
Keesokan harinya, Agatha kembali ke kampus seperti biasa. Meski sedikit berbeda karena tidak diantar jemput oleh sahabatnya, Ivan. Agatha memilih menggunakan taksi sebagai tranportasinya. Kampus mulai ramai saat dia tiba. Beberapa gadis tengah bercanda berlarian seperti anak muda pada umumnya. Ada juga yang berdiri berjajar untuk menggosipkan sesuatu. Bahkan perpustakaan pun menjadi sasaran empuk untuk tempat nongkrong yang asyik bagi kutu buku seperti dirinya.
Agatha berjalan menghampiri bangunan tinggi itu. Berniat melepaskan rasa hausnya pada novel romansa yang dia gemari itu.
"Cewek boleh kenalan nggak?" candaan receh itu Ivan lontarkan sambil menyenggol pelan lengan Agatha
"Ngagetin aja sih Van! Kebiasaan deh." gerutu Agatha
"Mau baca buku aneh itu lagi?" terka Ivan yang mulai hafal kebiasaan Agatha
"Eh, itu buku bagus ya! Bisa membuat kita larut dalam suasana, tawa, sedih bersama sang penulis dan tokoh utama itu berasa luar biasa nggak sih?" ujar Agatha
"B aja lah! Mending cari pacar, biar senangnya, tawanya itu real. Nggak palsu!" seloroh Ivan
Agatha mencubit kecil perut sahabatnya itu. Sambil memaksakan kedua matanya untuk melotot. Namun justru ekspresi lucu yang Agatha tunjukkan.
"Mukamu Tha!" Ivan tergelak sambil sesekali mencubit pipi gembul Agatha
"Resek!" umpatnya berjalan cepat meninggalkan Ivan
"Nanti, pulang kuliah ada agenda nggak?" tanya Ivan
Agatha mengangkat bahunya malas. Toh jika Ivan tidak mengantarkannya pun, masih ada taksi yang setia menemani perjalanannya.
"Aku mau jenguk tante Wulan. Mau ikut nggak?" tanya Ivan
Seketika langkah Agatha terhenti. Berbalik 180 derajat dan kembali mendekati Ivan.
"Serius?" wajah polos itu bertanya
"Iyalah. Kata Andre, tante Wulan sudah sadar semalam dan dipindahin ke kamar rawat biasa." tukas Ivan
"Andre masih disana? Jagain mamanya?" tanya Agatha
"Jelaslah! Siapa lagi yang mau jaga tante Wulan kalau bukan dia." ujar Ivan
"Kakaknya kan ada juga Van." terang Agatha
"Owh itu. Sibuk kerja. Dia kan perawat." bohong Ivan. Tidak mungkin dia membeberkan permusuhan antara dua saudara itu.
"Okelah nanti pulang kuliah kita mampir dulu beli buah-buahan dan makanan. Terus cuss ke rumah sakit ya!" ujar Agatha semangat
"Semangat banget Tha kayak cewek yang mau diajak kencan aja!" canda Ivan
"Memang." Agatha menjulurkan lidahnya. Lalu kembali berlari ke arah perpustakaan.
Ivan hanya menggeleng kecil, melihat tingkah kekanakan Agatha. Lalu beralih arah menuju kelas Andre untuk memberikan surat ijin tertulis yang belum sempat Andre serahkan tempo hari.
Jam-jam perkuliahan pun terlewat begitu cepat. Terutama karena ketidakhadiran Pak Alex yang membuat mereka bisa pulang lebih awal. Pukul 11.20. Belum ada tengah hari, namun Agatha sudah sibuk merapikan buku-bukunya.
"Ivan, kita jadi kan?" tanya Agatha tanpa menoleh
"Iya sayang jadilah."
__ADS_1
Sontak gebukan buku melayang ke arahnya.
"Sakit Tha, Suka banget KDRT!" protes Ivan
"Makanya kalau ngomong jangan ngasal. Itu balasannya buat orang yang suka ngelantur kemana-mana." tukas Agatha berdiri membawa tas ransel di punggungnya
"Mau sekarang?" dengan bod*hnya Ivan bertanya
"Tahun depan!" balas Agatha ketus
Gelak tawa Ivan kembali terdengar, suka sekali menggoda gadis yang disukainya itu. Tunggu! Suka? Memang Ivan menaruh hati sejak awal pertemuannya di rumah Agatha namun, level suka ini apakah bisa berubah secepat itu?
Ivan mengekor di belakang Agatha, mencari jeep merah kesayangannya yang selalu diparkir dekat pohon ringin besar.
"Horor juga ya mobilmu. Persis kayak orangnya, suka menepi di bawah pohon sama mbak-mbak kunti."
Entah apa yang membuat Agatha seceria itu, tapi bagi Ivan kepribadian Agatha yang sebenarnya mulai kembali lagi. Seolah telah melupakan kejadian pahit yang dulu dia alami. Apa itu karena dia? Jika benar karenanya, mungkinkah Agatha juga mempunyai perasaan yang sama?
"Ivan!" lagi-lagi dahi Ivan memerah karena jitakan Agatha
"Ngelamun."
"Eh iya iya. Nggak sabaran banget sih!"
Mobil jeep itu telah meninggalkan kampus, melipir sebentar ke toko buah, membungkus beberapa apel, anggur dan juga pisang. Tak lupa Ivan selipkan buah naga, kesukaan Wulan. Setelah dirasa cukup, mobil itu melaju kembali menuju rumah sakit.
"Kamu turun dulu Tha, biar aku carikan tempat parkir." ujar Ivan
"Maaf Mbak, kalau boleh tahu. Pasien bernama Wulan dirawat dimana ya?" tanya Agatha
"Sebentar saya cek dulu ya. Wulan Retnosari? Atau Wulan Dwiningsih?" tanya sang petugas
"Eeee.. Saya nggak tahu nama lengkapnya Mbak." ujar Agatha
"Wulan Retnosari." sahut Ivan dari belakang
"Owh Bu Wulan baru saja dipindahkan ke ruang VIP di lantai 3. Kamar paling ujung dekat lift." terangnya
"Baik Mbak terima kasih."
Ivan menarik Agatha ke arah tangga. Memang lift hanya untuk pasien, jadi Ivan menunjukkan jalan tembus termudah untuk bisa sampai ke sana. Tangan mereka saling tertaut. Tak ada debaran atau grogi yang Agatha rasakan. Hanya sebatas gandengan tangan biasa. Sementara lain halnya dengan Ivan. Keringat dingin bahkan mulai bermunculan di dahi dan lehernya.
"Kenapa sih Van? Kamu masuk angin?" terka Agatha
"Eh.. Iya?" Dengan cepat Ivan mengusap keringatnya dengan tisu
Sampai di lantai tiga. Sebuah kamar yang sedikit terbuka mereka datangi. Andre, pria tampan itu tampak lusuh tengah mempersiapkan salinan resep untuk di tebus di apotek rumah sakit.
"Andre." panggil Agatha
Andre menoleh, menampilkan senyum kecut seolah tidak senang dengan keberadaannya. Tatapan Andre mengarah pada dua tangan yang bersatu di bawah sana. Seketika seringaian muncul.
"Mau apa kalian? Pamer kemesraan? Mau nunjukkin kalau, kalian udah berhasil bersama?" ledek Andre
__ADS_1
"Ah ini, enggak kok." dengan cepat Agatha menarik tangannya
"Sudahlah, Gue nggak peduli juga apapun status kalian. Toh nggak penting buat Gue!" ujar Andre melengos, melewati dua orang itu begitu saja.
"Andre tunggu!" teriak Agatha
"Jangan dikejar Tha, ntar dia makin ngamuk loh!" ujar Ivan menarik kembali tangan Agatha
"Justru aku nggak mau dia salah paham soal kita. Udah ah, apapun resikonya aku harus jelasin ke dia." tukas Agatha berlari mengejar pria jangkung itu
"Andre!" panggilnya lagi. Namun yang punya nama justru terus mempercepat langkahnya.
"Andre!" tidak peduli seberapa keras Agatha berteriak, Andre tetap tidak berhenti.
Hingga saking cepatnya berlari, tanpa sadar Agatha menabrak sesuatu.
"Aaaaah.." Lengannya tergores pisau bedah yang dibawa seorang perawat. Nampan berisi peralatan operasi iti tumpah berserakan.
"Aduh maaf Mbak." tukas sang perawat
"Saya yang minta maaf. Saya nggak lihat kalau ada mbaknya disini." ujar Agatha membantu merapikan kembali barang bawaan sang perawat.
Andre mendengar teriakan itu, lalu menoleh. Menyadari lelehan darah di lengan Agatha. Kakinya berniat kembali namun ego menahannya. Kini langkahnya justru mengarah ke luar.
"Andre." Agatha berhenti tepat di pintu masuk. Celingukan, bingung harus kemana lagi mengejar Andre.
"Dia pergi." gumam Agatha
Tanpa dia sadari, Andre bersembunyi di balik pion besar penyangga koridor rumah sakit. Entah untuk apa, namun melihat dari kejauhan sudah seperti rutinitas baru bagi Andre.
Agatha kembali dengan lesu. Tidak dapat Andrenya tapi dapat lukanya. Tidak ada pilihan lain selain kembali.
"Sakit." gerutu Agatha meniup pelan ke arah lengannya yang terluka.
"Agatha! Kamu, ini.." pekik Ivan menyadari luka di lengannya
"Andre berani nyakitin kamu? Sampai separah ini!" Aura kemarahan tampak di wajah Ivan. Dengan bersungut, dia melangkah berniat memberi Andre pelajaran.
"Bukan salahnya juga. Aku nggak sengaja nabrak perawat yang baru keluar dari ruang operasi." terang Agatha
"Ku kira.."
"Apa Andre terlihat seperti penjahat? Dia bahkan tidak pernah mencubitku barang sekalipun." gumam Agatha
Ivan menatap raut kesal Agatha dan kecewa. Sepertinya Agatha tengah kecewa tidak bisa bicara baik-baik pada sahabatnya itu.
"Ayo ke IGD, kita obati lukamu." ujar Ivan yang menyadari kedatangan seseorang.
"Buahnya biar disini saja. Andre tahu kok siapa yang bawakan." ujar Ivan yang dengan sengaja merangkul bahu Agatha
Seketika salinan resep Wulan berubah menjadi gumpalan kertas. Andre membuang kasar plastik kecil berisi obat merah dan perban.
"Sia-sia Gue kemari."
__ADS_1