
Flashback Pada Kejadian 10 Tahun Lalu.
Saat itu, Barra masih berstatus sebagai mahasiswa di salah satu universitas negeri terbaik di Jogja. Barra terkenal pintar dan memiliki segudang prestasi dikampusnya, selain itu ketampanannya juga menjadi poin utama yang menyedot perhatian semua orang. Ia juga di kenal baik dan supel, nyaris sempurna menjadikannya sebagai idola di kampusnya tersebut.
Barra yang selalu fokus dengan kuliahnya itu pun berhasil tergoyahkan oleh keanggunan yang diperlihatkan seorang wanita.
"Wanita itu namanya Vina Aryska" ungkap salah satu sahabat Barra yang juga ikut melihat kearah Barra menatap.
"Eh, siapa perduli" sahut Barra berusaha menutupi kegugupannya.
"Halah jujur saja lah bro, kamu suka toh sama Vina. Tak kasih tahu yo,Vina iku model. udah paling benar kamu sama dia" ucap pria itu lagi.
"Pantas saja cantik ternyata model" gumam Barra pelan
"Hah opo bro?"
"Tidak, yasudah aku mau ke sana dulu bertemu pak Dika"
"Ngapain lagi?" tanya Heru, yah sahabat satu-satunya yang Barra akui bernama Heru. Karena ia merasa Heru lah yang paling tulus berteman dengannya.
"Untuk membahas lomba debat"
"Walah, begini nih kalau pembagian otak ndak bilang-bilang jadi semua bagian di ambil sendiri. Ampasnya jadi masuk ke aku, makanya aku jadi serba terbatas kalau mikir" rutuknya dan Barra hanya bisa tertawa menanggapi ucapan sahabatnya itu.
Tiba diruangan pak Dika, ternyata di sana sudah ada Vina, Wanita yang 15 menit lalu membuatnya terpanah seperkian detik.
"Siang pak" ucap Barra ketika baru saja masuk ke dalam ruangan dosennya itu.
"Iya Barra, tunggu dulu disana ya" pak Dika meminta Barra untuk duduk di sofa yang ada di ruangannya.
"Vina, keputusan saya sudah final, nilai tugas kamu kosong. Salah kamu setiap ada tugas kelompok kamu tidak pernah hadir, kali ini maaf saya tidak bisa lagi mentolerirnya" ujar pak Dika.
"Saya mohon pak, sekali ini saja saya janji tidak akan mengulanginya lagi, ya pak please" mohon Vina membuat orang yang melihatnya seperti itu tersenyum, bukan, bukan pak Dika yang tersenyum melainkan Barra.
"Kamu sudah janji berapa kali Vina, sudah saya masih ada urusan. Kalau belum puas dengan keputusan saya silahkan nanti ajukan protes kamu dilain waktu" dengan berat hati Vina pun meninggalkan ruangan dosennya itu.
Melihat Vina bersedih, Barra pun berinisiatif untuk membantunya. Ia berusaha berbicara dengan pak Dika, tentunya setelah ia selesai membahas tentang lomba debatnya.
Setelah perbincangan itu, pak Dika akhirnya setuju memberi kesempatan terakhir untuk Vina.
"Terimakasih banyak pak Dika saya janji ini tidak akan terulang kembali pak"
"Sebaiknya kamu menepati janji itu, ini juga kalau bukan Barra yang meminta saya tidak akan kasih lagi kesempatan ini" balas pak Dika lalu ia kembali fokus ke berkas-berkas yang ada di mejanya.
"Barra" gumam Vina lalu ia pun berpamitan pada pak Dika.
Dikantin kampus, Vina sedang duduk bersama sahabatnya Sinta.
__ADS_1
"Woi, melamun mulu. masalah sama pak Dika emang belum kelar?" tanya Sinta
"Sudah Sin, tapi tadi kata pak Dika, kalau bukan Barra yang meminta mungkin dia tidak akan kasih kesempatan. Barra itu memangnya siapa sih?"
Buurrr....
Tanpa Vina duga, Sinta menyemburkan minuman yang ia minum ketika mendengar nama Barra disebut.
"Vina siapa tadi?"
"Apanya?"
"Nama yang kamu sebut tadi siapa?"
"Barra?"
"Oh my God Vin, Barra Zeyy Alvender. Seorang idola dikampus kita menyelamatkan kamu. Astagaa Vinaa keberuntungan ini tidak boleh kamu sia-siakan. Ayo kita tumpengan Vin" ungkap Sinta dengan penuh semangat
"Lebay banget sih kamu, percuma jadi idola kalau tidak tajir kan"
"Tapi Barra itu tajir tahu, semua bajunya aja dari brand-brand terkenal" ujar Sinta
"Serius?" kini terlihat Vina sudah berbinar-binar.
"Bantu aku mencarinya"
Cukup lama mereka mengitari area kampus, akhirnya mereka bisa menemukan keberadaan Vina.
"Makasih ya Barra, berkat kamu nilai tugas aku tidak jadi nol" ucap Vina dengan manisnya.
Dari perkenalan itu, Barra dan Vina menjadi semakin dekat. banyak dari mahasiswi yang merasa iri dengan Vina karena ia bisa dekat dan bersenda gurau dengan Barra. hingga berapa waktu kemudian mereka pun resmi berpacaran.
Barra yang selalu memberi perhatian pada Vina, ia selalu berusaha ada setiap Vina membutuhkannya. Semua hal tentang Vina, Barra akan ikut andil didalamnya. Semua pekerjaan dan tugas-tugasnya sebagai mahasiswa menjadi lebih mudah berkat Barra. Hingga tibalah suatu ketika, ada mahasiswa yang melakukan pertukaran pelajar di universitas tersebut. Sikapnya yang ramah dan kalem tanpa diduga menjadi dalang dari rusaknya hubungannya dengan Vina.
"Saya Zion" ucapnya memperkenalkan diri
"Barra dan ini pacar ku Vina" balas Barra yang juga memperkenalkan Vina.
"Wah kalian pasangan yang serasi ya, sangat cocok" puji Zion sembari tersenyum renyah.
"Terimakasih" sahut Barra senang.
Sekian lama mereka bersama, terkadang Zion juga ikut bermain bersama mereka. Namun pada hari dimana itu merupakan hari spesial mereka, Vina ternyata tidak bisa pergi bersama Barra karena alasan pekerjaan. Barra yang memang tidak ingin melewatkan Anniversary mereka pun berinisiatif untuk datang menghampiri Vina. Akan lebih baik jika ia menunggu sang pacar di lokasi pemotretannya.
Namun hal yang sama sekali tidak ia duga adalah kenyataan. Kenyataan bahwa Zion juga ada disana dan saat ini sedang memeluk Vina dengan mesra serta mencumbuinya tiada henti seperti sepasang kekasih yang sudah lama tidak bertemu.
Barra yang melihat hal itu pun langsung mengepalkan tangannya, menahan semua emosi yang berkecamuk di dirinya.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Barra dengan menahan emosinya.
"Ba... Barra " Vina terbata-bata sedangkan Zion yang juga terkejut namun seperkian detik langsung kembali seperti biasa lagi.
"Barr, aku bisa jelasin"
"Semuanya sudah cukup jelas Vin, biarkan dia tahu hubungan kita. Toh kamu selama dia juga tidak bahagia kan?" ujar Zion semakin memperkeruh suasana sedangkan orang-orang yang ada dilokasi itu sibuk berbisik mengenai mereka.
Bugh....
Dengan di selimuti amarah, Zion pun terduduk kala menerima pukulan dari Barra. Para staff disana dan Vina pun histeris melihat perkelahian mereka.
"Stop, kamu siapa? Berani sekali membuat keributan di tempat kerja kami. Sana pergi, makanya kalau mimpi jangan ketinggian mas" ujar kru disana.
"Maksud anda apa berbicara soal mimpi ha?" kesal Barra kembali menarik kerah baju kru tadi.
"Yah mas nya, mbak Vina kan sudah lama pacaran sama mas Zion, mas Zion sering menemani mbak Vina di lokasi. Jadi masnya kalau suka sama mbak Vina jangan terlalu berharap lebih, kasihan mas Zionnya mas" secara tidak langsung Barra mendapat informasi mengenai hubungan mereka berdua.
Barra pun melepaskan kerah baju kru tersebut kemudian bergegas pergi tanpa menoleh ke belakang lagi.
"Sialannn....aaaarrrggggkkk"
"Bodoh....bodoh kamu Barra, bisa bisa kamu tidak menyadari perselingkuhan mereka. ****..." pekiknya seraya membanting semua yang ada di kamarnya.
Tak lama kemudian, handphone milik Barra pun terus berbunyi menampilkan banyak sekali pesan dan panggilan dari Vina dan juga Heru. dengan tangan yang masih bercucuran darah itu, Barra membuka pesan dari Heru dan betapa semakin terkejut dan terpukulnya Barra melihat sebuah video yang Heru kirimkan. Disana sudah beredar luas mengenai video syur yang pelakunya tentu saja Vina dan juga Zion. lalu perlahan ia pun membuka pesan yang Vina kirimkan.
'Barra tolong maafkan aku, itu semua hanya salah faham sayang. Barra tolong bilang ke pihak kampus bahwa video itu bukanlah aku. Tolong selamatkan aku sayang, aku tidak melakukan hal itu'
Barra yang kala itu terbakar amarah pun langsung membanting ponselnya dengan keras hingga tak terbentuk lagi. Semenjak kejadian itu, selama satu minggu Barra tidak datang ke kampusnya. Bukan karena Galau, namun karena Vina terus menerus mencarinya untuk sementara ia pun pulang ke jakarta ke mansion keluarganya. Heru sendiri sering memberi kabar terkait semua hal yang menyangkut Barra.
"Bro, akhirnya Vina dan Zion terbukti melakukan video asusila itu. Jadi mereka berdua dikeluarkan dari kampus" beritahu Heru
"Hmm ... "
"Kenapa cuma jawab hmm, padahal aku sudah berbicara panjang" protes Heru mendengar jawaban singkat dari sahabatnya itu.
"Tidak apa-apa, hanya malas saja membahas mereka"
"Kau pasti tidak menyangka ya, Vina ya sepolos itu bisa melakukan hal menjijikan seperti itu? Mana permainan mereka di video itu mantap...upss...sorry bro kelepasan hehe"
"Sudah ya Her, aku matikan dulu. Aku ada urusan, terimakasih semua informasinya"
Setelah panggilan itu berakhir Barra kembali menghampiri daddy-nya.
"Dad, Barra akan melanjutkan kuliah Barra di USA, seperti pesan Opa waktu itu"
"Baiklah, kamu pilih saja ingin masuk ke universitas mana. Lusa kita berangkat" ujar pak Barhen.
__ADS_1
Setelah semua kejadian itu, baik Barra, Vina dan Zion tak lagi menampakkan diri di kampus tersebut. Hanya Barra yang masih kesana untuk mengurus perpindahannya namun itu semua juga dapat diselesaikan dalam satu hari itu. Karena memang sebelumnya daddy Barra sudah menginformasikan pada dekan mereka terkait kepindahan Barra sehingga mereka sudah mengurusnya sebelum Barra tiba kesana.
Flashback end....