DOKTER YOSHI

DOKTER YOSHI
Bab 7. Permintaan Oma


__ADS_3

Ruang Rawat Oma.


Di ruang rawat itu, semua keluarga Elvender berkumpul. Oma Liberty nampak tersenyum lalu mulai berucap.


"Mama tidak apa-apa, jangan khawatir" ucapnya lemah


Air mata yang sedari tadi bu Luna tahan pada akhirnya luruh juga.


"Ma, mama harus sembuh, mama pasti bisa ma" oma Liberty pun kembali tersenyum


"Barra, boleh kah oma meminta sesuatu?"


"Iya oma, katakan saja oma ingin apa? Barra akan mendapatkan apapun itu"


"Kalian tahu bukan bahwa tumor itu sangat sulit untuk dibunuh, setelah ini mungkin oma akan menjalankan kemoterapi atau sejenisnya. Jadi oma sangat ingin melihat kamu menikah Barra"


Deg....


Bagai disambar petir Barra terdiam, sulit sekali rasanya menelan salivanya sendiri.


"Me...menikah Oma?" oma Liberty pun menganggukkan kepalanya.


"Tapi Oma..."


"Permisi, maaf bapak, ibu, tuan sudah saatnya pasien istirahat" ucap suster yang berjaga.


"Baik sus, terimakasih"


"Ma, kami pulang dulu besok pagi kami akan kemari sebelum mama masuk keruang operasi" pamit pak Surya lalu dibalas anggukkan dari oma Liberty.


Setelah tiba di mansion barulah Barra kembali melayangkan protesnya.


"Dad, mom, apakah oma serius dengan permintaannya itu? Menikah? Menikah bukanlah perkara mudah mom bahkan untuk mencari wanita yang benar saja sangat sulit dizaman ini. Barra belum siap untuk menikah"


"Barra jujur saja mommy setujuh dengan oma-mu usia mu sudah 28 tahun Bar mau sampai kapan kamu menutup diri kamu. Lupakan Vina lupakan masa lalu mu itu" ujar bu Luna


"Barra sudah lupakan wanita itu mom, tapi untuk membuka hati lagi, entahlah Barra rasa tak bisa" seusai mengatakan itu, Barra pun berlalu meninggalkan kedua orang tuanya yang masih duduk terdiam ditempatnya.


"Emm, mom, dad bagaimana keadaan Oma?" tanya Kiara yang baru saja menghampiri kedua orang tuanya.


"Oma harus operasi sayang, besok kami akan menemani oma operasi, sekarang sebaiknya kamu tidur ya besok kan kamu kuliah" jawab sang daddy.


"Dad, bolehkah besok Ara ikut menemani oma? Kiara tidak pernah bolos jadi bisakah kali ini saja dad, mom" mohon kiara lalu daddy-nya pun mengangguk. Setelah di perbolehkan barulah Kiara kembali kekamarnya.


"Bagaimana ini dad, Barra benar-benar keras kepala"

__ADS_1


"Kita tunggu saja mom, Barra itu sangatlah menyayangi oma-nya daddy yakin dia akan mau menikah"


"Tapi dad, kepada siapa kita menikahkan Barra, mommy tidak ingin ia mendapatkan wanita seperti ular berbisa itu lagi dad"


"Hmm, daddy pun tidak ingin mom, nanti coba daddy lihat anaknya teman-teman daddy. Sekarang kita segera istirahat agar besok kita tidak terlambat datang ke rumah sakit"


...****...


Esok hari di Elvender Hospital.


Pukul 05.50 WIB, keluarga Elvender tiba di rumah sakit, mereka pun langsung bergegas menuju ruangan dimana oma Liberty malam tadi dirawat. Setibanya disana terlihat para suster tengah sibuk mempersiapkan operasi oma Liberty. hingga tak lama kemudian, dokter Yoshi pun tiba.


"Dokter, tolong selamatkan mama kami" ucap bu Luna penuh harap.


Yoshi pun tersenyum, "Anda tenang saja kami akan berusaha sekuat tenaga, kami juga mohon doa dari keluarga pasien untuk kelancaran operasinya"


Saat tengah berbincang dengan keluarga pasien, tak sengaja mata kedua insan itu bertemu. Yoshi nampak terkejut melihat sosok pria sombong itu berada disana. Sedangkan Barra yang memang tidak pernah perduli dengan lingkungan sekitarnya pun hanya acuh, sejujurnya Barra selama ini tidak pernah memperhatikan Yoshi sama sekali bahkan dirinya tak pernah melihat wajah Yoshi karena ketika beberapa kali bertemu ia sibuk dengan ponselnya saja bahkan waktu di rumah sakit pun yang banyak berbicara adalah Lenzo makanya ia bersikap datar saja karena memang ia tidak mengingat wajah Yoshi.


"Ada hubungan apa pria sombong ini dengan nyonya Liberty?" fikir Yoshi


"Dokter sudah waktunya" suster Dania mengingatkan


"Maaf nyonya, tuan saya permisi"


"Baik dokter" keluarga itu pun kembali menunggu dengan harap cemas.


"Dokter bagaimana keadaan mama saya" tanya pak Barhen ketika melihat dokter Yoshi keluar dari ruangan.


"Alhamdulillah tuan, operasinya berjalan dengan lancar" ucap dokter Yoshi


"Syukurlah kalau begitu, terimakasih dokter terimakasih banyak" pak Barhen pun menyalami dokter Yoshi


"Sama-sama tuan, kalau begitu saya permisi dulu" pamit Yoshi


"Dokter tadi jika jadi kakak ipar ku pasti akan aku pamerkan ke seluruh dunia" gumam Kiara merasa takjub dengan kecantikan Yoshi. Meskipun tidak mengenakan makeup tapi wajah tanpa polesannya itu sangat memikat hati kiara.


"Ara jaga mommy ya daddy mau cari sarapan dulu untuk kita"


"Biar Ara saja Dad, Ara bosan jika disini terus hehe"


"Yasudah hati-hati"


Kiara pun bergegas mencari kantin di rumah sakit itu,


"Duh rumah sakit Oma besar sekali, aku menyesal waktu dulu oma mengajak kemari aku tidak pernah mau, jadi begini kan" gerutunya sepanjang jalan.

__ADS_1


Sekian lama Kiara berjalan ia justru menemukan ruangan kerja Yoshi, kebetulan juga Yoshi pada saat itu hendak keluar sehingga mereka berdua pun bertemu.


"Hai dokter, masih ingat aku?" sapa Kiara yang baru saja kepergok sedang melihat Yoshi.


"Hai, iya kamu yang tadi menunggu nyonya Liberty juga kan?" Kiara mengangguk, dia senang sekali dokter Yoshi melihatnya tadi


"Benar dok, perkenalkan nama aku Kiara biasa dipanggil Ara, aku cucunya oma Liberty dan apakah tadi dokter melihat pria tampan disebelah ku? Nah itu kakak Ara dok"


"Oh begitu, baiklah salam kenal ya Ara, kalau saya namanya Yoshi biasa dipanggil Yoshi hehe. Ngomong-ngomong kamu kok bisa ada disini?" tanya Yoshi, ia malas membahas pria sombong itu.


"Oh itu karena sebenarnya aku mau mencari kantin dok eh malah nyasar kesini" ucapnya sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal


"Emm, yasudah bareng saya saja ra, kebetulan saya juga ingin sarapan di kantin" ajak Yoshi dan akhirnya mereka pun pergi kekantin bersama.


Selama berjalan menuju kantin banyak sekali yang menyapa Yoshi, baik itu para rekan sesama dokter, suster hingga keluarga pasien pun menyapanya. Karena itulah Kiara jadi tidak bisa mengobrol banyak dengan Yoshi. Tapi dari sini ia malah semakin kagum dengan sosok wanita disampingnya ini.


Saking fokusnya melihat Yoshi, Kiara sampai tidak sadar jika kini mereka telah tiba di kantin.


"Kiara kamu mau beli apa?" tanya Yoshi namun belum juga ada respon dari lawan bicaranya.


"Kiara, raa" tegur Yoshi sembari mengibaskan tangannya.


"Eh, ya dok. Ikut apa yang dokter pesan saja" jawab Kiara


Yoshi yang di tatap terus menerus oleh Kiara pun jadi salah tingkah, ia jadi bertanya-tanya apakah di wajahnya ada sesuatu yang salah.


"Kiara, apakah ada yang salah diwajah saya?" tanya Yoshi pelan.


Kiara tersenyum ada niat menjahili dokter Yoshi,


"Ada belek tuh dok di mata dokter" mendengar jawaban spontan Kiara sontak membuat Yoshi terkejut dan langsung memegang matanya, mencari belek yang tadi Kiara katakan.


"Eh dokter mau kemana?" tanya Kiara ketika Yoshi hendak pergi.


"Mau ketoilet Ra, malu banget mana saya tadi menyapa semua orang" ujar Yoshi sembari terus mengecek matanya.


"Puftt ..hahahaha dokter Yoshi sangat polos sekali, maaf dok tapi saya hanya bercanda" Kiara tertawa melihat wajah cemas dokter Yoshi.


"Ah kamu ini ya, saya kira benaran" Yoshi langsung cemberut, entah mengapa berbicara dengan Kiara membangkitkan jiwa anak muda Yoshi, padahal selama ini ia selalu bersikap dewasa pada semua orang.


"Maaf dok, apakah dokter Yoshi marah?"


"Hemm, marah tidak ya? Coba saya fikirkan dulu deh"


"Dih jahat...hahah" mereka pun tertawa bersama, seolah sudah kenal lama.

__ADS_1


Setelah membeli sarapan, mereka pun kembali. Kali ini Yoshi menghantarkan Kiara ke ruangan oma Liberty dulu, ia takut jika Kiara nyasar lagi. Usai menghantar Kiara ia pun kembali keruangannya.


__ADS_2