Don'T Tell Me About Love

Don'T Tell Me About Love
BAB XXVI Bertemu lagi


__ADS_3

Tak terasa mobil jeep Ivan telah mengantarkan Agatha sampai ke rumahnya. Setelah mengucapkan terima kasih dan salam perpisahan, Agatha membuka gerbang besi itu hingga bersuara. Kristin tergopoh melihat dari jendela besar rumahnya. Tampak anak gadisnya telah tiba dengan wajah yang lesu.


Ceklek.. Pintu rumah terbuka dari dalam. Tangan hangat Kristin menyambut kepulangan Agatha dengan sebuah pelukan.


"Kamu darimana saja Tha? Mama khawatir, kok bisa sampai malam begini. Apa yang terjadi?" cecar Kristin yang merasa cemas


"Itu Ma.. Tadi.." Agatha berusaha menyiapkan alasan yang tepat


"Tadi siang Ivan kesini, nyariin kamu. Mama juga sudah coba nelpon kamu, tapi nggak keangkat sama sekali." Lanjut Kristin


Agatha mencoba menenangkan diri sebelum akhirnya, " Maaf ya Ma. Agatha tadi mampir ke perpustakaan kota, Agatha ketiduran. Terus karena dibangunin tiba-tiba sama petugas perpusnya, eh pas sampai luar. Agatha baru nyadar kalau ponselnya ketinggalan."


Kristin menghela napas, mencoba memaklumi tingkah anaknya.


"Ya sudah, lain kali jangan seperti itu ya. Kalau udah selesai kuliahnya, langsung ke rumah. Nanti kalau mau keluar ijin dulu. Atau jika memang keadaannya mendesak, minimal kamu telepon mama, kabari kamu mau kemana dan sama siapa aja." ujar Kristin mengusap rambut hitam Agatha dengan lembut


"Papa belum pulang Ma?" tanya Agatha mengalihkan


"Pak Darman tadi nggak sengaja nabrak orang. Makanya sekarang papamu lagi di rumah sakit buat ngurusin orangnya." tukas Kristin


"Parah ya Ma?" Agatha kembali bertanya


"Harusnya sih enggak, Pak Darman kan nggak pernah ngebut bawa mobilnya." balas Kristin


Agatha mengangguk mengerti.


"Kamu mandi dulu Tha. Biar mama panasin sayurnya, kita makan sama-sama." ajak Kristin menarik tubuh Agatha masuk ke ruang tengah


"Emm Agatha udah makan kok Ma." bohong, sedari siang dia tidak makan sesuap nasi pun. Namun melewati hari yang berat, perutnya mendadak menjadi kenyang.


"Ya sudah kamu mandi terus istirahat ya. Mama mau nungguin papa kamu." ujar Kristin sembari kembali ke ruang tamu.


Agatha membuka pintu kamarnya yang masih gelap. Tanpa berniat menyalakan lampunya. Dia mengunci pintu itu dari dalam. Tubuhnya merosot ke lantai masih dengan ransel di punggungnya. Agatha hanya terdiam, menatap kosong ruangan favoritnya itu dengan nanar. Meski air matanya tidak lagi menetes, namun kesedihan terpancar di wajahnya.


"Agatha sudah mati. Nggak, aku nggak boleh kayak gini. Perjalananku masih panjang. Tapi.." kedua matanya menatap turun ke arah perutnya yang rata.


"Apakah mungkin, jika aku bisa hamil hanya dengan satu kali percobaan saja? Terlebih, Andre bilang kalau dia punya gangguan. Tapi, jika memang aku hamil, akan jadi seperti apa hidup yang aku jalani? Bersama Andre dengan semua tingkah buruknya. Bagaimana nasib anakku nanti."

__ADS_1


Kembali air mata Agatha berproduksi. "Aku harus gimana?" Agatha menggigit bibir bawahnya agar suara tangisnya tidak didengar oleh Kristin. Agatha memeluk kedua lututnya. Menghabiskan sisa malam itu dengan penyesalan.


Hari kedua di bulan September, seperti biasa. Agatha bersiap datang ke kampusnya, masih dengan selembar kaos dan sepatu ketsnya. Agatha bercermin, menatap dua lingkaran hitam di matanya yang sedikit membengkak. Wajar saja, semalaman dia tidak tidur. Agatha memoleskan bedak tipis untuk menyamarkan kantung mata itu. Tiba-tiba.


"Agatha, Ivan sudah datang Nak." teriakan Kristin mengejutkannya


"Kenapa Ivan mesti jemput sih? Aku belum siap ketemu siapapun, apalagi setelah kejadian kemarin." gumam Agatha pada pantulan dirinya di cermin.


Agatha meraih tas ranselnya, dan membawa serta notebook kesayangannya. Kaki kecilnya melangkah ke luar menuju asal suara Ivan yang tengah berbincang dengan papanya.


"Papa.." teriaknya senang memeluk Anton yang duduk di ruang tamu


"Duh anak papa, manjanya!" tukas Anton mengusap pelan kepala Agatha


"Agatha kangen pa!" Jujur, Agatha sangat merindukan ayahnya yang pulang sebulan sekali.


"Weekend nanti kita jalan-jalan!" ajak Anton


"Serius Pa!" pekik Agatha kegirangan, seolah melupakan begitu saja kejadian kemarin.


"Sudah, berangkat sana Tha. Itu nggak malu dilihatin Ivan?" goda Kristin melirik ke arah Ivan yang tersenyum melihat tingkah anaknya


"Pa, Ma, Agatha berangkat dulu." ujar Agatha menyalami kedua orang tuanya.


"Ivan, nitip Agatha ya!" pesan Kristin menepuk pelan bahu Ivan


"Mama! Kan Agatha bukan anak kecil lagi, nggak perlu dititipin ke siapapun." protes Agatha


"Seberapa tua pun usianya, mereka tetap dianggap anak kecil di rumah orang tuanya." seloroh Ivan


"Ya nggak tua juga!" balas Agatha yang hanya dibalas senyum dari ketiganya.


Agatha melangkah cepat masuk ke jeep merah Ivan yang sudah terparkir. Pun halnya Ivan yang tengah menyusul.


"Tha, aku mau ngomong sesuatu soal kemarin." ujar Ivan begitu mesin mobilnya menyala


"Nggak ada yang perlu dibahas Van!" tolak Agatha. Agatha memilih menutup hari Seninnya yang suram. Enggan diingatkan kembali dengan kejadian memalukan antara dirinya dan Andre.

__ADS_1


Tampak Ivan menghela napas. "Andre.."


"Nggak usah sebut nama dia lagi Van! Aku muak." nada dingin Agatha telah kembali


Ivan pun terdiam. Membiarkan perjalanan mereka terabaikan satu sama lain. Agatha hanya fokus pada kuliah hari ini. Tidak beranjak untuk sekedar jajan atau mampir refreshing ke perpustakaan. Agatha memilih membatasi kontak dengan siapapun termasuk Ivan.


Rabu, Kamis, dua hari ini berlalu dengan cepat. Menampakkan wajah Agatha yang mulai terbiasa dengan keadaan. Tidak lagi bertemu Andre berkeliaran di kampusnya. Tunggu dimana Andre? Apa dua hari ini dia tidak masuk? Agatha menoleh ke arah Ivan yang sibuk menggambar sesuatu.


"Van, aku mau tanya?" ujar Agatha


Ivan merespon ucapannya dengan anggukan kepala. Agatha terdiam seolah malu untuk menanyakan kemana Andre dua hari ini.


"Tanya apa Tha?" heran melihat Agatha terdiam, Ivanlah yang akhirnya bertanya.


Agatha menggeleng. "Lupa Van. Nanti aja kalau usah ingat lagi."


Dahi Ivan mengernyit, ada apa dengan gadis kecil ini. Tampak Agatha berdiri, memutuskan untuk mencari tahu langsung kemana Andre sebenarnya. Bukannya Agatha peduli hanya penasaran saja. Iya, rasa penasaran Agatha yang tidak biasa.


"Mau kemana?" tanya Ivan


"Ke toilet." balas Agatha singkat mengantongi beberapa lembar tisu di celananya.


Ivan melongo, Agatha meninggalkannya tanpa menoleh lagi. Agatha berjalan ke arah gedung fakultas lain. Kakinya melangkah cepat menuju kelas Andre yang terletak di lantai 3. Satu per satu anak tangga pendek itu dia lewati. Hingga tampak sebuah ruangan yang dia cari. Agatha terdiam sebentar di depan ruangan. Kakinya berjingkat untuk mengintip ke arah jendela. Memastikan Andre ada atau tidak. Tiba-tiba kakinya terkilir dan BUG..


Tubuhnya jatuh menimpa seseorang.


"Heh Cupu! Ngapain Lo disini!" bentak Audrey


Agatha pun segera bangkit, tidak menyangka bertemu dengan si pembuat onar ini.


"Mau cari Andre kali Drey!" tukas Sherly dengan senyum miringnya


"Aku.. Aku cuma.." Kalimat Agatha terdiam, tatkala tangan Audrey mencengkeram bajunya.


"Dengar Gue baik-baik Tha! Sekali lagi, Lo berusaha buat deketin Andre, Gue bakal buat perhitungan lebih dari yang kemarin." Audrey mendorong tubuh Agatha hingga kembali ambruk di lantai.


Audrey berpaling, meninggalkan Agatha yang masih dalam posisi duduk. "Harusnya aku nggak kesini." gumamnya pelan

__ADS_1


Langkah kaki seseorang mendekat. Berdiri tepat di hadapannya. Sepatu yang tidak asing, dilihatnya kembali. Agatha mendongak.


"Kamu..."


__ADS_2