
"Apa yang udah Lo lakuin Andre?"
Andre menoleh dengan santai ke arah sumber suara. Nathan menatapnya nyalang penuh kemarahan. Bagaimana tidak, bisnis gelapnya kini tengah diendus polisi dan beberapa anak buahnya memilih berhenti.
"Duduklah. Sudah lama kita tidak bicara seperti ini." ujar Andre menghisap dalam asap rokoknya
"Jangan sok bijak tuan Andre yang terhormat. Kenapa Lo tega sama sahabat Lo sendiri?" tanya Nathan lebih terdengar seperti bentakan
Kepulan asap mengudara bersama mendongaknya kepala Andre.
"Lo kenal Gue Than. Gue nggak akan pernah mengusik siapapun, kalau Gue nggak diusik lebih dulu."
"Kapan? Apa yang Gue lakuin, sampai Lo berbuat sejauh ini!" Teriakan Nathan bahkan terdengar sampai lantai bawah.
"Duduklah dulu. Ini, rokok kesukaanmu." Andre masih bersikap santai menyodorkan sebungkus rokok mint pada Nathan
"Cabut laporan Lo Ndre, atau Gue akan buat laporan yang sama ke Lo!"
Andre tersenyum. Tampaknya Nathan tengah marah besar. Kini kedua tangannya sudah mengepal dengan kuat, bersiap melayangkan tinju kapan saja. Jika Andre kembali menyerangnya dengan kalimat yang menjengkelkan.
"Harusnya Lo berterima kasih. Sampai detik ini, polisi bahkan nggak pernah berpikir buat nyariin Lo. Padahal jelas secara hukum Lo adalah dalang dibalik semua ini." ujar Andre melemparkan puntung rokok ke bawah lalu menginjaknya.
"Tapi semua anak buah Gue pergi ninggalin Gue. Dan mereka yang berpotensi besar buat pendapatan Gue! Gara-gara Lo, mereka mundur satu per satu! Gue bisa bangkrut Ndre! Lo nggak mikir dampak besar dari kelakuan Lo itu? Hah!" Nathan menggebrek meja hingga beberapa barang terlempar ke atas.
Kepala Andre mendongak.
"Apa Lo nggak pernah mikir, cewek dengan trauma yang sama kayak Gue harus mengalami hal yang tidak menyenangkan seumur hidupnya. Cuma gara-gara campur tangan Lo yang udah bantuin Audrey!"
Andre menegakkan tubuhnya. Kini dia berhadapan dengan Nathan yang tidak lebih tinggi darinya.
__ADS_1
"Jangan kira, Gue bakal diam aja. Melihat semua penghinaan Lo ke Agatha! Termasuk, mulut busuk Lo yang udah berani ngatain dia sewaktu di room Colors. Gue sudah memperhitungkan semuanya Than. Termasuk mengusir sepupu Lo bersama sahabatnya keluar dari kampus!"
Andre mengunci Nathan dengan tatapannya yang mematikan. Namun, kebencian di mata Nathan justru makin jelas terlihat.
"Jadi, karena cewek itu. Lo bersikap kayak gini ke Gue sekarang? Demi dia, Lo bahkan singkirin banyak orang yang ada di sekitar Lo. Hah? Seorang Andre Alvrido, Lo yakin jatuh cinta sama cewek kayak dia?" ledek Nathan sambil bertepuk tangan.
"Luar biasa!" Nathan pun tertawa
Namun sedetik kemudian tangannya mendorong Andre hingga menepi ke pagar pembatas rooftop. Setengah tubuh Andre menempel tepat di atas balkon. Bisa dipastikan, hanya kakinya lah yang menahan berat tubuhnya. Tangan Andre menahan kuat cengkeraman tangan Nathan di lehernya.
"Harusnya, Gue nggak pernah lindungi Lo Ndre! Harusnya Gue laporin Lo ke polisi dan bawa mobil hitam Lo sebagai barang bukti! Harusnya Lo mendekam di penjara, karena disitulah tempat yang layak buat pembunuh seperti Lo!" maki Nathan semakin mencekik leher Andre
Wajah Andre memerah menahan sakit. Tangan kekarnya bahkan tak berfungsi dengan baik mengingat gerakan tiba-tiba Nathan yang tidak terdeteksi olehnya.
"Kita buat kesepakatan Ndre! Karena Lo udah sengaja ngrusak bisnis Gue. Lo juga harus beri ganti rugi."
"Lo serahin gadis culun itu dan Gue anggap kita impas. Atau.."
Andre tak gentar. Disaat Nathan lengah, ditendangnya tubuh Nathan hingga teejengkang ke belakang. Namun sialnya, posisi Andre menjadi tidak seimbang, hingga tubuh Andre pun terlempar dari lantai atas. Tubuhnya menggantung di balkon rooftop dengan kedua tangannya. Sementara Nathan yang semakin geram, berniat membunuh Andre. Toh jika dia masuk ke dalam penjara, ayahnya bisa membayar pengacara untuk membebaskannya.
"Gimana Ndre? Sekarang, Lo lihat! Siapa yang berada di posisi lemah?" dengan sengaja Nathan menginjak kedua tangan Andre hingga dia merasa kesakitan.
Andre mengerang. Sepatu yang Nathan kenakan sengaja dia gesek-gesekkan ke tangan Andre hingga mengeluarkan darah.
"Brengs*k!" umpatnya
Sementara di lantai bawah, Andreas dan ibundanya yang tengah mengobrol di ruang tengah dikagetkan dengan suara teriakan Andre dari atas. Mereka pun keluar untuk memastikan keadaan. Kepala Wulan mendongak, terkejut bukan main melihat anak bungsunya bergelantungan di balkon atas. Tampak di matanya, Nathan hanya menjadi penonton setia tanpa berniat membantu.
"Nathan! Tolong Andre Nak. Jangan diam saja!" teriak Wulan histeris.
__ADS_1
Bukannya iba, Nathan justru menginjak lebih keras bahkan menghentak-hentakkan sepatunya agar Andre segera jatuh.
"Andreas cepat naik dan selamatkan Andre!" pinta sang ibu dengan air mata beruraian
"Ma, jangan khawatir. Andre akan baik-baik saja." ujar Andreas sambil berlari menuju tangga
"Gimana kalau Gue beri hadiah perpisahan kecil buat Lo Ndre?" ujar Nathan mendekatkan wajahnya
Tangan Andre yang bergelantungan pun semakin lemah, bahkan jari-jarinya pun sudah sepucuk kuku yang masih memegang balkon.
"Gue bakal kasih tahu Agatha yang sebenarnya, kalau Lo udah bunuh cowoknya! Dengan begitu, nggak akan ada kesempatan buat Lo dapetin apa yang Lo mau! Sama halnya Gue yang udah kehilangan segalanya karena Lo. Sekarang, Lo yang mesti rasain itu semua di detik terakhir Lo."
Andre mendongak, menatap Nathan dengan marah.
"Jangan bicara sembarangan!" suara Andre tercekat. Seolah tidak sanggup lagi menahan beban tubuhnya.
"Andreas cepat!!" teriak Wulan dengan perasaan tak karuan
"Andre bertahanlah Nak!" teriak Wulan semakin menjadi
Namun tangan Andre punya batas kemampuan. Kedua matanya menatap ke bawah. Jika dia berayun sedikit maka dia bisa masuk ke dalam kolam renang. Itu lebih baik daripada harus mati sia-sia.
Andre mengatur siasat. Mencoba menguatkan ke sepuluh jarinya yang sudah nyaris terlepas karena basah oleh keringat.
"Agatha cuma suka sama Ivan. Gadis yang Lo bela mati-matian nggak akan pernah suka sama Lo Ndre!"
Andre terdiam. Perlahan namun pasti pegangan itu merenggang dan tubuh Andre melayang jatuh bersamaan dengan tibanya Andre di rooftop. Terlambat.
Tubuh Andre terhempas bersamaan dengan teriakan frustasi sang ibunda. Wulan tampak terengah-engah. Dadanya terasa begitu sesak, melihat anak yang dia cintai akan berakhir sebentar lagi. Tubuhnya menegang, mendadak dadanya terasa sakit seperti tertusuk sembilu. Tubuh kurus Wulan perlahan jatuh tanah.
__ADS_1
"Mama!" teriak Andreas
"Andre...."