Don'T Tell Me About Love

Don'T Tell Me About Love
BAB XXIX Semakin Benci


__ADS_3

"Agatha." teriak Andre berlari ke arah Agatha yang jatuh di pelukan Ivan


"Andre, jangan! Si cupu itu bukan urusan kamu!" Audrey memegang tangannya


Andre terdiam, namun pandangannya berubah tajam. Kini Andre menoleh menatap ke arah Audrey. Dengan kasar, dihempaskannya tangan Audrey hingga mundur beberapa langkah.


"Jangan pernah sentuh Gue seujung kuku pun." Andre berbicara penuh penekanan


Audrey tercengang. Andre yang dia kenal telah kembali ke karakternya yang dulu.


"Gue jijik sama Lo. Gue juga malu pernah deket sama Lo."


Beberapa mahasiswa tampak berbisik, mengenal siapa Andre dan posisinya. Mereka bahkan tidak berani berkomentar.


"Ndre, kita ini pacaran. Masak kamu lebih milih si cupu yang kelakuannya nggak jelas itu, daripada pacar kamu sendiri?" Audrey mencoba menciptakan drama baru


Andre menyeringai. Berjalan mendekati Audrey.


"Audrey, dengar baik-baik. Jangan kira, gue tertarik sama Lo. Cuma karena Gue pernah dekat, bukan berarti Gue suka sama Lo. Cewek kayak Lo gampang didapetin. Apa menariknya?"


"Dan kalau Lo nggak bisa jadi orang baik. Setidaknya jangan munafik, dan melemparkan keburukan Lo ke orang lain. Karena itu bikin Gue makin eneg sama Lo!"


"Satu lagi, ini peringatan terakhir buat Lo. Kalau Lo berani ganggu dia lagi, Gue akan buat Lo di DO dari kampus ini!"


Andre memberikan seringaian terakhirnya sebelum memecah kerumunan dan menghampiri Agatha yang terbaring di pangkuan Ivan.


"Biar Gue bawa ke ruang kesehatan. Lo beresin barang-barangnya di kelas." ujar Andre mengangkat tubuh Agatha tanpa beban


Ivan hanya mengangguk, menjalankan perintah. Sementara Andre membawa Agatha ke ruang kesehatan untuk diperiksa atau sekedar beristirahat.


"Permisi Bu Angel, ini ada teman saya pingsan." ujar Andre


"Sini, baringkan di kasur biar saya periksa."


Angelina, begitu orang-orang memanggilnya. Seorang petugas kesehatan yang sudah bekerja di kampus selama bertahun-tahun. Perempuan berusia 35 tahunan itu mulai mengeluarkan stetoskopnya juga tensimeter untuk mengecek kondisi Agatha.


"Kok dingin sekali tangannya." heran Angel begitu kulit tangannya bersentuhan dengan lengan Agatha


Andre menempelkan tangannya di leher Agatha. Panas. Batin Andre. Tangan Andre beralih ke telapak tangan Agatha dan menggenggamnya. Benar kata Angelina, tangan gadis ini sedingin es. Andre beralih ke kedua kaki Agatha yang masih terbungkus kaos kaki. Mencoba melepaskannya dan benar, telapak kakinya juga dingin. Sepertinya gadis ini demam atau..

__ADS_1


"Panic attack?" gumam Andre


"Tekanan darahnya rendah. Suhu tubuhnya tinggi tapi temanmu menggigil." terang Angelina melepas tensimeter dari lengan Agatha


Andre melepas almamaternya untuk menutupi tubuh Agatha. Benar yang Angelina katakan, Agatha menggigil. Tampak tubuhnya gemetar dengan bibir sedikit membiru. Andre menggosok-gosokkan tangannya berharap bisa sedikit menghangatkan gadis itu.


"Sebaiknya kamu beli minuman hangat, juga kamu bisa minta air hangat ke bagian kantin untuk mengompres temanmu." saran Angelina


Tanpa diperintah dua kali, Andre bergegas keluar ruangan. Tepat di depan pintu, dia berpapasan dengan Ivan yang membawa dua ransel besar di punggungnya.


"Mau kemana Ndre?" tanya Ivan melihat Andre keluar dengan terburu-buru.


"Mau beli minuman hangat. Jaga Agatha sebentar." ujar Andre menepuk pelan bahu Ivan


Ivan hanya mengangguk. Meletakkan dua benda berat itu di lantai. Pegal juga, pikirnya. Ivan mendekat ke arah Agatha yang diselimuti dengan almamater Andre. Tampak kedua matanya bergerak-gerak hendak terbuka.


"Tha, Agatha." panggil Ivan perlahan


Agatha pun kembali sadar. Pening di kepalanya belum juga menghilang. Ditambah aroma musk yang ada di almamater Andre membuatnya ingin segera bangun.


"Jangan bangun dulu. Berbaring saja!" tukas Angelina sambil memeriksa kembali kondisi Agatha


"Telat makan ya" tanya Angel sambil menempelkan ujung stetoskop ke perut Agatha


"Kedengaran ya Bu, suara itunya?" tanya Ivan dengan polos


"Iya, cacingnya lagi demo!" seloroh Angel


Sontak Ivan tertawa. Berniat menghibur Agatha dengan candaan receh seperti itu, namun wajah Agatha menegang. Memandang ke arah Ivan dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Makasih ya Van udah nolongin aku. Makasih udah belain aku." ujarnya lirih


Ivan tersenyum lalu duduk di sisi ranjang sambil terus menatapnya.


"Aku nggak tahu lagi, gimana nasibku tadi kalau nggak ada kamu. Pasti aku udah jadi bahan tertawaan sampai pulang nanti. Aku takut Van. Aku bener-bener takut." Air mata Agatha kembali menangis.


"Aku nggak pernah diperlakukan kayak gini sebelumnya. Aku cewek baik-baik. Kamu percaya kan Van sama aku?" tanya Agatha


Tangisnya terdengar pilu dengan racauan tidak jelas yang mengundang seseorang untuk mendekati pintu.

__ADS_1


"Tha, tenang ya. Semuanya udah selesai. Kamu udah aman sekarang." Ivan mengusap pelan lengan Agatha


Agatha mencoba untuk bangun. Duduk berhadapan dengan Ivan.


"Gimana bisa tenang Van? Kamu lihat kan, apa yang mereka bawa? Video aku Van? Bahkan mereka juga bisa nemuin testpackku. Mereka udah nangkap basah aku!" Agatha terisak dengan kedua tangan mencengkeram kemeja Ivan.


Kusut sudah kemeja putih kesayangannya, namun Ivan tidak keberatan. Dia malah menarik Agatha ke dalam pelukannya. Membiarkan kehangatan dan kedamaian mengalir dalam jiwanya. Begitulah yang orang-orang katakan, bahwa sebuah pelukan bisa menyembuhkan hati yang terluka. Dan setidaknya itulah yang Ivan pikirkan.


"Tha, boleh aku tanya sesuatu?" Ivan mengurai pelukannya


"Sebenarnya kamu beli testpack itu buat apa?"


Agatha terdiam. Mengusap kedua pipinya, meski air mata masih terus berjatuhan.


"Semua karena Andre Van, kamu lihat kan di rekaman itu tadi. Udah terjadi sesuatu antara aku sama dia. Lebih tepatnya, dia udah nglakuin hal yang nggak aku inginkan sama sekali Van! Kamu bisa bayangin, apa yang udah kamu jaga dengan baik harus direnggut paksa pakai cara yang nggak bermoral kayak gitu?"


"Sakit Van. Hati aku sakit."


Ivan terdiam berusaha mencerna rentetan kalimat yang Agatha ucapkan sambil tersedu


"Ditambah, aku telat datang bulan. Aku takut banget Van, aku takut kalau aku hamil. Gimana nanti sama kuliahku? Terus gimana respon papa sama mama, kalau tahu anak semata wayangnya hamil di luar nikah? Aku harus gimana Van?"


Ivan memeluk Agatha untuk kedua kalinya.


"It's okay Tha. Tenangin diri kamu dulu. Kamu, tolong jangan berpikiran negatif kayak gini. Kamu telat bukan berarti hamil kan? Juga, Andre ada di kamar itu, bukan berarti dia nglakuin sesuatu juga kan?Ivan mencoba membuka pikiran Agatha


Namun Agatha justru mendorong pelan tubuhnya dan berkata, "Jadi menurutmu, aku yang berlebihan? Aku yang salah, karena nuduh Andre kayak gitu? Apa.. Apa kamu punya bukti kalau Andre nggak nglakuin apapun?"


Ivan terdiam, pertanyaan Agatha seperti sebuah tamparan yang menyadarkannya. Bahwa tidak semudah itu menyadarkan Agatha.


"Kamu boleh bela dia Van. Karena kamu memang sahabatnya, tapi aku tidak akan tertipu untuk kedua kalinya! Aku sudah dengar sendiri pengakuannya di Colors dan itu yang ngebuat aku yakin bahwa semua yang terjadi ini, memang sudah dia rencanakan sebelumnya. Dia itu licik Van. Dia hanya bersikap baik di depan tapi..."


Kalimat Agatha terhenti


"Aku benci dia Van. Apalagi, lihat dia berdiri disana. Dia cuma diem. Dia nggak belain aku, bahkan nggak ngelak semua tuduhan itu di depan banyak orang. Seolah dengan bangga dia menunjukkan. Ini hasil perbuatanku. Busuk!"


Ivan tak bergeming. Membiarkan Agatha memaki dengan sesuka hatinya.


"Seharusnya, Gue emang nggak bantuin Lo Tha. Karena seberapa pun yang Gue lakuin ke Lo. Lo tetep ngganggep Gue yang terburuk. Sia-sia Gue udah belain Lo di depan mereka. Lo tetep nggak tahu caranya berterima kasih! Harusnya Gue sadar dari awal, Gue nggak ada benarnya di mata Lo."

__ADS_1


__ADS_2