Don'T Tell Me About Love

Don'T Tell Me About Love
XIX SEBUAH PEMBELAAN


__ADS_3

"Sakit bego!"


Mendengar suara itu, Agatha menoleh. Tampak Andre sedang memegangi perut bagian atasnya yang tadi terkena siku Agatha.


"Sorry, nggak tahu." ujar Agatha dingin sambil membenahi posisi ranselnya yang bergeser


"Gitu ya cara Lo berterima kasih?" tanya Andre


Agatha menatap Andre yang tengah menatapnya juga. Seketika pandangannya turun. Ke arah kaki yang diinjak berkali-kali. Agatha menghela napas. Sedikit membungkukkan badannya.


"Maaf sekali lagi." ucap Agatha beralih pergi.


"Gue nggak butuh maaf Lo! Apa susahnya sih buat bilang terima kasih? Gue ini udah bantuin Lo!" ujar Andre lagi-lagi menghentikan langkah Agatha


"Bantuin apa?" tanya Agatha tanpa menoleh sedikit pun


"Coba kalau Lo nggak Gue tarik tadi. Lo pasti udah jadi bulan-bulanan mereka. Apalagi kalau sampai Lo labrak si Audrey. Apa Lo pikir, mereka bakal lepasin Lo gitu aja?" terang Andre seolah tahu yang Agatha pikirkan


Agatha terdiam, tiga gadis itu adalah maba pembuat onar. Yang untungnya didukung dengan fisik yang cantik dan kantong tebal. Dengan mudahnya mereka mempengaruhi hampir semua lapisan maba.


"Makasih Ndre. Tapi lain kali nggak perlu. Aku bisa atasi masalahku sendiri." balas Agatha membungkukkan badannya sekali lagi


Kaki kecilnya meneruskan langkah, tanpa memperdulikan Andre yang terus menatap ke arahnya. Keraguannya pada Andre karena cerita Ivan Sabtu malam, membuat Agatha memilih untuk menghindar. Daripada terlibat lebih jauh dalam perasaan yang rumit.


Agatha memasuki ruang perpustakaan dengan lesu. Dia letakkan setumpuk buku di meja petugas perpus. Dan memberikan kartu anggota untuk diperiksa. Setelah itu, dia mencoba mencari tempat yang nyaman. Berharap bisa mengerjakan tugas dengan tenang.


"Andre kenapa sih, kenapa juga dia narik-narik. Aku kan nggak minta tolong. Giliran sini duluan, dikira nggak tahu terima kasih. Dia nggak nyadar apa kalau dia juga salah. Pake bekap mulutku lagi!" Tanpa sadar mulut Agatha mendumel dengan kesal


Tiba-tiba tangan seseorang menyentuh bahunya.


"Kamu nggak apa-apa kan Tha? Kok aku perhatiin, ngomel sendiri dari tadi." tukas Ivan dengan polosnya


"Ngagetin aja Van! Ya jelas aku nggak apa-apa lah. Cuma..." Agatha menatap ke arah pintu perpustakaan yang terbuka.


"Aku tahu, pasti gara-gara Bu Titik kan, si penjaga jutek itu. Kenapa? Cerita dong." balas Ivan yang justru menatap ke arah lain


"Sebel banget sama tuh orang. Dia nuduh aku yang enggak-enggak. Kirain aku ini cewek apaan sampai dibawa ke hotel juga sama cowok yang bukan siapa-siapa. Nyebarin gosip nggak bener!" ujar Agatha terus menatap ke arah pintu


"Tha, kamu dituduh nyelingkuhi suaminya Bu Titik? Kenapa? Emang kamu pernah ketemu?" tanya Ivan yang masih saja membahas penjaga perpustakaan yang tidak ramah itu


Agatha memejamkan matanya. Ingin rasanya menelan bulat-bulat pria once di hadapannya itu.


"Van, coba deh kamu lihat baik-baik. Apa wajahku ini kayak wanita penggoda?" tanya Agatha dengan nada pelan dan senyum yang dipaksakan.


Ivan terdiam, menatap ke arah sepatu kets yang Agatha kenakan, naik ke celana jeans sobek bagian lutut, kemudian kaos ketat yang dibalut dengan almamater kampus. Juga rambut yang dikucir ekor kuda secara serampangan. Ivan tercengang. Di dalam pikirannya *Agatha sedang tersenyum manis sambil mengedipkan sebelah matanya dan berkata aku cantik kan Van? Coba lihat baik-baik apa aku begitu menggoda?*


__ADS_1


Agatha Catalina visualnya seperti ini, sumber by:google


"Sangat Tha. Kamu benar-benar menggoda. Cantik banget." tanpa sadar kalimat itu Ivan ucapkan sambil tangan kanannya menyangga dagu di meja. Masih dengan tatapan yang sama dengan senyum lebar membuat Agatha makin tidak bisa menahan kekesalannya. Sontak sebuah pulpen mendarat di jidat Ivan.


"Aduh sakit Tha!" keluh Ivan menggosok pelan dahinya yang memerah


"Rasain! Udah ah jadi lapar, gak mood bikin tugasnya. Mau ke kantin aja!" ujar Agatha mengemasi buku tulis yang baru saja dia keluarkan.


"Ikut Tha! Aku juga lapar nih hehe." ujar Ivan sambil menunjukkan sederetan gigi putihnya


Agatha memutar bola matanya malas.


"Tha tapi..."


"Kenapa lagi?" tanya Agatha


"Traktir boleh nggak?" tanya Ivan dengan senyum super manis yang dibuat-buat


Agatha menghela napasnya, terkadang kasihan juga melihat Ivan seperti itu. Dia tahu betul bahwa kehidupan Ivan jauh tidak beruntung jika dibandingkan dengannya. Apalagi setelah Ivan bercerita jika ibunya hanya berjualan di kantin sekolah dan sebagian besar kebutuhannya bergantung pada Andre.


"Okelah, ayo!" ajak Agatha yang menarik lengan Ivan untuk segera mengikutinya.


Dua sejoli itu keluar dengan langkah cepat menuju tempat dimana makanan enak dan minuman segar tersaji dengan harga murah. Tangan mereka saling bertautan, dengan senyum aneh yang terus terlihat di wajah Ivan. Sementara di belakang mereka, Andre mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.


"Mestinya Lo tahu posisi Lo sebagai apa Van? Tapi semakin kesini, Lo makin kelewatan."


Agatha berpaling hendak mengambil sosis jumbo yang terletak di pojok sebelah kanan. Namun, dengan sengaja Audrey menabraknya hingga pesanan Agatha berceceran di lantai.


"Upss sorry, sengaja!" ujar Audrey disertai gelak tawa teman satu gengnya.


Audrey melewati sosis itu dan menginjaknya hingga menjadi kotor dan hancur. Tanpa banyak bicara, Agatha membungkuk untuk memunguti sisa sisa sosis itu dan mengembalikannya ke dalam nampan.


"Udah Tha taruh aja. Itu kan kotor, makan ini aja. Punyaku. Kita join." tawar Ivan menyodorkan nampan sosisnya


Agatha mengabaikannya begitu saja, lalu berjalan ke arah Audrey. Dilemparkannya remah sosis itu hingga beberapa tersangkut di rambut panjang Audrey yang terurai.


"Aduh sorry, kesandung nih kakiku. Jadi jatuh deh sosisnya!" ledek Agatha dengan senyum menyeringai


"Lo keterlaluan banget ya!" Maki Catherina mendorong pelan tubuh Agatha


"Lo cari gara-gara ya sama Gue!" imbuh Audrey


"Nggak kok. Cuma mau ngajarin kamu aja. Jadi orang itu harus bertanggung jawab. Nih balikin nampannya dan bayar tuh makanan!" ujar Agatha menyerahkan nampannya yang telah kosong


"Berani Lo ya!" teriak Audrey


Agatha hanya berbalik menuju Ivan.

__ADS_1


"Ayo kita pulang Van." ajak Agatha dengan dinginnya


"Heh teman-teman kalian tahu nggak. Dua orang maba ini bawa aib loh di kampus kita!" teriak Audrey dan seketika kantin menjadi ramai. Seolah ada tontonan yang menarik. Audrey ternyata telah menyiapkan serangan balik selanjutnya di luar dugaan.


"Emangnya kenapa Drey?" tanya Kevin


"Malam minggu kemarin, mereka berdua tuh ngeroom sampai nginep di hotel. Bayangin aja baru semester awal udah bertingkah. Gimana kalau hamil duluan? Nggak malu apa!" teriak Audrey dan bisik-bisik tidak mengenakkan mulai terdengar.


Bukan Agatha namanya jika harus menyerah karena gosip murahan ini.


"Kamu ngomong gitu, emang ada buktinya?" tanya Agatha dengan tenangnya


"Ada dong! Nih teman-teman coba lihat mereka jalan sambil pelukan gitu. Ini dari bentukan tangganya aja kelihatan kayak hotel gitu nggak sih! Trus si Ivan jalannya sempoyongan, mabuk nih pasti!" ujar Audrey menyodorkan ponsel mahalnya yang tengah memutar video Agatha dan Ivan di Colors malam itu.


Saat Ivan dan Agatha turun ke lantai satu, ternyata dengan licik Audrey memang sudah merencanakan semuanya. Merekam mereka dengan tujuan untuk menjatuhkannya. Rasa kesalnya atas perlakuan mereka pada Andre membuatnya berulah.


Belum sempat Agatha angkat bicara, Ivan menyibakkan rambutnya di bagian depan. Sengaja menunjukkan luka yang masih diplester dengan kain kasa menempel dahinya.


"Kalian lihat ini? Gue terluka, dan Agatha yang nolongin Gue. Dia bawa Gue ke rumah sakit. Nggak cuma itu aja." Ivan membuka kancing kemejanya satu per satu, menunjukkan selembar kaos putih tipis yang memperlihatkan otot bisepnya.


"Kalian lihat, lengan Gue juga banyak luka goresan benda tajam. Karena memang gue lagi berantem hari itu. Bukan ngeroom atau nginap kayak yang Lo bilang tadi." lanjut Ivan menunjukkan banyaknya bekas luka kehitaman yang mulai mengering.


"Mana kita tahu kan ya? Bisa aja tuh cewek kelainan jadi mainnya kasar, ya nggak guys?" lagi-lagi Audrey memancing suasana.


"Kalian bisa kok cek ke cafe yang kita datangi waktu itu. Colors, dan lihat cctvnya. Atau kalau masih nggak percaya. Datang aja ke royal hospital dan tanyain apa ada nama Gue di daftar pasien IGD Sabtu malam!" tegas Ivan memakai lagi kemejanya.


"Halah yang kayak begituan kan bisa aja bohong. Editan, lagipula banyak kok jaman sekarang rekaman cctv yang dipalsukan." sergah Catherine


Ingin rasanya Ivan maju untuk memberi Audrey pelajaran, namun tangan Agatha menariknya mundur.


"Nggak usah diladeni Van. Buang-buang waktu. Nggak ada gunanya juga jelasin ke mereka. Mereka hanya mempercayai apa yang mereka ingin percayai." ujar Agatha melihat ke arah mahasiswa yang bergerombol.


Satu diantaranya menarik perhatian Agatha. Andre, pria itu sedang menatap geram ke arahnya dan Ivan. Entah kenapa dia merasa marah. Bukan pada Audrey yang memfitnahnya terang-terangan justru ke arahnya yang berlaku sebagai korban. Agatha membalikkan badannya.


"Van. Ayo kita cari makan di tempat lain." ajak Agatha memutuskan untuk pergi dari kerusuhan tak terduga yang Audrey ciptakan


"Dasar cupu!" teriakan itu terdengar bersahutan.


Agatha terus menjauhi kantin bersama Ivan. Tidak habis pikir juga kenapa dengan orang-orang ini.


"Mau pulang Tha?" tanya Ivan tiba-tiba


Agatha hanya mengangguk. Ingin segera menyudahi hari ini, dan menggantinya dengan hari besok yang lebih baik.


"Tunggu bentar ya, aku ambil mobil dulu." uar Ivan berbalik ke arah parkiran mobil


Agatha terdiam. Menerawang halaman luas berpaving dengan tiang bendera tinggi tempat sering diadakannya acara kampus. Hatinya kalut. Pikirannya entah pergi kemana. Tiba-tiba...

__ADS_1


"Bisa nggak Lo jauhin Ivan?"


__ADS_2