
"Setidaknya rekaman singkat ini bisa berguna!"
Audrey dan Catherine keluar dari tempat persembunyian, mengambil ponsel yang mereka pasang untuk menjebak Agatha.
"Ya meskipun nggak sesuai harapan sih tapi setidaknya bisa kita jadiin senjata buat ngancam si cupu itu!" ujar Audrey melihat moment singkat saar Andre hendak mencium Agatha tadi
"Lo nggak cemburu Drey?" tanya Catherine dengan polosnya.
"Jelaslah! Si cupu nggak pantes bersaing sama Gue. Akhir minggu nanti kita buat dia menyesali perbuatannya!" ujar Audrey dengan wajah liciknya
...****************...
Ivan berhenti tepat di belakang jeepnya yang terparkir. Tanpa sepatah kata pun dia memilih untuk keluar lebih dulu, setelah menyadari atmosfer di mobil itu tidak mengenakkan. Agatha masih terdiam, tidak lagi menangis hanya menatap punggung Andre yang tidak meresponnya sama sekali.
"Maaf. Maafin aku Ndre, aku nggak harusnya nyerang kamu sebelum bertanya!" Air mata Agatha kembali menetes. Mengucapkan segudang penyesalan yang entah untuk apa. Meski harusnya dia kecewa dengan sikap Andre yang berbuat semaunya, tapi Agatha menyadari 1 hal. Sebenarnya, Andre punya maksud yang baik.
Andre tak bergeming, sampai Agatha membuka pintu samping untuk keluar.
"Lo nggak akan ngerti Tha! Karena Lo cuma punya mulut tapi nggak punya telinga." gumam Andre yang tanpa sadar telah direkam dengan baik oleh Agatha.
Agatha lantas menutup pintu mobil dengan pelan. Andre pun beranjak pergi. Meninggalkan dua orang yang masih dalam kebingungan.
"Van kamu tahu yang sebenarnya terjadi?" tanya Agatha
"Lain kali aja aku cerita. Ini udah hampir jam 5, takut buat tante Kristin khawatir." ujar Ivan menarik pelan tangan Agatha dan membawanya masuk ke dalam mobil.
AGATHA POV
__ADS_1
Diam, tubuhku yang lelah tidak tahu lagi caranya bereaksi. Menangis pun ku rasa percuma. Apa yang sudah diambil dariku tidak akan pernah dikembalikan. Sama seperti saat kehilangan Ricky dahulu. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya Tuhan rencanakan untuk hidupku. Terlalu pelik menghadapi masalah di luar kemampuanku ini.
Aku menatap ke arah jalanan yang mulai padat merayap. Jam pulang kerja bersamaan dengan siswa siswi SMA yang menghambur keluar sekolah. Aku merindukan masa itu, ketika Ricky menggenggam tanganku dengan eratnya dan tidak pernah meninggalkanku. Setidaknya Ricky pria baik, tidak sedikit pun berniat menyakitiku. Tiba-tiba saja aku merindukannya. Kelembutannya saat memperlakukanku, cara dia mengajari menjadi dewasa tanpa siklus yang menyakitkan. Miris.. Bahkan sampai detik ini pun tidak ada yang bisa mengalihkan posisinya di hatiku.
Terlebih saat aku lihat Andre memakiku dengan bahasa kasarnya. Aku tersadar, dia tidak layak untuk ku cintai. Aku.. Mencintainya? Sejak Kapan dan karena apa? Tidak! Mungkin aku sebatas mengagumi dan iba dengan masa lalunya. Singkatnya yang terjadi diantara kami hanyalah kesalahan penafsiran rasa kagum, suka, sayang maupun cinta. Ya, begitulah. Nothing special between us.
Aku mengingat kembali setiap moment singkat saat aku mendengar seluruh keluh kesahnya, kesakitannya dan bagaimana dia berusaha melindungiku. Meski kini yang ku tahu tujuannya hanya nafsu belaka. Justru yang ku takutkan adalah bagaimana jika aku hamil nanti? Apa dia kekeh menyatakan kemandulannya dan menyuruhku membuang bayi ini. Aku tidak sanggup diperlakukan sama dengan gadis cantik itu minggu lalu. Apa yang nanti akan ku katakan pada orang tuaku? Haruskah aku kabur dan membohongi mereka. Rumit. Segala pemikiran ini mengganggu moodku. Seketika air mataku luruh. Aku sudah tidak punya tempat bersandar lagi. Ricky, aku ingin menemuinya. Setidaknya aku bisa bercerita dengan tenang.
"Kita ke makam Van." pintaku
Ivan mengernyitkan dahinya, "Makam?" tanyanya memastikan kalau dia tidak salah dengar
Aku mengangguk.
"Ini sudah hampir petang Tha? Kamu nggak takut?" Ku lihat dia bergidik
"Oke, kamu masuk sendiri ya. Aku tunggu di mobil." ucap Ivan begitu sampai di gang kecil yang mengarah ke tempat Ricky disemayamkan
Meski ku akui Ivan cukup penakut, namun kehadirannya juga penting bagiku sekarang. Setidaknya dia tidak seperti Andre. Aku melangkah pelan menuju gerbang hijau yang sudah tertutup. Terkunci. Aku memanjat pagar dan melompat ke dalam. Senekad ini, hanya untuk mendapatkan satu kata. *Ketenangan*
Ricky Robbyansah. Begitu namanya terukir di batu nisannya. Setibanya di sana aku kehilangan kata-kata. Aku terduduk di antara rerumputan liar yang mulai tumbuh. Menatap sayu ke arah makam itu. Air mataku kembali bercucuran. Bukan. Aku mengeluarkan sisa air mata yang ku punya.
"Aku udah hancur Ric. Agatha kesayanganmu sudah mati. Aku kehilangan segalanya Ric, kamu, sahabatku, dan sekarang harga diriku. Aku tidak punya apapun lagi Ric. Sakit!" aku meluapkan beban yang sedari tadi ku pendam
Aku berteriak, menangis dan memukul diriku sendiri berkali-kali. Mungkin benar yang Andre katakan aku tidak waras!
"Aku udah gila Ric. Aku nggak waras. Aku bahkan nggak tahu cara berterima kasih dengan benar. Apa kamu.. Kamu masih mau nerima cewek gila ini? Apa papa sama mama bisa menerima kenyataan ini?"
__ADS_1
"Gimana kalau aku hamil Ric. Aku pasti dibuang ke jalanan. Nggak ada yang mau nerima aku lagi! Dan anakku, apa aku bisa membesarkannya dengan kegilaanku! Aku harus bagaimana Ric?"
POV END
Sementara di tempat lain. Seorang pria sedang meracau dengan sebotol minuman di tangannya. Pria itu tengah duduk di atas sebuah makam bertuliskan Chintya Putri Oktaviani. Ya, siapa lagi kalau bukan Andre. Andre tidak menangis, dia hanya mengerang, menjambaki rambutnya sendiri sambil sesekali memukul kepalanya dengan keras.
"Bod*h! Lo benar-benar bod*h Ndre. Harusnya Lo jelasin semuanya. Harusnya Lo bela diri Lo di depan cewek itu. Bukan malah nerima gitu aja pernyataannya! Dimana otak Lo Ndre!"
Andre bermonolog sambil meminum kasar alkohol yang dia bawa.
"Dan Lo, cewek sialan yang udah bikin Gue kayak gini! Kalau Lo udah mati, stop bikin masalah sama Gue! Lo nggak perlu buat Gue ngrasa bersalah terus menerus. Gue jadi kayak gini, semua gara-gara Lo Chin! Lo nggak kasihan apa? Nggak bisa apa Lo biarin Gue hidup dengan normal?"
Andre tertawa, hambar. Semakin keras suara tawanya menggema diantara pepohonan besar di area pemakaman itu. Hanya tawa dan teriakan yang mampu Andre keluarkan untuk menggantikan air matanya yang sudah kering.
Andre membanting kasar botol minuman itu hingga berserakan di atas tanah.
"Sialnya, cewek itu benar. Gue sakit jiwa. Gue nggak bisa nerima kenyataan, kalau Lo m*ti gara-gara Gue. Gue.. Udah bersalah sama mereka semua. Cewek-cewek yang udah Gue sakiti. Termasuk gadis itu. Gue bahkan nggak punya nyali buat nyentuh dia, tapi kenapa dia terus nganggep Gue memperlakukan dia sama kayak yang lain. Andai dia tahu.. Gue nggak pernah sepeduli ini sebelumnya." gumam Andre mengeluarkan disk kecil dari saku celananya.
"Sekarang, Gue nggak akan peduli lagi. Gue akan fokus cari kebahagiaan Gue sendiri."
Andre melempar disk itu dengan asal. Lalu beralih pergi meninggalkan pemakaman yang mulai gelap. Andre berjalan sempoyongan menuju ke tepi jalan raya. Kedua pandangannya kabur, mobilnya yag berada di seberang terlihat samar di matanya.
"Cuma beberapa langkah. Gue bisa sampai sana." Andre menyeberang dengan asal tanpa melihat ke sekitarnya hingga.
TIIIN... BRUK..
Sebuah mobil merobohkannya. Andre tergeletak tak berdaya menatap ke arah cahaya lampu mobil yang terang. Suara teriakan seseorang terdengar. Samar terlihat sosok si penabrak sedang berlari ke arahnya.
__ADS_1
"Agatha... Maafin Gue.."