DOKTER YOSHI

DOKTER YOSHI
Bab 17


__ADS_3

Hari Libur


Pagi ini, setelah aktivitas lari pagi. Barra besiap untuk pergi menemui dokter Yoshi, yah seperti yang oma-nya katakan sebelumnya. Kini ia memiliki waktu 1 bulan untuk bisa meyakinkan dokter Yoshi agar mau menikah dengannya. Ia sendiri tak percaya wanita itu tetap saja menolak dirinya. padahal wanita manapun pasti akan langsung setuju jika Barra menginginkannya.


Tiba di apartemen Yoshi, Barra yang memang sudah mendapatkan informasi dari anak buahnya pun segera bergegas menuju unit apartemen Yoshi. Jujur saja sebelumnya ia sangat terkejut saat mengetahui jika Yoshi mengenal Zion, musuh bebuyutannya sedari dulu. ia takut jika akan gagal lagi, namun melihat perlakuan Zion kepada Yoshi, terlihat bahwa Zion sangat menyayangi Yoshi. Hal itu semakin membuat Barra penasaran tentang Yoshi.


Tinggg...


Yoshi yang sedang menikmati hari liburnya kala itu pun merasa sedikit terganggu dengan suara bel tersebut. Dengan langkah gontai ia mulai berjalan menghampiri pintu dan ketika ia buka,


"Anda...." Yoshi terkejut melihat siapa yang ada di depannya kala itu.


"Yes, its me" jawab Barra lalu dengan tidak tahu dirinya ia masuk ke unit apartemen Yoshi.


"Keluar...saya tidak menerima tamu" usir Yoshi yang mulai jengah dengan sikap semaunya Barra.


"Ets...mengapa kamu mengusirku? Aku kan kesini baik-baik" ujar Barra.


"Cih, baik-baik, nyelonong masuk ketempat tinggal orang itu baik-baik ya? Baru tahu saya" sindir Yoshi


"Kamu saja yang tidak sopan, ada tamu malah tidak disuruh masuk" balas Barra tak kalah ngotot.


"Terserah anda saja lah" kesal Yoshi lalu ia meninggalkan Barra yang masih berada di ruang tamu.


"Hei, dokter Yoshi, keluarlah aku ingin bicara" pekik Barra membuat Yoshi semakin kesal.


"Woi tidak perlu teriak-teriak kaliii...saya tidak budek dan lagi, tidak usah pakai aku kamu. Jijik tahu gak"


"Oh aku fikir kamar kamu kedap suara, terserah aku dong mau pakai bahasa aku kamu atau anda saya" jawab Barra dengan santai.


"Ck, ada apa?"


"Aku ingin menemui keluargamu" perkataan Barra sontak membuat Yoshi membulatkan matanya.


"Bukannya sudah aku katakan, maksudnya kan sudah saya katakan saya tidak mau. Jangan maksa dong" kesal Yoshi


"Kamu ini keras kepala sekali, aku tidak mau menjadi anak durhaka, kamu juga tidak mau kan jadi anak durhaka?"


"Lah kenapa jadi saya anak durhaka juga?" bingung Yoshi


"Iyalah, kamu tidak menuruti permintaan orang tua" jawab Barra dengan entengnya.


"Itukan orang tua anda nih, saya kan hanya orang lain. jadi itu bukan kewajiban saya untuk menurutinya. Begitu ya bapak Barra yang terhormat" jelas Yoshi sedikit menekan setiap perkataannya.


"Kenapa orang ini jadi banyak omong sekali sih, sangat tidak cocok dengan sikap dingin dia selama ini" Yoshi membatin.


"Tapi ini adalah permintaan langsung dari orang tua loh"

__ADS_1


"Sudahlah saya pusing meladeni anda, saya ngomong juga tidak didengarkan jadi...."


"Loh kata siapa tidak di dengarkan? Dari tadi aku dengar kan aku tidak budek" potong Barra


"Ha...ha...ha... Lucu sekali sampai aku terpingkal" ledek Yoshi sambil menahan kekesalannya.


"Hmm, baiklah, aku kemari ingin mengajak kamu makan" ucap Barra mencoba berbicara baik-baik dengan Yoshi.


"Tidak mau, saya tidak lapar"


Krruuukkkk.....


"Perut kamvret" gumam Yoshi lalu setelahnya ia bersikap seperti tidak terjadi apa-apa.


Sedangkan Barra, hanya bisa menahan senyumnya. Baru kali ini ia menemukan wanita unik seperti ini, 'cukup berkesan' fikir Barra.


"Yasudah jika tidak mau makan diluar" Barra pun berdiri dari duduknya, lalu mulai melangkah kearah dapur.


"Heh, mau ngapain? Jangan bersikap sembarangan ya ini kediaman orang jika anda lupa" omel Yoshi


Barra sendiri seakan menulikan pendengarannya, lalu mulai mengenakan apron milik Yoshi dan mulai memasak. Ia melihat bahan-bahan apa saja yang Yoshi punya, sehingga bisa digunakan untuk bahan masakannya.


Melihat ke telatenan Barra dalam memasak, Yoshi cukup terpana.


"Ternyata pria ini jauh lebih seksi dan mempesona" batin Yoshi namun segera ia menepisnya.


"Kamu nilai sendiri saja setelah makanannya selesai"


"Cih, sombong sekali" gerutu Yoshi justru membuat Barra tersenyum.


"Sungguh menggemaskan" ujar Barra membuat Yoshi bingung, namun ia sudah tak ingin berkomentar karena Semakin ia banyak bicara semakin lapar yang ia rasakan.


Setelah 40 menit, akhirnya masakan Barra pun selesai. Barra pun meletakkan makanan tersebut dimeja makan.


"Kemarilah, tidak perlu malu" goda Barra.


"Cih, siapa juga yang malu, anda saja tidak tahu malu dengan menggunakan dapur saya"


"Sudahlah, kamu tidak lelah berdebat terus? Lebih baik sekarang kita makan sebelum makanannya menjadi dingin"


Barra langsung menarik kursi untuk Yoshi duduk, lalu setelahnya ia menarik kursi lagi untuk dirinya duduk.


"Tunggu dulu" cegah Barra saat Yoshi hendak menyuapkan makanan itu ke mulutnya.


"Apa lagi sih? Tadi disuruh makan sekarang di cegah, mau kamu tuh ap..." Yoshi terdiam seketika kala Barra mengambil rambutnya lalu dengan lembut ia mengumpulkan rambut Yoshi yang masih tergerai itu untuk bisa ia ikat.


"Kalau kamu makan seperti ini, nanti rambut kamu kotor kena makanannya" ujar Barra lalu setelah selesai ia pun kembali duduk.

__ADS_1


Yoshi yang baru pertama kali di perlakukan seperti itu pun merasa salah tingkah, ia sangat tidak menyangka jika gunung es didepannya ini ternyata mempunyai sisi lembut juga.


"Anda sudah biasa ya memperlakukan wanita seperti itu?"


"Tidak juga, baru 2 wanita" ucap Barra


"Siapa?" entah mengapa ada rasa tidak suka kala Barra mengatakan itu.


"Kamu penasaran?" goda Barra


"Ti..tidak, berarti anda punya alasan tuh buat tidak menikah dengan saya. Gunakan pacar anda itu, suruh dia menarik perhatiannya nyonya Liberty" ujar Yoshi


"Dia sudah selalu ada di hatinya oma" sahut Barra


"Bagus dong, yaudah ngapain masih repot-repot kesini?"


"Walaupun dia selalu ada di hati oma, tidak mungkin juga kan aku menikahi adikku sendiri"


"Jadi maksud kamu 2 wanita itu satunya Kiara?" Barra pun mengangguk.


"Kirain" gumam Yoshi pelan hingga Barra sendiri


pun tidak mendengarnya.


"Saya cukup terkejut, ternyata masakan anda enak" puji Yoshi.


Barra tersenyum, "terimakasih"


"Ya, saya hanya mengatakan fakta" Barra yang tahu sifat gengsi Yoshi pun hanya mengangguk.


Setelah seharian Barra berada di unit apartemen Yoshi, kini ia pun akan pulang ke mansionnya.


"Jika ada waktu bolehkan mampir ke mansion? Oma selalu menanyakan kamu" ucap Barra sebelum meninggalkan apartemen Yoshi.


"Insyaallah nanti, jika ada kesempatan" jawab Yoshi seadaanya.


"Oke, aku pulang dulu, terimakasih atas jamuannya"


"Anda sendirilah yang menjamu diri anda, saya tidak melakukan apa-apa tuh"


"Untuk saat ini tidak masalah, tapi setelah menjadi istri kamu wajib melayani saya"


Yoshi bergidik, "Tidak usah membahas sesuatu hal yang mustahil deh, bikin merinding saja"


"Tidak ada yang mustahil jika yang diatas sudah berkehendak" sahut Barra lalu dengan berani ia langsung menci*um kening Yoshi.


Yoshi yang mendapat perlakuan seperti itu secara mendadak pun seakan terpaku, ia seakan tak dapat bergerak. Hingga ia tak sadar Barra sudah pergi dan menghilang di balik lift.

__ADS_1


__ADS_2