Don'T Tell Me About Love

Don'T Tell Me About Love
BAB XXXVI


__ADS_3

Tepat sasaran. Tubuh Andre yang bebas di udara terjatuh tepat di kolam renang sedalam 4 meter yang terletak di belakang rumah. Bersamaan dengan itu, buih buih gelembung bermunculan ke atas. Andre berusaha naik kembali ke permukaan setelah mendengar teriakan Wulan memanggil namanya.


Kepala Andre menyembul untuk menarik napas sedalam-dalamnya. Detak jantungnya masih tak beraturan, apalagi dengan suhu dingin malam itu. Namun Andre memimilih mengabaikannya. Fokus pandangannya beraluh menuju Wulan yang tergeletak di atas rumput. Andre berenang menepi. Dengan tubuh yang basah, diangkatnya tubuh Wulan dan membawanya ke dalam.


Sementara Andreas, dengan bodohnya ikut menjadi penonton setia di rooftop.


"Andreas, Lo nggak pengen turun dan nyelametin nyokap Lo?" tanya Nathan masih menatap ke arah kolam


Tampak Andreas menyeringai. Dia tidak sebaik itu . Ada alasan kuat di balik sikapnya saat ini.


"Andre, seharusnya dia mati malam ini." gumam Andreas


"Lo masih menyukai Chintya. Bahkan sampai hari ini." Nathan tertawa gamang


"Sudahlah, kamu harus segera pergi sebelum berandal itu menyusulmu kemari." Andreas menepuk pelan bahu Nathan


"Gimana kalau kita kerjasama Yas?" tanya Nathan


Andreas menoleh sebentar lalu kembali turun.


"Bukankah, musuh kita sama sekarang?"


"Terkadang menjadi musuh dalam selimut lebih baik, dan aman daripada melakukannya dengan terburu-buru namun tidak tepat sasaran. Aku yakin, setelah ini kamu pasti terkena masalah." ujar Andreas menuruni tangga, meninggalkan Nathan seorang diri.


"Kita lihat Ndre. Gimana jika permainan Lo harus berakhir sebelum dimulai?" gumam Nathan


Kamar Wulan. Andre dengan tubuh basahnya tengah menghubungi Andrian, papa tirinya.


"Pa, mama pingsan. Tubuhnya dingin. Sampai sekarang dia belum sadar."


"Dimana kamu sekarang?"


"Di rumah pa. Apa Andre bawa mama ke rumah sakit ya?"


"Tunggu sebentar, papa akan menghubungi dokter Richard untuk memeriksa kondisinya dulu. Sementara jaga mamamu Ndre. Papa akan segera pulang."


"Baik pa."


...****************...


Beralih di sudut pandang Ivan, Ivan yang tengah membereskan peralatan jualan sang ibu harus teralihkan oleh sebuah panggilan yang berdering.


"Siapa sih?" Ivan mengelap tangannya yang basah lalu menoleh ke arah ponselnya yang menyala


"Andre? Kenapa?" tanyanya begitu panggilannya tersambung


"Temenin Gue bawa mama ke rumah sakit, kondisi mama makin buruk. Pucat banget Van, bibirnya biru. Gue takut mama kenapa-napa!"


"Wait, emang tante Wulan kenapa?"

__ADS_1


"Nanti Gue ceritain. Tolong Lo kesini sekarang. Gue nggak bisa sabar nunggu dokter Richard. Gue khawatir Van!"


"Oke oke. Gue otw!"


Ivan mematikan ponselnya. Lalu mengantonginya dengan buru-buru. Setengah berlari mengambil kunci mobil yang tergantung di belakang pintu kamarnya. Jaket jeans kesayangannya kini sudah melekat di badannya. URGENT! Pikirnya. Tidak mungkin Andre sepanik itu jika tidak terjadi sesuatu pada tante Wulan. Mengingat rasa sayang Andre pada mamanya melebihi apapun.


Ivan melaju kencang di jalanan yang lengang. Tak lupa sesekali membunyikan klakson kalau-kalau ada kendaraan lain di persimpangan. Untungnya jarak rumah mereka tidak begitu jauh. 10 menit kemudian. Jeep merah itu sudah terparkir di depan pagar besi Keluarga Wijaya.


Tampak Andre yang sudah gusar di depan sana. Mondar mandir layaknya orang kebingungan.


"Dimana tante Wulan?" tanya Ivan


"Ada di dalam. Sedang diperiksa oleh dokter Richard." balasnya lirih


"Dimana Andreas?"


Andre mengangkat bahunya. Kakak perawatnya itu justru tidak muncul setelah insidennya bersama Nathan. Ivan mengamati belakang kepala Andre. Tampak warna kemerahan mengotori kaos biru yang dia kenakan.


"Ndre." Ivan menarik baju sahabatnya


"Apa ini?" Ivan memegang cairan kental berwarna merah itu dan menciumnya.


"Darah!" ujar Ivan


Andre memegang kepala belakangnya. Benar saja. Kepalanya terluka. Memang sempat membentur lantai kolam renang sedikit saat dia terjun bebas tadi. Namun Andre memilih mengabaikannya. Keselamatan Wulan jauh lebih penting dari hidupnya sekalipun.


"Nathan William. Dia yang cari gara-gara sama Gue!"


Ivan mengernyit, bagaimana bisa sahabatnya berbalik memusuhi Andre sekarang.


"Gue benci cara Nathan jebak Agatha. Gue benci karena dia udah berani ngrendahin Agatha. Gue nggak bisa terima Van! Gue bongkar bisnisnya ke polisi dan dia marah, ngelabrak Gue malam ini."


Ivan terdiam, kenapa Andre merasa sekesal ini. Mengingat sikapnya yang tidak pernah peduli pada wanita.


"Gara-gara dia, mama jadi seperti ini!" geram Andre


"Agatha Catalina, dia yang merusak pertemanan kita Ndre." pancing Ivan ingin mengetahui respon Andre


"Dia tidak melakukan apapun Van! Tapi Nathan dan tiga cewek br*ngsek itu terus mengusiknya. Gue lakuin semua ini demi dia." Andre berkata dengan penuh penekanan


"Ndre, lupain Agatha. Gue nggak mau dia bernasib sama kayak Chintya, gue juga nggak akan biarin dia mengalami apa yang semua cewek-cewek itu rasain. Lepasin dia Ndre!" ujar Ivan


Pandangan Andre menajam. Menatap pria di hadapannya itu sengan kedua tangan mengepal.


"Kenapa Lo peduli sama dia Van? Lo suka?" tanya Andre lebih seperti sebuah pernyataan


"Lo udah lihat sendiri. Gimana hubungan Gue dan dia berjalan. Lo bahkan udah dengar dengan telinga Lo sendiri di kantin kampus!" balas Ivan seolah menantang Andre


Andre terdiam. Mengingat moment saat Agatha dan Ivan begitu dekat membicarakan orang yang menarik bagi Agatha. Kini Andre mengerti sesuatu. Ivan menyadari keberadaannya di kantin kampus.

__ADS_1


"Apa hubungan Lo sama dia?" tanya Andre


"Kita saling menyukai. Meski belum resmi berpacaran."


Dada Andre bergemuruh, ingin rasanya menerjang tubuh Ivan dan meluapkan segala emosinya. Kaki Andre sudah bersiap mendekat.


"Sudah Ndre! Sebelumnya, Gue biarin Lo lakuin apapun semaumu! Tapi untuk Agatha, sorry Gue nggak akan biarin Lo sakiti dia lagi."


"Lo mau apa hah?" geram Andre mencengkeram kemeja Ivan


Terdengar pintu terbuka. Bersamaan dengan teriakan Richard yang berlari ke halaman.


"Andre, bawa ibumu ke rumah sakit. Dia terkena serangan jantung. Kondisinya melemah."


Cengkeraman itu terlepas begitu saja. Andre berlari masuk ke dalam diikuti oleh Ivan. Andre sempat terhenti melihat Andreas yang mematung di dekat tangga. Seolah tak ada empati atau rasa kasihan pada sang mama.


"Kak.." panggil Ivan


"Ivan tolong Gue, cepat!" teriakan Andre terdengar


Dengan sigap Ivan membantu mengangkat Wulan dan membawanya ke mobil. Andre masuk lebih dulu dan menjadikan pahanya untuk sandaran kepala Wulan.


"Biar Gue yang nyetir Ndre. Lo udah kasih tahu Om Andrian?" tanya Ivan mengambil alih kemudi


Diam. Andre tak menanggapi apapun.


"Sudah, Pak Andrian sedang menuju ke sini. Ayo. Kita harus cepat." tukas dokter Richard yang ikut masuk ke dalam mobil.


...****************...


Hari ketiga di minggu ketiga. Agatha datang lebih awal disaat kondisi kampus masih sepi. Sambil membawa dua lunch box di tangannya. Kakinya melangkah lebih dulu ke ruang kelas Andre. Berharap memberinya kejutan, sebagai pengganti makan siang sederhana yang kemarin. Kini Agatha benar-benar meminta Kristin untuk memasak yang special. Sehingga dia tidak lagi merasa malu memberikannya.


Ada beberapa orang yang sudah mengisi kelas Andre. Salah satunya pria culun itu. Agatha menarik napas dalam sebelum melongokkan kepalanya.


"Pacarnya Andre tuh!" seloroh Dimas, pria gendut yang duduk di paling depan.


Gegas Boy si pria culun menghampiri.


"Maaf, Andrenya nggak masuk. Dia ijin beberapa hari. Ada urusan penting katanya."


Agatha mengernyit. Urusan apa?


"Ini." Boy menunjukkan pesan singkat Andre di grup kelasnya. Surat ijinnya akan dikirimkan menyusul.


"Padahal aku udah bawain ini." gumam Agatha tampak sedih


"Kalau Andre sudah masuk, aku kabari ya!" ujar Boy


Agatha tersenyum tipis. Kembali dia membawa dua kotak bekal itu ke lantai 1. Langkahnya gontai . Gagal sudah memberikan ucapan terima kasih, untuk kesempatan maaf yang Andre berikan. Bibir tipisnya mengerucut. Sambil sesekali menendang kerikil kecil yang menghalangi jalannya. Tiba-tiba TIIIIIIIN..

__ADS_1


__ADS_2