
Tidak semudah itu, mengatakan maaf pada seorang Andre. Seperti halnya yang Agatha lakukan tempo hari, sewaktu mengecek keadaan Andre di kelasnya. Andre bersikap dingin, bahkan tanpa mengucap sepatah kata pun. Apalagi sekarang, ketika Agatha sudah terang-terangan menunjukkan kebenciannya.
Cukup malu baginya untuk sekedar berterima kasih, namun bagaimana pun dia bersyukur. Ketakutannya tidak pernah terjadi. Dia masih seorang gadis. Setidaknya hal itu membuat hatinya sedikit lega.
Sepanjang perjalanan pulang, Agatha hanya melamun. Selain memikirkan cara untuk mengatakannya pada Andre, ada rasa penasaran di hatinya. Apa yang sebenarnya terjadi hari itu?
Bayu mengantarkan Agatha sampai gerbang rumahnya. Kayla memilih tinggal di rumah tante Rika, karena sudah lama tidak bertemu. Alhasil Agatha harus pulang sendiri bersama Bayu.
"Terima kasih Kak." ucap Agatha membuka pintu mobil
"Sudah menjadi tugas saya non." ujar Bayu ramah
"Panggil saja Agatha, aku lebih muda dari kakak." ucap Agatha menutup kembali pintu mobil
"Agatha. Nama yang cantik." pikir Bayu
Agatha melangkah masuk, lampu ruang tamu sudah dimatikan. Mungkin kedua orang tuanya telah terlelap. Agatha melepas heelsnya dan berjingkat pelan masuk ke dalam rumah. Kakinya melangkah masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintunya.
"Lelahnya!" keluh Agatha tanpa berniat mengganti bajunya.
Tangannya sibuk mengotak atik ponsel. Berusaha mengirim pesan pada Ivan.
[Van, sudah tidur?]
Belum ada semenit, Ivan membalas pesannya. Memang begitulah Ivan selalu gercep tiap Agatha membutuhkannya.
[Belum Tha. Aku lagi keluar ini. Ada apa?]
[Besok ada waktu? Ada yang ingin aku bicarakan, soal kejadian waktu itu]
[Yang mana?]
Agatha menepuk jidatnya perlahan. Dia mendekatkan ponsel itu ke mulutnya lalu mengirimkan voice note.
"Aku penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi setelah aku pergi ke Colors bersama Andre . Tolong sempatkan waktumu besok di kafetaria jam 10 pagi."
Tanpa Agatha sadari, Ivan mendengarkan pesan suara itu tepat di sebelah pemilik nama yang dia sebutkan. Andre. Andre tersenyum miris. Sambil menghisap dalam rokoknya.
"Ndre, jangan salah paham. Gue, udah berusaha ngomong tapi.. Dia nggak mau dengar. Gue udah bilang ke mamanya. Tapi Agatha masih keras kepala." terang Ivan
Andre menghela napasnya. Tanpa menoleh dia berdeham.
"Bukan urusan Gue." ketus Andre
Kali ini Ivan yang harus menarik napas dalam-dalam. Menghadapi dua manusia bekepala batu yang saling berseteru itu. Terserahlah, yang penting Ivan tidak berniat mengadu domba atau apapun. Dia hanya ingin menjadi jembatan agar keduanya berdamai.
[Oke aku akan datang]
...****************...
Minggu yang cerah telah membangunkan Agatha demi sebuah janji. Kini sudah bersiap dengan hotpants pendeknya dan kaos kebesaran berwarna putih yang menutupi sebagian celananya. Rambutnya terikat asal-asalan. Agatha yang anggun dan cantik semalam sudah kembali ke habitatnya. Agatha meraih tas selempang kecil dan memasukkan ponsel beserta beberapa lembar uang. Dengan sengaja, ia batalkan janji jalan-jalan dengan papanya. Baginya pertemuannya dengan Ivan lebih penting.
"Mau kemana Tha, kok pagi-pagi gini udah rapi aja!" seloroh Kristin menyadari anak gadisnya sudah duduk cantik di meja makan
"Lapar." ucap Agatha tanpa menjawab pertanyaan Kristin
__ADS_1
"Kamu yakin nggak mau jalan-jalan sama papa? Besok papa balik lagi lho ke Jakarta." ujar Anton
Agatha menggeleng. Tekadnya sudah bulat untuk menyelesaikan masalah ini dengan segera. Setidaknya hatinya jauh lebih tenang lagi, jika sudah mengetahui kebenarannya.
"Mau kencan ya?" gurau Kristin yang tanpa sadar diangguki oleh Agatha
"Owh pantes, sekarang ada cowok yang lebih penting dari papa." imbuh Anton
Agatha menoleh cepat ke arah orang tuanya. "Siapa yang.." Kalimatnya menggantung. Bodoh juga menganggukan kepala di saat yang tidak tepat. Kini Agatha hanya pasrah menghadapi candaan orang tuanya yang tak kunjung usai.
"Papa mama, Agatha itu nggak punya pacar. Orang ini aja mau keluar sama Ivan. Udah janjian dari semalam."
"Tuh kan Pa! Agatha cocok sama pilihan mama!"
"Ivan yang kemarin ya? Dia anak baik kok. Papa setuju Tha."
Agatha mengernyit. "Apaan sih pa? Kan kita cuma temenan. Temen!" Agatha menekankan kalimat terakhirnya.
"Awal cinta kan dari persahabatan. Iya kan pa?"
Agatha meletakkan sendok garpunya dengan kesal.
"Sudah ah. Agatha kenyang. Berangkat dulu ya pa ma!"
"Eh ngambek dianya pa."
Agatha tak menggubris godaan Kristin dan langsung bergegas memesan taksi.
Sesampainya di kafetaria, Agatha celingukan mencari meja no 06 sesuai arahan Ivan. Tampak laki-laki yang familier itu, sedang duduk memainkan ponselnya.
"Lychee Spring kan ini?" tanya Agatha
"Van, sekarang aku mau kamu cerita semuanya. Dari awal sampai akhir. Jangan ada satu pun yang terlewat!"
Ivan menatap sekilas ke arah gadis di hadapannya.
"Oke, hari itu Andre yang panik telepon aku, dia nanyain kamu yang udah jelas-jelas sama dia. Dia bilang kamu ngilang. Andre udah nyariin kamu kemana-mana tapi tetep nggak ketemu."
"Awalnya, aku nggak percaya. Sempet aku pukulin dia karena aku kira dia apa-apain kamu sampai kamu pergi. Tapi ternyata dari rekaman CCTV, kamu diculik sama 4 orang."
"Audrey dan teman-teman?" tanya Agatha
Ivan mengangguk. "Andre yang sudah hafal dengan kebiasaan Nathan pun langsung tahu, kemana mereka bawa kamu. Kita langsung otw kesana, dan sampai disana. Maaf. Aku lihat kamu.."
Agatha membulatkan matanya.
"Kamu tahu aku nggak pakai apa-apa?" pekik Agatha dengan keras. Beberapa pengunjung lain menoleh ke arah mereka.
"Kok nggak bilang sih!" kali ini Agatha berdiri dari duduknya
"Kan aku malu Van? Kenapa juga pakai kamu lihatin!"
"Tha please. Kita dilihatin sekarang."
Seketika Agatha tersadar dan mengamati sekitarnya. Kali ini wajahnya bersemu merah. Menahan malu yang datang dua kali lipat parahnya.
__ADS_1
"Aku nggak bisa Tha, karena itu kali pertamanya aku lihat cewek dalam keadaan begitu."
"Yakin?" mata Agatha memicing. Seolah tidak percaya bahwa Ivan masih sepolos itu.
"Tha, kalau aku sudah biasa melihatnya. Mungkin aku tidak akan lari dan memanggil Andre."
"Oke anggap saja untuk sementara, aku percaya! Lanjutkan ceritamu."
"Aku meminta Andre untuk menolongmu, namun tak lama kemudian dia keluar dan kalian bertengkar di dalam mobil. Tapi setelahnya Andre tidak tinggal diam. Dia membelamu saat dibully kemarin bahkan yang menolongmu di UKS bukan aku Tha. Tapi Andre."
Agatha mengerjab tak percaya. Seorang Andre, tidak mungkin berbuat sejauh itu tanpa alasan kan?
"Dia yang memaksa Audrey untuk mundur dari kampus agar tidak ada yang memprovokasi maba yang lain. Dan demi melindungimu tentunya."
"Lalu kenapa ponselku ada padanya?"
"Ponsel itu, pelayan Colors yang memberikannya. Dia menemukan ponselmu terjatuh di dekat mobil Andre. Jadi, saat Andre kesana. Dia memberikannya."
Agatha menarik napasnya dalam. Andre Alvrido tidak seburuk yang dia pikirkan. Tambah besar pula rasa bersalah yang menghantuinya. Orang yang dia benci,, ternyata adalah penolongnya.
Agatha meneguk habis minumannya. Berusaha membasahi tenggorokannya yang kering. Terlalu banyak fakta yang bertolak degan logikanya kemarin.
"Sekarang aku harus gimana?" tanya Agatha menatap sendu ke arah Ivan
"Sebenarnya, apa yang kamu inginkan Tha? Maksudku, apa kamu ingin minta maaf atau membiarkan masalah ini begitu saja?"
Agatha menggeleng. Belum bisa memutuskan harus berbuat apa. Hati kecilnya memintanya mengucapkan dua kata ajaib itu dengan tulus Namun ego dan pikirannya justru melarang harga dirinya untuk dijatuhkan di hadapan Andre.
Lama sudah berpikir, akhirnya tercetuslah sebuah keputusan.
"Kita coba lihat reaksinya besok ketika dia bertemu denganku!"
...****************...
SENIN. Hari yang paling Agatha benci, setelah mengumpulkan jutaan tekad dalam sebuah kotak bekal yang dibawanya. Kaki kecilnya mulai mendekati kelas Andre. Kini dia berniatkan mencairkan balok es Andre dengan makanan mamanya yang enak. Agatha mengendap-endap. Sambil sedikit berjingkat ke arah jendela. Memastikan bahwa orang yang dicarinya, belum datang.
Jujur terlalu aneh baginya, mencari Andre setelah semua yang terjadi.
"Aman." Tidak ada sosok pria dingin itu.
Agatha melangkah masuk dengan sopan.
"Permisi, boleh saya tanya dimana meja Andre?" tanya Agatha pada seorang pria culun berdasi kupu-kupu
"Cantik." gumamnya pelan namun tetap terdengar di telinga Agatha
"Terima kasih. Kamu juga baik." Baik dalam tanda kutip pikir Agatha
"Disini, meja Andre." tunjuk si culun ke meja paling belakang di barisan tengah
"Terima kasih kakak baik."
Agatha menganggukkan kepalanya tanda berterima kasih. Lalu meletakkan kotak bekal Andre beserta secarik kertas. Agatha segera berlari menjauh, menghindari kedatangan Andre. Sesekali dia menoleh ke arah kelas itu. Sambil terus melangkah keluar dan memastikan kotak bekal itu aman di tempatnya.
Agatha memepercepat langkahnya hingga BUG.. Tubuh tegap seseorang menghadangnya. Tubuhnya limbung ke lantai.
__ADS_1
"Aduh." keluhnya seraya mendongakkan kepala
"Andre.."