
Agatha menatap pria yang berdiri di hadapannya. Andre, tampak menatapnya datar. Di pelipisnya tertempel sebuah plester dengan beberapa goresan luka di tangan kanannya.
"Kamu nggak apa-apa?" tanpa sadar mulut Agatha bertanya
Andre tak bergeming. Mengulurkan tangannya ke arah Agatha. Agatha segera meraihnya dan kembali berdiri. Membersihkan sisa debu di celananya.
Tanpa sepatah kata pun, Andre berjalan melewatinya sambil berjalan terpincang-pincang. Agatha menatap sayu punggung pria itu dan kembali bertanya. "Andre, kamu kenapa?"
Andre tak menoleh hanya mengangkat sebelah tangannya yang terluka dan mengibaskannya ke samping. Seolah mengisyaratkan bahwa dia baik-baik saja.
"Ya sudahlah kalau dia tidak mau bicara." gumam Agatha kecewa
Agatha pun kembali turun dan menyusuri koridor kampus yang ramai dengan lalu lalang mahasiswa dengan segala kepentingannya. Agatha berniat kembali ke kelas. Sampai sebuah suara yang dikenali memanggilnya.
"Tha, sini makan dulu!" tukas Ivan yang tengah duduk di bawah pohon besar.
Agatha berjalan perlahan sambil fokus pada bungkusan kantong besar yang Ivan bawa. Tampak sesekali kepulan asap keluar dari dalamnya.
"Sini. Ada martabak mini aneka isi. Enak Tha. Apalagi ada bumbu pedasnya." ujar Ivan seperti seorang penjual yang sedang menjajakan dagangannya
Agatha duduk di sisi lain pohon. Ivan menurunkan makanannya. Membiarkan Agatha mengambil sepotong martabak dan meniupnya perlahan.
"Rejeki ini Tha nggak boleh ditolak. Aw panas!" Ivan yang ceroboh tidak sengaja menumpahkan isi martabak ke bajunya.
Agatha tertawa. Lucu melihat tingkah kekanakan Ivan.
"Ini martabak dari Andre Tha."
Agatha menghentikan makannya. Meletakkan kembali sisa martabak yang digigitnya.
"Kenapa Tha? Kok dibalikin?"
"Kenyang Van." bohong Agatha. Tentu saja bohong, alasan Agatha sebenarnya adalah dia belum bisa move on dari kejadian beberapa hari lalu. Rasa kesal akan sikap Andre tadi pun membuatnya semakin kehilangan selera makan. Apalgi itu dari Andre.
"Oh iya Andre juga nitipin ini." ucap Ivan mengeluarkan benda pipih yang familier bagi Agatha
"Ponselku!" pekik Agatha mengecek daya ponselnya yang terisi penuh
"Tadinya Andre mau ngasihin ini ke kamu, tapi kamu masih di toilet. Makanya, dia nitipin ke aku." terang Ivan
"Jelaslah! Siapa lagi yang akan membawa ponsel Agatha jika bukan pelakunya. Licik sekali. Setelah perbuatan jahatnya, dia mencoba berbaikan dengan sebungkus martabak dan mengembalikan ponselku" batin Agatha mulai bergemuruh
"Kali ini, aku tidak akan tertipu denganmu lagi Ndre!"
"Tha, halo?" Ivan mengibaskan tangannya di depan wajah Agatha.
__ADS_1
"Hmm."
"Aku mau cerita soal kejadian waktu itu, biar kamu juga tahu yang sebenarnya." Ivan memulai pembicaraan
"Jadi pas Andre nyuruh kamu keluar, dia.."
"Cukup! Aku udah tahu semuanya Van! Nggak perlu jelasin apapun. Mulai sekarang, aku tidak mau mendengarmu menyebut namanya lagi!" potong Agatha dengan cepat.
"Aku belum selesai ngomong Tha." ujar Ivan begitu Agatha berjalan menjauh
Ivan mengacak rambutnya sendiri. Sedikit kesal dengan mood Agatha yang mudah berubah belakangan ini.
Agatha berniat kembali ke kelasnya untuk mengecek ponselnya lebih lanjut. Namun sebuah alarm membuat ponselnya bergetar. Agatha terhenti. Sebuah notifikasi pengingat muncul di layar ponselnya.
"Pengingat tanggal haid." Gumam Agatha
Agatha lalu mengecek tanggal hari ini, 6 September. Sedangkan tertulis di pengingat jadwal haid sudah lewat lima hari lalu.
Seminggu sudah, tepat pada saat kejadian itu menimpanya. Agatha terdiam sesaat. Mengecek ulang siklus bulanannya yang tidak pernah terlambat itu. Benar. Selama ini dia mendapatkan rutin sesuai kalender.
"Nggak mungkin." gumam Agatha
Agatha berbalik arah menuju ke luar area kampus. Berniat membeli sesuatu untuk menyingkirkan ketakutannya. Dengan setengah berlari, Agatha menyusuri trotoar untuk mendekati Zebra Cross.
Langkahnya kembali terhenti, seperti De Javu, di dalam pikirannya di menyeberang dengan asal dan ditolong oleh Andre. Meski mendapat cacian kasar darinya, saat itulah Agatha menyadari. Sedari awal Andre sudah mengincarnya dan sekarang..
"Nggak! Aku harus cari pembuktian dulu." gumam Agatha kembali melangkahkan kakinya.
Minimarket itu sudah di depan mata. Dengan celingukan Agatha mengambil benda yang terbungkus tipis seperti kaplet itu. Segera membayar dan meminjam toilet untuk melakukan tesnya. Agatha terduduk, membuka kemasan dan mengeluarkan benda kecil berbentuk panjang di tangannya.
"Semoga Nggak!" gumam Agatha.
Agatha memasang posisi untuk bersiap namun tiba-tiba. Dering ponselnya berbunyi. Saking terkejutnya, alat tersebut jatuh ke dalam kloset.
"Yah.." ujar Agatha kecewa
Mati-matian menyembunyikan benda aneh itu, justru malah jatuh ke dalam kloset.
"Masak iya aku ambil lagi. Kan.. Jijik." gumamnya tak menyurutkan suara deringan ponsel yang terus bergema
*KAYLA BAWEL* Begitulah Agatha menamainya.
"Halo Key."
"Kamu kemana aja sih Tha, sedari kemarin aku chatt nggak direspon. Di telepon juga baru nyahut sekarang! Sibuk pacaran atau gimana sih ini?"
__ADS_1
"Ck.. Kenapa sih Key di otakmu, isinya pacaran mulu. Hp ku itu hilang, baru aja ketemu. Untung yang ngambil baik mau balikin!"
"Aelah, kabarin kek pake hpnya tante. Kayak serumah hp cuma satu aja!"
Agatha terdiam sejenak, berniat menceritakan kejadian itu pada Kayla. Karena Agatha pun tidak tahu, harus bertanya pada siapa lagi.
"Tha, kamu masih disitu kan?"
"I..iya masih."
"Sabtu ini aku pulang loh. Kangen sama mama papaku, sekalian mau rayain ultahku disana. Datang ya!"
Agatha menepuk jidatnya, dia melupakan hari penting sahabatnya itu. Jika dia tidak mengucapkan selamat atau memberi sesuatu, sudah pasti Kayla akan merajuk dan berkata yang tidak-tidak.
"Agatha!"
"Ah.. Iya.."
"Kok diem sih?"
"Sorry Key. Aku.. Aku lagi banyak pikiran."
Tiba-tiba pintu toilet di gedor dari luar.
"Sebentar Key, aku telepon lagi habis ini."
Agatha buru-buru membuka pintunya dan tampak gadis yang tidak dia inginkan kehadirannya sedang berdiri di hadapannya.
"Eh, si cupu! Udah selesai belum? Kebelet nih!" tukas Catherine memaksa masuk ke dalam toilet
Agatha pun mengalah keluar dan membiarkan Catherine membanting pintunya.
Sebuah panggilan kembali masuk, namun bukan dari Kayla melainkan Ivan. Dengan cepat Agatha mengangkatnya.
"Tha buruan balik, Pak Bobby udah di kelas nih. Daripada kena masalah ntar!"
"Oke oke aku balik."
Agatha berlari keluar minimarket. Menyeberang jalan dengan asal meski banyak pengendara yang memprotes aksinya. Agatha bergegas masuk kembali ke dalam kelas dan melupakan satu hal yang penting baginya.
"Ih, ini kok ada testpack sih? Punya siapa?" gumam Catherine menyadari benda kecil yang sedari tadi mengapung di dalam kloset
"Jangan-jangan si cupu..."
Seringai licik muncul di bibirnya. Dengan jijik dia meraih testpack itu dan memasukkannya ke dalam bungkus snack yang dia temukan di tempat sampah.
__ADS_1
"Bisa nih, jadi senjata baru!"