
Pagi ini terlihat oma Liberty masih betah memandang langit biru dari balik jendela, ia termenung menatap lurus ke depan. Entah apa yang sedang ia fikirkan, menatap dengan kosong dan penuh rasa sedih. Hingga datanglah Barra yang mampu menghentikan lamunannya.
"Oma, Barra membawa sarapan untuk oma, pasti oma tidak berselera dengan makanan rumah sakit kan?" tebak Barra.
"Kamu ini sok tahu banget" sahut oma Liberty sembari tersenyum.
Barra tersenyum lalu ia mulai membuka makanan yang ia bawa tadi,
"Ayo oma Barra suapi ya"
"Kamu kan harus bekerja Bar, biar nanti oma makan sendiri saja"
"Oma lupa kalau cucu oma ini adalah CEO alias pemilik perusahaan Star Zeyy? Jadi Barra bebas datang jam berapapun oma"
"Dasarr anak ini selalu saja bertindak sesukanya" celetuk oma Liberty sambil menggelengkan kepalanya.
Disela suapan yang Barra berikan, oma Liberty mulai bercerita mengenai kehidupan, ia berusaha membagi tentang kehidupan yang ia jalani sedari dulu hingga bisa seperti sekarang. ia juga menceritakan betapa sedihnya beliau ketika mengetahui penyakit ini. Barra yang sedari tadi berperan sebagai pendengar pun merasakan kesedihan itu, ia tak menyangkan kehidupan oma-nya itu sangatlah sulit. Bahkan untuk ia pun sempat gagal dalam mempertahankan cintanya. Dari cerita itu juga Barra jadi tahu, jika Oma-nya juga pernah terluka hingga trauma untuk mengenal cinta, Sama seperti dirinya saat ini.
"Barra, disisa hidup oma bisakah oma melihat cucu oma yang tampan ini menikah? Oma sangat ingin hadir di pernikahan mu" tanya oma Liberty sembari mengusap kepala wajah Barra dengan lembut.
"Maaf oma, Barra belum ada seseorang yang tepat yang bisa Barra ajak menikah. Barra harap oma bisa semangat untuk sembuh agar suatu saat oma tetap bisa hadir dipernikahan Barra dan Kiara nantinya" balasnya sambil menggenggam tangan oma-nya
"Oma mengenal seseorang yang cocok untukmu. Maukah kamu berkenalan dengannya?" tanya oma Liberty mulai serius.
"Omaa....jangan fikirkan itu dulu ya, oma harus banyak istirahat, obatnya jangan telat pokoknya oma harus segera sembuh"
"Kalau kamu tidak mau, oma tidak akan mau makan obat, biarkan saja oma segera meninggal"
"Oma, kenapa bilang seperti itu, Barra tidak suka, daddy, mommy dan kiara juga pasti tidak suka mendengarnya"
"Apa gunanya juga hidup jika cucu oma tidak mau menikah" seketika oma Liberty pun membelakangi Barra.
huft...
"Baiklah, Barra akan temui wanita itu" pasrah Barra
Sontak perkataan Barra barusan membuat sang oma senang bukan main, ia langsung berbalik menghadap Barra dengan mata berbinar.
"Janji?"
"Iya Oma, katakan siapa wanita yang akan oma kenalkan? Biar Barra cari tahu dulu orangnya seperti apa?"
__ADS_1
"Kamu pasti suka, dia sangat cantik, cerdas, baik hati lagi" puji sang oma membuat Barra mengerutkan keningnya.
'Siapa sih wanita yang oma maksud? Kenapa oma sebahagia ini menceritakan wanita itu, sedangkan dulu waktu ku kenalkan Vina, oma yang terang-terangan menentang hubungan kami. Padahal Vina terlihat baik waktu itu, dia juga model yang terkenal, bahkan siapapun ingin memilikinya. Tapi sudahlah aku juga bersyukur bahwa rubah itu menunjukkan jati dirinya yang sesungguhnya' Barra berdialog di dalam hati.
"Oma membuat Barra penasaran" ucap Barra hendak menyenangkan sang oma.
"Setelah oma keluar dari rumah sakit akan oma undang dia kemansion kita" ujar oma Liberty penuh semangat.
Kini makanan itu telah dihabiskan oleh oma Liberty, Barra sendiri sampai menggelengkan kepalanya, ia benar-benar tercengang dengan tingkah sang oma.
...****...
Sudah 5 hari ini oma Liberty berada di rumah sakit dan di hari ke-6 ini oma Liberty pun diperbolehkan pulang. Kali ini yang menjemputnya ada pak Surya dan bu Luna, sedangkan Kiara masih ada urusan di kampusnya begitupun dengan Barra, ia masih berada di luar kota untuk urusan bisnisnya.
"Barhen, kapan Barra pulang?" tanya Oma Liberty tiba-tiba.
"Kemungkinan lusa mah, tumben mamah nanyain kepulangan Barra?" tanya pak Barhen.
"Lusa? Baiklah kalau begitu aku harus membuat alasan agar dia mau ke mansion lusa nanti" gumam oma Liberty pelan hingga terdengar samar-samar di telinga pak Barhen dan bu Luna.
"Apa mah?"
"Tidak" elaknya
"Mama yakin Barra tidak akan menolak? Mama sudah bicarakan dengan Barra atau belum?" tanya bu Luna khawatir, ia sangat mengenal watak anak sulungnya itu. Kalau ia tidak menyukai sesuatu maka ia akan berkata dengan pedas hingga membuat orang yang mendengarnya itu sakit hati.
"Kalian tenang saja, Barra sudah berjanji padaku" jawab oma Liberty bangga.
Sedangkan pak Barhen dan bu Luna pun hanya bisa saling melempar pandang.
Berbagai cara oma Liberty upayakan agar dokter Yoshi bersedia datang ke mansion keluarga Elvender, hingga pada akhirnya dokter cantik itu pun bersedia karena oma Liberty mengeluh sakit di area tempatnya operasi waktu itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB, Barra yang sudah tiba sejak pukul 5 sore tadi pun heran melihat meja makan yang penuh dengan hidangan-hidangan lezat serta para maid yang terlihat rapi dan berjajar di area ruang makan.
"Tumben aku pulang dari luar kota di rayakan begini?" celetuk Barra dengan percaya dirinya.
Kiara yang sudah tahu maksud dari semua ini pun hanya mengulum senyum, meskipun ia tidak tahu siapa orang yang akan di jodohkan dengan kakaknya namun ia tetap mendoakan yang terbaik untuk kebahagiaan sang kakak.
"Percaya diri sekali kamu, orang kita akan kedatangan tamu penting. Yakan mom?" cibir pak Barhen
"Siapa?"
__ADS_1
Tak lama ada seorang maid yang menghampiri oma Liberty dan memberitahunya bahwa tamu yang sedari tadi mereka tunggu telah tiba.
"Persilahkan dia masuk" titah oma Liberty lalu maid itu pun mengangguk dan menjalankan perintah majikannya itu.
"Ayo kita temui dulu tamu kita" ajak oma Liberty pada semua yang duduk di meja makan tersebut.
"kak Barra ayo" ajak Kiara yang jengah karena kakaknya itu masih saja duduk padahal oma mereka sudah mengajak semua anggota keluarga untuk menghampiri tamu itu.
"Halah paling juga teman lama oma yang mau reuni, kita disini saja lah. Lagian aku sudah lapar" tolak Barra
"Biar bagaimanapun itu tetap tamu kita kak, kita harus hormati"
"Ck. Cerewet sekali sih kamu" kesal Barra lalu dengan pasrah ia pun ikut ke ruang depan untuk menemui tamu oma-nya itu.
Setibanya di ruang tamu, terlihat oma dan kedua orang tua mereka tengah berbincang-bincang dan Kiara yang melihat sosok Yoshi itu pun langsung berlari menghampirinya.
"Ternyata tamu spesialnya dokter Yoshi toh, kalau tahu tadi Ara pasti bantuin masak" celoteh Kiara sembari duduk disamping Yoshi.
Sedangkan Barra yang melihat keakraban adik beserta keluarganya itu, nampak bingung dan bertanya-tanya akan identitas wanita tersebut.
"Siapa wanita ini? Mengapa semua orang nampak bahagia dengan kedatangan dia?" batin Barra, merasa heran
"Barra, kenapa hanya berdiri disana? Kemarilah" ajak mommy Luna.
Barra mengangguk lalu mulai melangkah dan mendaratkan bokongnya di sebelah sang oma.
"Barra, kamu pasti sudah kenal kan dengan dokter Yoshi?" tanya pak Barhen merasa yakin jika tidak mungkin anaknya itu tidak mengenal dokter yang telah merawat oma-nya selama ini.
"Dokter Yoshi? Maaf aku tidak tahu" jawab Barra jujur, membuat semua yang berada disana tercengang.
"What? Dia tidak kenal aku? Jadi selama ini apakah aku hantu? gila banget ni orang" rutuk Yoshi dalam hati.
"Barra, dia dokter Yoshi, dia yang merawat oma selama ini" jawab oma Liberty
"Ohh... Sorry saya tidak pernah lihat" sahut Barra
Yoshi memaksakan diri untuk tersenyum walaupun perasaannya saat ini sedang kesal setengah mati.
"Maaf ya dokter, anak saya ini memang matanya minus jadi emang agak kurang jelas kalau tidak mengenakan softlens" bela sang mommy.
"Oh iya nyonya tidak apa-apa saya mengerti" sahut Yoshi masih berusaha untuk tersenyum.
__ADS_1
'ternyata semua yang ada di pria ini memang minus semua' dialognya dalam hati.