
Seminggu sudah korban kecelakaan yang melibatkan CEO star Zeyy itu dirawat, kini pria paruh baya itu diperbolehkan untuk pulang. Lenzo sebagai penjamin pun turut hadir disana, dikarenakan mereka habis melakukan perjalanan bisnis alhasil Barra pun ikut ke rumah sakit tersebut.
"Berikan uang dispensasi terus langsung pergi dari sini" titah Barra saat sekretarisnya itu hendak masuk ke ruangan dimana pria paruh baya itu dirawat selama ini.
"Baik pak, namun bolehkah saya bertanya satu hal pak? Ini pertanyaan yang sudah saya simpan selama 1 minggu ini" Lenzo meminta izin
"Why?"
"Maaf pak jika saya lancang, saya baru kali ini melihat anda bersikap angkuh terhadap orang yang lemah, biasanya anda tidak seperti ini. Sikap anda kali ini sungguh agak keterlaluan pak, orang lain yang mungkin melihatnya pasti akan berfikiran buruk tentang anda pak"
"Saya tidak perduli dengan penilaian orang lain Zo, yang saya inginkan segera terbebas dari orang itu" tunjuknya kearah pintu ruangan korban kecelakaan itu.
Melihat Lenzo yang nampak masih belum puas akan jawaban yang ia berikan, lantas Barra pun kembali berucap "Dia ayah Vina" setelah mengucapkan sebuah nama yang sebenarnya amat malas ia sebutkan, Barra melangkah menjauh dari tempat itu.
"Vina....Vinnn.... Astagaaa jadi..." Lenzo baru menyadari sesuatu,
"Jadi itu alasan bos bersikap dingin dengan bapak itu, ck. Kalau tahu sejak awal aku pun akan jauh lebih kejam memperlakukannya, sial" gerutu Lenzo dan akhirnya mau tak mau ia tetap harus masuk kedalam ruangan tersebut.
Seusai menyelesaikan administrasi, kedua pria tampan itupun bergegas hendak meninggalkan rumah sakit. Lalu secara tiba-tiba, Barra yang
masih fokus dengan gadgetnya itu pun tak melihat jika ada orang didepannya, hingga pada akhirnya,
Bugkkhh...
"Awwws..." ringis seseorang yang langsung terjatuh
"Ck.. Handphone ku" tanpa perduli dengan orang yang tadi ia tabrak. Barra hanya mengambil handphone-nya yang terjatuh tepat disamping dokter Yoshi.
"Dokter Yoshi, mari saya bantu" ujar salah satu suster yang melihat Yoshi masih terduduk ditempatnya terjatuh tadi.
"Hei, bukannya minta maaf malah main pergi saja, sungguh tidak punya sopan santun" sindir Yoshi seketika Barra pun menghentikan langkahnya.
Barra menoleh kearah dokter Yoshi, "Sorry" lalu kembali melanjutkan langkahnya.
"Dokter Yoshi maaf ya maafkan bos saya, jika anda membutuhkan ganti rugi silahkan hubungi saya disini. kami permisi" ucap Lenzo sembari memberikan kartu namanya.
"Hah, dasar pria sombong. Jangan sampai aku bertemu dengannya lagi, sial bisa-bisanya" gerutunya lalu ia pun membuang kartu nama tersebut ke tong sampah.
__ADS_1
...***...
Setelah beberapa hari disibukkan dengan pekerjaannya, kini tibalah hari yang paling dinantikan oleh Yoshi, dimana hari ini ia bisa pulang kekampungnya. Meskipun hanya memiliki libur 3 hari namun Yoshi sangatlah senang.
Yoshi melakukan perjalanan ke jogja dengan menaiki pesawat, karena jika menggunakan kendaraan darat akan memakan waktu lagi dan pastilah waktu 3 hari itu akan berkurang, itulah fikirnya.
Hingga beberapa waktu kemudian pun, Yoshi tiba di Yogyakarta Internasional Airport. Disana ia telah di tunggu oleh sopir pribadi milik keluarganya.
"Nona Yoshi" panggil seseorang yang amat ia kenal.
"Eh pak Mansyur, apa kabar pak?" sapa Yoshi ketika sudah mendekat kearah orang itu.
"Baik nona, walah non makin kesini makin ayu tenan toh"
"Hehe bisa saja pak Mansyur. Ayo pak kita pulang aku sudah tidak sabar untuk bertemu Ayah dan Ibu"
"Oh yo ayo, mari silahken non" pak Mansyur memberi jalan pada anak majikannya itu.
Di perjalanan Yoshi nampak melihat-lihat luar jendela, ia sangat takjub dengan kota kelahirannya itu.
"Banyak sekali yang berubah ya pak, makin bagus" pujinya
"Haha ..oh ya pak, ibu sama ayah ada dirumah apa di butik?"
"Kalau bu Diah ada dirumah sedang menunggu non Yoshi nah kalau pak Surya yoh masih nang butik non"
"Ohhh...oke pak" setelahnya tidak ada lagi percakapan hingga tibalah Yoshi di rumah yang cukup besar meskipun tidak terlalu megah tapi baginya rumahnya sudah cukup besar dan nyaman.
"Assalamualaikum...." pekik Yoshi saat baru saja memasuki pintu rumahnya.
"Wa'alaikumsalam..." jawab seseorang yang amat ia rindukan.
"Ibuuu" melihat sang ibu tercinta, Yoshi pun langsung meninggalkan ranselnya lalu berhambur memeluk sang ibu.
"Ibu kira kau sudah melupakan kami, karena tidak pulang-pulang kerumah" sindir bu Diah.
"Maafkan anak mu ini ibu, Yoshi sangat sibuk sampai tidak pulang-pulang" balas Yoshi sembari menangkupkan kedua tangannya dan diangkatnya hingga ke dahi.
__ADS_1
"Haha...kamu ini, sudah sana bersih-bersih lalu makan. Ibu sudah masakkan makanan kesukaanmu"
"Waahh...otw kalau begitu" Yoshi pun segera mengambil kembali ranselnya lalu melaju secepat kilat menuju ke kamarnya.
30 menit berlalu, Yoshi pun sudah selesai dari aktivitasnya membersihkan diri. ia keluar dan langsung duduk di meja makan.
"Assalamualaikum, "
"Wa'alaikumsalam...ayahhh" kini Yoshi kembali berdiri dan langsung memeluk sang ayah.
"Aduh aduh anak ayah yang paling cantik ini, sudah sangat rindu kah?"
"Jelas ayah, Yoshi amat sangat merindukan ayah dan ibu" jawabnya sedikit manja
"Haduh yah, gimana kita mau dapat menantu ini kalau sikap anak gadismu itu seperti itu" canda sang ibu.
"Iiss ibu, kok ngomong menantu menantu, Yoshi masih 24 tahun bu, masih panjang. Yoshi mau meraih gelar profesor dulu"
"Gelar itu kan bisa diraih walau kamu sudah menikah Yos, kamu itu anak satu-satunya, kami pun butuh cucu" tambah sang ayah
"Udah ah Yoshi malas nih kalau bahas soal begini. Yoshi mau makan aja"
"Duh ngambek nih anak ayah" goda sang ayah
Malam harinya, Yoshi dan kedua orang tuanya duduk bersantai di gazebo belakang rumahnya. Banyak sekali hal yang mereka diskusikan, sampai akhirnya ia mengingat sahabat kecilnya Nayasha Aquella.
"Oh ya bu, Kok tumben Naya gak kesini padahal aku sudah kasih kabar bahwa mau pulang"
"Loh kamu tidak diberitahu ndok? Naya kan sudah pindah ke jakarta. Ibu dengar sih dia mendapat pekerjaan disana"
"Lah kak Zion bukannya kerja disini Bu?"
"Iya dia pindah ikut mama dan adiknya"
"Yaahh, padahal Aku ingin mengajaknya jalan-jalan besok" Yoshi merasa sedih karena sebagai sahabat ia justru tidak diberitahu bahwa sahabatnya itu pindah.
"Tidak apa-apa deh, semoga nanti dijakarta aku bisa menemuinya. Bahkan jadi lebih sering ketemu karena tinggal di satu kota yang sama" batin Yoshi bersorak senang.
__ADS_1
"Oh ya ndok, besok bantu ibu di butik yo, lagi ramai kami kekurangan pegawai hehe"
"Huh dasar ibu, tapi tenang saja bu serahkan pada Yoshi hehe"