Don'T Tell Me About Love

Don'T Tell Me About Love
BAB XXXVII


__ADS_3

Tiba-tiba TIIIIIIIN.. Suara klakson membuat Agatha terkejut bukan kepalang. Tubuhnya merosot jatuh di atas paving dan dua luncboxnya terlempar begitu saja.


"Sorry, sorry Tha. Nggak sengaja." teriak Ivan melongokkan kepalanya dari kaca mobil yang terbuka.


Agatha tak bergeming, berusaha menstabilkan detakan jantungnya yang tengah melompat-lompat tidak karuan. Ini lebih menegangkan daripada saat dia menyeberang di depan SMA nya dulu.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Ivan yang kemudian turun untuk menghampiri.


Dua kotak bekal itu terguling di tanah. Meski masih tertutup rapat, Agatha yakin betul isi di dalamnya sudah berantakan.


"Bisa nggak sih Van, kalau bercanda itu jangan kelewatan! Untung jantungku masih sehat walafiat. Coba kalau udah konslet. Bisa mati berdiri aku gara-gara kaget!" gerutu Agatha


Bibirnya semakin mengerucut. Mendapati pelaku utama kejadian ini adalah sahabatnya sendiri. Agatha mencoba untuk berdiri. Membersihkan celana jeans sobeknya sebentar, sebelum akhirnya mengambil kembali lunch boxnya.


"Maaf Tha. Aku nggak tahu kalau kamu bawa itu." Ivan menunjuk kotak bekal yang kotor terkena tanah


"Jadi berantakan deh isinya!" keluh Agatha mengelap box itu dari luar


"Nggak apa-apa kok Tha, biar berantakan juga aku tetap doyan." ujar Ivan dengan percaya diri hendak meraih salah satu kotak.


"Enak aja! Ini bukan buat kamu." balas Agatha berjalan menjauhi Ivan


"Terus buat siapa? Masak iya Tha, badan sekecil kamu bisa habisin dua kotak sekaligus?" seloroh Ivan berusaha mengimbangi langkah Agatha


"Mau aku bawa pulang lagi. Orang yang mau aku kasih absen, jadi sia-sia juga aku bangun pagi buat nyiapin ini." gumam Agatha mempercepat langkahnya menuju kelas


"Memang buat siapa sih?"


"Andre."


Langkah Ivan terhenti. Satu nama yang Agatha sebutkan seolah menghentikan irama jantungnya. Ivan tak lagi menguntit atau sekedar bertanya untuk apa? Membiarkan punggung gadis itu semakin menjauh.


"Selalu Andre. Apa dia, cowok yang udah buat kamu berubah Tha? Cowok unik yang kamu kagumi di kampus ini?" gumam Ivan.


Tampak Ivan menghela napas. Kesal rasanya, jika memperjuangkan seseorang sampai sejauh ini, namun hanya satu nama yang selalu dilihatnya. Ivan berusaha menepis keraguannya. Selagi belum ada status diantara mereka, masih ada kesempatan untuknya mendekati Agatha.


Agatha mengeluarkan notebooknya. Mempersiapkan diri untuk presentasi tugas keuangan yang dia kerjakan. Bersama dengan keempat anggota kelompoknya, Agatha memimpin dengan kalimat runtut dan mudah dipahami. Bahkan Ivan yang dibilang awam dalam bidang ini pun dengan mudah mengerti isi yang dibicarakan.

__ADS_1


Itulah kehebatan seorang Agatha, jiwa pengajar tertanam di dalam dirinya. Tak terkecuali Ivan, yang sudah melewati satu semester menjadi murid setia Agatha. Dan juga sebagai pengagum rahasianya.


Sikap profesional Agatha membuat Maya, dosen keuangan dan perpajakan tersebut mengacungkan jempolnya. Dosen yang dikenal pelit nilai tersebut memberikan A+ pada penampilan Agatha dan kelompoknya. Tepuk tangan meriah menyambutnya untuk kembali duduk.


"Tha, keren! Nanti pulang dari kampus ajari ya!" bisik Ivan perlahan.


"Boleh. Tapi ada syaratnya!" ujar Agatha tersenyum licik


"Ck pakai syarat segala!" gerutu Ivan


"Di dunia ini nggak ada yang gratis Van. Toilet umum aja bayar 2000 kok." ujar Agatha terkikik geli


"Iya deh iya. Kali ini kamu minta dibawain apa?" tanya Ivan mengeluarkan dompetnya yang sudah menipis


Agatha tertawa. Melihat hanya ada selembar lima puluhan di dalamnya. Melas sekali sahabatnya yang satu ini.


"Aku nggak minta snack Van. Karena dirimu sedang bokek jadi aku akan meminta hal lain. Itu pun kalau kamu setuju." kalimat ambigu Agatha membuat dahi Ivan berkerut


"Nggak usah serius gitu ah mukanya! Jelek tahu." Canda Agatha sambil mengacak pelan rambut Ivan


"Van, bisakah kamu mengantarku ke tempat Andre sepulang dari kampus?" tanya Agatha kembali ke mode serius.


Bagai di angkat setinggi awan dan dihempaskan ke dasar lautan. Ivan kehilangan selera humornya. Kenapa harus Andre lagi yang Agatha minta? Apa tidak ada hal menarik lain yang bisa Ivan berikan?


"Ivan Apryando! Kok bengong sih?" tanya Agatha menggerakkan tangannya di depan wajah Ivan


"Andre sedang tidak bisa diganggu Tha." ujar Ivan datar


Agatha terdiam. Wajah tanpa ekspresi itu menunjukkan ketidaksenangan atas permintaannya.


"Aku akan membawamu kesana, jika kondisinya sudah membaik." lanjut Ivan memaksakan senyumnya


"Dia yang sedang tidak baik-baik saja, atau kamu sendiri?" tanya Agatha tak kalah dingin


Ivan menatap mata bulat itu dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Katakan Van, apa yang membuatmu keberatan atas permintaanku? Apa kalian sedang bertengkar?" tanya Agatha, sebagai sahabat Agatha wajib tahu apa yang tengah Ivan alami

__ADS_1


"Tante Wulan terkena serangan jantung. Kondisinya kritis dan dia masih di ruang ICCU. Jadi belum bisa dijenguk." ujar Ivan


Agatha terdiam tanpa ekspresi.


"Andre jagain sejak semalam. Sampai sekarang dia belum pulang. Kakaknya Andreas, belum lihat sama sekali keadaannya tante Wulan."


"Bukan maksudku nggak mau nganterin Tha, tapi timingnya aja yang nggak tepat." Ivan mengakhiri kalimatnya.


Helaan napas Agatha terdengar cukup jelas. "Kasihan juga ya Andre. Pasti dia capek banget."


Ivan mengalihkan pandangannya. Lagi-lagi Andrelah yang Agatha khawatirkan.


"Ya udah deh. Kalau tante Wulan sudah dipindahkan kabari ya Van. Kita jenguk sama-sama. Untuk hari ini kita belajar bareng aja!" ujar Agatha kembali menghadap ke depan


Ivan hanya tersenyum tanpa sepatah kata pun. Bingung juga harus menjawab apa.


Analisis Laporan Keuangan, itulah yang akan Agatha dan Ivan pelajari sore ini. Beberapa camilan tersedia lengkap dengan jus buah segar buatan Kristin, menemani agenda rutin mereka. Sebuah bagan sederhana yang sengaja Agatha buat untuk memudahkan Ivan pun telah diberi warna-warna yang cantik.


"Sudah paham?" tanya Agatha mengakhiri penjelasannya


"Tha, kok pinter banget sih kamu!" puji Ivan menyeruput kembali minumannya


"Bukan pinter Van, lebih tepatnya sudah terbiasa dengan materi ini. SMA ku kan jurusan IPS juga." terang Agatha membalik halaman selanjutnya


"Kenapa kamu tertarik ke IPS Tha?" tanya Ivan yang mendadak penasaran.


Agatha terdiam. Menatap sejenak ke depan sebelum akhirnya menghela napas.


"Karena dulu, Ricky kuliah kedokteran. Dia bilang, harus aku yang jadi kasirnya saat dia membuka praktek sendiri. Katanya setelah menikah, aku harus jadi istri yang cerdas. Cerdas dalam berhitung dan mengatur keuangan." Agatha tertawa. Dengan sudut mata yang berair.


"Aku mempelajari ini semua karena dia Van. Hanya karena dia. Meskipun dia sudah pergi, tapi aku masih harus mewujudkan mimpinya."


Air mata Agatha kembali menetes. Larut dalam kenangannya. Tidak kuasa menahan kerinduan pada sosok Ricky, cinta pertamanya. Juga, tidak mudah menghilangkan tahun tahun kebersamaan mereka.


Ivan menyentuh kedua pipi bulat itu dengan tangannya. Mengusapnya perlahan. Berusaha menghilangkan kesedihan yang terlukis di wajah Agatha.


"Ingatlah selalu perjuangan yang telah Ricky lakukan untukmu Tha, tapi jangan larut dalam kesedihannya. Jangan lagi membuatnya merasa bersalah telah meninggalkanmu."

__ADS_1


__ADS_2