
"Tunggu di mobil ya. Gue ada perlu sebentar."
Agatha mengangguk patuh. Dia berjalan keluar cafe, menuju mobil merah Andre yang terparkir di sisi jalan. Tangannya mematikan alarm mobil, sebelum akhirnya membuka pintu. Tiba-tiba, ponselnya berdering.
"Ivan?" sapa Agatha begitu panggilannya tersambung.
"Kamu kemana aja sih Tha? Ini aku di rumah kamu, tapi kamu belum pulang juga." suara Ivan terdengar cemas
"Owh aku lagi di Co..." belum sempat Agatha menyelesaikan kalimatnya. Sepasang tangan membekap mulut dan hidungnya dengan selembar kain. Napasnya tersengal, dengan terengah-engah Agatha mencoba meraih pintu mobil. Namun sia-sia, tubuhnya terasa lemas saat menyadari beberapa orang menangkapnya. Agatha pun dibawa masuk ke dalam mobil dan dibawa pergi begitu saja.
Andre masih bernegosiasi dengan Pak Wo, bagian keamanan cafe untuk meminta rekaman CCTV Sabtu malam. Tujuannya sebagai senjata untuk melawan Audrey jika dia berbuat rusuh seperti tadi. Setelah mencapai kesepakatan yang bagus, Andre memberikan beberapa lembar uang pada Pak Wo yang ditukar dengan sebuah disk kecil. Dengan ini, Audrey berada di bawah kendali Andre sepenuhnya.
Andre melangkah keluar dan mendapati pintu mobilnya terbuka. Kuncinya tergeletak di bawah. Dengan panik, Andre mencari ke sekitar cafe sambil memanggil nama Agatha. Andre mengitari setiap celah bangunan yang mungkin bisa dilewati, namun nihil. Andre tidak menemukan apapun.
Andre kembali masuk ke dalam cafe, mengamati ke seluruh ruangan kalau-kalau Agatha masuk kembali. Kakinya melangkah ke arah toilet wanita, berharap bisa menemukan Agatha. Namun hanya seorang petugas yang sedang membersihkan toilet yang dia temui. Andre pun naik ke lantai 2. Menyusuri satu per satu room karaoke yang terbuka. Dan satu ruangan paling pojok terkunci rapat. Andre mendekatkan telinganya, suara aneh terdengar bersahutan membuat Andre menduga bahwa mungkin Agatha ada di dalam sana bersama seseorang. Andre mengambil ancang-ancang dan BRAK... Pintu itu terdobrak
Kedua mata Andre membulat, seorang wanita malam sedang bermain dengan pria seusianya.
"Sorry, Gue nggak sengaja!" ucapnya sambil membungkukkan badan.
Andre meninggalkan beberapa lembar uang penutup mulut lalu kembali ke lantai 1. Nyaris frustasi dengan menghilangnya Agatha, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Van, Agatha lagi sama Lo nggak?" tanya Andre sebelum Ivan menyapanya
"Ndre Lo gila ya! Lo aja ngajak dia keluar, sampai sekarang belum Lo pulangin. Kok Lo malah nanya Gue sih!" teriak Ivan
"Ndre Lo apain dia sampai dia kabur gitu? Lo nggak macem-macem kan?" tanya Ivan
"Gue nggak tahu dia dimana." ujar Andre jujur
"Jangan bercanda Ndre! Gue serius, mana Agatha Gue mau ngomong sama dia!" ujar Ivan sedikit memaksa
"Heh! Kalau dia ada disini, Gue nggak mungkin sepanik ini b*go! Gue tadi lagi ada perlu di dalam, Gue suruh dia tunggu di mobil. Pas Gue keluar dia udah nggak ada!" balas Andre
__ADS_1
"Lo apain sih Agatha!" teriak Ivan dengan emosi memuncak
"Gue nggak nglakuin apapun! Udah nggak usah banyak bac*t. Ke Colors sekarang, kita cari dia sama-sama!" balas Andre
"Awas aja Lo Ndre kalau sampai Agatha kenapa-napa, nyawa Lo yang jadi taruhannya."
Ivan menutup panggilannya secara sepihak. Andre mengacak rambutnya kasar. Bingung hendak mencari Agatha kemana lagi, sedang nomor ponselnya saja tidak bisa dihubungi.
Andre duduk di anak tangga terakhir sambil memikirkan apa yang harus dia lakukan. Lalu, pandangannya mengarah ke halaman Colors yang luas. Ada 2 CCTV yang mengarah ke pintu masuk Colors.
"Gue bisa tanya lagi ke Pak Wo buat lihat rekaman CCTV barusan!" Andre bergegas masuk kembali ke ruang keamanan.
Tampak Pak Wo sedang sibuk memperbaiki jaringan CCTV yang sedikit terganggu. Juga dua wanita yang bekerja sebagai admin tengah fokus pada pekerjaan masing-masing.
"Pak Wo, Gue minta tolong sekali lagi! Tolong lihatin rekaman CCTV barusan." ujar Andre dengan nada memerintah
"Kenapa lagi sekarang? Mau jadi intel kamu?" tanya Pak Wo dengan nada meledek
"Ini penting Pak! Temen cewek yang datang sama Gue tadi, hilang. Makanya Gue minta Lo lihatin rekaman CCTV halaman depan sekarang!" ujar Andre mengulangi permintaannya
Kedua tangan Andre mengepal. Didorongnya tubuh gendut Pak Wo hingga menabrak ke rak buku. Dua admin tadi berteriak ketakutan.
"Lo tunjukin rekaman itu sekarang atau Gue akhiri nyawa Lo!" Ancam Andre tanpa rasa segan sedikit pun
"I.. Iya baik." Andre melepaskan cengkeramannya. Pak Wo berbalik ke sekumpulan layar berisi gambar aktivitas cafe.
"Putar balik ke 10 menit yang lalu." ujar Andre
Pak Wo memutar kembali rekaman CCTV di halaman. Tampak 3 orang wanita dan 1 laki-laki dengan sengaja membungkam dan menarik paksa tubuh Agatha. Sebuah mobil matic terlihat menjauh setelah berhasil menculik Agatha.
"Stop!" ujar Andre mengamati plat nomor yang tertera.
"W 15xxxxx. Sial! Kalian cari mati rupanya." gumam Andre sambil meninggalkan selembar rarusan ribu dan pergi tanpa sepatah kata pun.
__ADS_1
Andre berlari menuju mobilnya. Belum sampai di pintu mobil, sebuah pukulan keras mengenai wajahnya. Andre tersungkur karena serangan yang datang membabi buta.
"Cowok brengs*k. Apa yang udah Lo lakuin Hah?" Teriak Ivan mencengekeram kerah kemeja Andre yang mulai kusut
"B*ngsat! Gue nggak nglakuin apa-apa! Bukan Gue yang ngilangin dia tapi..." Andre mencoba menjelaskan namun Ivan terus saja memukulinya tanpa ampun
"Gue nggak percaya lagi sama Lo! Lo pantes mati!" teriak Ivan mencekik leher Andre dengan kedua tangannya
Posisi Andre tidak menguntungkan. Terbaring di paving yang panas dengan kedua kaki Ivan mengunci kuat tubuhnya. Andre terbatuk hingga mengeluarkan darah di mulutnya.
"Jangan bertengkar disini!" sebuah tangan kekar menarik baju Ivan hingga terjatuh ke belakang. Cengkeraman tangan Ivan terlepas. Andre terbatuk beberapa kali sambil memegangi lehernya yang masih sakit.
"Jangan bertengkar di area cafe atau kalian saya bawa ke kantor polisi." Tukas Romy selaku pemilik cafe
"Agatha, dia diculik. Dia.. Dia..." suara Andre terengah-engah. Berusaha mengisi pundi-pundi oksigennya dengan menghirup napas dalam-dalam.
"Siapa yang lakuin itu Ndre!" tanya Ivan lebih seperti bentakan.
"Trouble maker dan sahabat kita. Nathan!" ujar Andre
Kini kedua mata Ivan terbelalak, bagaimana bisa, teman dekatnya justru menusuk mereka berdua dari belakang.
"Jangan banyak berpikir, kita cari saja dia! Kayaknya Gue tahu dia dimana!" ujar Andre mencoba bangun dari posisinya.
"Masuk ke dalam saja, dan selesaikan masalah ini dengan baik-baik." ajak Romy
Andre menggeleng. "Kita nggak punya banyak waktu. Ndre tinggal aja mobil Lo!. Kita pakai mobil Gue."
Ivan membantu Andre berdiri. Andre mengalungkan tangannya di leher Ivan lalu berjalan tertatih ke arah samping kemudi.
"Lo masih inget basecamp kita dulu?" tanya Andre
Ivan mengangguk.
__ADS_1
"Kita kesana."