
07.15 WIB.
Pagi ini di buka dengan adanya kegaduhan di unit apartemen yang sunyi itu, pasalnya Yoshi tadi malam kesulitan untuk tidur. Ia mencoba membalik balikkan tubuhnya berharap dapat segera tertidur, namun usahanya itu ternyata sia-sia. Alhasil ia pun mengambil salah satu buku kedokterannya untuk merangsang rasa kantuknya datang, dan benar saja tak lama dari itu Yoshi pun berhasil terlelap, tepat di pukul 3 dini hari.
"Aduh pakai acara kesiangan segala, mana aku ada pertemuan sama profesor pula. mampus..mampus..." gumamnya sepanjang jalan
"Selamat pagi dokter Yoshi" sapa pak Bagus
Dengan langkah cepat Yoshi membalas sapaan pak Bagus sambil terus berjalan cepat.
"Iya pagi juga pak Bagus"
"Walah lagi buru-buru ternyata" gumam pak Bagus
Setibanya di rumah sakit, terlihat para suster sedang berkerumun di depan ruangannya. hingga membuat Yoshi ikut penasaran, apakah ruangannya itu terjadi kebakaran atau apa? Fikirnya. Dengan langkah cepat Yoshi mendekat ke sana, dan betapa terkejutnya ia kala melihat banyaknya karangan bunga dan beberapa hadiah lainnya telah tertata rapi di setiap sudut ruangannya.
"Selamat pagi nona Yoshi, saya diutus langsung oleh calon suami anda untuk mengirimkan hadiah ini, kalau begitu saya permisi Nona" ungkap Lenzo sengaja membesarkan volume suaranya agar terdengar oleh semua orang.
Sedangkan Yoshi sendiri masih terpaku menatap miris ke ruangan kerjanya.
"Haiishh" desahnya menahan kesal.
Setelah kepergian Lenzo, semua orang yang berkerumun di ruangan Yoshi pun perlahan menghampirinya.
"Wah dokter Yoshi ternyata anda sudah memiliki tunangan. Selamat ya dokter, ditunggu loh undangannya"
"Dokter betapa romantisnya calon suami anda, uuuh bukin iri" seru beberapa suster disana.
"Tak kusangka anda sudah memiliki calon suami, pantas saja anda tidak pernah mau saya ajak pergi berdua. Seharusnya anda ngomong saja biar saya tidak terus berharap" ujar dokter Radit yang ternyata juga berada disana. Dengan langkah gontai ia pun meninggalkan dokter Yoshi dan yang lainnya.
"Waduh di rumah sakit kita ada sadboy tuh, pepet aja wey siapa tahu jodoh. Lumayan kan dokter Radit tampan" seru beberapa suster saling mendorong rekan rekan mereka yang jomblo.
Melihat kegaduhan disana, Yoshi pun segera masuk ke ruangannya. Ia duduk di mejanya sembari memijat pelipisnya yang sudah terasa pening.
"Kenapa sih tuh orang selalu bikin darah ku naik aja" omel Yoshi.
__ADS_1
Tokk... tokk....
"Masuk" pekiknya dari dalam.
"Dokter, anda sudah ditunggu profesor Broto di ruang seminar" beritahu suster Dania.
"Baik sus, oh ya suster bolehkah saya minta tolong"
"Iya dok boleh"
"Tolong singkirkan semua ini dari ruangan saya ya sus"
"Kenapa disingkirkan dok, sayang loh ini bagus-bagus, mahal mahal lagi" ucap suster Dania
"Yasudah bagikan saja sama para suster deh, saya mau ke ruangan seminar dulu" ujarnya sembari merapikan beberapa dokumen yang akan ia bawa.
Ditempat lain atau lebih tepatnya di Star Zeyy, Barra nampak sedang fokus pada meeting perusahaannya yang memang diadakan tiap bulan sekali. Setelah meeting selesai ia pun segera kembali ke ruangannya.
Tokk....tokk....
"Masuk" pekiknya dari dalam.
"Zo, gimana?"
"Beres pak, pokoknya kalau Lenzo yang kerjakan semuanya dijamin beres, dokter Yoshi pasti akan klepek-klepek dengan anda pak" ujar Lenzo penuh semangat.
"Huft..." Barra membuang nafasnya kasar.
"Kamu tahu, barang-barang yang saya kirimkan itu kini sudah berpindah tangan ke semua orang Lenzo" ucap Barra menahan kesalnya. Baru kali ini ada wanita yang menolak pesona seorang Barra dan tidak menerima barang-barang yang Barra berikan. Kalau biasanya Barra selalu menolak para wanita kini justru dirinya lah yang tertolak oleh seorang wanita.
Lenzo yang mendengar penuturan Barra pun hanya bisa terbengong.
"Wah dokter Yoshi anda memang suhu, bisa membuat seorang pak Barra begini" dialog Lenzo dalam hati.
"Maaf pak Barra, saya benar-benar sudah memastikan jika semua barang dan bunga sudah berada di ruangan dokter Yoshi namun saya tidak menyangka jika beliau justru memberikannya pada orang lain" ujar Lenzo sembari membungkuk sebagai permohonan maafnya.
__ADS_1
"Sudahlah, kesampingkan dulu masalah itu. Sekarang lebih baik kau periksa dulu terkait skandal Tsania, beritanya sudah melebar kemana-mana. Segera cari kebenarannya dan konfirmasi" titah Barra
"Baik pak, Kalau begitu saya permisi pak" Barra pun mengangguk.
Sore hari-nya, Barra dan juga Lenzo pergi ke sebuah restoran, mereka segera diarahkan ke ruang vip. Disana mereka akan mengadakan meeting terkait kerjasama mereka dengan artis-artisnya.
Setelah lebih kurang satu setengah jam mereka berdiskusi, Barra dan Lenzo pun keluar dari ruangan tersebut. Disanalah tanpa sengaja ia bertemu dengan seseorang yang amat ia benci.
"Hai bro, tidak disangka kita bisa bertemu disini" sapa pria tersebut sambil tersenyum.
Barra hanya diam, melihat sekilas pria itu lalu hendak berlalu meninggalkannya namun dengan sigap pria itu menahan Barra.
"Jangan bilang lu masih belum terima kalau Vina lebih memilih gue?"
Barra menatap pria itu dengan tajam,
"Saya tidak mengenal anda, jadi tolong singkirkan tangan kotor itu" ucap Barra penuh penekanan
Pria itu pun segera melepaskan tangannya dari Barra, lalu ia mulai tertawa kala melihat wajah kesal Barra itu.
"Barra Barra, pantas saja Vina pergi, kamu itu terlalu kaku. Rileks saja bro rileks" sindirnya.
Barra yang memang malas meladeni omongan pria itu pun pergi begitu saja.
Pria itu hanya menatap kepergian Barra sembari tertawa.
"Kak, ketawa-ketawa sendiri. entar disangka orang gila pula" sindir seorang wanita.
"Engga, tadi kakak bertemu teman. sudah beli makannya?" tanya pria itu
"Sudah, Yoshi pasti suka" pria itu pun tersenyum sembari mengelus rambut sang adik.
"Yasudah ayo kita ke rumah sakit, sekalian menjemput Yoshi" ajaknya lalu mereka pun berlalu meninggalkan restoran.
Sedangkan Barra yang saat ini sedang berada di mobil merasa sangatlah kesal, ia terus diam seraya menatap kearah luar jendela mobilnya. Fikirannya kini kembali berputar-putar di kejadian masa lalu yang membuat sakit sesakit sakitnya, yang membuatnya tidak ingin lagi mengenal makhluk sejenis wanita. Perlahan rasa sakit itu terus menerus mengikiskan semua kenangan indahnya bersama sang mantan kekasih, bahkan ia sendiri lupa bagaimana tersenyum hangat pada wanita, bagaimana mencintai seseorang dan bagaimana caranya bahagia. Semuanya seakan sirna seiring berjalannya waktu, hingga jadilah sosok Barra yang saat ini. Sosok yang dingin, sosok yang arogan dan tidak ada lagi belas kasih.
__ADS_1