
Keesokkan harinya di mansion yang sangat megah, nampak keluarga besar Elvender yang saat ini tengah berada dimeja makan untuk menyantap sarapan pagi mereka.
“Morning, Daddy, Mommy dan Oma ku yang tercantik sedunia” Sapa Kiara dengan cerianya.
“Morning juga putri daddy yang amat cantik jelita” balas daddy Barhen
“Kakakmu kemana Arra? Kenapa belum turun?” tanya oma Liberty
“Tidak tahu oma, mungkin sebentar lagi juga turun” jawab Kiara sembari membuka piringnya
“Kamu hari ini daddy yang antar ya sayang”
“Tidak mau, Arra mau membawa mobil sendiri dad”
“Biar Daddy....” belum sempat Daddy menyelesaikan ucapannya, Barra tiba-tiba datang dan langsung mengecup ke-3 wanita yang sedang duduk di sana.
“Pagi Mom, Oma, Daddy” sapa Barra sembari duduk di kursi yang sudah disisihkan khusus untuknya.
“pagi juga sayang “ jawab mommy Luna
Mereka semua pun memulai sarapan mereka tanpa ada percakapan lagi.
Hingga pada siang harinya, seperti yang sudah dikatakan dokter Yoshi. Oma Liberty pun datang kembali kerumah sakit untuk melakukan pemeriksaan.
“selamat siang sus, saya mau bertemu dengan dokter Yoshi, apakah dokter Yoshinya ada?” tanya oma Liberty saat berada didepan meja jaga.
“Apakah sebelumnya sudah ada janji bu?” tanya salah satu suster disana
“Sudah sus, kemarin saya diminta kemari lagi oleh dokter Yoshi” jawabnya
“Baiklah kalau begitu silahkan tunggu disana dulu ya bu, nanti akan kami panggil jika dokter Yoshi sudah kembali dari melakukan visite-nya” Oma Liberty pun menurut dan duduk dibangku tunggu.
Disela-nya menanti, tiba-tiba datang seorang professor yang mengahampirinya.
“Loh ibu Liberty, masih ingat saya kan bu?” tanya professor tersebut.
“tentu saja masih dong Broto, kau adalah rekan sejawatku yang paling setia mengabdikan dirimu dirumah sakit ini” jawab oma Liberty
“hahaha... bisa saja ibu Liberty ini. Ngomong-ngomong sedang apa CEO Elvender Hospital berada disini?”
“Aku sudah pensiun sejak 5 tahun yang lalu jika kau lupa” jawab oma Liberty.
“hahaha....lalu untuk apa kau barada di depan ruangan dokter Yoshi?” kembali professor Broto itu bertanya.
“Hanya mengecek kesehatan bulanan saja” jawabnya sekenanya.
__ADS_1
“Yakin? Tapi setahu saya dokter Yoshi adalah dokter spesialis penyakit dalam” ucap prof. Broto heran
“Sekalian mengecek semuanya Broto, sudahlah lebih baik kau kembali kerja saja, oh ku dengar ini minggu terakhirmu sebelum pensiun. Apakah benar?”
“iya benar, usia kita sudah 60 tahun lii sudah saatnya yang muda yang mengambil alih” jawabnya sambil tertawa.
Setelah prof. Broto meninggalkan oma Liberty, tak lama dokter Yoshi pun tiba.
“Oh nyonya, mari silahkan keruangan saya” ajak Yoshi ketika melihat keberadaan Oma Liberty didepan ruangannya.
“Maaf nyonya Liberty, saya hampir lupa jika ada janji temu dengan anda” ucap Yoshi sembari mempersilahkan oma Liberty duduk
“Tidak apa-apa dokter, saya juga tidak menunggu terlalu lama kok” sahut oma Liberty
Yoshi tersenyum dengan manis, lalu berkata “ tunggu sebentar ya Nyonya, saya cek dulu data anda untuk menunjang pemeriksaan yang akan kita lakukan nanti”
“Baiklah dokter” lalu oma Liberty menatap Yoshi dengan perasaan nyaman.
“Dia dokter yang hebat, cantik, dan juga cerdas, saya sangat menyukai sikapnya itu” batin Oma Liberty sembari tersenyum
“Kita lakukan pengambilan darah dulu ya nyonya” oma Liberty pun mengangguk lalu dengan sigap Yoshi mengambil spuit dan beberapa peralatan lainnya.
Setelah beberapa pemeriksaan yang telah dilakukan, kini Yoshi tengah membaca hasil dari pemeriksaan oma Liberty.
“Bagaimana dokter? Apakah tumor ganas atau jinak?” tanya oma Liberty setelah kembali masuk keruangan Yoshi
Yoshi bingung mengapa bisa pasiennya mengetahui keadaannya sendiri.
Oma Liberty tersenyum kala melihat ekspresi yang ditunjukkan dokternya itu, lalu ia berkata
“Tidak perlu terkejut seperti itu” lalu oma Liberty memberikan kartu namanya dimana disana masih terterah bahwa ia adalah pemilik dari rumah sakit tempat Yoshi bekerja kini.
“Astagaa...maafkan saya bu saya tidak tahu jika anda direktur rumah sakit ini” Yoshi segera berdiri dan menundukkan badannya tanda ia memberi hormat.
“Tidak masalah saya sudah lama pensiun dokter, jadi anda tidak perlu terlalu sungkan dengan saya” ungkap oma Liberty
“Baiklah bu, dengan berat hati saya harus menyampaikan berita buruk ini, dari hasil cek darah dan MRI yang sudah ibu lakukan tadi sepertinya ini adalah tumor ganas bu”
“berapa persen kemungkinan saya sembuh?” tanya oma Liberty tenang.
“Itu...” Yoshi bingung hendak bagaimana dia menyampaikannya
“Saya sudah tua dokter, sebaiknya saya tidak melanjutkan pengobatan yang sia-sia ini” ucapnya sembari tersenyum
“Tidak bu, anda harus sembuh seberapa persen pun kemungkinannya saya akan berusaha sekuat tenaga saya, begitu pula dengan anda saya mohon anda harus yakin dan percaya bahwa anda akan segera sembuh” Yoshi penuh keyakinan.
__ADS_1
Melihat semangat Yoshi yang begitu membara, oma Liberty pun tertawa. Penilaiannya terhadap dokter Yoshi ini sudah dipastikan benar.
“Baiklah bu, untuk selanjutnya akan saya infokan kembali dan ini saya tuliskan resep untuk pereda nyeri jika nyeri tersebut datang kembali ya bu, juga ada obat lainnya untuk pencegahan terjadinya nyeri" dokter Yoshi sembari memberikan secarik kertas resep.
"Baik, terimakasih dokter Yoshi. Kalau begitu saya pamit dulu ya" pamit oma Liberty
Sebelum pulang ia sempatkan untuk berkunjung ke ruangannya, meskipun sudah pensiun namun oma Liberty memang kerap datang seminggu sekali atau sebulan sekali untuk mengecek rumah sakit miliknya itu.
"Prof. Liberty, maaf saya tidak tahu jika anda akan berkunjung hari ini" kaget Herlina
"Ya, kebetulan saya ada urusan tadi jadi sekalian mampir. Bagaimana Lin apakah ada masalah selama saya tidak ada?" tanya Oma Liberty setelah masuk keruangan miliknya.
"Tidak ada prof. Namun alangkah baiknya anda mencari orang untuk menggantikan posisi anda prof. Karena usia saya juga tidak memungkinkan untuk terus berada disini prof" Liberty menganggukkan kepalanya.
"Saya sudah ada kandidat namun saya masih perlu mengamatinya lagi, apakah kamu berniat akan pensiun Lin? itu sebabnya kamu mengatakan hal demikian?"
"Iya prof. rencananya saya besok ingin menemui anda untuk membicarakan ini"
"Baiklah, jadi bagaimana? Apakah kau telah mencari pengganti untuk menggantikan mu disini?"
"Ada prof. Bolehkah saya mengajukan anak saya prof? kebetulan dia baru saja menyelesaikan studi S2 nya dan dia juga sudah setuju untuk menggantikan saya disini"
"Hmm....boleh saja Lin, tapi ajarkan dulu dia sampai bisa seperti mu. Lalu untuk pewaris rumah sakit ini....oh ya hampir saja. Lin tolong berikan saya data tentang dokter Yoshi" pinta Oma Liberty
"Dokter Yoshi?" tanyanya balik lalu melihat anggukkan dari oma Liberty, Herlina pun tersenyum lalu bangkit untuk mencari data yang dibutuhkan oma Liberty.
"Ini prof" setelah 10 menit mencari, Herlina kembali duduk dihadapan oma Liberty serta menyerahkan map berwarna kuning yang tentunya didalamnya berisikan data pribadi dokter Yoshi.
*Yoshi Shaqueena Paradista, lahir jakarta, 24 April 1999. Anak dari Surya Paradista dan Diah purwaningsih, pendidikan terakhir mengambil spesialis penyakit dalam. lulus dengan predikat terbaik di Universitas terkemuka di Indonesia*
"Paradista ini apakah?"
"Iya prof. Paradista pengusaha batik terbesar di jogja" jawab Herlina
"Bagaimana kau bisa tahu?"
Herlina tersenyum lalu berkata, "Tentu kenal prof. Dokter Yoshi adalah sahabat anak saya semasa kecil, dulu semasa masih di jogja saya sempat tetanggaan dengannya. Ini jugalah alasan anak saya mau menggantikan saya disini prof. Karena saya memberitahunya jika disini ada sahabat masa kecilnya"
"Oh begitu rupanya, pas sekali ada banyak hal yang perlu saya cari tahu tentang dokter Yoshi. Jujur saja saya sangat suka dengannya, saya ingin menjadikannya cucu menantuku. saya ingin sekali menjodohkan dia dengan cucu tampanku" kekehnya tanpa keraguan.
"Walah saya setujuh kalau itu prof. yang saya tahu juga dokter Yoshi itu tidak pernah pacaran prof"
"Wah serius..." pada akhirnya mereka pun bercerita panjang lebar, dengan bahasan yang tentunya menyangkut perihal dokter Yoshi.
Sedangkan disisi lain,
__ADS_1
Huachimm...
"Duh apakah ada yang membicarakan ku?" gumam dokter Yoshi sembari menggosok hidungnya.