu," ucap Marwah dengan nada gugup


"Makasih sudah dibangunin, pagi ini aku ada pertemuan dengan suplaiyer dari Bogor, aku mandi dulu ya."


"I---iya Mas, aku gantiin baju Nisa dulu." bergegas Marwah mengambil baju Nisa lalu menyibinnya.


"Mak, emak kenapa kok mukanya merah gitu?" tanya Nisa dengan polosnya.

__ADS_1


🌿🌿🌿🌿


bersambung


__ADS_2