DOKTER YOSHI

DOKTER YOSHI
Bab 23


__ADS_3

"Jadi apa jawabanmu ndok?" tanya ayahnya kembali.


"Yoshi.... Yoshi terima yah" jawab Yoshi terdengar sedikit ragu namun riuh dari keluarga itu mampu menutupi keraguan yang Yoshi rasakan.


"Syukurlah, kalau begitu apakah kita bisa langsung membicarakan tanggal pernikahannya pak?" kini oma Liberty yang nampak sangat bersemangat.


"Bagaimana ndok?" tanya ayah Yoshi kembali.


"Terserah ayah dan ibu saja, maaf ayah, Yoshi ada pekerjaan mendadak. Nanti Yoshi kabari lagi, maaf jika merepotkan ayah dan ibu. assalamualaikum"


Mereka pun akhirnya mengakhiri panggilan tersebut, lalu kembali membicarakan tanggal yang tepat untuk pernikahan kedua anak mereka.


Setelah cukup lama berbincang dan menimang-nimang, akhirnya mereka pun sepakat untuk mengadakan pernikahan 1 bulan lagi. Serta pernikahan itu akan diadakan di kota jogja, dikota kelahiran Yoshi.


Kembali di Jakarta.


Di sebuah apartemen yang cukup luas itu, nampak seorang wanita cantik yang tengah duduk menyendiri, dibawah minimnya cahaya dan dinginnya hembusan angin malam, Yoshi terdiam. Ditatapnya langit gelap itu dengan perasaan yang sulit ia gambarkan.


Menyesali keputusan yang baru saja ia ambil, entahlah kehidupan apa yang akan ia jalani kedepannya. Apakah ia bisa bahagia atau justru terluka berkali-kali, ia tak tahu. Apakah takdir ini benar adanya? Berbagai keraguan dihatinya seakan memuncak, bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Teman ceritanya kini tak lagi bisa ia harap, hanya bisa berharap dengan sang pencipta supaya kehidupan yang ia mau akan ia dapatkan dalam cerita ketidaksengajaan ini.


"Sudahlah, lebih baik aku tidur, besok aku ada jadwal operasi" gumamnya lalu ia pun beranjak dari duduknya.


Sudah berminggu-minggu ini, Yoshi menghindar dari Naya dan juga kak Zion. Ia masih belum siap bertemu dengan sahabat baiknya itu, apalagi dengan orang yang pernah singgah dihatinya. Perasaan takut itu masih ada, rasa sakit yang sulit untuk ia lupakan. Ia tak menyangka sosok kak Zion yang begitu baik, lembut dan dewasa itu ternyata hanyalah seorang lelaki yang brengsek.


Keesokan harinya, Yoshi kembali beraktivitas seperti biasa. Ia datang kerumah sakit tempatnya bekerja pukul 07.30 WIB.


Yoshi terus berjalan menuju keruangannya, namun dari kejauhan ia dapat melihat sosok yang tak asing untuknya. Yah, orang itu adalah Naya. Saat ini Naya sedang berdiri didepan ruangan Yoshi.


"Hah, kalau sudah begini. Aku tidak bisa terus menghindar" lirihnya lalu Yoshi pun melanjutkan langkahnya.


Tap...


Tap...


Tap...


"Yoshi" gumam Naya ketika mendengar derap langkah kaki itu semakin mendekat.


"Nay, ngapain kamu disini? Kenapa tidak masuk saja" ucap Yoshi dengan bersikap seperti biasa.


"Aku ingin bicara sama kamu Yos, jangan terus menghindari ku. Nanti jam istirahat bertemu di cafe seberang rumah sakit. Aku tunggu" setelah mengatakan itu Naya pun pergi meninggalkan Yoshi yang masih berada ditempatnya.

__ADS_1


"Naya nampak sangat sedih, apa dia marah padaku?" gumam Yoshi sembari terus menatap punggung Naya yang semakin lama semakin menjauh.


"Dok..."


"Dokter Yoshi....


"Dokkkk....." tegur Suster Dania


"Eh, astaghfirullah suster Dania, bikin kaget saja" protes Yoshi sembari mengelus dadanya.


"Yah habisnya dokter saya panggilin dari tadi tidak menyahut. Dokter lihatin apa sih?" tanyanya seraya celingukan mencari sesuatu.


"Oalah saya tidak dengar, hehe...yasudah sus itu tidak penting. Sekarang ayo mulai bekerja" ajak Yoshi dan mereka pun kembali ke pekerjaan mereka.


Tak terasa waktu pun sudah menunjukkan pukul 12 siang. Saatnya beristirahat dari segala kegiatan yang melelahkan, sekarang waktunya mengrecharge energi kembali.


Seperti yang tadi pagi Naya katakan, ia menunggu Yoshi di cafe seberang rumah sakit. Kini Yoshi pun segera melangkahkan kakinya menuju cafe itu. Setibanya disana, ia melihat Naya yang duduk sendiri sedang menyeruput minumannya.


"Hai" sapa Yoshi lalu Naya pun tersenyum.


"Tuh sudah aku siapin minuman kesukaan kamu" balas Naya


"Yos, mau pesan apa?" tanya Naya seraya menyerahkan buku menu.


"Kamu ingin membicarakan apa Nay? Kenapa ekspresi mu tadi pagi..."


"Sudahlah, lebih baik kita makan dulu nanti setelah nya baru kita ngobrol" ucap Naya sembari tersenyum manis, meskipun Yoshi tahu bahwa itu adalah senyum palsu Naya.


Yoshi pun mengangguk dan mulai mengambil buku menu itu. setelah memilih makanan dan minuman untuk mereka santap, sambil menunggu makanan itu datang. Yoshi pun kembali mengajak Naya mengobrol tentang mereka waktu kecil. Karena hanya kenangan itu yang Yoshi anggap sangat indah.


Tak berapa lama pesanan mereka pun tiba, lalu dengan lahapnya mereka menyantap semua hidangan yang disajikan dimeja mereka tersebut.


"Alhamdulillah, kenyang juga" ucap Yoshi senang.


"Yos" panggil Naya, pelan.


"Iya Nay? Kenapa?"


"Apa aku ada melakukan kesalahan sama kamu ? Kenapa akhir-akhir ini kamu selalu menghindar Yos?" sontak pertanyaan Naya tersebut membuat Yoshi terdiam seribu bahasa.


"Aku salah apa Yos?" kembali Naya bertanya

__ADS_1


Yoshi menggelengkan kepalanya,


"Kamu tidak salah apa-apa Nay, tapi..."


"Tapi apa?"


"Tidak, tapi kebetulan akhir-akhir ini aku memang sangat sibuk Nay, jadi kadang tidak melihat handphone" jawab Yoshi sekenanya.


ia bisa melihat ekspresi wajah Naya yang tidak percaya dengan alasan Yoshi. Namun mau bagaimana pun tidak mungkin kan kalau dia harus mengatakan hal itu. Ia takut hubungan baik Naya dan kakaknya itu jadi hancur karena dirinya.


"Kamu tidak bisa berbohong denganku Yos? Sebenarnya ada apa? Tolong jujur saja padaku" desak Naya


"Tidak Nay, aku tidak apa-apa. Memang aku saat ini sedang sibuk saja" jawab Yoshi sambil tersenyum.


Tak berapa lama, orang yang sangat tidak Yoshi harapkan itu pun datang dan mengacaukan mood Yoshi yang tadinya sedikit baik, kini jadi sangat buruk.


"Hai adik-adikku" sapa Zion seraya menyentuh kepala Naya dan saat hendak beralih menyentuh Yoshi, secara refleks Yoshi pun menghindar


Tentu saja hal itu tidak luput dari pendangan Naya, ia bisa melihat sahabat masa kecilnya itu sangat tidak nyaman ketika melihat kakaknya.


"Aneh, kenapa Yoshi bersikap seperti tadi? Apakah ada yang tidak aku ketahui? Dan apa itu tadi? sikap Yoshi ke kak Zion jadi canggung sekali. Bahkan Yoshi terlihat sangat membenci kak Zion. Ada apa sih sebenarnya?" Naya berdialog sendiri didalam hatinya.


"Nay, sorry aku masih ada pasien yang harus aku periksa, jadi aku duluan ya" pamit Yoshi tanpa menghiraukan Zion yang terlihat santai sembari menyesap minumannya.


"Yos...tunggu.." seru Naya namun sia-sia karena Yoshi tak menghiraukannya bahkan Yoshi langsung bergegas menuju rumah sakit kembali.


Setelah kepergian Yoshi, barulah Naya menatap kakaknya itu dengan intens.


"Kak, kakak sudah berbuat apa sama Yoshi? Kenapa dia begitu menghindari kita kak?" tanya Naya


"Mana kakak tahu, tanya dia lah dek" jawab Zion dengan santainya


"Kak, aku kenal Yoshi bukan sehari dua hari, aku tahu dia kak, tidak pernah sekalipun Yoshi bersikap seperti ini padaku kak"


"Nay, kakak tidak tahu mengapa sikap Yoshi begitu. Kakak tidak pernah menyinggungnya. Kamu tahu sendiri kan sikap kakak ke kamu dan dia itu sama tidak ada kakak beda-bedakan. Dasar dia aja yang tidak tahu terimakasih" hardiknya membuat Naya semakin jengkel dibuatnya.


"Kalau sampai Naya tahu ada yang salah, dan ulahnya itu kak Zion. Lihat saja, Naya tidak akan memaafkan kakak" ancamnya lalu pergi meninggalkan Zion yang masih betah ditempatnya.


"Cih....apa bagusnya Yoshi itu sampai kau membelanya mati-matian begitu Nay, aku ingin kamu menerima Vina bukan wanita sialan itu" kesal Zion


"Kalau wanita sialan itu masih hidup, sampai kapanpun Naya dan mama tidak akan bisa menerima Vina menjadi kekasihku. Aku harus mencari cara agar Yoshi pergi sejauh-jauhnya dari kehidupan kami" gumamnya seraya meremas gelas dihadapannyan hingga pecah.

__ADS_1


__ADS_2