Don'T Tell Me About Love

Don'T Tell Me About Love
BAB XXIV Kesalah Pahaman


__ADS_3

"Ndre Lo dimana?"


Andre melirik sekilas ke arah Ivan. Dan Ivan hanya mengangguk mengerti.


"Gue otw balik nih? Kenapa?" tanya Andre


"Lo bisa mampir ke basecamp, jemput Gue ya. Mobil gue trouble." ujar Nathan


"Oke gue otw. Tunggu ya!" balas Andre


"Udah Gue duga Van, mereka di basecamp lama kita. Sebentar lagi, kita kasih mereka kejutan.


Sementara di basecamp. Keempat penculik itu masih mendiskusikan langkah selanjutnya.


"Kita tel*nj*ngi dia dan kita tinggal gitu aja. Terus pasang hp disitu. Kan nggak terjangkau tuh, habis itu masuk deh umpannya. Mereka pergi kita beraksi!" ujar Audrey dengan senyum liciknya


"Bagus juga saran Lo! Sana cepat, Andre udah otw soalnya." ujar Nathan minggir ke dekat pintu


Satu per satu pakaian Agatha dilempar begitu saja ke lantai. Tampaklah tubuh polos itu terbaring tanpa sehelai benang pun.


"Wow besar juga! Gue kira rata!" komentar Nathan


"Lo yakin nggak mau? Dibuang sayang nih!" tawar Audrey lagi dan lagi


"Sher, Gue harap Lo nggak lupa pesan Gue tadi!" ujar Nathan


Sherly memutar matanya malas.


"Jangan disini tapi!" ujar Sherly


Nathan menyeringai, mengajak Sherly ke belakang basecamp. Ada satu ruangan lagi yang terpisah lumayan jauh. Entah apa yang mereka lakukan, hanya mereka dan Tuhan yang tahu.


"Udah aman nih! Nyalain videonya Cat! Kita pergi." Audrey menarik lengan Catharine menjauh dari kamar itu.


Mereka berniat pergi, namun sebuah mobil yang Audrey kenali berhenti tepat di halaman basecamp


"Mamp*s, mereka udah dateng." gumam Audrey


"Terus gimana dong?" Catharine semakin panik


"Kita lewat pintu belakang dan kabur ke samping rumah. Ini kunci mobilnya Gue yang bawa." ujar Audrey sambil menarik Catharine menjauh dari jendela.


"Terus mereka?" tanya Catharine menunjuk ke arah Nathan dan Sherly pergi.


"Nanti kalau sudah aman, kita jemput mereka lagi!" ujar Audrey


Untungnya Catharine tidak bertanya lagi dan mengikuti Audrey ke belakang rumah.


Andre melihat mobil itu dengan seksama. Senyum miring muncul di wajahnya.


"Lo masuk Van, tolongin Agatha. Biar Gue urus mobilnya dulu!" tukas Andre mendekati mobil Nathan


Ivan mengangguk mengerti. Pelan-pelan dibukanya pintu rumah yang tidak dikunci. Ivan mengendap masuk ke dalam rumah yang terasa sunyi. Perlahan-lahan membuka pintu setiap ruangan, tidak ada apapun. Sampai akhirnya tiba di depan tempat Agatha ditinggalkan.

__ADS_1


"Pasti disini, tapi kemana mereka semua? Cuma ada mobil, tapi nggak ada siapapun. Gue cek dulu ke belakang." gumam Ivan berjalan pelan membuka pintu belakang.


Kakinya bergerak lincah, menerjang rerumputan yang mulai meninggi. Berputar sejenak di halaman belakang. Namun tidak ada tanda apapun disana. Ivan pun kembali masuk. Menuju ke ruangan yang dia tinggalkan tadi. Dengan perlahan, diputarnya kenop pintu. Pintu terbuka, bergerak maju perlahan menuju ranjang tempat Agatha berbaring.


Seketika tubuh Ivan menegang. Pertama kalinya, mendapati seorang gadis tanpa memakai apapun tengah terlelap dengan tenang. Ivan bergetar. Berkali-kali menelan air ludahnya sendiri.


"Agatha..." Ivan mengalihkan pandangannya, tangannya masih memegang kenop pintu dan membiarkan kamar itu terbuka setengahnya.


"Nggak Gue nggak bisa." ujar Ivan mundur perlahan. Keringat dingin mulai bercucuran di dahinya. Ivan menutup kembali pintu kamar itu.


"Gue harus minta tolong. Cuma Andre yang bisa ngadepin beginian." Ivan menguatkan hatinya, berjalan menemui Andre yang entah sedang melakukan apa. Berjongkok di dekat mobil Nathan.


"Ndre.." Panggil Ivan dengan suara bergetar.


Andre menoleh. Heran melihat Ivan hanya kembali seorang diri.


"Lo kenapa? Mana Agatha?" heran Andre mendapati ekspresi Ivan


"Gue.. Gue nggak bisa! Lo aja yang nolongin dia. Gue tunggu kalian di depan." pandangan Ivan menjadi kosong


Andre hanya mengernyit menghadapi sikap aneh sahabatnya. Andre masuk tanpa ragu, melakukan hal yang sama dengan Ivan tadi. Hingga tiba di ruangan terakhir. Kamar Nathan. Pintu yang tidak dikunci memudahkan Andre mengaksesnya.


Pintu terbuka sepenuhnya. Kedua mata Andre membulat. Respon yang sama seperti Ivan, Andre mengerjapkan matanya. Jantungnya berdesir. Mendapati pemandangan estetik di hadapannya. Terperangah pada kecantikan Agatha yang polos.


" Lo nggak bisa karena ini Van?" gumam Andre pada dirinya sendiri.


Segera Andre menutup pintu kamar. Berjalan perlahan mendekati Agatha yang masih terpejam. Andre memunguti satu per satu pakaian Agatha yang berceceran di lantai.


Andre masih menatap lekat keseluruhan tubuh Agatha, seolah menyayangkan kesempatan ini untuk dilupakan begitu saja. Tiba-tiba pusat tubuhnya menegang. Andre menggelengkan kepalanya.


"Lo nggak boleh ngrusak cewek yang nggak menginginkan hal yang sama Ndre! Ingat prinsip Lo!" Andre mengingatkan dirinya sendiri.


Dengan gemetar, membantu memasangkan dua lembar kain berharga di tubuh Agatha. Namun tiba-tiba kedua matanya menatap bibir mungil Agatha yang terkatup rapat. Andre mengusapnya sekilas. Perlahan namun pasti, Andre mendekatkan tubuhnya. Hingga kedua wajah itu saling berhadapan. Andre memejamkan matanya berniat melayangkan sebuah ciuman pada bibir pink yang sedikit pucat itu. Tiba-tiba terdengar Agatha melenguh..


Andre memundurkan tubuhnya. Kedua mata Agatha bergerak-gerak pelan tanda akan kembali kesadarannya. Andre semakin menjaga jarak dengan posisi Agatha saat ini. Beberapa detik berselang, Agatha telah bangun sepenuhnya.


"Aaaaaaa...." teriakan yang memekikkan telinga terdengar


"Andre! Apa yang udah kamu lakuin? Kita.. Kita... Andreeee..." teriak Agatha untuk kedua kalinya.


Sontak Agatha menarik selimut dan menutupi tubuhnya. Andre terdiam menatap datar ke arah Agatha. Dalam hatinya merutuki kebodohan gadis di depannya, jika memang dia berniat kurang ajar, sedari tadi Andre sudah memakannya. Nyatanya justru Andre berniat memakaikan bajunya. Andre menghela napas.


"Pria kotor! Kamu tega merenggut satu-satunya yang aku jaga. Kamu jahat Ndre!" Agatha menangis sejadi-jadinya


Merenggut apanya? Menciummu saja belum ku lakukan. pikir Andre


Agatha terlihat sangat hancur. Tangisnya terdengar memilukan. Andre yang tak kuasa melihat hal itu tergerak untuk menarik tubuh Agatha ke dalam pelukannya. Perlahan dia mengelus surai rambut Agatha yang berantakan.


"Pergi Ndre! Jangan dekat-dekat! Aku jijik sama kamu!" ujar Agatha mencoba mendorong tubuh Andre namun pelukan Andre semakin erat


PLAK.. Sebuah tamparan Agatha berikan. Andre memegangi pipinya dengan tatapan tak percaya.


"Kamu harus tanggung jawab Ndre. Tidak peduli aku hamil atau tidak, kehormatan yang sudah aku jaga selama ini sudah kamu renggut dengan paksa. Jangan jadi pengecut! Dan menganggap sama aku dengan wanitamu yang lain! Kamu harus mempertanggung jawabkan semuanya." Agatha mengatakan kekesalannya dengan serampangan

__ADS_1


Andre tidak berniat menjawab hal itu, justru dia berdiri dan memberikan pakaian Agatha kembali.


"Pakai baju Lo. Ini sudah sore, gue tunggu di depan." balasnya dingin meninggalkan Agatha begitu saja.


Agatha terus menangis melepaskan segala kekecewaan yang ada di hatinya. Agatha menyibak selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Melihat sprei yang masih rapi tanpa ada bercak noda sedikit pun di atasnya. Agatha terdiam. Dia ingat betul dengan buku yang pernah dibacanya, jika hal itu pertama kali dilakukan maka akan ada darah yang tertinggal. Agatha terdiam, mungkinkah Andre memang tidak melakukannya? Atau terlalu lihai hingga tidak melukainya sedikit pun. Agatha bergegas memakai kembali bajunya dan mencuci mukanya di kamar mandi.


"Kok Lo sendiri Ndre?" tanya Ivan


Andre tak menjawab dan mengambil tempat duduk di sebelah kemudi.


"Sorry ya Ndre, Gue tadi sempet mukulin Lo. Gue udah salah paham." tukas Ivan


"Sudah biasa." ujar Andre mengalihkan pandangannya


Benar sudah biasa bagi Andre dicurigai oleh siapapun karena karakter berandalnya.


"Kok lama banget ya Agatha? Apa perlu Gue susul dia?" tanya Ivan


"Nggak perlu." balas Andre ketus


Tiba-tiba pintu basecamp terbuka. Tampak Agatha yang berjalan lesu ke arah mobil Andre. Agatha pun duduk di belakang kemudi. Sambil menangis sesenggukan, dia menatap benci ke arah Andre.


"Aku anter pulang ya Tha?" tanya Ivan


"Kita ke rumah sakit dulu." ujar Andre


Ivan melongo dilihatnya baik-baik kondisi Andre. Hanya sedikit memar karena baku hantam dengannya tadi, seharusnya tidak perlu sampai ke rumah sakit.


"Kita langsung pulang saja Van! Jangan dengarkan saran si Buaya ini!" balas Agatha


Ivan tertawa, menepuk bahu Andre sambil mencibir. "Pak Buaya, kemana kita harus pergi sekarang?"


"Diam Lo, nggak usah ikut-ikutan." ujar Andre


"Kita ke rumah sakit dulu, ngecek kondisi Agatha. Setelah itu kita anter dia pulang." lanjut Andre


"Kamu terluka Tha?" tanya Ivan


"Aku nggak sakit! Dia, temanmu ini yang sakit! Dia nggak bisa nebus kesalahannya sama Chintya dan melampiaskan kemarahannya ke cewek lain. Dia juga yang udah ngrusak masa depanku! Dan aku yakin sekarang, kamu kan Ndre yang udah nyuruh orang nyulik aku dan bawa aku kesini. Biar kamu leluasa melakukan hal menjijikkan ini sama aku! Kamu Ndre yang sakit, sakit jiwa!" olokan kasar itu terdengar begitu menyakitkan bagi Andre


Kedua tangan Andre mengepal. Rahangnya mengeras. Pandangan Andre menggelap. Aura kemarahan terpancar dari wajahnya.


"Gue sakit jiwa? Lalu Lo apa hah? Lo itu orang yang nggak tahu caranya berterima kasih! Lo cuma asal nuduh tanpa bukti dan nganggep apa yang ada di pikiran Lo itu bener semua! Mulai sekarang, Gue nggak akan lagi ikut campur ke dalam masalah Lo! Gue udah nggak peduli lagi! Karena buat Gue sekarang, Lo cuma cewek nggak waras yang nggak bisa nrima kematian cowoknya!" bentak Andre dengan kejamnya.


Andre memalingkan wajahnya. Enggan melihat kembali ke arah Agatha.


Agatha terdiam. Air matanya kembali menetes. Sakit. Belum pernah selama hidupnya dibentak dengan sebegitu kasarnya. Agatha tertunduk berusaha meredam tangisannya.


"Kita pulang sekarang ya!" Ivan mencoba mencairkan suasana. Tidak ingin lagi memperpanjang masalah dengan dua orang ini.


"Kita ke Colors. Ambil mobil Lo buat nganter tuh cewek!" ujar Andre. Melihat respon Andre yang semarah ini, tidak mungkin Ivan berani menolaknya.


"Setidaknya rekaman singkat ini bisa berguna!"

__ADS_1


__ADS_2