
Agatha terengah-engah sampai di depan kelas. Tak peduli secepat apapun dia berlari, tetap tidak bisa menandingi tepat waktunya Pak Bobby dalam jam mengajar.
Agatha mengatur ritme jantungnya, lalu mengetuk pintu perlahan.
"Maaf Pak Bobby, saya terlambat." Agatha mengucapkannya selirih mungkin untuk menghindari kemarahan sang dosen.
Tampak Pak Bobby berdiri dari kursi kebesarannya. Dengan kacamata bulat yang melorot hingga di puncak hidung, dia mengamati Agatha yang mematung di depan pintu.
"Kamu buat makalah, bagaimana pendapat masyarakat tentang pajak dan apa peran pajak untuk masyarakat? Lakukan sampling, dan beri keterangan selengkap-lengkapnya."
Agatha memaksakan senyumnya. Dosen yang satu ini memang sangat rajin menyulitkan mahasiswinya untuk mengetik berlembar-lembar laporan yang tidak akan dia baca. Agatha hanya mempu mengiyakan sambil mengelus dadanya. Mengumpulkan cukup kesabaran dengan hal tak terduga di hari ini.
"Kumpulkan di meja saya, sebelum pertemuan selanjutnya. Sekarang, silahkan masuk." ujar Pak Bobby kembali ke posisinya
Agatha sedikit membungkukkan badannya lalu duduk di tempatnya.
"Dari mana aja?" bisik Ivan
Agatha meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, enggan mendapat tugas tambahan lagi dari dosen di depannya ini hanya karena mengobrol.
Menit demi menit terasa sangat lama bagi Agatha. Sesekali dirinya menguap sambil mengucek kedua mata agar tetap terbuka. Menerangkan materi dengan duduk sambil membaca buku ala Pak Bobby membuatnya merasa seperti dibacakan dongeng sebelum tidur.
Hingga waktu kuliah pun berakhir. Segudang tugas yang Pak Bobby berikan cukup untuk menutup harinya yang suntuk. Agatha mengangkat kedua tangannya, menggeliat pelan untuk meluruskan tulang punggungnya yang kaku. Tiba-tiba terdengar kegaduhan dari luar kelasnya.
"Apaan sih Van?" tanya Agatha tak mengerti
"Nggak tahu juga. Lihat yuk!" ajak Ivan yang berjalan keluar lebih dulu.
Agatha tercengang, menatap kerumunan maba yang tengah mengelilingi tiga sekawan yang menyebalkan itu. Siapa lagi kalau bukan Audrey dan kelompok bermainnya. Kali ini apa lagi? pikir Agatha
Audrey menyalakan kilasan video singkat beresolusi rendah di laptop yang dipegang Sherly. Sebuah video yang tidak asing bagi dirinya. Agatha menerobos kerumunan, namun tatapan jijik dan tak ramah mereka tujukan padanya.
Agatha semakin mendekat. Memastikan penglihatannya tidak salah. Kedua matanya membulat sempurna. Tampak videonya yang tengah terbaring dengan sehelai selimut yang menutupinya. Juga Andre yang sedang memunguti pakaiannya yang berserakan dan mencoba memakaikannya kembali.
"Kalian lihat kan? Apa yang aku bilang di kantin waktu itu, terbukti. Dia nggak cuma mau sama Ivan tapi juga Andre, cowok populer itu!" teriak Audrey
__ADS_1
"Dasar cewek nggak bener! Percuma ngampus otak minus!"
"Udah jelek nggak bermoral lagi!"
"Jijik banget sih, nggak sekalian aja tuh open BO!"
Berbagai olokan kasar dan lemparan kertas, daun atau bahkan sampah sekalipun mengenai tubuh Agatha. Dengan sigap Ivan menutupi tubuhnya, membiarkan bajunya kotor terkena lemparan tidak karuan yang para maba ini lakukan.
Agatha menangis. Memegang ujung baju Ivan dengan kencang. Berusaha tidak mengeluarkan suara sedikit pun atau suasana akan semakin ricuh.
"Dengar! Semua itu nggak benar!" teriak Ivan berbalik menghadapi mereka
Langkahnya mendekati Audrey yang terkejut dengan responnya. Dengan satu kali hentakan, Ivan merebut paksa laptop Sherly dan mematahkannya menjadi dua.
"Laptop Gue!" protes Sherly
Tampak Audrey tercengang. Respon Ivan di luar dugaannya. Ivan yang geram menghadapi kerumunan dengan kedua tangan mengepal.
"Apa kalian tidak berpikir sebelum bertindak? Kenapa kalian percaya begitu saja tanpa berniat menyelidikinya?"
"Jika Agatha dan Andre memang melakukan hal itu, kenapa di dalam video itu, Agatha dalam posisi tidak sadar? Dan kalian sudah lihat sendiri kan, Andre mencoba memakaikan kembali baju Agatha. Jika mereka macam-macam, seharusnya Audrey punya rekaman lengkapnya. Tapi kenapa dia cuma bisa nunjukkin rekaman singkatnya!"
"Jangan dengerin dia! Dia cuma belain si cupu itu, kalau kita berniat merekam kenapa hasilnya blur? Harusnya kita pakai kamera yang bagus untuk mendokumentasikan semuanya kan?" sanggah Audrey
"Lagipula lihat si cupu, apa dia mengelak? Apa dia membantah semua tuduhan Gue? Dia cuma diem sambil nangis dan cari perlindungan di belakang Ivan!" lanjut Audrey
"Diam berarti iya!" seloroh Sherly
Ivan menyeringai.
"Sikap kalian semakin menunjukkan kebobrokan mental yang kalian miliki. Luar biasa!" Tiba-tiba Ivan bertepuk tangan.
Langkahnya mendekat ke arah si rambut pirang. Tersenyum sinis dan mencengkeram kuat bahu Audrey.
"Gue penasaran, apa cuma ini yang Lo bisa buat dapetin Andre? Dengan cara murahan kayak gini?"
__ADS_1
Ivan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ternyata nggak cuma harga diri Lo yang murah, tapi sikap dan otak Lo juga. Murah!" bisik Ivan tepat di telinga Audrey
"Gue jadi penasaran, gimana respon bokap Lo, kalau tahu kelakuan Lo sama Andre tempo hari. Apa mereka masih bisa ngakuin Lo sebagai anak?"
Ivan memundurkan langkahnya. Sambil tetap menatap Audrey yang terdiam.
"Gue tunggu tindakan Lo selanjutnya. Dan Gue bakal kasih kejutan yang nggak akan bisa Lo lupain seumur hidup Lo."
Ivan mengakhiri pidato panjangnya. Ivan menghampiri Agatha yang tampak menyedihkan. Meraih tanggannya dan berbalik untuk menjauhi kerumunan.
"Tunggu! Gue juga punya bukti lain!" Terdengar Catherine berteriak
Ivan dan Agatha berbalik bersamaan.
"Gue nemu ini!" Catherine mengacungkan sebuah testpack yang dia temukan ke arah para maba
"Kalau memang tidak terjadi sesuatu sama mereka, kenapa si cupu beli benda ini?" lanjut Catherine
Semua pandangan kembali terarah pada dua orang yang saling bergandengan itu. Basah sudah kedua pipi Agatha merutuki nasib sialnya yang datang bertubi-tubi. Agatha kembali menangis. Sambil berusaha menarik lengan Ivan untuk menjauh.
"Apa masuk akal bagi kalian, seseorang mencoba test kehamilan kalau dia nggak berbuat apa-apa?" Catherine mencoba memanasi suasana. Dia yang cemburu melihat Ivan lebih membela Agatha, merasa tidak terima dan ingin membalasnya juga.
"Ini punya Lo kan?" tanya Catherine mendekatkan benda kecil itu pada Agatha
Agatha memejamkan kedua matanya. Cukup pedih dengan bullyan massal yang terjadi padanya.
"Tha, ini.. Bukan punyamu kan?" tanya Ivan perlahan
Agatha menoleh cepat ke arah Ivan. Dan sayangnya kepala Agatha mengangguk. Sontak riuhnya sorakan anak-anak itu kembali terdengar. Aksi lempar melempar itu terjadi lagi. Agatha meringkuk ketakutan di pelukan Ivan. Ivan berusaha melindunginya dengan berjalan menjauh.
Penglihatan Agatha memburam, namun samar-samar masih bisa melihat Andre yang ada diantara kerumunan hanya diam sambil memandanginya. Andre tidak mengatakan apapun, bahkan membela saja tidak. Semakin memperkuat memang telah terjadi sesuatu hari itu. Agatha meremas kemeja Ivan dengan kuat, seiring rasa pusing dan mual yang datang mendera. Agatha pun limbung dan tak sadarkan diri.
"Agatha..."
__ADS_1