
Seharian sudah Barhen beserta istri dan anaknya berada di rumah sakit, di sebuah ruang VVIP oma Liberty masih nampak terlelap. selang berapa menit kemudian Barra pun tiba di rumah sakit.
"Bagaimana mom, dad keadaan oma?" tanyanya ketika ia sudah berada disamping bankar sang oma.
"Alhamdulillah operasi oma berjalan dengan lancar Bar, kita tinggal menunggu oma tersadar saja"
"Baguslah jika begitu, aku sudah lumayan lega" sahut Barra.
Di waktu yang sama dan di tempat yang berbeda, Dokter Yoshi nampak sedang sibuk memeriksa pasien-pasiennya.
"Suster Dania, yang tadi sudah pasien terakhir saya kan ya?"
"Iya dok, tapii...didepan ada yang ingin bertemu dengan dokter" beritahu suster Dania
"Siapa sus?"
"Saya tidak tahu dok karena tiap saya tanya dia tidak mau menjawab dan katanya dia akan terus menunggu hingga dokter selesai" ungkap suster Dania
"Yasudah tolong suruh dia masuk saja sus?"
"Baik dok" Suster Dania pun keluar dan memanggil tamu dokter Yoshi.
Tokk...tok...
"Masuk" dokter Yoshi mempersilahkan, namun ia sungguh tidak mengenali yang menjadi tamunya itu, pasalnya seseorang yang sudah dipastikan wanita itu mengenakan masker dan kaca mata hitam serta ia mengenakan topi berwarna hitam hingga membuat dokter Yoshi mengerutkan dahinya.
"Maaf apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Yoshi ketika wanita itu masuk.
Wanita itu hanya mengangguk tanpa berniat mengeluarkan suaranya.
"Dimana? Dan apakah kita saling mengenal?" lagi-lagi wanita itu mengangguk, mengiyakan setiap pertanyaan yang Dokter Yoshi ajukan.
"Bolehkah anda membuka membuka semua penutup diri anda? Karena Saya kesulitan mengenali lawan bicara saya saat ini" ungkap Yoshi yang mulai sedikit kesal.
Wanita itu menggelengkan kepalanya, lalu ia mulai berkata.
"Tidak bisakah kau menebak aku?"
"Tunggu..." ketika mendengar suara itu, ada satu bayangan yang terlintas di ingatan dokter Yoshi.
"Suaranya mirip Nayasha apakah mungkin?" dialognya dalam hati.
"Tidak mungkin kamu Naya kan?" celetuk Yoshi
Wanita itupun tersenyum lalu mulai mendekat kearah Yoshi dan...
Tuukkk....
__ADS_1
Wanita itu menyentil kepala Yoshi cukup keras,
"Awwss" ringisnya sembari memegang dahinya yang terasa sedikit sakit.
Lalu wanita itu pun mulai membuka semua penutup dirinya,
"Heyyoo" sapanya sembari memanerkan gigi-giginya.
"Ck. Sudah kuduga itu kau Naya" ucap Yoshi lalu mereka pun berpelukkan melepas rindu.
"Gila ya, kamu kok ndak bilang-bilang kalau mau pindah ke jakarta? Kamu tinggal dimana? Sama siapa? Jauh tidak dari sini?" Yoshi memberondong pertanyaan.
"Satu satu dong nanyanya Yos, aku jadi bingung nih jawabnya yang mana"
"Udah jawab semua pertanyaan ku"
"Ck, dasar tidak pernah mau mengalah" cibir Naya namun tak diperdulikan oleh Yoshi.
"Sorry deh aku emang sengaja ndak bilang-bilang kamu, soalnya memang mau bikin kejutan kayak tadi hehe... Terus aku tinggal di daerah dekat sini sih tepatnya di perumahan yang ada di perempatan jalan sana Yos, terus aku tinggalnya yah pasti sama mama dan kak Zion lah" jawab Naya
"Eh aku mbok ndak kamu kasih minum ini Yos? Haus woi"
"Hahah sampai lupa loh aku, bentar bentar aku ambilkan dulu" Yoshi pun bergegas mengambilkan air minum di kulkas yang ada di ruangannya.
"Kalau begitu kau harus tidur di apartemen ku malam ini"
"Besok saja, karena hari ini mama mengajakmu makan malam bersama dirumah kami"
"Dasar kau ini, sudah menjadi dokter pun masih saja menganut sekte suka makan gratis" lagi-lagi Naya mencibirnya.
"Walaupun aku jadi presiden rumah sakit ini sekalipun tetap makan gratis is number one" ungkap Yoshi kemudian mereka pun tertawa bersama.
"Yasudah ayo, langsung ke rumah ku" ajak Naya.
"Eh nanti dulu Nay, aku masih menunggu kabar terkini pasienku yang tadi pagi baru saja operasi. Dia belum juga sadar, aku akan mengecek keadaannya terlebih dahulu baru setelah itu kita kerumahmu"
"Oke, aku akan tunggu disini. Bolehkah?"
"Boleh dong, yasudah kau tunggu sini dulu, jika ingin cemilan ambil sendiri di kulkas oke" usai mengatakannya Yoshi pun segera pamit untuk memeriksa keadaan oma Liberty.
Diruang VVIP oma Liberty
Yoshi baru saja tiba di ruangan itu, terlihat semua keluarga oma Liberty masih setia menunggu sampai oma tersadar.
"Permisi, kami mau memeriksa pasien tuan, nyonya" sapa dokter Yoshi beserta para suster.
"Oh ya silahkan dokter" Pak Barhen mempersilahkan.
__ADS_1
Yoshi memeriksa pasien sembari melihat jam di tangannya,
"Semuanya nampak normal dan tanda-tanda vitalnya juga bagus, sus kalian terus pantau keadaan pasien. kemungkinan beliau akan segera sadar"
"Baik dok"
"Bagaimana dok?" tanya bu Luna masih terlihat cemas
"Alhamdulillah tuan, nyonya keadaan nyonya Liberty sudah cukup baik. Kemungkinan beliau akan segera sadar tuan, nyonya kita tunggu saja" jelas Yoshi
"Baik dok, terimakasih dokter" Yoshi pun mengangguk sembari tersenyum.
Saat hendak keluar dari ruangan itu, Yoshi tak sengaja melihat Barra yang masih sibuk dengan ponselnya tanpa terusik dengan kedatangannya dan para suster.
"Dokter, tadi aku lupa meminta nomor dokter. Bolehkah aku berteman dengan dokter?" tanya Kiara tiba-tiba.
"Ara" tegur pak Barhen
"Maaf ya dok jika anda merasa tidak nyaman, hiraukan saja anak ini, dia memang suka begitu"
"Tidak apa-apa tuan, kami tadi kebetulan sudah mengobrol banyak juga" ungkap Yoshi sembari tersenyum lalu ia memberikan nomor handphone-nya kepada Kiara. Sedangkan kedua paruh baya itu menatap anak perempuannya dengan heran.
"Nanti Ara ceritakan dad, mom" bisik Kiara disaat dokter Yoshi tengah mengetikkan nomor ponselnya.
"Ini ra" dokter Yoshi memberikan kembali ponsel milik Kiara
"Oke dok, makasih ya" usai itu dokter Yoshi dan yang lainnya pun mulai melangkahkan kaki mereka untuk keluar dari ruangan tersebut.
"Pria sombong ini benar-benar membuatku gatal sekali ingin mengatainya. Kerjaannya hanya main handphone, bikin gatal mataku saja" dialognya dalam hati.
Sepanjang jalan menuju ruangannya Yoshi terus saja berperang dengan fikirannya sendiri,
"Kenapa aku sangat kesal jika melihat wajah sok gantengnya pria itu ya? melihat dia rasanya emosi melulu. Padahal kenal juga tidak, hah...mungkin ini gara-gara dia sangat tidak mempedulikan korban kecelakaan tempo hari padahal jelas-jelas dia yang nabrak aku kan memang dari dulu tidak menyukai orang yang tidak bertanggung jawab seperti itu" Yoshi berdialog sendiri.
"Sus, saya habis ini pulang ya, tadi saya sudah minta tolong dokter Radit jadi nanti jika pasien VVIP itu bangun kamu langsung beritahu dokter Radit ya sus"
"Ciiee dokter, saling menggantikan nih. Kemarin dokter Yoshi menggantikan dokter Radit jaga sekarang gantian dokter Radit yang menggantikan dokter" goda suster Dania
"Hust, jangan berbicara sembarangan sus, lagian kan ini memang bukan jam saya lagi jam praktek saya sudah selesai sejak pukul 3 tadi jika suster lupa" balas dokter Yoshi.
"Oh iya ya, jadwal dokter Yoshi kan sudah selesai, yaah gagal deh ngeship mereka" gumam suster Dania
Kembali ke ruang VVIP,
"Barra, jadi bagaimana? Apa keputusan kamu?" tanya pak Barhen serius
"Barra tidak tahu dad" jawabnya pasrah
__ADS_1
"Bar, tolonglah kamu fikirkan baik-baik, sampai kapan kamu akan seperti ini?" kini Mommy-nya yang ikut angkat bicara.
"Barra belum siap untuk menikah dad, mom tolong mengerti itu juga" kesal Barra, lalu ia pun pergi dari ruangan tersebut untuk menenangkan dirinya.