
Sesi belajar bersama sore itu telah selesai. Kini Ivan tengah berada di mobil jeep kesayangannya dengan memutar lagu pop yang terkenal di jamannya. Sambil bersenandung ringan, menikmati langit sore yang berwarna jingga menyambut datangnya petang. Lalu lalang kendaraan memadati kota dengan kesibukan masing-masing penghuni disana.
Dering ponsel mengganggu pendengaran Ivan. Tertulis nama *Mama* tengah melakukan panggilan video dengannya.
"Tumben." gumam Ivan
Digeserlah tombol hijau itu ke atas. Tampak wajah Indah tengah memegang ponselnya.
"Tumben mama VC. Ada apa ma?" tanya Ivan sambil menepikan sebentar mobilnya
"Ini, ada temanmu Nathan. Dia nunggu disini sejak tadi." Ponsel indah bergeser ke arah wajah seseorang yang tak asing bagi Ivan.
"Nathan? Ngapain dia disitu?" heran Ivan dengan kening berkerut.
"Nggak tahu juga. Mama tanyain, katanya ada perlu penting sama kamu." tukas Indah, gambar di layar itu beralih kembali ke wajahnya
"Oke Ma. Bilangin Nathan ya, Ivan otw. Paling 10 menit lagi sampai." ujar Ivan mematikan ponselnya dengan tidak sopan
"Aneh, setelah insidennya semalam kenapa Nathan justru menemuiku? Pasti ada yang tidak beres." gumam Ivan menginjak pedal gasnya agar semakin cepat sampai di rumah.
Mobil jeep itu terparkir rapi di depan sebuah rumah kuno peninggalan Belanda dengan pagar kayu yang mengitarinya. Tampak mobil matic keluaran terbaru sudah ada di halaman rumah Ivan. Lengkap dengan plat nomor yang masih berwarna putih . Menunjukkan kepemilikan bagi sang tuannya.
Ivan melangkah masuk dengan tergesa-gesa. Tampak Nathan terduduk santai dengan kaki panjangnya yang diletakkan di atas meja. Jauh dari kata sopan memang, namun begitulah tingkah Andre dan Nathan jika berkunjung di rumahnya.
"Apa yang bawa Lo kemari Than?" tanya Ivan tanpa basa basi
__ADS_1
"Cuma ingin ngunjungi Lo. Lama sekali kita tidak berkumpul seperti dulu." ujar Nathan menghisap dalam rokoknya
"Gue tahu bukan ini tujuan Lo Than, katakan apa mau Lo sebenarnya?" tanya Ivan seolah menyadari keanehan dari datangnya Nathan yang tiba-tiba.
"Lo nggak selugu yang Gue pikirkan Van. Lo cerdas sekali. Bisa dengan mudah menebak maksud kedatangan Gue kesini. Ya meski Gue tahu, Lo ada di pihak yang sama dengan Andre. Tapi nggak ada salahnya kan Gue coba?" terang Nathan menurunkan kakinya
Ivan menatap Nathan penuh arti. Masih ada tanda tanya besar di kepalanya.
"Gue dengar, Lo suka sama cewek culun itu. Dan Gue rasa, Andre pun juga suka sama dia."
"Gue dengar juga, Lo yang udah buat tante Wulan masuk ke rumah sakit." potong Ivan berniat mengalihkan topik pembicaraan Nathan.
"Gue nggak akan berbuat sejauh itu tanpa alasan Van. Andre, sahabat Lo itu udah hancurin bisnis Gue. Dia laporin sebagian pegawai Gue ke polisi. Untungnya mereka setia dan tutup mulut sampai akhir interogasi sehingga Gue nggak ikut masuk ke dalam." ujar Nathan mematikan rokoknya.
"Bukankah, itu lebih baik Than? Lagipula itu bisnis ilegal dan merugikan banyak pihak. Apa Lo nggak merasa bersalah udah merusak mereka?" tanya Ivan seolah membenarkan perbuatan Andre
Ivan terdiam. Bingung juga mencerna arah pembicaraan yang tidak jelas ini.
"Gue ingin mengajakmu bekerja sama."
Nathan mendekatkan tubunya ke arah Ivan.
"Lo, adalah saksi utama kecelakaan Agatha setahun yang lalu. Dan Gue yang pegang buktinya. Bahwa Andrelah pelaku tabrak lari waktu itu." lanjut Nathan mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari dalam tasnya
"Kita laporkan dia ke polisi Van. Buat pelajaran untuknya agar tidak lagi mengusik kita!" pungkas Nathan
__ADS_1
Ivan membuka amplop coklat itu. Sepasang plat mobil milik Andre lengkap dengan surat-suratnya masih Nathan simpan dengan baik.
"Gue nggak tertarik dengan kerja sama ini. Gue nggak mau hubungan persahabatan kita hancur." ujar Ivan memasukkan kembali berkas Nathan
"Jangan buru-buru memutuskan Van. Masih banyak waktu untukmu berpikir. Simpan saja ini, gunakanlah jika Lo udah setuju sama omongan Gue." ujar Nathan beranjak pergi ke arah dapur untuk berpamitan dengan Indah
Ivan termenung. Sejenak memandangi barang yang Nathan tinggalkan. Memang hubungan Ivan dan Andre tidak sebaik dulu. Apalagi saat Ivan menyadari, Andre punya perasaan lain pada Agatha. Sama seperti dirinya.
"Gue tunggu sampai kapan pun, kabari Gue kalau Lo mau bertindak." ujar Nathan sebelum meninggalkan rumah Ivan
Ivan menghela napasnya gusar. Kasihan juga memojokkan Andre dengan hal-hal seperti ini. Ivan memilih untuk mengamankan dulu barang-barang ini dan akan menjadikannya kartu AS suatu saat nanti.
Sementara di rumah sakit, Andre tengah menunggui Wulan yang masih betah terlelap. Raut wajahnya tampak kusut. Sejak semalam Andrelah yang berjaga tanpa beranjak sedikit pun. Jangankan untuk mandi. Barang sekedar mengisi perut pun tidak dia lakukan.
Andre menatap tubuh kurus itu dengan sayu. Satu-satunya orang tua kandung yang tersisa dan membesarkannya seorang diri kini harus diambang kematian karena kejadian semalam. Koma, begitulah yang dokter katakan. Andre masih menyimpan perasaan kesalnya. Perlakuan Nathan sudah melewati batas kemaklumannya. Dia berjanji akan membalaskan semuanya, pada Nathan dan juga kakaknya Andreas. Karena dia sama sekali tidak mau peduli pada kondisi mamanya.
Beralih ke beberapa tahun silam...
Wulan Retnosari, seorang gadis berdarah Jawa yang tengah menari dengan gemulainya pada sebuah pagelaran tari di kotanya. Raut wajahnya yang awet muda memiliki senyum menawan di bibirnya. Hidungnya mancung dengan sorotan mata indah yang dihiasi bulu mata lentik penuh riasan itu terbiasa mengisi acara-acara penting para penguasa.
Dari eloknya penampilan dan tubuh tinggi semampai membuat pria mana pun bahkan tidak bisa berkedip jika melihatnya. Tutur katanya yang sopan dan perilakunya yang santun menjadikan Wulan, satu-satunya penari yang disegani di sanggarnya.
Namun, siapa sangka Wulan adalah seorang ibu beranak satu yang dia lahirkan setelah pernikahan terpaksanya dengan seorang pengusaha di kota besar. Pengusaha bernama Andrian Wijaya itu sudah beristri saat memaksa Wulan untuk menjadi istri kedua. Pesona Wulan membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi. Apalagi kelahiran Andre, anak laki-laki yang tampan dan pemberani. Meski telah dikaruniai seorang anak dari istri pertamanya tak membuat Anton merasa puas. Dia masih terus menjalani hubungan diam-diam di belakang istrinya.
Selang beberapa lama, berita perselingkuhan itu terdengar di telinga sang istri. Betapa murkanya istri Andrian mengetahui suami tercintanya, mempunyai istri lain yang tidak diketahuinya. Kemarahan itulah yang menyebabkan sang istri pertama menghembuskan napas terakhirnya karena serangan jantung.
__ADS_1
Dari kisah itulah hubungan Andreas dan Andre tidak pernah baik. Bahkan meski Andreas terlihat lebih dewasa dalam bersikap, namun sejujurnya api balas dendam membara dalam hatinya.
Dendam atas kematian sang mama dan ingin menyingkirkan dua rivalnya itu secara perlahan.