
BUG.. Pukulan tangan Andre menimbulkan suara keras dari luar ruangan.
"Apa itu?" tanya Angelina begitu kembali dari kamar mandi.
Ivan mengangkat bahunya, lalu berjalan keluar. Tampak bungkusan kresek tergantung di pegangan pintu.
"Punya siapa ini?" Dua cup minuman hangat dan sebotol penuh air hangat ada di dalamnya. Ivan celingukan, mencari siapa yang meletakkannya disini. Namun koridor kampus tampak lengang. Hanya beberapa mahasiswi yang bergerombol di dekat lapangan.
"Aneh!" gumam Ivan kembali masuk.
Dengan sigap, dibukanya tutup minuman itu dan menyodorkannya ke Agatha yang masih terdiam di kasurnya.
"Kamu sudah belikan yang saya pesan tadi?" tanya Angelina mengeluarkan sebotol air hangat untuk kemudian dituangkan ke dalam baskom.
"Saya nggak.." Ivan terdiam jika bukan dia yang Angelina suruh, berarti orang sebelum dia. Andrelah yang memberikan ini dengan sukarela. Tapi, kenapa dia tidak masuk? Apa.. Ivan terdiam, sibuk dengan pemikirannya.
"Saya kompres ya perut kamu. Biar nggak kram. Soalnya badan kamu dingin banget." tukas Angelina menempelkan handuk kecil ke perut Agatha
"Makasih ya Bu Angel. Makasih ya Van." ucap Agatha sambil menyeduh teh hangatnya.
Ivan hanya tersenyum tipis, bingung harus bersikap bagaimana. Menyebutkan kebaikan Andre yang sudah menolongnya pasti Agatha tidak mau dengar. Diam, dan mengakui kebaikan Andre sebagai kebaikannya, tambah salah. Alhasil Ivan banyak melamun selama di dalam.
Setelah perawatan ringan yang Angel berikan, Ivan memapah Agatha menuju ke parkiran. Secara bersamaan, tampak Andre yang berjalan santai menuju mobilnya.
Tatapan mereka saling bertemu. Namun, tatapan kali ini berbeda. Terkesan dingin dan penuh kebencian. Sepersekian detik Andre pun masuk ke dalam mobil merahnya dan pergi lebih dulu.
"Mau mampir ke dokter dulu Tha?" tanya Ivan
Agatha menggeleng. Jelas sudah gadis ini kelelahan. Ivan tak banyak bertanya, hanya menjalankan tugasnya untuk mengantarkan Agatha dengan selamat.
...****************...
Semenjak hari itu, Agatha belum masuk kuliah. Dia dengar kabar dari grup kampusnya, bahwa Audrey memilih untuk pindah kampus. Entah apa alasannya. Menurut gosip yang beredar, dia tidak bisa menerima keputusan Andre. Apa Andre meninggalkannya? Entahlah, bukan urusan Agatha juga. Kini Agatha lebih memilih untuk menjauh dari orang-orang rancu seperti mereka.
Beberapa hari di rumah membuatnya merasa bosan. Tak jarang dia bermain game di ponselnya, atau sekedar melihat-lihat sosmed. Tidak ada yang menarik. Agatha berniat tidur siang itu, tatkala suara cempreng yang dia kenali terdengar.
"Agatha." dok dok dok
Pintu kamarnya diketok berkali-kali dan teriakan itu terdengar semakin keras.
Degan cepat Agatha turun dari ranjangnya, membuka pintu kamar.
"Surprise!" pelik Kayla dengan sekeranjang buah-buahan segar.
"Kayla!" Agatha memeluk sahabatnya itu
"Kangen banget tau!"
"Sini-sini masuk Key."
__ADS_1
Agatha menarik Kayla masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya.
"Kapan sampai? Kok pake bawa buah segala!"
"Kemarin sore sih, sorry baru bisa jengukin. Sibuk banget soalnya buat party besok. Hehe."
"Mama ya yang ngasih tahu kalau aku sakit?"
"Bukan! Ayangmu."
Agatha mengernyit. Ayang yang mana? Pacar aja nggak punya.
"Kak Ivanlah yang kasih tahu kan dia berteman sama aku di medsos."
Agatha menghela napasnya, sulit menjelaskan pada Kayla, kalau Ivan bukanlah siapa-siapa untuknya.
"Kamu ada masalah apa sih Tha? Sampai viral gitu."
Lagi lagi Agatha tercengang. Viral apanya? Dia saja tidak masuk beberapa hari dan hanya di kamar seharian ini.
"Berita pembullyan kamu lagi rame di medsos. Nggak jelas sih ngomongin apa, videonya juga blur. Tapi ada satu yang jelas di mataku Tha."
Agatha terdiam, menyimak dengan baik penuturan Kayla.
"Kak Andre. Duh, makin ganteng aja!"
Kayla menunjukkan hasil screenshoot yang dia peroleh. Tampak Andre sedang berdiri berhadapan dengan Audrey. Gambar beresolusi rendah itu, menarik perhatian Agatha. Andre tampak sedang marah. Tapi entah karena apa? Apa mungkin dia..
Agatha mengerjab.
"Kamu lagi kena kasus apa sih sama para maba ini? Kok kamu nggak cerita apa-apa!"
Agatha menatap sendu sahabat di depannya itu.
"Atau kamu nggak nganggap aku sahabatmu lagi, jadi sengaja kamu sembunyikan hal sebesar ini dari aku?"
"Sia-sia aku datang kesini!"
Kayla berjalan ke arah pintu. Dengan cepat Agatha menarik tangan sahabatnya agar kembali duduk.
"Sebelum aku cerita, boleh nggak Key, aku peluk kamu dulu." Air mata Agatha kembali menetes saat rengkuhan tangan Kayla mengusap pelan bahunya yang bergetar.
"Ini semua di luar dugaan aku Key."
Kayla melepaskan pelukannya. Pandangannya terpaku pada Agatha yang masih menangis.
"Andre nggak sebaik itu Key. Dia punya masa lalu yang buruk sama mantannya. Dan itu terbawa sampai sekarang. Andre suka mabuk-mabukan, ngeroom sama cewek-cewek cantik bahkan sampai.."
"Tunggu! Maksud kamu, kamu viral di medsos gara-gara dilabrak ceweknya Kak Andre? Dituduh selingkuh gitu?"
__ADS_1
"Aku belum selesai ngomong Kayla."
"Oke-oke lanjutkan."
"Andre melakukan hal itu hampir ke semua cewek yang ngeroom sama dia. Termasuk aku.." Tangis Agatha kembali pecah
"Kamu sama Kak Andre pernah... Ya ampun Agatha! Gimana kalau kamu hamil, kamu masih kuliah semester awal. Tante Kristin udah tahu belum?" Kini Kayla yang panik
"Sssstt jangan kenceng-kenceng Key. Ini.. Masih jadi rahasia. Aku nggak tahu harus gimana Key. Aku sendiri dijebak sama Andre. Dia nyulik aku, dan nglakuin hal itu ke aku dalam keadaan pingsan."
"Wait. Kak Andre nyulik kamu." Wajah Kayla memerah. Bukan karena marah tapi menahan tawa.
"Kebanyakan baca novel fiksi sih! Ya kayak gini, pakai diculik segala Hahahaha." Tawa Kayla terdengar begitu keras
Agatha menatap datar ke arahnya. Harusnya tidak dia ceritakan bagian itu, karena tahu Kayla tidak mungkin serius menanggapinya.
"Aku telat datang bulan Key."
Tawa Kayla berhenti. Kini kedua matanya membulat sempurna.
"Beberapa hari ini perutku begah. Nggak enak banget. Aku juga nggak mood makan."
"Kamu udah cek ke dokter?"
Agatha menggeleng.
"Kenapa nggak dicek? Kalau beneran hamil gimana?"
"Itu yang aku takutkan Key, kalau aku beneran hamil terus pas periksa ditanyain. Suaminya mana? Aku mesti jawab apa coba? Sedangkan sejak kejadian itu, Andre menghindar. Dia nggak mau ngomong apapun. Bahkan pas aku dibully sama Audrey, dia ada di situ. Tapi nggak ngebela aku Key. Cuma diam mengamati!"
"Audrey?"
"Ini, cewek ini Audrey."
"Cantik juga seleranya Kak Andre. Kalah telak kamu Tha kalau sama dia."
"Kayla!" panggil Agatha dengan kesalnya
"Sorry sorry. Kita kembali ke topik. Udah telat berapa bulan?"
"Hampir dua minggu Key."
"Gini aja, besok pulang acara ulang tahunku, kita ke tempat tante Rika. Dia kan dokter kandungan. Kita cek kondisi kamu, buat mastiin kamu hamil apa nggak?"
"Kenapa nggak pakai testpack aja?" tanya Agatha
"Ck.. Kalau pakai testpack kan ada jejaknya. Kamu mau tante Kristin tahu?"
Pintu kamar Agatha terbuka.
__ADS_1
"Saya sudah tahu kok. Saya dengar semuanya."