
Mansion Elvender, pukul 05.00 WIB
Seperti rutinitas yang biasa Barra lalukan yaitu selalu lari pagi sebelum melakukan aktivitasnya, biasanya ia akan lari mengelilingi kompleks perumahannya selama satu jam, lalu setelahnya ia bersiap untuk berangkat ke kantornya.
Pagi itu suasana di mansion Elvender cukup bahagia, pasalnya keadaan oma Liberty berangsur membaik, namun tetap harus menjaga pola makan dan tidak boleh melakukan pekerjaan yang dirasa cukup berat.
"Pagi, Oma, dad, mom" sapa Barra setelah tiba di meja makan.
"Pagi sayang, kamu mau sarapan apa nak? nasi goreng atau roti?" tanya mommy Luna
"Roti saja mom" jawab Barra seraya menyesap
susu yang ada disebelahnya.
"Kamu itu jangan terlalu memforsir diri kamu Barra, jangan pekerjaan terus yang kamu fikirkan. Tuh dokter Yoshi juga butuh perhatian kamu" ujar Daddy Barhen.
"Apaan sih dad, kok jadi bahas dokter itu?" kesal Barra seraya satu tangannya mengambil roti yang mommy-nya sodorkan padanya.
"Barra, apa dokter Yoshi masih belum setuju untuk menikah denganmu?" kini oma Liberty ikut berbicara.
Seketika Barra pun menghentikan acara makannya,
"Oma, Barra harap oma dapat bersabar. Baik aku maupun dokter itu juga perlu penyesuaian dan memahami karakter masing-masing. kita juga kan tidak bisa memaksakan kehendak kita pada orang lain oma, bukan kah oma sendiri yang mengatakan pada Barra waktu Barra masih kecil? Jadi kita sama-sama menunggu jawaban dari dokter itu saja ya" jelas Barra
"Yoshi, namanya dokter Yoshi Barra jangan dokter itu dokter itu dong" protes sang oma sungguh membuat Barra menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Pokoknya oma kasih waktu 1 bulan ini untuk kamu bisa dekat dengan dokter Yoshi" final oma
"Omaaa...." Barra hendak protes namun segera di potong oleh oma Liberty.
"No debat" putusnya
"Kak, aku sangat setuju jika kau bersama dokter cantik itu" bisik Kiara.
"Diam, anak kecil tidak usah ikut bicara" oceh Barra seraya menatap adik kesayangannya itu.
Setelah menyelesaikan sarapan tersebut, Barra pun bersiap menuju ke kantornya.
"Ingat Barra, 1 bulan" tekan oma Liberty.
Barra hanya membuang nafasnya kasar, ia sungguh di buat geleng geleng kepala oleh oma-nya sendiri.
"Ini namanya oma yang terobsesi dengan dokter Yoshi itu kenapa jadi aku korbannya?" gumam Barra sedikit kesal pada oma-nya tersebut.
...****...
__ADS_1
Sedangkan disisi lain, Yoshi yang tengah ramai pasien itu pun sedikit kewalahan. Apalagi ada satu remaja yang takut untuk diperiksa, sehingga sedikit menghambat Yoshi untuk memeriksa pasien yang lainnya.
"Enggak, aku takut mah aku gak mau diperiksa" histeris remaja putri itu.
"Tidak apa-apa sayang, kalau tidak diperiksa bagaimana kita bisa mengobatinya nak?"
"Iya dik, mama kamu benar, kamu tenang saja ini tidak akan terasa sakit kok. Biar dokter lihat dulu boleh?" Yoshi berusaha menenangkan remaja itu.
"Tidak...aaaa...aku tidak mau mama.. aaaaggh..." tiba-tiba rasa nyeri didada remaja itu kambuh lagi, membuatnya meringis kesakitan.
"Dok, bagaimana ini dok, dia selalu seperti ini jika merasakan nyeri di dada-nya" beritahu Mamanya dengan sangat cemas.
"Baik, suster tolong siapkan obat pereda nyeri"
"Baik dok" beberapa detik kemudian suster pun memberikan spuit yang sudah berisikan obat penghilang rasa nyeri ke tubuh remaja itu.
Setelah cukup tenang, Yoshi berusaha kembali membujuk remaja tersebut agar mau menjalani pemeriksaan. Ia juga kasihan melihat anak itu menahan rasa sakitnya, apalagi melihatnya menangis hingga memukul-mukul bagian dadanya seperti tadi.
"Dik, sangat sakit bukan? Kamu mau seperti itu terus? Kalau tidak segera diobati bagaimana? Kamu tidak merasa kasihan dengan mama kamu?" tanya Yoshi beruntun.
Remaja itu langsung melihat kearah sang mama lalu ia pun menggelengkan kepalanya,
"Tidak dok, aku tidak mau, ini sangat menyiksaku dok...hiks" remaja itu pun menangis
"Kalau tidak mau, berarti sekarang kita lakukan pemeriksaan ya" walaupun sedikit ragu tapi akhirnya remaja itu pun menganggukkan kepalanya.
'Sus, persiapkan ya" titah Yoshi
"Siap dok" jawab suster Dania.
Usai melakukan pemeriksaan, kini Yoshi pun tengah melihat hasil pemeriksaannya.
"Baiklah ibu, setelah melakukan berbagai pemeriksaan. hasil menunjukkan bahwa anak ibu saat ini mengalami emboli paru, penyakit ini biasa disebabkan oleh gumpalan darah yang membeku dan mengalir menuju paru-paru" jelas Yoshi
"ya Allah, jadi harus bagaimana dok?" tanya ibu tersebut
"Saya akan memberikan obat untuk pengencer darahnya terlebih dahulu ya bu, nanti setelah 3 hari harap kembali lagi ya bu untuk kita cek keadaan anak ibu"
"Oh baiklah dokter, terimakasih" ucap ibu pasien lalu Yoshi pun tersenyum
"Sama-sama ibu, semoga lekas sembuh ga dik" kata Yoshi dan anak itu pun mengangguk sembari mengucapkan terimakasih kepada Yoshi.
Usai pasien tersebut pergi, Yoshi bertanya kembali pada suster Dania "Apakah masih ada pasien lagi sus?"
"Tidak dokter, ada beberapa yang meminta untuk mundur di jam 2 dok"
__ADS_1
"Loh kenapa?"
"Gara-gara bocah tadi dok kelamaan, terus juga udah mau masuk jam istirahat dok. Tuh lihat sudah jam setengah 12 dok" ujar suster Dania sembari menunjuk jam dinding yang ada di ruangan Yoshi.
"Ya ampun, yasudah kalau begitu, terimakasih ya suster atas bantuannya sedari tadi" ucap Yoshi. Yah begitulah, siapa yang tidak betah bekerja dengan dokter cantik ini. Sudah lah cantik, baik, juga memiliki sopan santun yang baik.
Yoshi yang masih menyandarkan tubuhnya di kursi pun tidak menyadari akan kedatangan seseorang.
"Lelah ya?" tanya seseorang tiba-tiba hingga membuat Yoshi terkejut dibuatnya.
"Astaghfirullah, kak Zion. Bikin kaget aja deh" gerutunya sembari memegangi jantungnya.
"Hahaa... Maaf deh, lagian aku ketuk-ketuk kamu tidak nyaut"
"Hehe aku tidak dengar kak, ngomong-ngomong ada apa kak Zion menghampiri ku? tumben banget" tanya Yoshi penasaran
"Mau mengajak kamu makan, sudah jam istirahat kan?" seperkian detik Yoshi terpaku, kala melihat kak Zion melirik jam tangannya. Terlihat sangat seksi dan menambah ketampanannya, entah lah sedari dulu Yoshi sangat suka jika Zion sudah melirik jam tangannya.
"Hei, malah melamun kamu. Ayo kita makan" ajak Zion kembali
"Eh iya kak ayo, ngomong-ngomong Naya kemana kak? Ikut makan juga kan?" kini Yoshi balik bertanya.
"Katanya nanti dia nyusul Yos, dia sedang meeting" jawab Zion
"Oke deh kak, ayo kita makan di tempat biasa kan?"
"Iya Yoshi, kamu nanya lagi aku cium nanti" canda kak Zion tapi justru membuat hati Yoshi semakin cenat cenut.
"Astaga, aku tidak boleh nih dekat-dekat kak Zion, lama-lama bisa jantungan aku dibuatnya" dialog Yoshi dalam hati.
"Apaan sih kak, ayo buruan" kata Yoshi dengan sedikit tergagap
"Loh muka kamu kenapa? Kamu sakit Yos, coba kakak lihat" cemas Zion kalah melihat wajah Yoshi yang memerah.
"Ti...tidak kak, ini karena agak panas saja udara disini" jawab Yoshi lalu berjalan meninggalkan Zion yang masih di tempatnya.
"Panas? Perasaan disini dingin" Zion pun menggedikkan bahunya lalu berjalan menyusul Yoshi.
Setelah beberapa menit berlalu, mereka pun tiba di sebuah resto yang biasa mereka datangi semenjak bertemu kembali beberapa minggu lalu.
"Mas pesan nasi goreng 2, yang satu cabainya sedikit saja, telurnya matang, banyakin kecapnya. Yang satunya lagi nasi goreng biasa saja. Minumnya orange jus 2" pesan Zion yang memang sudah sangat hafal terkait makanan kesukaan Yoshi.
"Makasih kak" Zion pun mengangguk lalu tersenyum manis.
"Duh, beruntung banget kak Vina dapetin kak Zion. Sangat perhatian, selalu meratukan wanita. hmm, andai aku bisa mengutarakan semua ini mungkinkah aku akan merasa lega?" batin Yoshi
__ADS_1
Hingga tak berapa lama pesanan mereka pun tiba, disela makan tersebut terkadang Zion melemparkan canda yang membuat Yoshi sangat terhibur. Kak Zion selalu bisa menjadi penghilang rasa lelah yang sedang Yoshi rasakan.