DONDURMA

DONDURMA
Ternyata karena kamu


__ADS_3

Saat semua orang sudah berkumpul, mereka semua mulai saling menyalahkan dan tentu saja yang akan menerima hukuman paling berat adalah Ketua grup WA itu. Sang ketua mengakui bahwa mereka telah bertindak tidak adil kepada Anya, mereka merencanakan semua pembullyan itu tanpa ada rasa bersalah, mulai dari memasukkan obat pencernaan kedalam minuman Anya, mengguyur dan mengunci Anya di dalam toilet, merusak rantai sepeda Anya, mengoleskan lem kepada kursi Anya, dan yang paling parah sampai merusak semua seragam sekolah Anya.


Mendengar pengakuan dari kakak-kakak kelas itu membuat ia geram, marah, juga kesal. ia tidak percaya bahwa semua itu adalah rencana mereka. Ia mulai berfikir apa yang ia lakukan sehingga membuat mereka memperlakukannya seperti ini.


"Emangnya salah gue apa sama kalian semua?" tanya Anya dengan gemetaran saking menahan emosinya.


"Kita cuma becanda ko" ungkap salah satu kakak kelas.


"Becanda?? yang kayak gini kalian bilang becanda!!" Anya langsung membuka jaketnya dan memperlihatkan punggungnya yang terlihat sangat nyata karna kain baju Anya menyatu dengan lem di kursi. Untungnya di dalam ruangan itu semuanya wanita.


Kemudian Anya mengeluarkan semua seragamnya yang telah rusak itu dengan berkata, "Kalian tau, perlakuan kalian kayak gini bisa membuat seorang anak kena mental, kena penyakit psikologis sampe-sampe harus di rawat di rumah sakit dan yang paling parah sampe bisa gila!!"


"Kalian gatau dampak dari perbuatan kalian bisa sampai sejauh itu bukan??"


"Apa kalian pernah berfikir jika itu terjadi pada diri kalian? jika itu terjadi kepada anggota keluarga kalian sendiri!!"


"Hal yang kalian anggap sebagai bahan candaan itu justru bisa buat orang jadi ingin mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri tau ga!!" ungkap Anya gemetaran sambil menangis meluapkan isi hatinya.


"Gue yang kalian guyur dengan air selokan yang sangat bau, harus menanggung malu karena diperhatikan oleh banyak orang, rantai sepeda yang kalian rusak membuat gue harus jalan beberapa kilo sampe kerumah, bahkan obat pencernaan yang kalian kasih bikin gue harus bulak balik ke toilet beberapa kali. Semua bully-an yang kalian lakukan selama beberapa hari ini sampe bikin gue stress, gue fikir ini hanya sebagian dari kesialan gue, tapi begitu banyak hal ganjil yang membuat gue yakin bahwa bukan karena gue sial tapi karena emang ada orang yang merencanakan kejadian itu."


"Gue sampe dimarahin guru karena disangka gak ngerjain pr, dimarahin juga karena disangka gue sengaja ga bawa baju olahraga sampe disuruh lari keliling lapangan, sampe yang paling parah kalian sengaja masukin paku ke sepatu gue, bahkan sakitnya sampe sekarang belum hilang"


"Yang kalian kira hanya sebuah candaan tapi berujung kematian karena kena mental. Mau??"


"Dan itu semua karena kalian!! Coba bayangkan apabila itu sudah terjadi!!"


Mereka semua terdiam mendengar pernyataan Anya tersebut, mereka tidak sadar dengan dampak yang akan diperoleh dari perbuatan mereka itu. Mereka semua langsung memohon, meminta maaf kepada Anya, mereka semua merasa bersalah.


Ibu guru BK dan Friska juga tidak bisa mengatakan apa-apa, bahkan Friska sampai terkejut dengan pernyataan Anya itu.


"Jadi katakan yang sebenarnya alasan kalian ngebully gue?" tanya Anya masih menangis.


Salah satu kakak kelas dengan berani mengungkapkan alasan mereka melakukan pembullyan terhadap Anya. "Sebenarnya kami gak suka liat kamu sama Bagas, kami takut Bagas suka sama kamu. Jadi kami mulai merencanakan pembullyan ini dengan harapan kamu akan jera. Kami rasa kamu layak mendapatkan hukuman karna sudah berani mendekati Bagas" dengan nada rendah penuh penyesalan.


"Tapi kami sungguh tidak sadar bahwa perbuatan kami itu akan berdampak sangat buruk!!" ungkap penyesalan dari kakak kelas lainnya.


"Jadi ini karna Bagas??"


"Kalian ngelakuin hal kayak gitu karna seorang Bagas?"


"Ga habis fikir sama pola pikiran kalian."


"Kenapa kalian bisa berfikiran serendah itu??"


"Karena seorang laki-laki??"


"Yang benar saja!!" ungkap Anya tidak percaya.


"Anya kami sungguh menyesal, tolong maafkan kami.." ungkap salah satu kakak kelas dengan rasa penyesalan yang mendalam.


Setelah mendengar semua pernyataan dari murid-murid nya itu, ibu guru BK pun mulai angkat bicara.


"Sepertinya ibu disini sudah tidak diperlukan lagi, semuanya sudah Anya ungkapkan. Saya sangat bangga kepada kamu karna kamu mau angkat bicara Anya" ungkap ibu BK dengan tersenyum.


"Dan kalian.. kalian tau kan kalian salah??" tanya ibu BK yang dibalas dengan anggukan murid-muridnya itu.


"Jadi kalian harus menanggung konsekuensinya, kalian harus bertanggung jawab atas apa yang kalian perbuat. Kalian tidak bisa menghindari hukuman ini, hukuman ini akan memberikan kalian pelajaran supaya tidak terjadi lagi dikemudian hari." ungkap ibu BK tegas.


"Baik Bu.." ungkap semua kakak kelas.


Di luar ruangan guru BK ternyata ada Bagas, ia tidak sengaja lewat ruang BK kemudian ia mendengar semua ceritanya. Tanpa sepatah kata pun ia kembali ke kelas tetapi dengan raut wajah dengan penuh rasa bersalah, ia tidak menyangka bahwa penyebab itu semua gara-gara dia.


Setelah semua permasalahan selesai, mereka kembali ke kelasnya masing-masing dan orang yang terakhir keluar itu adalah Anya dan Friska. Sesaat setelah mereka keluar, Friska memeluk Anya erat sambil menangis tersedu-sedu.


"Anya maafin gue, gue gatau kalo Lo sampe bisa berfikiran kaya gitu" ungkap Friska merasa bersalah.


"Semua yang Lo omongin itu pernah Lo alami kan? makanya Lo sampe nangis dan gemetaran " ungkapnya lagi kepada Anya dengan berkaca-kaca"


"Gue ngerasa gagal jadi temen Lo. Maafin gue.." ungkapnya dengan menangis.

__ADS_1


"Ica... gapapa, gue gapapa ko sekarang" ungkap Anya tulus dengan memegang pundak Friska.


"Gue seneng di kehidupan gue dihadirkan sahabat sebaik Lo dan Azen meskipun kadang Azen suka nyebelin tapi kalian tuh sahabat terbaik gue" ungkap Anya sambil memeluk dan mengelus punggung Friska.


"Udah jangan nangis.. ko jadi Lo yang sedih" ungkap Anya.


"Gue sedih juga gara-gara elo" ungkap Friska masih menangis.


"Aduh.. cup cup cup.. udah yah.. yuk ke kelas" ajak Anya.


Saat kembali ke kelas, Friska langsung duduk di kursinya, sedangkan Anya menghampiri Bagas. "Gue pinjem sweater Lo dulu yah!!" ungkapnya sambil pergi ke kursinya.


Bagas berbalik dan berkata. "Lo gapapa?"


"Engga tenang aja!!" ungkap Anya tanpa melihat kearah Bagas.


"Enak yah punya wajah ganteng, sampe di rebutin banyak orang." ejek Friska kepada Bagas.


Bagas pura-pura tidak mendengar pernyataan Friska itu, ia memutuskan untuk mengenakan earphone nya.


Keesokan harinya Bagas melihat Anya sedang melamun sendirian di taman belakang sekolahnya, iapun menghampiri Anya lalu duduk disebelahnya. "Lo kenapa?" tanyanya.


"Eh Bagas.. Gapapa" ungkap Anya tiba-tiba memberikan senyuman manis kepada Bagas.


"Jangan senyum muka Lo jelek" ungkap Bagas dingin.


"Ih apaan sih Lo.." seru Anya kesal.


"Ya terus kenapa Lo sendirian disini, Azen sama Friska kemana?" tanya Bagas sambil menatap Anya.


"Gue kabur dari mereka, gue bilang mau ke toilet tapi pada akhirnya gue ada disini" ungkap Anya dengan tatapan lurus dan kosong.


"Lo yakin gapapa? yakin??" tanya Bagas membujuk Anya.


Saat mendengar pertanyaan Bagas, entah mengapa hal itu membuat Anya mulai menangis, awalnya ia menangis biasa, kemudian ia menangis dengan kencang sampai tersedu-sedu. Ia menangis dengan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Bagas yang melihat Anya itupun tidak bisa berbuat apa-apa, ia memberanikan diri untuk menepuk pundak Anya berharap ia merasa tenang sedikit.


"Sekarang pelajaran siapa?" tanya Anya dengan nada tangisnya.


"Bu Hamsa wali kelas kita!!" jawab Bagas.


"Yaudah temenin gue disini!!" ungkap Anya masih menangis.


"Iyah!!" jawab Bagas singkat.


"Bagas??" tanya Anya masih menangis.


"Kenapa?" tanya Bagas.


"Lo ada sapu tangan??" tanya Anya sambil sesenggukan.


"Ga ada, adanya tisu!!" balas Bagas.


"Kering atau basah?" tanya Anya lagi dengan muka yang masih ditutupi oleh kedua tangannya itu.


"Kering.. Nih!!" ungkap Bagas sambil memberikan tisunya kepada Anya.


"Yang banyak!!" ungkap Anya.


"I.. iya nih.." jawab Bagas.


"Bagas??" tanya Anya lagi.


"Kenapa Anya??" tanya Bagas kali ini dengan lembut.


"Gue..Gue pengen es cream!!" Jawab Anya masih sesenggukan.


"Es cream apa?" tanya Bagas.

__ADS_1


"Dondurma!!" jawab Anya.


"Hah.. apa??" tanya Bagas kaget tidak mendengar jelas perkataan Anya.


"Dondurma..!!" teriak Anya sambil menengok kearah Bagas.


"Dondurma?? gue baru denger ada nama es itu!! Belinya dimana??" ungkap Bagas dengan wajah kagetnya karena muka Anya dekat sekali dengannya.


Anya kembali ke posisi awal menatap lurus kedepan seraya berkata. "Deket rumah gue!!" dengan nada melemah karena cape, energinya terkuras habis karena menangis dalam waktu yang sangat lama.


"Hah apa??" tanya Bagas tidak mendengar perkataan Anya karena sangat pelan.


"Gapapa, ga jadi. Lo temenin aja gue sebentar sampai bel pelajaran kedua." ungkap Anya kepada Bagas sambil menyender ke kursi dan mulai menutup matanya.


Dalam waktu yang lama Bagas menemani Anya tanpa sepatah katapun, tiga jam ia habiskan dengan berdiam diri disebelah Anya. Untungnya mereka duduk di kursi yang teduh karena bersebelahan dengan pohon besar.


Bel pelajaran kedua pun berbunyi..


--- Dikelas ---


"Azen.. sebenernya si Anya kemana sih??" tanya Friska khawatir.


"Udah biarin aja, mungkin dia butuh waktu untuk sendiri!!" jawab Azen dengan tenang.


"Loh ko Lo tenang gitu, Lo gatau apa yang Anya alami kemarin kan?? klo Lo tau, Lo gaakan setenang ini" jawab Friska.


"Gue tau, semalem Anya kerumah gue, dia cerita semuanya ke gue!!" jawab Azen sambil menyalin PR Friska.


"Lah itu Lo tau, tapi kenapa Lo tenang-tenang aja padahal sahabat Lo sendiri ngalamin hal separah itu?!" tanya Friska heran melihat tingkah Azen.


"Karena gue tau makanya gue tenang, gue yakin Anya bisa lalui ini semua. sekarang yang dia butuhkan adalah waktu untuk sendirian, kalo Lo sayang sama Anya, Lo harus percaya sama dia dan jangan Lo bahas masalah itu lagi." ungkap Azen yang tiba-tiba menjadi sangat bijak itu.


"Oh gitu.. tumben otak Lo jalan!!" ejek Friska sambil memukul tangan Azen dengan sangat keras.


"Buset.. sakit Ica..!!" rengek Azen sambil mengelus tangan yang Ica pukul.


"Ah elu di pukul dikit aja rewel amat" ejek Friska dengan berbalik ke posisi semula.


Kemudian Friska tiba-tiba berbalik lagi kearah Azen. "Oh iya.. si Bagas juga kemana yah?" tanyanya.


"Ga tau jangan tanya gue, gue bukan pacarnya!!" jawab Azen tidak perduli.


Saat Azen melirik kearah pintu kelasnya, ia melihat Anya masuk kedalam kelas diikuti Bagas. "Itu mereka.." ungkapnya yang setelah itu lanjut menulis.


Anya dan Bagas duduk di kursi mereka masing-masing.


"Anya.. Lo kemana aja?? gue khawatir!!" rengek Friska.


"gue ga kemana-mana, gue ada disekolah tapi males masuk kelas pagi jadi gue bolos!!" jawab Anya dengan tersenyum lebar kepada Friska agar tidak membuat Friska khawatir.


"Sama Bagas juga??" tanya Azen tiba-tiba sambil fokus menulis.


"A.. Apaan sih Jen.. Lo masih aja nyontek pr orang!!" ungkap Anya mengalihkan pembicaraan.


"Yah.. ketahuan!!" ejek Azen.


"Iyah gue dari tadi bareng Anya!!" sambung Bagas tiba-tiba.


"Tuh kan.." ejek Azen.


"Bener nya?" tanya Friska kepada Anya.


"I..iya tadi gue ga sengaja ketemu Bagas kebetulan gue pengen bolos dia juga sama jadi yaudah sekalian bareng aja" ungkap Anya dengan tawa canggungnya.


"Oh gitu.." seru Friska.


"Lo ko mau-mau aja dekat sama Bagas, diakan alasan kenapa Lo dibully!!" bisik Friska kepada Anya.


Belum terjawab oleh Anya, bapak guru sudah masuk duluan ke kelas Anya. Akhirnya obrolan mereka berakhir dengan cepat.

__ADS_1


"Syukurlah" batin Anya sambil mengusap dadanya.


~~ Bersambung ~~~


__ADS_2