
"Cantik.."
Gumam Andre tatkala melihat keakraban Agatha dan Wulan. Andre berjalan tertatih masuk kembali ke dalam kamar. Enggan untuk mengganggu perbincangan asyik dua wanita itu. Andre tertegun sejenak, selain Chintya baru kali ini Wulan bisa sedekat itu dengan teman wanitanya. Senyum tipis terlukis di wajahnya. Merasa senang akhirnya dia kembali menemukan senyum Wulan yang sudah lama hilang sejak sakit yang di deritanya.
"Mungkin, Agatha adalah jalan untuk kesembuhan mama."
...****************...
Kamis manis, begitu kata orang-orang. Pun halnya Agatha yang duduk dengan senyum mengembang di bibir tipisnya. Kakinya menyilang di sebuah bangku dalam perpustakaan. Wajahnya terlihat fokus pada novel remaja yang dipegangnya. Apalagi kalau bukan tentang romansa percintaan. Sesekali Agatha tertawa kecil sambil menepuk jidatnya, tampak sangat menikmati alur cerita yang dibacanya.
Tanpa sadar seseorang sudah duduk berhadapan dengannya. Menggumamkan satu kalimat yang membuat fokusnya teralih.
"Maladaptive Daydreaming. Halu yang berlebihan itu nggak baik buat kehidupan nyata."
Agatha terdiam, menurunkan bukunya di atas meja. Menatap ke arah pria yang mukanya juga tertutup buku tebal di hadapannya. Dahinya mengernyit membaca judul buku yang sedang dipegang oleh pria itu.
"Bimbingan Konseling?" ucap Agatha dengan tanda tanya besar di kepalanya.
Pria itu tak bereaksi. Terus saja membaca buku tebal itu dalam diamnya.
"Ah sudahlah." gumam Agatha melanjutkan kembali aktivitasnya.
Masa bodoh dengan siapa dia, bukan menjadi hal penting yang harus Agatha ketahui. Agatha kembali membaca kalimat yang terangkai indah dan membuat bibirnya berdecak. Mengagumi tokoh Andrian yang memikat hati Retha dengan kelembutan dan cintanya. Tanpa sadar Agatha terus bergumam dan tertawa kecil.
Dehaman berat terdengar dari hadapannya. Gegas Agatha menutup mulutnya dengan kedua tangan. Kembali dia melanjutkan ceritanya, akhir yang bahagia. Agatha tersenyum puas dengan ending cerita yang dia baca.
"Akhirnya luka hati yang lama bisa terobati sepenuhnya." ujarnya yang tanpa sadar didengarkan dengan baik oleh pria di depannya
"Tidak ada luka yang benar-benar sembuh untuk seorang penderita trauma psikologis. Mungkin dia akan terlihat baik-baik saja di luar tapi disaat tertentu dia akan kembali hancur dan kehilangan dirinya." ujar pria itu
Kali ini Agatha seperti mengenali suaranya. Tidak asing memang, hanya baru kali ini dia memperhatikan apa yang pria ini bicarakan.
__ADS_1
"Bagaimana jika ada orang yang benar-benar bisa menyembuhkannya? Orang baru yang menyayangi si penderita dengan sepenuh hatinya mungkin." tukas Agatha menanggapi pria itu
"Bahkan jika memang ada yang seperti itu, semoga Lo dan Gue nemuin satu dari mereka. Karena pada dasarnya, kita punya luka yang sama." Pria itu menegakkan tubuhnya dan menurunkan buku yang dibacanya. Sorot mata tajam sarat akan makna itu sontak membuat Agatha terkesima. Bagaimana tidak, senyum menawan yang mirip dengan seringaian itu terlihat begitu dekat dengannya saat ini.
DEG.. Jantungnya kembali berdegup. Siapa sangka hal itu selalu terjadi tiap dia bertemu dengan pria satu ini. Andre Alvirdo.
"Kaget ya? Sorry Gue ganggu imajinasi liar Lo!" tukas Andre kembali menutup wajahnya dengan buku
Agatha mengerjab. Imajinasi liar? Apa maksudnya?
"Lo nggak lagi berandai-andai jadi tokoh Retha kan? Gue harap Lo nggak berharap nemuin Adrian juga!" tanya Andre seolah tahu buku yang barusan Agatha baca
"Kamu pernah baca ini juga?" tanya Agatha heran
"Bukan pernah lagi, Gue bahkan punya koleksi buku karya penulis itu!" tukas Andre
"Serius Ndre? Kamu juga suka kisah romance kayak gini?" tanya Agatha penasaran
"Chintya, dia yang suka baca buku ginian. Dan Gue inisiatif buat perpustakaan mini khusus novel romance kayak gitu." terang Andre
Raut wajah Agatha tampak sedikit kecewa. Entah kenapa hatinya terasa sakit mendengar Andre melakukan itu semua demi mantan kekasihnya yang sudah meninggal. Tunggu memangnya siapa dia?
"Kalau Lo mau, Lo bisa datang kapan aja ke rumah Gue. Ajak Ivan. Biar nemenin Lo baca di perpus pribadi Gue." ujar Andre mengemasi buku bacaannya ke dalam tas
"Serius boleh?" tanya Agatha
Andre tersenyum. Sambil mengacak pelan rambut pendek Agatha dia beralih pergi. Agatha terhenyak, apa makna usapan tadi. Jantungnya tak henti-hentinya berdebar. Entah kenapa Agatha merasa bahagia dengan kejadian yang baru saja dia alami. Mungkinkah? Agatha menggelengkan kepalanya. Berusaha menepis segala perasaan aneh di hatinya.
"Konyol! Aku kenapa sih?" gumamnya lalu menyusul Andre meninggalkan perpustakaan.
ANDRE POV
__ADS_1
Aku menahan detakan jantungku yang semakin tidak beraturan. Pertemuan singkat itu memberikan kesan tersendiri buatku. Aku keluar perpustakaan dengan tergesa-gesa. Tanpa sengaja menabrak tubuh seseorang dan membuat kertas folio di tangannya berhamburan.
"Ck gimana sih Lo Ndre! Aelah berantakan kan kerjaan Gue! Semalaman lo Gue ngerjain ini." celoteh Ivan terdengar
Aku memunguti kertas-kertas itu dan membaca sebuah nama disana. Agatha Catalina. Jadi ini nama lengkapnya, cantik sama seperti orangnya.
"Ndre! Ngelamun." panggil Ivan
Dengan cepat aku berdiri dan mengembalikan kumpulan kertas tugas Ivan.
"Sabtu ini, hangout yuk Ndre. Ke pub gitu. Nongki-nongki mumpung Nathan juga lagi di sini." ujar Ivan
Aku terdiam, sekilas ada keinginan untuk mengajak gadis itu turut serta. Lagipula, ini sebatas nongkrong dan mengobrol. Tidak lebih.
"Woy! Ngelamun lagi!" seloroh Ivan heran melihat responku
"Ajak Agatha ya! Gue yang traktir." ujarku kemudian beralih pergi
"Lo serius Ndre!" pekiknya membuat beberapa orang disekitar kami menoleh.
"Bercanda! Lupain aja! Gue tunggu di Colors jam 7 malam. Jangan molor." ralatku sambil berusaha menghindari Ivan
"Eh Agatha gimana nih? Jadi diajak nggak?"" tanyanya setengah berteriak
"Terserah!" satu kata ampuh yang membuat Ivan melongo.
Terserah dia saja, mau mengajak gadis itu atau tidak. Yang jelas aku hanya ingin membantunya menemukan circle pertemanan baru. Entah kenapa sedikit merasa iba dengan sikap introvertnya, semenjak masuk ke kampus ini. Jarang sekali ku lihat dia bergerombol dengan mahasiswi lain. Seringkali dia hanya mengobrol berdua dengan Ivan atau bahkan menghabiskan hari-harinya menghalu sendirian di perpustakaan. Kalau dipikir-pikir. Unik juga karakter Agatha. Aku pun tersenyum. Sempat dipandang aneh karena aku senyum-senyum sendiri tanpa alasan yang jelas. Gegas aku berlari menuju mobilku agar tak dicap sebagai OGB. *Orang Gila Baru.*
Tunggu sejak kapan aku mengamatinya di kampus?
GREP.. Tiba-tiba ku rasakan sepasang lengan memelukku dari belakang. Ku dengar isakan seorang wanita di punggungku. Aku terhenyak. Ingin ku singkirkan tangan wanita ini. Namun pelukannya justru semakin kuat. Aku menarik paksa lengannya dan mendorongnya menjauh. Segera aku menoleh ke arah wanita yang tingginya hampir sama denganku.
__ADS_1
"Lo.. Ngapain Lo disini?"