Don'T Tell Me About Love

Don'T Tell Me About Love
BAB XXXIII


__ADS_3

"Andre.."


Bagai de javu kejadian yang sama di tempat yang sama terulang lagi. Agatha dalam posisi terjatuh di lantai berhadapan dengan Andre yang tengah berdiri menatapnya. Tatapan dingin yang meneduhkan, meski tanpa bicara seolah Agatha terhipnotis dengan kedua mata itu. Mata coklat dengan garis hidung mancung yang indah. Sibuk mengagumi ciptaan Tuhan di hadapannya, Agatha justru melupakan niat baiknya untuk minta maaf. Ia justru membiarkan Andre berjalan melewatinya tanpa sepatah kata pun.


"Maaf dan Terima kasih." gumam Agatha sepelan mungkin.


Agatha menoleh untuk memastikan apa Andre mendengar suaranya barusan. Namun melihat Andre yang masuk kelas begitu saja, sudah pasti dia tidak mendengar apapun.


"Mana bisa dia mendegarnya, aku hanya bergumam pelan."


ANDRE POV


Lagi-lagi disuguhkan pemandangan ini di hari Senin, kenapa lagi gadis bodoh ini disini. Duduk di lantai yang sama dengan Senin minggu lalu. Ku lihat dia hanya menatapku tanpa berkedip. Aku yang juga bingung dengan reaksinya memilih untuk mengabaikannya. Namun, tepat di depan pintu kelas ku dengar dia berkata "Maaf dan terima kasih."


Aku tidak bisa memastikannya, karena ku lihat punggung gadis ini tak bergerak sedikit pun. Apakah aku salah dengar? Namun rasanya tidak mungkin. Aku memilih melanjutkan langkahku, namun sesuatu di atas mejaku membuatku merasa heran. Sambil celingukan, siapa yang meletakkan kotak aneh ini disini.


"Gadis cantik itu yang menaruhnya." ujar Boy, pria culun yang duduk di depanku.


Aku menghela napas. Benar siapa lagi yang melakukan hal kekanakan seperti ini, kalau bukan gadis culun itu. Tapi untuk apa? Bukannya dia membenciku, Ivan sendiri yang bilang dia tidak mau mendengar apapun tentangku. Sekarang dia menyodorkan makan siang gratis padaku. Ababil. Pikirku.


Sejujurnya, aku tidak membencinya. Justru merasa kasihan. Apalagi, jika mengingat masa iti. Saat aku menabrak mantan kekasihnya. Kembali aku teringat tujuan awalku mendekatinya. Aku ingin menyembuhkan lukanya, membuatnya melupakan rasa sakit kehilangan itu. Agar dia tidak menjadi seperti diriku.


Aku membuka kotak berwarna peach itu dan melihat mie instan dengan telur goreng di dalamnya. Ingin tertawa melihat kemampuan memasak gadis ini.


"Bekal anak SD."


Aku tetap menghargai niat baiknya, ku makan suap demi suap hingga habis tak bersisa. Karena memang sedari semalam aku belum makan sesuap nasi pun. Aku menutupnya kembali. Lalu menemukan secarik kertas di bawahnya.


MAAF NDRE DAN TERIMA KASIH


Aku tersenyum. Konyol sekali gadis ini. Aku pun berinisiatif mengembalikan tempat makannya nanti setelah pelajaran Pak Alex berakhir. Entah kenapa secercah harapanku timbul kembali. Pandanganku pada Agatha pun berubah. Ku rasa aku bisa mencoba masuk ke dalam kehidupannya. Setidaknya sebagai temannya. Sekarang aku ingin posisi yang sama dengan Ivan. Aku menggelengkan kepalaku sambil mengulum senyum yang tak kunjung menghilang dari bibirku.


Tidak semudah itu bagiku memaafkan seseorang, tapi khusus untuk gadis ini berbeda. Langkahku terasa ringan menuruni anak tangga dua sampai tiga tingkat sekaligus. Aku berniat menghampirinya di kelas.


Tunggu! Dia sudah memberiku sesuatu, bukankah baiknya aku juga membawakan sesuatu untuknya. Kini aku berbalik menuju kantin untuk membeli beberapa camilan. Namun..


Di luar dugaanku, justru kali ini aku melihat gadis itu. Cemberut di salah satu meja sambil mengaduk aduk makanannya. Tampak Ivan ada di sisinya sepertinya gadis ini sedang merajuk. Perlahan ku dekati mereka. Tanpa suara aku duduk di kursi lain yang tidak terlalu jauh.


"Sudah ku duga. Tidak mudah membuatnya memaafkanku. Dia saja tidak mau menolongku yang terduduk di lantai. Dia pergi begitu saja dengan sikap dinginnya!" omel Agatha


Aku menajamkan pendengaranku. Memang berniat menguping pembicaraan mereka.


"Baru sekali mencoba. Mungkin kamu harus lebih keras membujuknya." ujar Ivan yang ku lihat semakin menempel dengan Agatha


Gadis itu menoleh kesal.


"Aku sudah memperlakukannya dengan buruk Van. Kalau pun aku jadi dia, aku pasti kesal dan akan memaki tidak karuan. Tapi, dia tetap diam. Tidak mengatakan apapun. Justru itulah yang membuatku semakin merasa bersalah."


Aku tersenyum. Baguslah jika gadis itu memahami posisiku.

__ADS_1


"Lama-lama Andre pasti akan mengerti juga. Tenanglah. Kita hanya butuh waktu."


Jengkel juga rasanya melihat mereka berdua begitu berdekatan. Kaki Ivan menapak pada pantalan kaki di kursi Agatha. Sementara tubuhnya menyondong ke samping. Jika ku amati lebih detail jarak mereka bahkan tidak lebih dari 10 cm. Ingin rasanya ku gebrak meja mereka dan melabrak tapi untuk apa.


"Tha boleh aku tanya sesuatu?"


"Apa?"


"Setelah meninggalnya Ricky, apa ada cowok lain yang kamu sukai?" tanya Ivan


Kali ini aku menolehkan pandanganku. Berusaha fokus pada ekspresi Agatha yang terlihat kebingungan.


"Maksudku Tha. Sudah lama semenjak kecelakaan itu, kamu banyak berubah. Apa mungkin ada seseorang yang memotivasimu menjadi seperti sekarang?"


"Ada sih. Dia pria yang unik. Dia hmm susah dijelaskan dengan kata-kata."


"Apa dia masih kuliah? Atau sudah bekerja?"


"Dia mahasiswa sama sepertiku."


"Okey.. Apa dia kuliah disini juga?"


Ku lihat kepala kecil itu mengangguk. Rasa penasaranku semakin besar. Siapa yang berhasil menarik hati gadis ini?


"Apa itu aku?"


Ku lihat gadis ini tersenyum. Manis sekali. Kedua matanya menyipit membentuk bulan sabit terbalik.


Seketika tatapanku berubah. Menajam kembali dengan jari-jari mengepal. Tanpa sadar meremas kotak makan itu dengan segala kekesalan yang ada. Aku marah. Benar dugaanku selama ini, itulah alasannya selalu mencurigaiku, menilai rendah diriku, bahkan menuduhku yang bukan-bukan. Ternyata karena dia menyukai Ivan. Tampaknya akan sulit bagiku untuk mendekat. Bahkan meski hanya sebagai teman sekalipun. Karena aku paham betul watak sahabatku. Dia akan seposesif itu jika sudah menyukai seseorang. Apalagi Agatha telah menunjukkan ketertarikan yang sama.


Malas mendengar ocehan dan candaan dua makhluk di hadapanku ini, aku memilih pergi. Ku urungkan niatku mengembalikan kotak bekal ini. Mungkin lain waktu atau ku buang saja ke tempat sampah.


POV END


"Benarkah itu aku?" tanya Ivan memastikan


Dengan keras Agatha menjitak kepala Ivan.


"Tentu saja tidak! Aku hanya bercanda." tukas Agatha dengan gelak tawanya


Sementara lawan bicaranya hanya merengut kesal.


"Sudahlah nanti aku pikirkan lagi cara untuk meminta maaf pada temanmu itu. Sekarang ayo kita kembali ke kelas. Atau Pak Bobby akan menambah berat tugasku lagi nanti." Agatha beranjak dari tempat duduknya


"Andai Lo ngerti Tha." Ivan menghela napasnya lalu berdiri untuk mengikuti Agatha pergi.


...****************...


Agatha Catharina, nama yang cantik untuk gadis mungil yang cantik juga. Pagi itu Agatha sudah bersiap melancarkan rencana barunya. Dengan yakin dia kembali ke kelas Andre, saat ini sudah lewat jam 8. Sudah pasti Andre sudah di kelasnya.

__ADS_1


Namun begitu tiba di atas, tiba-tiba nyalinya ciut. Melihat pintu putih yang terbuka itu, keraguan kembali merayapinya.


"Duh Tha, kemarin kan udah belajar ngomong banyak! Masak sampe sini nggak jadi lagi sih!" Agatha bermonolog dengan dirinya sendiri.


MALAM SEBELUMNYA


"Key, kayaknya Andre nggak mau maafin deh. Tadi pas ketemu di kelasnya, dia nglewatin aku gitu aja. Nggak tahu deh masakan specialku dia makan atau nggak. Yang jelas kotak bekalnya nggak balik sampe sekarang." keluh Agatha di telepon


"Emang masakin apaan sih Tha?"


"Ya menu sederhana sih, mie goreng sama telur ceplok!"


"Apanya yang special Tha? Pantes dia tambah marah, dia pasti mikir kamu ngerjain dia dengan ngasih makanan gituan." Kayla cekikikan


"Duh, Key setidaknya kan aku udah berusaha. Lagian sejak kapan aku bisa masak."


"Makanya jangan gitu cara minta maafnya. Nggak sopan Tha."


"Terus gimana dong?"


"Kamu datangi kelasnya, terus bilang ke Kak Andre. Bisa keluar sebentar kak. Ada yang mau aku omongin. Kamu bilang pelan-pelan. Pasti dia mau dengerin kok."


"Kalau dianya nolak?"


"Kamu bilang lagi. Ya udah kak nanti atau besok kita ketemu di parkiran kampus ya, atau dimana gitu sepulang kuliah."


"Ntar kalau dia mikirnya macam-macam gimana? Ntar dia Ge-er. Dikiranya mau nembak dia."


Tawa Kayla semakin terdengar lantang. Bisa-bisanya terlintas hal konyol dari otak cerdas sahabatnya.


"Udah coba aja dulu Tha. Jangan nethink dulu. Kabari besok berhasil nggaknya!"


"Okelah Key." balas Agatha pasrah


KEMBALI KE HARI SELASA


Agatha masih berperang dengan isi pikirannya antara iya dan tidak. Namun sudah kepalang tanggung, jika tidak dia selesaikan maka pikirannya tidak akan tenang.


Agatha melangkah perlahan menuju ruangan Andre. Mematung di depan pintu, ternyata Pak dosen sudah berada di dalam menyampaikan materi. Sontak semua pandangan mahasiswa mengarah padanya. Blush. Pipi chubbyna terangkat membentuk garis senyum yang sedikit dipaksakan.


"Bodoh banget sih Tha!" umpatnya dalam hati.


"Ada perlu apa?" tanya Pak Alex menghampiri Agatha yang masih terpaku


"Eee itu Pak. Saya.. Saya.." Pandangannya melirik ke arah Andre yang juga menatapnya


"Itu. Itu." Dengan bodohnya Agatha menunjuk ke arah Andre tanpa menyebutkan namanya.


"Andre, aku tunggu di parkiran ya pulang kuliah nanti." Teriak Agatha yang disambut tawa mahasiswa di sekitarnya

__ADS_1


"Sudah Pak itu saja. Maaf mengganggu waktunya." Agatha membungkukkan badannya 90°. Merasa malu luar biasa setelah apa yang dia lakukan. Tanpa sepatah kata pun, dia berlari menjauh.


"Gadis aneh."


__ADS_2