Don'T Tell Me About Love

Don'T Tell Me About Love
BAB XV SEBUAH INSIDEN


__ADS_3

"Lo.. Ngapain Lo disini?"


POV END


Nancy, gadis cantik itu terus merengek pada Andre yang seolah enggan berdekatan dengannya. Agatha yang tanpa sengaja melihatnya pun perlahan berjalan mendekat.



(kurang lebih Nancy seperti ini ya. Hanya pemanis saja 😁 sumber by google)


"Heh, Lo sendiri kan yang minta. Bukan kemauan Gue, terus sekarang apa? Lo minta Gue buat tanggung jawab? Lo nggak ingat, kita ini cuma patner semalam. Gak seharusnya Lo nuntut Gue kayak gini." suara Andre tak begitu jelas terdengar sehingga Agatha semakin penasaran dengan apa yang terjadi.


"Tha, ngapain sih?" tanya Ivan mengejutkan Agatha


"Ivan. Ngagetin aja!"


"Lagian ngapain sih ngendap-ngendap kayak maling! Ada yang seru ya?" terka Ivan menatap ke arah pandangan Agatha


"Nggak usah berisik, kalau kamu juga kepo ayo ikutin pelan-pelan." bisik Agatha di depan wajah Ivan


Ivan terperangah. Melihat wajah Agatha yang berjarak beberapa senti darinya membuat jantungnya berdebar-debar. Agatha menatap balik ke wajah Ivan yang terdiam tanpa berkedip memandangnya. Tiba-tiba senyum mengembang di bibir Agatha. Dengan sengaja diusapkannya tangan kanan Agatha dengan kasar di wajah Ivan.


"Mukamu kok gitu banget sih Van!" tawa Agatha menyadarkan lamunan singkat Ivan


"Yah Tha, ganggu kesenanganku aja kamu!" gerutu Ivan


"Udah ah bercandanya, fokus dulu kesitu." ajak Agatha menarik pelan tangan Ivan.


Ivan hanya tersenyum melihat tindakan yang Agatha lakukan. Mereka berhenti di balik pohon tatkala teriakan Andre terdengar.


"Lo nggak mungkin hamil! Gue ini mandul!"


Kedua mata Agatha membulat tak percaya. Hamil? Siapa?


Agatha semakin mendekat ke belakang pohon dan terkejut, melihat seorang gadis berambut panjang terus menangis di hadapan Andre.


"Tapi aku beneran hamil Ndre!" ujarnya sambil menggenggam tangan Andre


"Gue nggak percaya! Sekarang Lo ikut Gue ke rumah sakit. Kita cek kesuburan. Lo sama Gue! Termasuk mastiin apa Lo beneran hamil atau cuma pura-pura." paksa Andre menarik lengan Nancy kasar

__ADS_1


"Nggak Ndre! Aku nggak mau ke rumah sakit. Aku takut disuntik!" teriak Nancy meronta minta dilepaskan


Dengan kasar Andre menghempaskan tubuhnya. Lalu berjongkok mendekatinya.


"Kalau Lo memang hamil kenapa mesti takut ke rumah sakit? Trik apa yang mau Lo lakuin buat ngikat Gue hah!" Andre memaki Nancy yang tampak ketakutan


"Aku nggak bohong Ndre. Oke kita ke rumah sakit. Tapi jangan hari ini. Lusa kita ke rumah sakit tempat tanteku kerja!" ujar Nancy


Andre menyeringai. "Satu kali kesempatan, kalau Lo nggak mau hari ini. Berarti nggak sama sekali."


Andre berjalan menjauh, berniat masuk kembali ke dalam mobilnya.


"Ndre tunggu. Jangan tinggalin aku Ndre. Aku sayang sama kamu Ndre." ujar Nancy kembali memeluk Andre dari belakang.


Tanpa sadar air mata Agatha menetes. Entah kenapa hatinya terasa sakit. Agatha mundur perlahan menjauhi tempat persembunyiannya. Lalu pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun.


"Loh Tha mau kemana?" tanya Ivan berlari mengejar Agatha


Andre menoleh ke arah suara Ivan dan melihat Agatha terus berjalan sambil sesekali mengusap wajahnya. Ivan mengejar Agatha. Entah apa yang terjadi, Andre tidak tahu. Tapi kemudian dia menunduk, melihat lingkaran tangan di perutnya. Menyadari sesuatu mungkinkah, Agatha seperti ini karena melihatnya?


Andre berbalik dan mendorong kembali tubuh Nancy.


Sementara Ivan masih terus berlari mengimbangi langkah cepat Agatha yang semakin jauh.


"Tha! Kamu kenapa sih!" Ivan terpaksa menarik kasar Agatha hingga membuatnya menoleh.


Kedua matanya memerah, pipinya basah oleh air mata. Agatha, gadis itu menangis tanpa suara selama berjalan tadi. Tunggu, kenapa?


Ivan melepaskan cengkeraman di tangannya. Dan menatap sendu gadis di hadapannya.


"Tha, sorry. Kamu kenapa?" Ivan memelankan suaranya.


Agatha mengusap kasar wajahnya, lalu kembali menatap tegas ke arah Ivan. Kedua matanya masih berair hendak menangis kembali namun seolah Agatha menahannya.


"Kamu kenapa Tha? Kenapa tiba-tiba lari terus nangis kayak gini? Kamu nggak lagi kena sawan kan? Apa kamu lihat setan?" Ivan masih mencerca dengan pertanyaan bodohnya


Agatha menatap datar ke arah Ivan, tatapannya begitu menyedihkan seolah kekecewaan dan penderitaan baru saja dia alami.


"Apa pendapatmu, jika teman wanitamu hamil dan prianya tidak mau bertanggung jawab?" tanya Agatha tanpa ekspresi

__ADS_1


Kali ini Ivan yang terdiam. Menatap Agatha penuh tanda tanya.


"Teman wanitaku, itu cuma kamu Tha? Kamu.. Kamu hamil?" tanya Ivan membelalakkan matanya


Agatha menutup kedua matanya. Tampaknya dia sudah salah bicara. Dia pun berbalik hendak meninggalkan Ivan. Lelah sudah harinya menghadapi berbagai situasi yang di luar kendali.


"Siapapun itu yang berbuat harus berani bertanggung jawab. Entah sengaja atau tidak, kehamilan tidak bisa disembunyikan." ujar Ivan menghentikan langkah Agatha


"Beda halnya, jika pihak pria sama sekali tidak menginginkan wanitanya. Dia akan mengelak dan memilih untuk pergi." lanjut Ivan berjalan mendekati Agatha


"Jika pria itu tidak pernah menginginkan wanitanya, kenapa harus melakukan hal itu Van? Apa wanita hanya sebuah alat untuk memuaskan dirinya?" tanya Agatha tanpa menoleh.


"Karena.." kalimat Ivan terhenti


"Hypers*ksual?" tanya Agatha


Ivan menundukkan kepalanya.


"Apa semua laki-laki seperti itu?" tanya Agatha lagi


Ivan menggeleng. "Aku tidak tahu siapa yang kamu maksud Tha. Tapi, hal seperti itu memang ada. Hanya saja tergantung dengan siapa mereka melakukan itu."


Kini Agatha yang kembali menunduk. Diusapnya perlahan sisa air matanya yang jatuh. Seharusnya dia tidak menangis, toh dia bukan siapa-siapa bagi Andre dan tidak menyukai Andre. Hanya kebetulan bertemu beberapa kali, tidak mungkin perasaannya pada Ricky luntur secepat itu dan beralih menyukai Andre. Agatha menggelengkan kepalanya, berusaha menepis pikiran aneh yang tiba-tiba datang.


"Tha, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Ivan dengan wajah serius


Agatha menoleh ke arahnya, dan Ivan semakin mendekat, sedikit membungkukkan badan hingga pandangan mereka sejajar.


"Apa benar kamu hamil? Dan cowokmu nggak mau tanggung jawab?" tanya Ivan dengan polosnya


Polos! Muka tak berdosa itu membuat Agatha geram hingga ingin memukulnya dengan keras. Gigi Agatha bergemulutuk, apa iya dia terlihat seperti itu di mata Ivan. Agatha menatap tajam ke arah Ivan. Mendekatkan wajahnya ke telinga Ivan dan berbisik.


"Pakai otakmu sedikit Van. Bagaimana bisa aku hamil, jika pacarku saja sudah meninggal? Dan jika memang aku hamil anaknya, bukankah seharusnya perutku sudah sebesar ini?" ujar Agatha sambil memperagakan perut ibu hamil dengan tangannya.


Ivan hanya nyengir kuda dan menggaruk kepalanya perlahan.


"Maksudku jika memang kamu... Itu.. Aku mau menjadi ayah dari anakmu ya meskipun kamu belum menyukaiku. Tapi demi teman sebaik dirimu. Apapun akan ku lakukan." ujar Ivan dengan tatapan serius.


Sayangnya pose mereka tidak terlihat demikian. Tampak dari belakang, wajah mereka saling menempel seperti orang yang sedang berciuman. Hingga tangan seseorang mencengkeram kemudi dengan marah. Tatapan tajamnya mengarah pada mereka berdua yang masih saling berdekatan.

__ADS_1


"Sepertinya Gue udah salah ngambil jalur kesini! Kenapa Gue mesti peduli."


__ADS_2