
Lalu oma Liberty akhirnya memutuskan untuk tetap tinggal disana hingga Yoshi dan Barra kembali ke unit apartemen itu.
Tut..tut...tutt...klik...
Pintu apartemen itu pun terbuka, menampakkan dua orang yang berbeda gender itu tengah berdebat. Entah apa yang mereka debatkan, oma Liberty pun tak begitu jelas. Yang jelas adalah satu yaitu misinya untuk segera menikahkan Barra dengan dokter Yoshi.
"O..oma"
"Ny...nyonya" mereka berdua nampak sangat terkejut dengan kedatangan oma Liberty disana, kini mereka merasa tertangkap basah padahal mereka selama ini juga tinggalnya terpisah tapi entahlah atmosfir ini cukup menegangkan, fikir keduanya.
"Kalian tinggal disini bersama?" tanya Oma Liberty cukup serius.
"Tidak" jawab mereka bersamaan
"Tidak usah bohong, oma tidak mau karena kalian nama baik keluarga kita tercoreng. Jadi sudah oma putuskan untuk segera menikahkan kalian secepatnya" final oma Liberty
"Tapi Nyo,..."
"Tapi oma..."
"Tidak ada protes, baik itu kamu Barra ataupun anda dokter Yoshi"
Flashback off...
Setelah kepergian oma Liberty, baik Barra maupun Yoshi kini hanya bisa duduk diam sembari mencerna semua kejadian yang baru saja mereka alami.
"Kenapa anda tidak bilang kalau ada nyonya Liberty disini?" tanya Yoshi membuka obrolan
"Aku juga tidak tahu jika oma ada disini dok"
"Halah pasti ini akal-akalan anda kan, anda memang dari awal ingin menjebak saya kan? Ck, harusnya saya tidak menerima tawaran anda untuk tinggal di sini" kesal Yoshi
"Sini lihat aku" Barra membalikkan badan Yoshi agar mereka saling berhadapan.
__ADS_1
"Lihat baik-baik mata ini, jika kamu menemukan kebohongan kasih tahu aku. sekali lagi katakan aku tidak tahu jika oma ada disini, oma tidak bilang apa-apa dan memang biasanya oma jarang sekali datang mengunjungi ku disini karena apa? Tentu kamu tahu sendiri kan, karena kondisi oma yang tidak memungkinkan"
Yoshi yang mendengar penuturan jujur dari Barra pun hanya bisa pasrah, kini ia benar-benar akan menjadi calon istri Barra. Sungguh hidup di dunia ini penuh sekali kejutannya, kali ini Yoshi hanya bisa berharap kalau memang takdirnya adalah bersama Barra semoga ini akan menjadi yang pertama dan terakhir. Jika memang nantinya ia akan berpisah lebih baik dari sekarang di jauhkan. Begitulah gumaman hati Yoshi, ia sangat ingin pernikahannya seperti ibu dan ayahnya yang sangat harmonis makanya ia ingin mencari yang benar-benar ia cintai dan yang mencintainya namun takdir justru berkata lain. Apalagi yang bisa Yoshi lakukan selain berdoa, meminta jalan yang terbaik dari sang pencipta.
Tiga Hari Kemudian...
15.00 WIB, Yogyakarta International Airport.
Hari ini Barra beserta keluarganya akhirnya tiba di Yogyakarta, kedatangan mereka ini tentunya dengan maksud untuk bertemu keluarga dokter Yoshi. Mereka hendak melamar dokter Yoshi dan tentunya ingin segera mencari tanggal pernikahan mereka berdua.
Setelah 40 menit perjalanan, mereka pun tiba di Star Zeyy hotels. Mereka menaruh barang dan istirahat sejenak. Barulah malam harinya mereka bersama-sama datang kekediaman dokter Yoshi.
"Permisi, ada yang bisa di bantu?" tanya security itu
"Kami hendak bertemu dengan pak Surya Paradista pak" jawab driver keluarga Alvender itu.
"Mohon tunggu sebentar ya pak, kami akan tanyakan dulu" mereka pun mengangguk dan menunggu security tadi memberi kabar.
5 menit kemudian, akhirnya security itu mengizinkan keluarga Alvender untuk masuk.
"Wah, sebuah kehormatan untuk kami, rumah kami yang sederhana ini didatangi keluarga terpandang seperti keluarga Alvender" ujar pak Surya membuka obrolan.
"Aduh pak Surya jangan berkata demikian. Kita semua sama pak" balas pak Barhen tak enak.
"Silahkan pak, bu, nak Barra diminum dulu mumpung masih hangat" bu Diah menjamu tamunya
"Terimakasih bu, kami jadi merepotkan" bu Luna ikut menimpali.
Setelah menyesap minuman yang sudah di sajikan keluarga Surya Paradista, mereka pun mulai membahas perihal kedatangan mereka disana.
"Begini pak Surya, sebelumnya mohon maaf karena kami tiba-tiba datang kemari, malam-malam pula kan. Sekiranya kami mengganggu keluarga pak Surya kami mohon maaf, namun disini kami memiliki tujuan baik yang semoga saja dapat diterima baik juga oleh keluarga bapak" ujar pak Barhen
"Tentu saja kami tidak merasa terganggu sama sekali pak Alvender, kami malah senang atas kedatangan kalian. Dan tentu saja kami akan menyambut baik apapun tujuan baik keluarga pak Alvender" balas pak Surya dengan senyuman ramahnya.
__ADS_1
"Syukurlah jika begitu pak, oh ya panggil saya Barhen saja pak Surya biar akrab haha"
"Oh ya begini pak Surya, adapun tujuan kami datang kemari adalah ingin melamar putri pak Surya yang bernama Yoshi Shaqueena Paradista untuk anak pertama kami yaitu Barra Zeyy Alvender pak. besar harapan kami bahwa pak Surya dan sekeluarga dapat menerima lamaran kami" tambah pak Barhen sedikit membuat pak Surya dan bu Diah terkejut.
Kini keduanya telah kembali seperti biasa, setelah sebelumnya sempat terkejut.
"Pak Barhen sekeluarga ini serius ingin melamar anak kami?" tanya pak Surya tak percaya, pasalnya Yoshi belum memberitahu mereka apapun perihal akan adanya lamaran dari keluarga Elvender itu.
"Sangat sangat serius pak Surya, kami keluarga Elvender tidak pernah bercanda dengan hal apapun" ungkap Barhen tegas.
Pak Surya menganggukkan kepalanya, ia tahu bahwa keluarga terpandang seperti keluarga Elvender ini mana mungkin melakukan sesuatu tanpa adanya perhitungan.
"Baiklah pak Barhen maafkan saya jika pertanyaan saya barusan menyinggung keluarga Elvender. namun maaf pak bolehkah saya menghubungi anak saya Yoshi? Karena pernikahan ini dialah yang akan nenjalankan. Jadi saya akan menyerahkan keputusan ini padanya"
"Oh ya silahkan pak, kami tidak masalah dengan hal itu" jawab pak Barhen seraya tersenyum.
5 menit kemudian, Yoshi pun mengangkat panggilan teleponnya.
"Halo assalamualaikum yah?"
"Wa'alaikumsalam, ndok. Ayah mau bicara sama kamu"
"Bicara saja yah, ada apa?"
"Begini ndok, saat ini di rumah kita sedang ada keluarga nak Barra. Mereka datang kemari hendak melamar kamu ndok, bagaimana apakah kamu bersedia ndok?" tanya pak Surya langsung
Diseberang sana Yoshi nampak terdiam, ia tak menyangka kalau keluarga Barra bertindak sangat cepat. bahkan tanpa memberitahu dirinya terlebih dahulu, cukup lancang fikirnya. Namun mengingat dirinya dan Barra pernah terpergok oleh oma Liberty waktu itu, ia takut jika kedua orang tuanya akan kecewa jika mengetahui hal tersebut, yah meskipun ia sendiri tidak melakukan kesalahan apapun, namun tetap saja ia tidak bisa membela dirinya sendiri dihadapan keluarga Elvender itu. Keluarga yang cukup licik di mata Yoshi, bisa melakukan apapun asal semua yang mereka inginkan dapat terlaksana.
"Yos, hallo ndok, apakah kamu masih disana?" tanya pak Surya karena tak ada suara apapun diseberang sana.
"Eh iya yah, maaf, Yoshi tadi sedang berfikir" jawab Yoshi seadaanya
"Jadi apa jawabanmu ndok?" tanya ayahnya kembali.
__ADS_1
"Yoshi...."