
Satu Minggu kemudian...
Selama perjalanan bisnisnya di jogja, Barra tidak pernah absen untuk memberi kabarnya kepada Yoshi, meskipun wanita itu tidak pernah meresponnya. Barra akui yoshi memang lah gadis yang berbeda, dia benar-benar teguh pada ucapannya. Namun bukan Barra namanya jika menyerah begitu saja. Semakin Yoshi menarik diri maka semakin ingin Barra mendekatinya.
Seperti hari ini, sebelum ia pulang kembali ke jakarta, Barra yang sangat ingin pesannya dibalas pun akhirnya menjalankan misinya.
Cekrekk....Cekrekk... (Send)
Barra tersenyum, lalu ia pun pergi dari tempat itu.
Diperjalanan menuju bandara, terdengar suara notifikasi yang berasal dari handphone-nya. Dilihatnya siapa yang mengiriminya pesan itu, lalu beberapa detik kemudian ia pun tersenyum penuh kemenangan.
'Ngapain anda dirumah saya? Jangan macam-macam ya' begitulah isi pesan dari Yoshi, membuat Barra hendak tertawa dan dengan sengaja ia membiarkan pesan tersebut tanpa ada niat ingin membalasnya.
Drrtt....Drrtt....
'Hal...'
'Saya tanya anda ngapain di rumah saya ha?'
'Sabar dong, ngegas banget'
'Ck...cepatlah beritahu, saya tidak punya banyak waktu untuk meladeni anda'
'Kamu fikir kamu saja yang tidak punya waktu?' Barra pun langsung menutup panggilan tersebut.
"Kenapa menyebalkan sekali wanita ini, kalau tidak karena oma memberikan waktu, aku tidak akan sesabar ini" kesalnya
"Sabar bos, ini ujian cinta" sahut Lenzo.
"Apakah yang dokter resek itu bilang, dia mempunyai orang yang dia suka itu adalah Zion?" tanya Barra mencoba menebak, karena Yoshi sering sekali jalan berdua dengan Zion akhir-akhir ini.
"Setahu saya Zion itu kakak dari sahabatnya dokter Yoshi pak. Kemungkinan mereka itu hanya adik kakakan saja"
"Kamu bodoh, mana ada namanya adik kakakan. Jika memang pria yang disukainya itu adalah Zion. Berarti aku memang harus menyelamatkannya"
"Memangnya Zion itu kenapa pak? saya rasa dia pria yang sangat baik dan juga sangat romantis" ujar Lenzo
"Cih, baik dan romantis katamu? Kurasa saya harus membawamu ke dokter mata" cibir Barra lalu ia pun memejamkan matanya karena tak ingin lagi membicarakan orang itu.
__ADS_1
...****...
Disisi lain, lebih tepatnya di Zeyy hospital. Yoshi nampak gusar kala melihat sebuah foto yang berlatar belakang rumah keluarganya. Ia takut jika Barra benar-benar menemui kedua orang tuanya.
Drrtt ...
Betapa terkejutnya Yoshi, tatkala dilihatnya notifikasi panggilan video yang ternyata dari ibunya. Fikiran Yoshi sudah kemana-mana, ia khawatir ibunya akan membahas masalah Barra. Dan pada akhirnya Yoshi menggeser tombol ponselnya ke warna hijau.
"Halo assalamualaikum bu"
"Wa'alaikumsalam ndok, kok lama sekali toh ngangkatnya?"
"Hehe...maaf Bu tadi masih ada pasien. ada apa bu tumben menelpon Yoshi di jam kerja?"
"Yo iyo, habis kamu bikin ibu kaget Yos, masa punya pacar guantengnya pol begitu ndak ngomong-ngomong sama ibu dan ayah. Sampai bingung loh kami tadi"
Deg....
"Benar kan orang itu sudah bertemu ibu dan ayah. Mampus sudah" batin Yoshi
"Yoshi...halo ndok"
"Yowes, selamat bekerja ya ndok. Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam bu" setelah menutup panggilan tersebut, barulah Yoshi menarik nafas dalam-dalam lalu dibuangnya. Sungguh tak disangka pria yang selama ini sangat cuek itu bisa melakukan langkah seperti itu.
Dengan segera Yoshi mengirimkan pesan kepada Barra untuk menemuinya setelah pulang kerja. Namun balasan Barra cukup membuat Yoshi naik pitam.
'Saya sibuk hingga lusa' begitulah jawaban yang Barra berikan.
"Ck, menyebalkan sekali pria satu ini" kesalnya lalu ia pun segera mencari informasi terkait dimana Barra bekerja.
Yoshi pun berjalan ke arah meja jaga, dimana disana adalah tempat segala sumber alias tempatnya para suster rumpi yang serba tahu tentang gosip apapun.
"Selamat siang dokter Yoshi, sudah selesai dok prakteknya?" sapa salah satu suster jaga tersebut
"Siang juga sus, iya nih baru saja selesai. Tumben sus pada sepi" balas Yoshi sembari tersenyum ramah.
"Iya dok, beberapa suster masih pada ke ruang IGD" jawab suster tersebut.
__ADS_1
"Ohh ..."
"Duh gimana mulainya nih, kepleset dikit bisa jadi bahan ghibahnya mereka deh aku" Yoshi berdialog pada dirinya sendiri.
"Em, sus. Begini waktu itu saya lihat semua suster disini memuji-muji pria yang mengantarkan korban kecelakaan. Emangnya dia siapa sampai kalian seperti itu?" pancing Yoshi.
Suster disana langsung mencoba mengingat-ingat kiranya siapa yang dokter Yoshi maksud. lalu tiba-tiba salah satu suster nyeletuk,
"Itu kali yang CEO artis terkenal itu"
"CEO artis terkenal?" bingung Yoshi
"Iya dok, dia itu pemilik dari Star Zeyy perusahaan yang bergerak di bidang entertainment, perusahaannya itu banyak melahirkan aktor-aktor berbakat dok" terang salah satu disana.
Yoshi mengangguk-anggukkan kepalanya, ia mengerti harus mencari Barra dimana.
"Memangnya ada apa dok, tumben dokter menanyakan keluarga pasien?"
"Eh, haha enggak, itu saya hanya penasaran saja perasaan selama saya kerja disini, kalian tidak pernah terlihat histeris sebegitunya, jadi saya kepo deh hehe..."
"Oalah... Hahaha habis emang tampan sekali dok, saya kalau jadi istrinya sangat mau deh dok, udah tampan, tajir melintir lagi. Hartanya tidak akan habis sampai 7 turunan dok" canda para suster tersebut membuat Yoshi pun ikut tertawa.
"Yasudah sus, kalau begitu saya kembali keruangan saya dulu" pamit Yoshi
"Baik dok"
Setelah tiba di ruangannya, Yoshi pun segera mencari informasi tentang Barra. Setelah beberapa menit mencari akhirnya ia pun dapat informasi yang ia inginkan. Meskipun hanya sedikit informasi yang didapat setidaknya ia tahu di mana ia harus menemui Barra.
"Besok aku harus datangi dia, aku akan minta dia untuk mengklarifikasi bahwa kami memang tidak ada hubungan spesial kepada ibu dan ayah" gumam Yoshi.
Tak lama berselang, Yoshi mendapat notifikasi sebuah pesan yang dikirimkan oleh Naya.
'Yos, makan yuk, sama kak Zion juga. nanti kita ketemuan disana saja ya' begitulah isi pesan yang Naya kirimkan.
"Naya ini kenapa sih? Sudah satu minggu ini menghilang-hilang terus. Selalu membuat janji bertiga tapi pada akhirnya selalu hanya aku dan kak Zion" gerutunya.
'Maaf Nay hari ini aku tidak bisa, ada beberapa hal yang harus aku urus' jawab Yoshi berbohong, ia yakin kali ini Naya pun melakukan hal yang sama seperti sebelumnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Dimana jam praktek Yoshi pun telah berakhir. ia segera keluar dari ruangannya dan bergegas menuju parkiran. Ia sudah merasa sangat lelah, ingin rasanya memiliki pintu kemana saja, agar dirinya segera tiba di unit apartemennya. karena rasanya Yoshi ingin segera merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk.
__ADS_1