
Tindakan Anya itu membuat Bagas kaget dan langsung menepis tangan Anya itu. "Bagaimana seorang wanita dengan mudah memegang paha seorang laki-laki tanpa rasa takut" batinnya.
"Sorry.. sorry.. gue ga sengaja!!" ucap Anya sambil menunduk, ia tidak tau bahwa pria itu adalah Bagas.
Saat Anya mendongak keatas ia kaget karna orang itu adalah Bagas. "Bagas.. maaf gue ga sengaja!!" dengan muka rasa bersalah.
"Lo ini dari pagi ada aja kelakuannya, tadi Lo buat hp gue retak sekarang Lo buat celana gue basah!! Deket Lo itu buat gue jadi sial tau. Kalau Lo emang sial anaknya, ya jangan Lo jangan banyak tingkah!!" ungkap Bagas kesal.
"Apaan sih Bagas, ko Lo kasar banget ngomongnya, Anya kan udah bilang ga sengaja" sahut Friska tidak terima temannya digituin.
"Iya bro Lo kasar banget ngomongnya" Sahut Satria yang berada disebelah Bagas.
"Emang bener kan, dia tuh selain sial tapi pembawa sial juga ke orang lain!!" balas Bagas makin kesal.
Mendengar pernyataan Bagas itu pun membuat Anya berkaca-kaca sampai meneteskan air matanya, ia pun langsung berlari meninggalkan kantin tanpa sepatah katapun.
Melihat kejadian itu membuat Azen geram, ia tidak sanggup melihat sahabatnya dikasarin kaya gitu, ia pun langsung menghampiri Bagas dan memukul keras Bagas di bagian pipinya. Sontak hal itu membuat Friska kaget kemudian menahan Azen agar tidak memukul Bagas lagi.
"Lo bakalan nyesel ngomong gitu ke Anya" sentak keras Azen kepada Bagas dengan menunjuknya.
Setelah mengatakan hal tersebut, Azen langsung berlari mengejar Anya, begitupun dengan Friska ikut menyusul.
"Bagas Lo kenapa? Lo bukan Bagas yang gue kenal" ucap Satria kecewa.
"Ayo cabut aja" ajak Bagas tanpa memperdulikan perkataan sahabatnya itu.
Disisi lain Anya berlari, terus berlari tanpa arah tujuan sambil menahan tangis, ia berlari melewat lorong, kelas-kelas, dan dengan mudah ia melewat anak tangga hingga sampai pada atap sekolah, kemudian ia duduk di tepi dinding lalu menangis dengan sangat keras.
"Gue tau gue ini sial, tapi baru kali ini ada orang yang sampe ngomong kayak gitu ke gue"
"Gue tau dan gue juga sadar gue ga mau teman gue ikutan kena sial, tapi beneran gue gatau itu semua. gue juga tidak merencanakan kejadian apa yang akan terjadi sama gue"
"Gue juga ga mau orang disekitar gue kena sialnya gue"
"Tapi gue gabisa menentukan takdir orang kaya gimana."
"Dasar Anya.. Dasar cewe sial..!!" ungkap Anya sambil memukul kepalanya menyalahkan dirinya sendiri.
Saat Anya terus menangis dan berteriak menyalahkan dirinya sendiri, Azen pun sampai di atap dan langsung menghampiri Anya, karna Azen adalah laki-laki, jadi ia dengan cepat menyusul langkah kaki Anya sedangkan Friska masih tertinggal jauh.
"Anya.. Lo gapapa?" ucap Azen dengan nada beratnya karena habis lari tadi.
"Azen..!!" rengek Anya dengan tatapan penuh air mata.
"Gue juga gatau bakalan kejadian kaya gitu!!"
"Gue tuh sial banget!!"
"Lo jangan deketin gue, nanti Lo ikutan kena sial" ungkapnya lagi sambil menjauh dari Azen.
Azen mendekati Anya sembari berkata. "Anya... Lo ini ngomong apa sih. Lo itu ga sial.. Cuma ini emang jalan hidup Lo, ini takdir Lo"
"Gue ga pernah tuh kefikiran Lo itu orang yang sial. Setau gue, Lo itu sebuah keberuntungan, gue sangat bersyukur bisa kenal sama Lo dari kecil"
"Emangnya gue pernah ngeluh gitu ke Lo bahwa Lo ini anak yang sial sampe gue ga mau berteman sama Lo lagi"
__ADS_1
"Lo itu anak yang baik, Lo ga pernah tuh ngeluh atau nangis karna Lo sering kena sial. Yah mungkin diawal-awal Lo pasti ngeluh tapi sekarang kan udah engga"
"Lo itu anak yang paling ceria dan bersemangat diantara temen-temen gue yang lainnya" bujuk Azen dengan tulus sambil menenangkan Anya.
"Temen Lo cuman gue sama Friska Azen.." jawab Anya sambil mengusap air mata.
"Oh emang iya yah? eh engga juga, ada banyak temen yang Lo ga kenal" balas Azen.
"Siapa?" tanya Anya penasaran.
"Temen Mabar gue" balas Azen semangat.
Anya pun tertawa mendengarkan pernyataan Azen tersebut.
"Bisa aja lu bocah" ungkap Anya sambil tertawa.
"Nah gitu dong senyum, kan keliatannya elok Anya" sahut Azen sambil melipatkan tangan.
"Paling bisa emang Lo" balas Anya.
"Azen gue mual sumpah!!" ungkap Anya tiba-tiba.
"Kenapa?? apa karena tadi lu makan baso banyak banget?? Elo sih makannya banyakan terus langsung di bawa lari-lari lagi, ya demo lah lambung sama usus Lo!!" Jawab Azen.
"Serius inimah Azen" ungkap Anya sambil mual-mual.
Azen lalu menepuk punggung Anya.
Friska yang baru sampai langsung berlari menuju Anya dan Azen. "Azen Lo larinya cepet banget, sampe kalap gue OMG" ucap Friska dengan menepuk pundak Azen.
"Lo kan gabisa lari secepat gue Friska, makanya sering olahraga jangan pacaran terus" balas Azen tidak perduli.
"Anya kamu gapapa kan?" Tanya Friska dengan tangan menepuk pundak Anya.
"Sekarang gue udah gapapa berkat Azen" balas Anya.
"Syukurlah.. Emang dasar tuh si Bagas ngomongnya ga pake bismillah dulu" ungkap Friska kesal.
"Yaudahlah gapapa, emang bener kok omongan Bagas itu, Gue cuma kaget aja"
"Yaudahlah skip" balas Anya.
"Iya skip aja" sahut Azen.
"Gimana kalau kita bolos aja?" inisiatif Azen muncul.
"Bolos?? Lo Gila? kita baru aja masuk sekolah" jawab Anya.
"Dasar lu kalo ngomong juga asal jeplak aja" balas Friska.
"Ya gapapa sesekali ini.. mau ga?" ajak Azen.
"Eum.. sebenernya gue juga lagi ga mood masuk kelas sekarang" ungkap Anya.
"Bagus.. gimana Ica? Lo mau ikut kan?" tanya Azen.
"Eum.. gini aja, daripada kalian bolos mending gue bilang aja ke Bu Susi kalau Anya sakit, terus Azen yang disuruh nganterin Anya pulang gimana??" inisiatif Friska.
__ADS_1
"Wah Ica.. Lo pinter juga" kagum Azen.
"Gue emang udah pinter Bambang" balas Friska dengan sombong.
"Yaudah yuk Anya" ajak Azen sambil menarik tangan Anya.
"Tas kita gimana?" tanya Anya.
"Biar gue yang bawa, kalian pergi aja" jawab Friska.
"Lo emang sahabat gue paling the best Icaaa" ungkap Anya sambil memeluk Friska.
"Tentu.. itu adalah sebuah fakta" jawab Friska sombong.
Anya, Friska dan Azen pun turun dari atap sekolah. Anya dan Azen pergi menuju parkiran sedangkan Friska kembali ke kelas menjalankan tugasnya sebagai sahabat paling the best.
--- Di Kelas ---
Friska masuk kedalam kelas dan melihat Bagas sudah duduk ditempatnya.
"Permisi itu kursi gue" ungkap Friska dingin.
"Oh sorry, gue ga sadar" balas Bagas terkejut.
Pelajaran kelas pun dimulai, Friska sudah izin ke Bu Susi yang kemudian langsung di ACC olehnya, maka tugas Friska disini selesai.
Selama pelajaran berlangsung, Bagas terlihat tidak konsentrasi mengikuti pelajaran tersebut. Ia terus saja melamun entah apa yang ia lamun kan.
Ternyata ia memikirkan kejadian bersama Anya tadi, ia menyesali perbuatannya tapi ia tidak berani untuk mengungkapkannya. Ia melirik kemudian melihat kursi Anya yang kosong membuat ia semakin merasa bersalah.
"Kayaknya gue emang udah keterlaluan sama Anya, tapi gue ga bermaksud ngomong kaya gitu. Sebenernya tadi itu gue spontan aja, gue ga sadar sampe bisa ngeluarin kata-kata kaya gitu" batin Bagas.
"Besok gue harus minta maaf ke Anya.. Tapi gimana? Gue gatau caranya supaya seorang Anya ga marah lagi sama gue"
"Apa langsung ngomong maaf aja yah? Apa itu ga sopan? apa terlalu sederhana? mana bisa Anya maafin gue kalo gue cuma minta maaf aja."
"Duh pusing banget gue!!" ungkap batin bagas sambil mengacak-acak rambutnya.
Friska yang melihat Bagas bertingkah laku seperti itu membuatnya sampai geleng-geleng kepala.
--- Di Parkiran ---
"Azen kita mau kemana?" tanya Anya penasaran.
"Kemana aja mengikuti arah jalan" jawab Azen singkat.
"Lo kan paling suka menelusuri jalanan" ungkap Azen.
"Oh iya boleh tuh" balas Anya.
"Gue yang paling tau dan paling ngertiin elo Anya. siapa yang kenal Anya lebih dari gue?" ungkap Azen sombong.
"Gue!!" balas Anya singkat.
"Oh iya bener juga" Ungkap Azen sadar diri.
"Kita keliling perkampungan aja, disana lebih banyak pemandangan sejuk yang bisa gue nikmatin and jalannya jangan cepet-cepet supaya gue bisa nikmatin lebih lama lagi, intinya santuy aja oke" ungkap Anya bersemangat.
__ADS_1
"So pasti.." balas Azen.
~ Bersambung ~~~