
Agatha merutuki kebodohannya. Sesekali dia tampak mengomel di perjalanan kembali ke kelasnya. Sambil menepuk jidatnya berkali-kali. Gadis itu merasa sudah kehilangan muka. Pertama, karena insiden Audrey membullynya. Sekarang karena hal ini. Ingin rasanya menenggelamkan diri ke Palung Mariana saking malunya.
Agatha menghentakkan kakinya kesal. Gerakan lucu itu mengundang tawa seseorang. Dengan mengendap-endap berusaha mengejutkannya. Selangkah dua langkah ti..
Belum sampai hitungan ketiga. Agatha sudah menoleh. Jidat lebar Ivan pun menjadi sasaran jitakannya.
"Jangan menggangguku Van! Aku sedang marah." Ujar Agatha berbalik meninggalkan Ivan tanpa alasan.
Ivan mengusap-usap jidatnya sambil mengaduh. Selalu terjadi, apapun yang Agatha rasakan dia lah yang paling sering menerima dampaknya. Untung saja, Ivan manusia penyabar. Jika tidak..
Agatha termenung di salah satu bangku taman. Ingin menangis namun jika ada yang melihatnya. Dia akan semakin malu. Kakinya masih menghentak-hentak ke tanah. Dengan wajah kesalnya Agatha berniat mengadu pada sahabatnya yang jauh disana.
Mencoba beberapa kali panggilan, namun sepertinya Kayla dalam mode tidak bisa diganggu. Sementara Agatha hampir gila dibuatnya, menghadapi ulahnya sendiri.
"Bisa-bisanya sih! Kenapa juga aku nggak ngintip dulu. Pasti setelah ini orang-orang akan semakin mengganggapku aneh. Aaaaah." teriak Agatha frustasi
Andre tersenyum dari kejauhan. Mengamati sosok gadis yang beberapa bulan ini mengganggu pikirannya.
"Baiklah, sekarang kita lihat. Apa yang mau Lo katakan?" Gumam Andre melangkahkan kakinya mendekat.
Dengan sengaja Andre meminta izin ke toilet pada Pak Alex. Meski tidak dipungkiri, setelah ini pasti akan tersebar gosip baru tentang dirinya dan Agatha. Namun, biarlah toh gosip ada batas waktunya. Jika sudah ada yang baru, yang lama akan terlupakan.
Andre duduk di sebelah Agatha tanpa suara. Masih mendengarkan ocehan Agatha yang tengah memarahi dirinya sendiri. Bertanya lalu dijawab sendiri. Sepertinya gadis ini sedikit gila. Tapi disitulah letak kelucuannya. Andre sama sekali tak berkeberatan mendengar obrolan Agatha pada bayangannya itu. Sesekali tersenyum sambil mencuri pandang ke arah gadis di sebelahnya.
Agatha yang lelah mengomel pun menghembuskan napasnya kasar lalu tanpa sadar menoleh ke kanan.
"Aaaaaaa." pekiknya dengan suara keras.
Andre mengernyit. Ada apa lagi sekarang?
"An.. Andre kok.. Kok kamu disini?" tanya Agatha gelagapan
Andre tak menanggapi. Hanya menatap dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Sejak kapan?"
"Sejak Lo bicara entah dengan siapa lalu memukul kepala berkali-kali sambil meghentak-hentakan kaki ke tanah. Dan Gue lihat semuanya!" balasnya santai
"Aaaaaaaa." Kembali Agatha berteriak. Kali ini suaranya melengking seperti suara kunti yang sedang tertawa.
Andre menggelengkan kepalanya. Tingkat gila gadis di sebelahnya sudah melampaui batas wajar sepertinya.
"Okey, karena kamu sudah disini. Biarkan aku membicarakan hal penting ini."
Andre menyimak kalimat yang akan keluar dari mulut Agatha.
"Andre, aku.. Benar-benar minta maaf. Aku sudah memarahimu hari itu, mengolokkan dengan kasar dan bahkan aku menuduhmu untuk hal yang tidak kamu lakukan."
"Aku hanya.. Entahlah.. Aku terlalu bodoh."
__ADS_1
"Memang." ujar Andre tanpa menoleh
"Kamu boleh marah padaku dan memakiku seperti kemarin jika kamu mau. Aku akan menerimanya. Asal jangan mendiamkanku."
"Kenapa?"
"Karena itu lebih menyakitkan. Aku seperti tidak terlihat olehmu dan tidak dianggap ada. Hah!"
Andre tersenyum miring. Jika dia mengatakan hal-hal buruk yang jelas gadis ini akan menangis dan menyalahkan dirinya lagi. Andre hanya diam mendengarkan kelanjutan kalimat yang sudah Agatha persiapkan matang-matang.
"Maukah kamu memaafkanku? Kita berdamai!" tangan kanan Agatha spontan terulur.
Andre menatap uluran tangan itu tanpa membalasnya. Ingin tahu respon Agatha jika dia tidak mau menjabat tangannya.
"Ayolah.. Jangan membuatku kembali merasa bersalah." gumam Agatha dengan raut kecewa
"Kenapa Lo merasa bersalah?"
"Karena aku terlalu dangkal menilai seseorang dan juga.. Ceroboh. Harusnya aku bertanya dulu pada Ivan atau menyelidiki semuanya sebelum menyimpulkan. Nyatanya aku hanya mengoceh tanpa dasar." Agatha menunduk. Menarik kembali tangannya lalu menghembuskan napas berat.
"Sebenarnya, jika kamu tidak datang hari itu, aku mungkin sudah.. Hah nasibku buruk sekali." keluh Agatha. Kakinya bergerak gelisah di bawah sana.
Andre tersenyum. Benar adanya jika gadis ini memang selugu itu.
"Gue maafin." Kini Andre yang mengulurkan tangannya.
Agatha mendongak. Menatap ke manik mata cokelat itu dengan berkaca-kaca.
Namun dengan cepat, Agatha meraihnya dan menempelkan ujung kepalanya di punggung tangan Andre.
"Maafkan aku Ndre. Aku sungguh-sungguh minta maaf. Dan terima kasih banyak."
Andre tersenyum. Hatinya menghangat. Raut bahagia tersirat jelas di wajah Agatha. Tak henti-hentinya senyum indahnya ditampilkan. Bersamaan dengan dua lesung pipinya itu.
"Jadi kamu nggak marah lagi kan?"
Andre menggeleng.
"Janji." Kelingking kecil itu terangkat. Andre pun mengikuti gerakan yang sama.
"Huh. Selesai sudah. Sekarang aku sudah bisa tenang." Agatha menghela napas lega.
"Aku akan kembali ke kelas. Aku sudah ketinggalan 20 menit. Pasti Bu Fitri akan memberikan tugas tambahan padaku." pamit Agatha sambil membungkukkan badannya
Andre menatap Agatha yang semakin menjauh. "Maafin Gue juga Tha. Sampai sekarang Gue masih pengecut yang belum berani mengakui kalau Guelah yang udah nabrak Lo dan pacar Lo dulu."
Dua butir bening bersiap menetes dari ujung matanya. Gegas Andre mengusapnya dan berjalan kembali ke kelasnya.
...****************...
__ADS_1
Andre Alvrido, di kediamannya. Kini dia tengah menyulut rokok di tangannya. Menghembuskan asapnya secara perlahan sambil menatap langit yang cerah. Rooftop adalah tempat ternyamannya saat sedang bersantai. Seperti saat ini, dia biarkan pikirannya berkelana menikmati keindahan malam. Kilas singkat bayangan pertemuannya dengan Audrey beberapa waktu lalu kembali mengisi ingatannya. Andre tersenyum miring merasa menang telah berhasil mengusir Audrey and the genk secara halus.
FLASHBACK ON
Andre yang tengah berjalan menuju kantin, tengah dihadang oleh seorang wanita berambut pirang itu dengan air mata yang berlinang.
"Andre. Tolong jangan seperti ini. Jangan memperlakukanku seperti sampah di hadapan mereka. Jangan menolakku secara terang-terangan. Apa kamu nggak mikirin perasaanku?"
Andre tersenyum miring. Tatapannya yang setajam pisau seolah bersiap menguliti Audrey yang berdiri tepat di hadapannya.
"Apa Lo nggak pernah mikirin perasaannya Agatha? Lo jebak dia, Lo fitnah dengan omong kosong Lo yang sama sekali nggak benar itu? Lo perlakukan dia kayak sampah. Gue cuma nglakuin apa yang Lo lakuin ke dia. Karena Gue tahu dia terlalu lemah buat balas kelakuan Lo!"
"Tapi Ndre. Itu semua bukan tanpa alasan. Kamu tahu kan perasaanku? Aku suka sama kamu Ndre. Aku nggak mau kamu dekat-dekat sama dia. Apalagi hari itu, aku lihat kalian berdua naik ke room. Hati aku sakit Ndre!"
Andre tertawa hambar. Seolah menyepelekan wanita di hadapannya itu.
"Memangnya siapa Lo? Ada hubungan apa Lo sama Gue?"
Audrey terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa.
"Kita cuma patner semalam. Gue udah sering kayak gitu dengan cewek semacam Lo di luar sana. Tapi sama Agatha, Gue hargai dia jagain dia. Karena dia wanita baik-baik. Gue nggak ada hak buat ngrusak dia."
"Apa kamu kira aku bukan cewek baik-baik Ndre?"
Andre kembali tertawa.
"Emang ada cewek baik-baik yang nyerahin gitu aja virginitasnya ke sembarang cowok? Lo udah pernah juga sama mantan-mantan Lo."
"Tapi aku cinta sama kamu Ndre. Tolong sekali aja kamu lihat perasaan aku. Aku bakal lakuin apapun agar kamu mau kasih kesempatan itu!"
Andre terdiam sejenak. Menatap Audrey yang tengah memohon kepadanya.
"Kalau Lo sama teman-teman Lo pergi dari kampus ini. Ninggalin semuanya dan janji buat nggak gangguin Agatha lagi. Gue akan pertimbangin kasih Lo kesempatan di kemudian hari kalau kita ketemu lagi!" Senyum samar Andre suguhkan.
Audrey terdiam.
"Pergi jauh dari sini Drey. Dan jadi cewek yang lebih baik lagi. Maka nggak menutup kemungkinan Gue juga bisa suka sama Lo. Suatu hari nanti. Entah kapan."
Audrey tampak berpikir keras. Andre menyeringai, berusaha melewati Audrey dengan langkah perlahan.
"Oke Ndre. Asal aku bisa mendapat kesempatan jadi pasanganmu. Aku akan pindah dari sini. Begitu juga Catherine dan Sherly. Aku janji akan memperbaiki diri dan kembali buat kamu Ndre."
"Bagus."
FLASHBACK END
Jadi begitulah, penyebab utama pindahnya Audrey dengan terburu-buru. Andre hanya ingin melindungi Agatha. Entah karena rasa bersalah atau hal lainnya.
Andre menghisap rokoknya dalam sebelum suara berat memanggilnya dengan marah.
__ADS_1
"Apa yang udah Lo lakuin Andre?"