Doa Wanita Pemulungoleh. Teratai Taligama

Doa Wanita Pemulungoleh. Teratai Taligama
Part 12


__ADS_3

"Makasih, ini udah lebih dari cukup" kata Marko sambil meminum teh manis, begitu juga dengan Jaka.


"Fahmi kelas berapa sekarang?" ,Makro bertanya pada anak lelaki yang dari tadi tidak mengalihkan pandangan dari dirinya.


Terlintas dalam benaknya jika bocah lelaki yang duduk di hadapannya adalah anak yang tangguh dan bertanggung jawab serta dapat diandalkan, terbukti dari sikapnya menghadapi orang asing yang datang kerumahnya, walaupun itu teman ibunya.


"Kelas 7 om."


"Kalau Rahma, kelas berapa?"


"Rahma kelas 5, Nisa kelas 2, om," jawab gadis cilik berkedurung, yang tadi membuatkan teh manis untuknya.


"Mas, makan malam dulu, ya? biar Fahmi beli nasi goreng di ujung gang," suara Marwah dari dalam menyela obrolan di ruang tamu.


"Biar Jaka saja yang beli, Fahmi bisa anter Bang Jaka beli makan malam untuk kita?" ,Marko menanggapi perkataan Marwah.


"Bisa om."


"Rahma sama Nisa mau nasi goreng?" ,kembali suara Marwah terdengar.


"Rahma mau ayam goreng aja Mak, Nisa juga minta ayam goreng," jawab gadis kecilnya.


"Baiklah, nasi goreng empat, sama ayam goreng, ya Jack, beli ayamg goreng ditempat biasa saja, di sana juga ada nasi goreng kan?"


"Ada pak, nanti pesanannya WA saja Pak, takut salah menu," jawab Jaka.


"Oke, Fahmi, ini uangnya." Marko menyerahkan 5 lembar uang kertas berwarna merah pada anak lelaki Marwah.


Fahmi menerima dengan tatapan tidak percaya, jika Om Marko menyerahkan uang sebanyak ini, "Banyak banget Om, uangnya?"


"Sudah kamu bawa saja, kalau-kalau kamu pengan beli apa nanti."


"I--iiya Om, maksih, Om," jawab Fahmi dengan bersemangat.


"Ayo bang, udah laper ini," ajak Fahmi pada Jaka, mereka berdua segera berangkat setelah berpamitan.

__ADS_1


Rahma membantu ibunya menyiapkan peralatan makan yang akan dipakai nanti, sedangkan Nisa dibantu Marko mengelar tikar untuk mereka duduk lesehan, karena memang bangku di ruang tamu hanya ada empat, itupun kondisinya sudah memprihatinkan.


Marwah memperhatikan lelaki yang sudah begitu baik pada keluarganya, terlihat begitu akrab dan menyayangi anak-anaknya, selama ini ketiga buah hatinya memang tidak dekat dengan Sudrajad, lelaki yang menikahinya 15 tahun yang lalu itu lebih sering di luar rumah.


Saat Nisa lahir Sudrajad justru lebih memilih mengantar tetangganya yang mau berangkat hajatan ke luar kota, makanya ketiga anak mereka lebih dekat pada sang ibu, bahkan saat Marwah masih bekerja dulu, Rahma sampai dibawanya ke tempat kerjanya, alhamdulillah atasan juga rekan-rekan kerjanya memahami kondisi keluarganya.


"Assalamualaikum," ucapan salam Fahmi yang baru datang membuyarkan lamunan Marwah.


"Alaikumsalam," jawaban hampir bersamaan dari orang-orang yang berada dalam rumah.


"Mak, ini makanannya datang," teriak Nisa saat Jaka dan Fahmi masuk ke dalam rumah dengan membawa dua godiebag yang berisi makan malam mereka.


Marko, Jaka dan ketiga anak Marwah segera duduk melingkat di tikar yang sudah digelar, Marwah dibantu Rahma menyiapkan makan malam di piring masing-masing, nasi goreng spesial, ayam goreng tepung, capjay kuah serta aneka jus buah segar sudah terhidang di hadapan mereka.


Fahmi memimpin doa, setelahnya mereka segera menyantap hidangan makan malam yang sederhana menurut Marko tetapi mewah untuk keluarga Marwah. Kebahagiaan terpancar dari wajah-wajah polos ketiga anak terlihat menikmati menu yang memang mereka inginkan.


Ada geleyar hangat dihati Marko menyaksikan semua itu, hingga pandangnnya mengabur karena genangan air mata, segera dialihkan pandangannya supaya tidak diketahui seisi ruangan kecil ini, terutama Marwah.


Selesai makan, Marwah dibantu anak-anak membereskan bekas makan malam mereka, Marko mengajak Fahmi ngobrol setelah membuang gelas plastik bekas tempat jus buah.


"Om, ini sisa uang buat beli makan tadi." Fahmi menyerahkan dua lembar uang berwarna merah dan tiga lembar uang berwarna ungu.


"Beneran Om?" ,tanya Fahmi setengah tidak percaya dengan pendengarannya.


"Bener, kasih ke mamak dulu biar disimpan, terus balik kesini lagi, ngobrol sama Om, belum ngantuk kan?"


"Belum Om, sebentar Fahmi ke dalam dulu, kasih uang ini ke mamak." wajah sumringah terpancar dari anak lelaki itu.


Marwah melangkah ke ruang tamu dengan masih menggenggam uang, diikuti Fahmi dengan wajah yang terlihat ketakutan.


"Mas, ini uang apa? Fahmi yang minta ya?" ,Marwah menanyakan uang yang tadi diberikan Fahmi padanya.


"Ck, apaan sih kamu tu, nggak mungkin lah Fahmi meminta uang, sudah ambil aja, buat belanja besok."


"Bener bukan karena Fahmi yang minta?" ,masih ada nada keraguan dari suara Marwah.

__ADS_1


"Kamu ibunya, pasti jauh lebih mengenal anak lelakimu seperti apa, sudah ambil saja, Fahmi sini duduk dekat Om," ucap lelaki itu enteng. Marko memang tipe orang yang nggak mau ambil pusing dengan hal-hal seperti ini.


"Ya sudah kalau memang begitu, makasih Mas, aku masuk dulu, mau nemenin Nisa tidur, biar ditemeni Fahmi dulu ya, Mas."


"Hmmm."


Ck, masih saja nggak berubah, kalau kemauanya ditentang langsung ngambeg, dasar Marko ,gerutu Marwah saat masuk ke kamar.


🌹🌹🌹🌹


Pagi ini Marwah sedang menurunkan karung berisi barang bekas hasil memulung dari selepas subuh tadi, tiba-tiba ada sebuah batu terlempar mengenai kaca jendela rumahnya hingga pecah berantakan.


Praang...


"Astaqfirulloh, apa ini!" ,bergegas Marwah masuk kedalam rumah, takut jika anak-anaknya terkena pecahan kaca jendela.


Rahma juga Nisa menjerit saat melihat kejadian itu, Fahmi sedang tidak berada di rumah, bantu-bantu di toko sembako pak RT, semenjak ibunya dirawat beberapa waktu yang lalu, Fahmi memang minta ijin untuk bekerja di toko sembak milik pak RT.


Marwah memeriksa sekitar bawah jendela yang pecah kacanya, ada sebuah batu yang terbungkus kertas, diambilnya batu yang sengaja dilemparkan ke kaca jendelanya. Betapa terkejut dirirnya saat membuka kertas yang bertuliskan ancaman.


KALAU MAU SELAMAT JANGAN PERNAH DEKATI MARKO.


Seketika gemetar tubuh Marwah membaca tulisan bertinta merah, dirinya tidak pernah menyangka jika akan mendapat teror serta ancaman yang demikian, apalagi berhubungan dengan Marko, selama ini ia merasa kalau hubungannya dengan lelaki yang sudah lama dikenalnya itu hanya wajar-wajar saja, bahkan Marko jarang berkunjung ke rumahnya.


Siapa yang melakukan semua ini? haruskah aku memberitahukan semua ini pada Marko.


Segala kersahan berkecamuk dalam benak Marwah, sambil menenangkan kedua gadis kecilnya, ia segera membereskan kekacauan akibat pelemparan batu ke rumahnya.


Hingga terdengar nada panggil dari ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja makan, segera diraih benda pipih pemberian Marko yang terus menjerit, tertera nomor tidak dikenal dilayar yang menyala itu.


Masih dengan perasaan yang campur aduk, Marwah memberanikan diri menggeser tombol warna hijau.


"Ha---halo," bergetar suara Marwah.


Bagaimana? masih mau dekat-dekat dengan Marko?

__ADS_1


🌿🌿🌿🌿


Siapa kah sang penelpon? tunggu di episode selanjutnya.


__ADS_2