
"Lo yang udah nyerahin diri dengan sukarela. Bukan Gue yang nakal! Tapi Lo yang membuka kesempatan !"
POV END
Andre mendekatkan wajahnya, setengah menutup kedua matanya. Perlahan kemudian membiarkan dadanya menempel pada tubuh Agatha. Anehnya, Agatha tidak menolaknya. Justru kini, kedua matanya terpejam. Seolah pasrah dengan keadaan. Air mata terjatuh di sudut matanya. Andre terdiam, mengamati wajah gadis yang tinggal beberapa senti diraihnya. Bibir mungil berwarna pink itu menyita perhatiannya. Namun, entah mendapat ilham dari mana. Andre justru menarik dirinya, meski harus menolak respon tubuhnya yang mulai menegang. Andre mengenakan kembali kemejanya. Juga membenarkan posisi duduknya.
Agatha terbangun. Kedua tangannya dia letakkan di depan dadanya. Menutupi dua bukit kecil yang dia jaga dengan baik. Agatha tersedu. Nyaris saja dia berakhir sama dengan gadis-gadis itu. Agatha menarik erat almamaternya dan memberi space dengan Andre yang mulai menyalakan rokok.
"Lo nggak perlu takut, gue nggak pernah maksa cewek buat nglakuin itu. Gue juga punya prinsip nggak akan ngrusak cewek baik-baik. Jadi tenang aja, sesuai janji Gue ke Ivan. Gue bakal jagain Lo. Sorry soal tadi. Gue kelepasan." ujar Andre sambil menghembuskan asap dari mulut dan hidungnya
Agatha tak bergeming. Mati-matian menahan tangisannya agar tidak bersuara. Agatha mengigit bibir bawahnya, rasa takut menjalar ke seluruh tubuhnya. Meski Andre mengatakan tidak akan menyentuhnya. Namun, hati kecilnya belum sepenuhnya percaya setelah apa yang Andre perbuat tadi.
"Minum dulu! Lo gemetar." ujar Andre menyodorkan Cocktail pesanan Agatha.
Agatha meneguknya kasar. Hingga sesekali tersedak dan sirup merah itu terciprat di bajunya.
"Pelan Tha, Gue nggak minta kok!" canda Andre untuk mencairkan suasana.
Andre merogoh saku celananya, mengeluarkan tisu kemasan kecil dan memberikannya pada Agatha.
"Jangan belepotan. Gue yang malu ntar." lanjut Andre
Dengan cepat Agatha mengelap noda di kaosnya, yang meskipun masih berbekas setidaknya sudah tidak terlalu basah. Tak lupa Agatha juga membersihkan percikan sirup yang jatuh ke meja. Juga wajahnya yang basah karena air mata. Setelah merasa lebih baik. Agatha kembali memulai pembicaraan, meski dia tak yakin apa Andre akan tersinggung karenanya.
"Ndre, tempo hari aku lihat kamu bertengkar sama seorang cewek di parkiran. Aku nggak sengaja dengar, dia bilang kalau dia lagi hamil. Tapi melihat respon kamu yang terang-terangan menolaknya, aku jadi mikir kalau kamu ini cowok pengecut!" ungkap Agatha
Andre terdiam tanpa menoleh. Masih sibuk dengan sebatang rokoknya yang menyala.
"Kenapa Ndre? Kamu bersikap seenaknya dan nggak mau tanggung jawab! Apa karena nggak suka? Tapi kalau kamu nggak suka kenapa kamu lakuin?" Agatha mulai menunjukkan emosinya
Andre masih dalam posisi yang sama. Menatap lurus ke arah pintu room yang tertutup sambil menikmati hisapan tembakau yang membara.
__ADS_1
"Kamu nggak pernah mikir Ndre. Para cewek yang udah kamu sakiti, mereka pasti akan kesulitan mencari jodoh di masa depan. Sedangkan kamu masih dengan bebas mendapatkan pasangan. Ini nggak adil Ndre!" maki Agatha terus menerus
Kali ini Andre menekan sisa rokoknya ke asbak. Lalu menatap Agatha dengan senyum miring yang sulit diartikan.
"Lo dengar semua ini dari Ivan kan?" tanya Andre meski sudah tahu jawabannya.
"Aku.. Aku lihat sendiri! Pas kamu ada di ruangan ini juga kamu sama Audrey dengan pose yang tidak senonoh." elak Agatha meski benar dia melihat semuanya. Namun statement Ivan memang berpengaruh besar pada pandangannya tentang Andre.
"Nggak ada yang tahu alasan ini, selain Ivan. Jika ada orang lain yang tahu pastilah dari mulut dia." ujar Andre membuka botol bir keduanya
Agatha terhenyak. Terbesit dalam pikirannya kalau Andre akan membenci Ivan karena pengakuannya hari ini. Segera Agatha menambahkan kalimatnya.
"Jangan salahkan Ivan. Aku yang memaksanya bercerita. Karena aku juga berhak tahu soal ini. Karena kita.. Kita kan teman."
Andre tertawa hambar. Kedua mata elang itu menatap Agatha dalam-dalam. Agatha menjadi kikuk sendiri, hanya bisa menunduk menghindari tatapan Andre.
"Lo takut kan Gue marah ke dia? Karena mungkin Lo juga tahu, hidup Ivan bergantung sepenuhnya sama Gue. Itu kan yang Lo takutkan? Hidup dia jadi menderita karena Lo!" tukas Andre kembali meminum birnya
"Ivan sahabatku, jadi aku nggak ingin dia menderita cuma gara-gara aku." dengan lugunya Agatha menjawab tanpa Andre bertanya lebih dulu.
"Kecuali, Lo ada hubungan khusus sama dia. Atau Lo suka sama dia? Gue ngamati sih! Lo secara sadar gandeng tangan dia pun juga sebaliknya. Gue sering kok lihat kalian bareng. Kalau Gue asumsikan kalian pacaran, apa Gue salah?" Andre melanjutkan kalimatnya sambil menenggak kembali minumannya
"Lagipula, apa Lo udah selidiki tentang Ivan sebelum mutusin jadiin dia pacar Lo? Lo nggak merasa aneh, lihat circlenya. Kayak gue, Nathan, Lo nggak berusaha cari tahu?" tanya Andre mulai memojokkan Agatha
Benar juga yang Andre katakan, harusnya Agatha curiga melihat circle pertemanan Ivan yang seperti itu. Dan Ivan nyaman bergabung dengan mereka yang "nakal". Agatha terdiam, tidak tahu lagi harus menjawab apa.
"Gue juga nggak akan seperti ini kalau Chintya nggak kayak gitu. Sebenarnya gue paling terluka gara-gara ini. Gue sayang sama Chintya, gue cinta mati sama dia sampai Gue nggak lagi bisa bedain mana cintanya dia dan mana dia yang manfaatin Gue. Gue udah kayak babunya dia gitu. Lo ngerti maksud Gue kan? Gue cowok, tapi di depan dia dan teman-temannya Gue nggak punya harga diri. Gue dianggep pria lemah yang bahkan nggak punya nyali buat nyentuh dia, saking Gua pengen jagain dia sampai kita benar-benar nikah nanti. Tapi lama kelamaan, dia mulai berulah, dia dekati para pemain basket yang lain. Tanpa sepengetahuan Gue dia udah berkhianat, nyelingkuhi Gue. Hingga suatu ketika, Gue nemu kond*m di tasnya dia. Masih baru. Pas Gue tanya itu punya siapa, dia bilang punya kakaknya. Awalnya Gue percaya, tapi lama kelamaan Gue curiga. Dan Gue coba buat berani lakuin itu sama dia. Gue lepas keperjakaan Gue buat dia. Dan disitulah Gue tahu, dia udah nggak virg*n lagi." Andre bercerita panjang lebar.
Agatha menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tidak menyangka cerita yang Ivan ceritakan berbeda versi dengan ucapan Andre barusan.
"Dan apa yang Lo lihat tempo hari, itu cuma sandiwara. Gue mandul, dan Gue nggak akan bisa ngehamilin siapapun. Jadi tuh cewek, dia bohong. Terserah Lo sih lebih percaya siapa? Yang jelas Gue udah jujur soal semuanya." terang Andre mengambil sebatang rokok lagi
__ADS_1
Agatha terdiam sibuk mencerna kalimat panjang Andre yang memusingkan baginya. Rumit. Ini terlampau rumit untuk seorang bujangan seperti Andre.
"Dan Lo nggak perlu khawatir juga sama cewek-cewek yang udah tidur sama Gue. Karena mereka udah nggak p*rawan lagi. Jadi Gue juga nggak perlu merasa bersalah! Gue nggak merusak siapapun disini" balasnya santai sambil menghisap rokoknya dalam-dalam
"Ndre maaf, tapi kenapa kamu bisa mandul?" tanya Agatha yang tiba-tiba ingin mendengar langsung bagian itu dari Andre
Andre tersenyum miring. Dihisapnya rokok itu sekali lagi sebelum berkata, "Gue kecelakaan parah, dan ada cedera sama panggul Gue. Dan sejak itu Gue susah buat keluar. Lo paham maksud Gue kan?"
Agatha terdiam,apanya yang keluar? Batin Agatha bergejolak, sulit menerima percakapan dewasa seperti ini.
Andre menghela napas, menyadari respon Agatha tampaknya obrolan ini terlalu berat baginya.
"Lo inget pelajaran biologi SMA soal reproduksi?" tanya Andre
Agatha mengangguk.
"Nah, cewek bisa hamil hanya jika ****** membuahi sel telur kan, disitu gangguan yang Gue derita, Gue nggak bisa ngeluarin cairan itu. Seberapa sering pun, Gue lakuin. Bahkan Gue juga udah terapi selama bertahun-tahun. Tapi sampai sekarang belum ada hasilnya. Cedera panggul itu merusak saraf Gue yang bertugas buat itu." terang Andre kembali meminum alkoholnya
Agatha terdiam, ada rasa bersalah yang luar biasa di hatinya. Harusnya dia tidak menelan begitu saja ucapan Ivan, harusnya memang dari awal dia selidiki dulu Ivan dan circlenya. Hingga tidak perlu terjadi kesalahpahaman ini.
"Lo nggak perlu salahin Ivan. Dia nggak tahu apa-apa. Cuma pesan Gue, kalau Lo penasaran sama sesuatu tolong Lo tanyain langsung ke orangnya. Jangan lewat orang lain." terang Andre menghabiskan sisa minumannya.
"Sorry ya Ndre. Sorry banget!" balas Agatha mengakhiri percakapan hari ini
Andre hanya tersenyum, melirik sekilas ke arah jam tangannya. Lalu bangkit dari posisinya.
"Gue anterin pulang. Ini udah sore. Nggak enak Gue sama nyokap bokap Lo." ujar Andre mematikan rokoknya
Agatha hanya mengangguk. Terjawab sudah rangkaian benang kusut yang selama ini memenuhi otaknya. Agatha mengekor di belakang Andre yang tengah menuruni tangga.
"Tunggu di mobil ya. Gue ada perlu sebentar."
__ADS_1